Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 15 Perasaan Itu Lagi


__ADS_3

Samuel Ozage POV


Suasana rumah besar nampak sepi, hanya kepala keamanan saja yang terlihat di rumah itu. Aku memandangi ke penjuru rumah, tidak terlihat orang lain, selain Pak Bim.


"Pak Bim, di mana semua orang?" Tanyaku.


"Nyonya sepertinya ada di kamar, kalau Nyonya besar, seperti biasa, menghabiskan waktu bersama para pembantu, di paviliun belakang. Di dapur hanya ada para koki yang bekerja Tuan," jawab Pak Bim.


"Oh ...." jawabku singkat, segera 'ku melangkahkan menuju ruang kerja, sesampai di dalam ruangan kerja, segera kusimpan berkas penting kedalam brangkas, selesai mengamankan berkas, segera ku langkahkan kaki menuju paviliun belakang.


Baru saja sampai di bagian teras. Namun, suara gelak tawa santar terdengar. Aku tersenyum sendiri mendengar gemuruh tawa dari dalam paviliun itu.


Pantas nenek sangat senang menghabiskan waktu di sini, sangat ramai rupanya.


Degggg! Deggg! Degggg!


Entah kenapa jantungku berdetak tidak menentu, terasa begitu cepat, hingga membuatku sulit untuk bernapas, ketika melihat tawa lepas seorang wanita yang sejak kemaren meneror hatiku. perasaan itu, datang lagi.


"Tuan ...."


Entah kenapa jeritan wanita itu masih saja sangat jelas, jika kembali melihatnya, membuat keinginan untuk bersamanya bangkit kembali. Ku tepis pikiran itu.


Tawa mereka sirna seketika, saat mereka menyadari kedatanganku. Suasana yang tadi santai, mendadak hening dan canggung, karena kehadiranku. Aku tidak perduli, kaki ini terus melangkah mendekati nenek.


Aku duduk bersimpuh di depan kursi roda nenek. "Nenek … Sam sangat senang, akhirnya nenek sehat kembali," ucapku. Ku sandarkan kepala ini di pangkuan nenek.


Nenek membelai lembut pucuk kepalaku. "Nenek akan semakin sehat, jika mimpi nenek terkabul," ucap nenek.


Aku ingin bicara, entah kenapa suaraku tidak bisa keluar lagi, rasanya kata-kata yang ingin di ucapkan tercekat begitu saja, di tenggorokkan.


"Sam, kamu baik-baik saja?" Tanya nenek padaku.


Bagaimana aku bisa baik nek, aku telah mengkhianati wanita yang paling aku cinta.


Aku segera menepis perasaan ini, Ku tegakkan wajahku. "Sam baik nek, Sam hanya ingin bermanja pada nenek," jawabku.


Nenek tersenyum, dan mencubit dengan gemas kedua pipiku. "Ini sudah sore, ayoo kita kembali kerumah utama." Nenek mengajak kami untuk kembali, kerumah besar.


Aku segera bangkit dari posisiku, saat tangan ini ingin menyentuh gagang kursi roda, tidak sengaja aku menyentuh tangan yang juga memegang gagang kursi roda nenek. perasaan itu lagi, kenapa perasaan itu lagi, hadir dan menggemuruh di batin ini?


"Maaf Tuan, bukan maksud saya lancang--"


"Tidak apa-apa Res, biar aku saja mendorong kursi roda nenek," ucapku, aku sengaja memotong kata-kata Resa.


Aku tidak bisa memandang wajahnya, mendengar suaranya memanggil ku 'Tuan' saja, rasanya ingin menerkamnya.


Sadar Sam!


'ku teruskan langkahku sambil mendorong kursi roda nenek, menuju pintu.

__ADS_1


"Sam, berhenti!" pinta nenek. Segera ku hentikan langkah kakiku.


"Jena, kamu istirahat saja, biar Resa yang menjagaku," ucap nenek, pada pelayan lamanya.


"Siapa yang memindahkan Nyonya besar menuju tempat tidur? Resa pasti tidak bisa," sela Jena.


"Ada Sam, dia yang akan menggendongku," jawab Nenek.


"Iya Nyonya besar, selamat istirahat," ucap Jena.


Kembali ku lanjutkan langkah kakiku sambil mendorong kursi roda nenek. Aku merasakan perasaan aneh itu lagi.


Aku menoleh kearah belakang, ternyata Resa berjalan tepat di belakangku. "Kenapa kau mengikuti kami?" Tanyaku pada Resa.


"Maaf Tuan, kamar saya ada di rumah utama, tugas saya menjaga Nyonya besar sepanjang malam," jawabnya.


Ck! Apa mau ibu, kenapa wanita ini tinggal di rumah besar. Bagaimana Aku mengendalikan diriku nanti?!


