Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Tawaran Pernikahan Kontrak


__ADS_3

Tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Hanya ada suara lift yang turun dari lantai 7 dan suara Regina yang menahan tangis. Dia mengikuti pria itu keluar ke lantai 3 setelah suara lift berdenting dan terbuka. Entah kenapa otaknya menyuruhnya untuk mengikuti saja pria itu bergerak.


“Private room.” Ucapnya pada Greeter di depan restoran hotel.


“Selamat datang. Untuk dua orang? Silakan kesebelah sini, Pak.” Ucap pelayan tersebut ramah. Mereka diarahkan pada meja di ruangan tertutup di restoran. Kemudian menyerahkan buku menu.


“Chamomile tea dan scone.” Kata Gian tanpa membuka menu. Dia tidak berniat untuk makan malam.


Setelah pelayan pergi, Gian mengalihkan pandangan pada Regina yang duduk di depannya. Matanya merah karena menangis. Dari tadi dia hanya diam dan tidak menatap balik Gian.


“Go ahead. Nangis aja, ga ada siapa-siapa yang bakal lihat. Selain aku.” Ucap Gian membuka pembicaraan.


“Ngapain kamu aja aku kesini?” Ucap Regina yang akhirnya menatap Gian dengan ekspresi galak


“To let you cry.” Gian juga sebenarnya tidak paham, kenapa dia tiba-tiba menolong Regina dari Alex dan menuntunnya kesini. Dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain, tapi entah kenapa tubuhnya seperti bergerak sendiri. Mendengar kata-kata menjijikan dari Alex membuatnya marah.


“Buat apa?” Tanya Regina dengan sikap defensif.


“Karena kamu butuh? But this is not the case, right?” Kata Gian kesal dengan sikap Regina. Dia juga tidak tahu. Dia hanya mencoba membantunya dan bersikap baik. “I helped you. So, at least you can say “thank you”.. or even sorry, maybe.”


“I didn’t ask your help.”


“Right. Balik lagi aja kesana terus babak belur dihajar Alex.”


Pelayan datang untuk menyerahkan 1 pot chamomile tea, scone dan beberapa dessert lain. Meskipun sekarang sangat malam dan sudah lewat jam untuk afternoon tea. Setelah selesai pelayan tersebut pergi kembali, meninggalkan Gian dan Regina yang canggung. Pada dasarnya mereka dua orang yang saling tidak mengenal. Hanya rangkaian kejadian aneh yang membuat mereka duduk bersama, memesan teh. Tak ada yang berkata apapun hampir 10 menit. Keheningan lebih nyaring diantara mereka yang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


“Makasih.” Kata Regina bersuara “Makasih udah nolongin aku. Sure, you saved me.” Lanjutnya tulus. Meskipun tidak mengerti kenapa Gian melakukannya.


“Kenapa kesini sama Alex? Kamu ga tau gosip kaya apa diluar sana soal dia?”


“Menurut kamu kenapa aku ga tau tentang Alex?” Regina menatap Gian. “Sama kaya yang kamu pikirkan waktu kita pertama ketemu, aku amatir dan ga tau apa-apa soal dunia bisnis ataupun orang-orang didalamnya. Bahkan aku ga tau kalau kamu CEO Gavels. And I”m sorry for that.”


Regina menghela napas. Jelas emosi sepertinya belum turun dari puncak kepalanya.


“Dia ngasih kesempatan ke perusahaanku agar bisa didanai atau paling ngga bisa masuk program inkubasi atau sejenisnya.”


“Terus kamu percaya?”


“Seenggaknya ada orang yang ngasih aku harapan.”


“Kamu beneran naif.” Cibir Gian.


“Ya. Aku naif, pebisnis amatir, ga kompeten, and I’m so frustrated.. Harapan dari Alex bikin aku ngerasa bisa selamat dari beban yang ga bisa aku tangani. Kamu ga akan ngerti gimana rasanya, karena kamu ngejalanin hidup yang perfect as CEO.” Ucap Regina marah. Air matanya yang coba dia sembunyikan, kini mengalir lagi dipipinya. Dengan segera dia menyekanya.


“You’re wrong. Aku ga hidup sempurna. Aku juga punya masalah yang ga bisa aku tangani.” Kata Gian mengingat masalah apa yang akan terjadi jika dia tidak segera menemukan istri 2 bulan lagi. Gian merasa simpati pada Regina, untuk pertama kalinya. Mereka seperti berada dikapal yang sama untuk urusan ini.


