
“Gian, makan siang bareng yuk!” Kata Arsila ketika masuk keruang kerja Gian.
“Ngapain sih lu kesini?” Tanya Gian galak. Tumben sepupunya datang tanpa menghubunginya dulu.
“Mau ngajakin lu makan siang lah.”
“Tumben banget. Pasti ada agenda tersembunyi. Mau apa lu? Minta bantuan gua ya?”
“Idih sok penting lu.”
“Ya emang gua orang penting.”
Arsila kemudian duduk di sofa tamu dekat meja kerja Gian. Membereskan makanan yang dibawanya untuk makan siang bersama. Gian menyusul duduk di sofa sambil menyerahkan air mineral botol pada Arsila.
“Ayam mulu makanan lu.” Komentar Gian melihat 2 box chicken wings yang di bawa Arsila. Satu yang pedas berwarna merah menyala, dan satu lagi sepertinya rasa BBQ. Gian mengambil salah satu ayam dan memakannya.
“Banyak bacot lu.” Kata Arsila galak. Dia juga mulai memasukan potongan ayam ke mulutnya.
“Jadi siapa yang kemarin, Gi?” Tanya Arsila tiba-tiba.
“Yang kemarin apa?” Kata Gian bingung.
“Itu loh, kejadian kemarin di pesta gua.”
“Alex?” Tanya Gian. “Oh ya.. Sorry ya kemarin gua bikin ribut di pesta lu. Abis si Alex mabok.” Gian belum sempat meminta maaf pada Arsila untuk kejadian malam itu.
“Bukan yang itu. Cewe yang lu selametin dari si Alex itu looh.”
“Hah?”
“Dia siapa? Kok lu sampe emosi gitu ngehajar si Alex? Ga biasanya..” Goda Arsila.
“Kenalan gua. Si Alex udah keterlaluan aja ngomongnya.”
“Ya namanya orang mabok pasti ngomongnya ngelantur lah.” Balas Arsila “Yakin cewenya kenalan doang? Kok tumben gitu sepupuku yang tidak berperikemanusiaan bantuin orang. Cewe lagi.”
“Anjir. Kaya gini juga gua sebenernya baik hati. Suka tolong menolong pada sesama.”
“Idih najis.”
“Terus intinya lu kesini cuma buat cengcengin gua doing? Ga penting banget hidup lu. Kerja kek yang rajin.”
“Heh! Gua juga rajin kerja ya. Lu aja yang levelnya udah gila. Gila kerja.” Kata Arsila ngambek. “Gua cuma penasaran doang. Soalnya lu kemarin tiba-tiba bikin keributan, terus menghilang dan ga balik sampe acara gua beres.”
“Sorry gua balik duluan.”
__ADS_1
“Kemana lu? Nge-room ya sama cewe itu?”
“Lu hobi banget ya kayanya suudzon sama gua?”
“Bercandaaa.” Kata Arsila sambil tertawa. “Tapi kalau iya juga gak apa-apa. Berarti lu udah ketemu sama orang yang bikin lu tertarik.”
“Capek ah ngomong sama lu.” Ucap Gian sambil menyandarkan badannya ke sofa. Dia tidak bisa bilang pada Arsila bahwa wanita yang kemarin ditolongnya itu sudah dia ajak nikah kontrak. Arsila pasti memakinya. Tidak ada jaminan juga bahwa Regina akan menghubunginya dan berubah pikiran. Jelas dia sudah menolaknya mentah-mentah kemarin. Jadi tidak ada untungnya bagi Gian memberitahukan Arsila mengenai hubungannya dengan Regina, karena memang tidak ada apa-apa diantara mereka.
“Karena kemarin lu pulang duluan, jadi lu pasti ga tau.” Kata Arsila sambil menunjukan cincin yang melingkar dijari manisnya. “Darius ngelamar gua, Gi.” Lanjutnya riang.
“Woaah.. Congratulations, Sil ! Akhirnyaa..” Kata Gian ikut senang sepupunya tersebut dilamar oleh kekasih yang sudah lama dipacarinya.
“Renacananya 2 minggu lagi keluarga dia dateng ke rumah, buat lamaran. Nanti lu pulang ya ke rumah kakek. Tante Yuditha juga bakal nginep.”
“Bukannya kemarin lamarannya? Kok lamaran lagi?”
“IIh itu kan ga resmi. Nanti kan acaranya bareng keluarga sambil nentuin tanggal pernikahan gitu loh, Gi. Ngerti ga sih?”
“Ngga.” Jawab Gian singkat sambil mencomot ayam.
“Pokoknya nanti lu dateng aja. Nginep disana pokoknya.”
“Banyak acara banget sih. Gua orang sibuk ya, mohon maaf.”
“Iya.”
“Gila lu. Pantesan jomblo terus.” Kata Arsila tidak percaya.
***
Regina menceritakan kejadian yang dialaminya dipesta Arsila kepada Alea. Namun tanggapannya dingin, sepertinya dia sudah tidak memedulikan keselamatan Regina lagi. Persahabatan mereka sedikit demi sedikit mulai retak.
Puncaknya adalah seminggu setelah pesta Arsila, PZ Ventures mengirim email pemberitahuan bahwa Edmode tidak berhasil lolos untuk menjadi peserta program inkubasi dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi rekan investasi. Hal yang lebih parah adalah Edmode akan diblacklist dari pengajuan investasi PZ Ventures dengan catatan perilaku tidak menyenangkan dari CEO Edmode, yaitu Regina.