Aku terus melanjutkan langkah kaki, tidak terasa kami sampai di rumah utama. "Nenek mau langsung ke kamar?" Tanya ku.


"Tidak, kita santai di ruang tamu dulu, nenek ingin melihat istrimu Vania dulu, kata pembantu, beberapa minggu terakhir, sebelum dia ke luar kota, dia sore sudah tiba di rumah," ucap nenek. Kami pun melangkah bersama menuju ruang tamu.


Sesamapai di ruang tamu, nenek terus memandangi kearah pintu. "Nek, kekamar saja istirahat, kalau Vania datang, nanti Sam akan ajak Vania menemui nenek," ucapku.


"Tidak, sebentar lagi Vania pulang," jawab nenek.


"Selamat sore semua," sapaan itu membuatku tidak jadi melanjutkan kata-kataku.


Aku heran melihat Resa yang melangkah begitu saja, saat ku menoleh, ternyata yang datang, Vania dan asisten pribadinya Nanaz, alias Nazla. Aku berdiri tepat di belakang Resa.


"Sayang---"


"Vania Angela! Yang artis terkenal!" Teriak wanita yang berdiri tepat di depanku, membuat volome suaraku kalah oleh teriakannya.


Vania tersenyum pada Resa, sedang Resa masih mematung memandangi Vania.


"Sayang, kenalkan dia Resa, pelayan kedua yang khusus melayani nenek," ucapku.


Resa menoleh kearahku. "Vania Angela istri Tuan Sam?" Resa bertanya padaku.


"Iya, dia Vania, istri yang paling aku cinta," ucapku.


Mulut Resa nampak menganga lebar, dia menoleh lagi kearah Vania. "Mimpi apa aku? Aku bekerja di rumah artis favoriteku!" Ucapnya.


"Senang bertemu denganmu---" Vania tidak meneruskan perkataannya, dia memandang ke arahku. "Siapa namanya sayang?" Vania bertanya padaku.


"Resa," jawabku.


"Senang bertemu denganmu Resa," sapa Vania. Vania mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya. Vania bingung, karena uluran tangannnya masih tidak di sambut oleh Resa.

__ADS_1


Melihat ada yang aneh dengan gerakan orang di depanku ini, aku segera menahannya. Saat yang sama Vania berteriak. "Sayang tahan dia! Dia pingsan!" Teriak Vania.


Aku yang berada tepat di belakng Resa, sangat mudah menahan tubuh wanita ini. Sehingga tubuh Resa jatuh kedalam dekapanku.


Deggggg!


Jantungku! Apa yang terjadi? Kenapa setiap dekat wanita ini dentumannya terasa aneh?


"Pindahkan dia ke sofa panjang!" Seru nenek.


Nazla membantuku memindahkan wanita ini, menuju sofa.


"Kenapa dia pingsan?" Tanya ku.


"Palingan dia penggemar Nona Vania, makanya dia syok dan kaget, saat bertemu idolanya, langsung." Sela Nanaz.


"Oh," jawabku, aku sedikit lega, aku kira ini berhubungan dengan ikatan tersembunyi kami, saat dia menyadari siapa Vania.


"Ada apa ini?" Pertanyaan itu memecah ketegangan.


"Resa pingsan bu," jawabku.


"Kenapa dia pingsan?" Wajah ibu nampak panik.


"Sepertinya dia penggemar menantu ibu, saat dia bertemu Vania, dia kegirangan sendiri," jawabku.


"Oh, kalau hal itu, mungkin sebentar lagi dia sadar, berikan dia ruangan, biar dia bebas bernapas," ucap ibu.


Beberapa menit kemudian, perlahan wanita itu mulai mengerjapkan matanya. "Dia sadar," ucapku.


"Pak Bim, tolong pinta pelayan untuk membawakan air putih," pinta ibu.


Pak Bim langsung mengambil ponsel di sakunya. Tidak berselang lama, datang seorang pelayan membawa segelas air putih.


"Berikan air putih itu pada Resa," pinta ibu.


Resa juga sudah menegakkan punggungnya, dia menerima gelas air putih yang di berikan padanya, tanpa komentar, dia dengan mudahnya menegak isi air dalam gelas itu. Dia meletakkan gelas di atas meja, dan memandang kembali kearah Vania.


"Nona Vania, bolehkah saya minta foto?" Dia bertanya pada Vania.


"Tentu saja, sini berikan ponselmu," jawab Vania.


"Tunggu, boleh saya melakuan panggilan video dengan mama saya, anda tahu, mama saya penggemar berat anda." Resa begitu semangat.


Aku menggeleng sendiri melihat expresi wajah Resa saat bicara dengan Vania.


"Iya boleh," jawab Vania.


Ibu menggeleng melihat kelakuan Resa, dia langsung pergi dari ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2