“At least bukan masalah duit.”


“Wrong again. Ini masalah duit kok.”


“How? Bukannya kamu orang kaya, CEO Gavels yang terkenal, populer banget dimata cewe sampe sekretarisku aja tau dan ngefans sama kamu.”

__ADS_1


Gian terkekeh dengan kata-kata Regina.


“Aku cuma CEO sementara, yang gantiin kakek pas beliau sakit. Setelah meninggal, beliau memang berencana menyerahkan posisi dan beberapa aset buatku. Tapi sayangnya aku harus memenuhi satu persyaratan darinya.”


“What? Serius?”


“Ya. Kalau kamu kira hidup aku baik-baik aja, jelas ngga.”


“Terus kalau kamu ga bisa memenuhi itu emang gimana?”


“Aku bakalan di cut dari daftar penerima warisan. Ga akan dapet sepeserpun.”


Regina yang mendengarnya tiba-tiba tertawa. Ternyata ada yang lebih aneh dari hidupnya. Sementara Regina ingin menolak semua warisan ayahnya yaitu sebuah perusahaan yang harus dia urusi, dibagian dunia lain ada orang yang sedang memperjuangkan untuk dapat hak warisannya.


“Maaf. Aku ga seharusnya ketawa. Soalnya it sounds crazy for me.”


“It’s okay. Aku juga nganggap ini gila. Sama sekali ga masuk akal.”


Tension diantara mereka turun. Sekarang mereka lebih santai mengobrol. Regina tidak bersikap defensif lagi terhadap Gian.


“Aneh banget ya hidup. Aku bahkan ga mau ngewarisin perusahaan ayah.”


“Kamu bisa jual perusahaan kamu, sebenarnya. Itu cara paling gampang buat mengatasi masalah. Bahkan kalau kamu terus mempertahankannya, no offense, dengan kemampuan kamu pada akhirnya akan collapse juga dan terpaksa kamu bakal jual buat menutupi biaya setelah kamu dinyatakan bangkrut.”


“Kamu tau aku ga bisa ngelakuin itu kan? Aku ga mau jual perusahaan peninggalan ayah, tapi aku ga tau gimana harus ngejalaninya.”


“Kamu ga harus jadi CEO buat jadi pemilik perusahaan. Hire someone yang capable buat posisi itu.”


Mereka terdiam sejenak. Regina menatap Gian kemudian mencodongkan tubuhnya ke meja. Gian menggeleng, memberi isyarat penolakan.


“No. Aku ga akan bantu kamu. Sampai saat ini, meskipun aku bersimpati sama kamu, penilaianku soal kelayakan perusahaanmu ga akan berubah. Gavels ga akan berinvestasi diperusahaan kamu. Aku harus mempertanggungjawabkan keputusan burukku dihadapan banyak petinggi Gavels, kalau aku menyelamatkanmu.”


Regina menatap piring dan dessert dengan kecewa. Makanan itu bahkan tak mereka sentuh. Keheningan mulai mengelilingi mereka lagi. Sekarang bahkan mereka bisa mendengar suara musik yang dimainkan dilayar belakang. Hal yang baru mereka sadari setelah hampir 1,5 jam duduk disana.


“Regina.” Ucap Gian. Baru pertama kali Regina mendengar Gian mengucapkan namanya semenjak tadi. Regina memfokuskan diri dan menatap Gian.


“Kamu mau ngelakuin apa aja demi menyelamatkan perusahaan? Bahkan hal-hal gila sekalipun?” Kata Gian penuh keraguan. Tiba-tiba terpikir untuk menanyakan hal gila itu pada Regina.


“Tergantung.” Jawab Regina curiga.


“Let say, aku nawarin buat membantu perusahaan kamu, bukan atas nama Gavels tentunya, tapi personal atas namaku. Kamu bakal ngambil kesempatan itu?”


“Kamu pingin apa dari aku sebagai gantinya?”


“Status pernikahan. Aku pingin kita nikah.”


Gian sudah menyerah mencari teman kencan. Dia selalu merasa tidak cocok. Tidak menginginkan mereka yang sangat terobsesi dengannya. Keinginannya hanya ditinggalkan sendirian dengan hidup dan kariernya. Beberapa kali terpikirkan untuk secara random mengajukan pertanyaan pernikahan kontrak pada teman kencannya. Tapi tidak pernah dia lakukan. Karena Gian tahu, mereka sangat tertarik padanya. Hanya Regina yang sejak awal memiliki pandangan dan citra negatif padanya. Tidak ada resiko apapun dari hubungan mereka, terlebih dengan tawaran itu Regina bisa mendapatkan keuntungan.


Regina kaget dan hanya bisa diam bingung beberapa saat. Kemudian tiba-tiba tertawa. Seakan baru mendengar lelucon paling lucu seumur hidupnya.


“Kamu bercanda, kan?” kata Regina yang masih tertawa geli dengan pernyataan Gian. Gian membalas pertanyaan Regina dengan gelengan kepala, ekspresinya tidak berubah. Dia tampak serius dengan ucapannya. Melihat hal tersebut, Regina menyadari bahwa Gian memang bersungguh-sungguh. Dengan canggung dia menghentikan tawanya. Regina mengatur napasnya sebelum berbicara kembali.

__ADS_1


“Beberapa waktu lalu temen kamu, mencoba melecehkan aku dan menggunakan jabatan juga kekayaannya buat menipu, bahkan mau melakukan hal bejad sama aku. Sekarang kamu, menawarkan bantuan, sebagai gantinya aku harus nikah sama kamu. Tau ga apa yang aku pikirin? Kamu sama ga warasnya kaya Alex.” Kata Regina.


“Aku ga tertarik sama kamu. Aku ngelakuin ini bukan karena alasan bejad atau yang lainnya. Ini cuma pernikahan kontrak. Kita ga bakal jadi suami istri asli.”


“Oooh jadi kamu mau mempermainkan pernikahan? Apa tujuan kamu sebenernya?”


“Buat dapetin hak warisku dan Gavels. Syarat yang kakek ajukan adalah aku harus nikah buat dapetin semua itu.”


“Then do it. Nikah sama pacar kamu.”


“Aku ga punya. Aku ga tertarik dengan pernikahan.”


“Kalau gitu kamu cari. Meskipun kamu ga mau, aku yakin ada banyak cewe yang tertarik sama kamu. Bahkan willing to do anything buat kamu nikahin. Tapi bukan aku. Aku ga mau.”


“Udah aku bilang aku ga tertarik pernikahan. Aku ga mau membangun rumah tangga yang berpotensi mengganggu hidup dan karierku. Aku Cuma butuh pernikahan diatas kertas. That’s it.”


“Kamu... Beneran ga waras. Kamu pikir ada orang yang mau ngelakuin itu? Pura-pura jadi istri kamu. Padahal kamu ga akan ngasih dia apa-apa bahkan cinta? Perhatian?”


“Aku bakal ngasih dia duit.”


“Cuma itu?”


“Makanya aku nyari orang yang ga tertarik sama aku. Biar dia ga terlalu demanding, nuntut aku buat jadi suaminya.”


“Terus kamu kira orang itu aku?”


“Maybe. Kita bakal saling membantu menyelesaikan masalah kita masing-masing dengan pernikahan kontrak. Kamu bisa menyelamatkan perusahaan dengan uangku, dan aku bisa dapet hak warisku. Setelah itu kita pisah.”


“Jawabanku tetap ngga. Buatku pernikahan itu suci. Bukan main-main kaya gitu.”


Mereka kemudian terdiam.


“Aku mau pulang sekarang.” Kata Regina bangkit dari duduknya. Gian menggenggam tangan Regina menghentikannya.


“Udah malam, lebih aman supirku yang antar.” Kata Gian.


Sekarang sudah jam 11 malam. Regina datang bersama Alex, dia tidak membawa mobilnya. Akan sulit mendapatkan kendaraan online dijam segini. Apalagi belum tentu aman. Regina akhirnya duduk kembali. Memilih pilihan yang masuk akal.


Gian melakukan panggilan telepon, sepertinya menghubungi supirnya untuk mengantarkan Regina.


“Tunggu sebentar. Supirku nanti kesini.” Ucap Gian.


Tak sampai sepuluh menit. Supir Gian sudah berada di restoran untuk mengantarkan Regina pulang. Sebelum pergi Gian menyerahkan kartu namanya pada Regina.


“Itu nomor pribadiku. Hubungi kalau kamu berubah pikiran.” Katanya sebelum melepas Regina pergi.


Regina mengambilnya, dan berlalu mengikuti supir Gian yang berjalan keluar restoran. Gian masih duduk disana, lama setelah Regina pergi. Pelayan memberitahukan restoran akan segera tutup. Baru setelah itu Gian pulang, dengan pikiran yang sangat kacau.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2