Begitu membaca email tersebut perasaan marah membakar hati Regina. Ini pasti karena Alex yang berkata buruk tentangnya. Padahal dialah orang yang kurang ajar dan berperilaku tidak menyenangkan. Rasanya Regina ingin meneleponnya dan memaki laki-laki kurang ajar itu. Sayangnya Alex sudah memblokir kontak Regina terlebih dahulu.
Regina masih sangat marah, bahkan ketika pintu ruangan kerjanya dibuka oleh Alea. Dia masuk dengan wajah cemberut. Regina yakin dia juga baru membaca email dari PZ Ventures yang Fadli forward padanya dan Alea.
“Gila banget kan apa yang Alex lakuin, Le? Dia sampe nulis perilaku tidak menyenangkan di email resmi kaya gini. Padahal dia yang kurang ajar.” Ucap Regina dengan marah.
“Harusnya kamu juga nanya itu sama diri kamu sendiri sih, Re.” Balas Alea dingin.
“Maksudnya?”
“Kamu ngebuang kesempatan satu-satunya buat perusahaan kita didanai oleh investor.”
__ADS_1
“Le, PZ Ventures dari awal ga berniat jadiin kita perusahaan buat berinvestasi. Alex cuma mau nipu kita aja. And maybe you forget. HE ASSAULTED ME!!” Teriak Regina marah.
“Kalau itu satu-satunya kesempatan biar kita bisa mengatasi krisis. Why not?”
“Maksud kamu, aku harus jual diri gitu sama Alex? Ngebiarin dia ngelecehin aku terus aku harus ngemis minta tolong sama dia buat bantu perusahaan kita? Gitu?”
“Ya. Lebih baik kamu jual diri sama Alex aja biar lebih berguna.”
Regina terkesiap dengan pernyataan Alea. Dia mengira Alea adalah sahabatnya yang akan mengerti posisi dan kesulitannya. Apalagi dia adalah Vice CEO, yang sangat tau banyak hal Regina korbankan demi perusahaan. Tabungannya, Rumahnya, hahkan dia harus menjaul mobil mahalnya dan mengganti dengan mobil tua. Air mata turun dipipi Regina.
“Aku ga nyangka kamu bisa ngomong kaya gitu sama sahabat kamu sendiri.”
“Sahabat? Bullshit! You made me suffer. Aku mengabdikan waktu, pikiran, dan tenagaku for nothing. Aku bukan sukarelawan, Re. Aku ga bisa terus kerja tanpa digaji dengan beban yang tinggi kaya gini.”
“Kamu kira aku ngga? Bukan kamu doang, Le!!”
“But this is yours. All of this is yours.” Teriak Alea “Perusahaan ini punya kamu dan aku ga bisa terus berada disini lagi. Ini semua tanggungjawab kamu. I quit.” Lanjut Alea.
“Kamu mau ninggalin aku, Le?”
“Ya. Aku resign, Re.” Jawab Alea sambil menangis. “Mungkin emang bener, kita ga seharusnya lead perusahaan ini. Kita ga tau apa-apa soal manufacture, bisnis, system, marketing. Kita cuma tau how to make a good clothes. That’s all.”
Mereka kemudian saling terdiam. Regina tahu bahwa Alea bersungguh-sungguh, dia sudah tidak ingin beada disini. Bekerja dengannya. Menahannya hanya akan memperburuk hubungannya. Namun jauh dalam hatinya, Regina ingin Alea tetap tinggal karena dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi ini sendiri.
“I will send you my resignation letter after this. Sorry, gua pingin cabut hari ini dan ga ngasih notice 1 bulan sebelumnya.” Ucap Alea. Regina tidak memberikan respon apapun.
Alea pergi dari ruangannya. Kemudian kembali 1 jam kemudian membawa surat pengunduran dirinya. Regina tahu Alea sudah memberitahukan pada karyawan lain saat itu juga. Keributan diluar ruangan Regina menjadi buktinya.
Alea membereskan barang-barangnya. Beberapa kotak barang pribadinya dia bawa ke mobil, Mang Jajang membantunya berkemas dan mengangkutnya. Regina bisa mendengar semua pembicaraan diluar kantornya yang kecil dan sempit itu. Alea beres-beres, Ale berpamitan, Alea membawa barang-barang, orang-orang meminta foto kenangan, dan lain-lain. Namun Regina tetap berada dikantornya.
Pikirannya dipenuhi kabut, dia tidak bisa berpikir dengan baik. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang. Kehilangan sahabat dan Vice CEO dalam waktu bersamaan, mendapatkan penolakan dari investor. Apakah hari ini bakal lebih buruk lagi?
Orang-orang kantor sudah pulang. Maya dan Fadli menemuinya untuk berpamitan pulang dan menanyakan perasaannya setelah Alea resign. Namun Regina tidak memberi balasan. Lampu-lampu kantor mulai mati satu persatu. Ruangan untuk produksi pun sudah tidak beraktivitas lagi. Regina masih tinggal. Setelah semua hening dan pergi, barulah Regina menangis sejadinya.
Hujan turun lebat diluar. Hingga pukul 6 sore Regina masih berada di kantornya. Menangis. Dia enggan pulang.
Masih duduk dimejanya, Regina meraih majalah yang berada ditumpukan dokumen daftar vendor. Majalah yang dia pinjam dari Maya. Foto Gian yang tersenyum berada di cover-nya.
Regina menyalakan handphone-nya. Membuka sosial media dan mengetik nama akun Gian.
‘Gian. Aku butuh bantuan kamu.’ Tulis Regina ke pesan sosial media milik Gian.
Dia sudah tidak memiliki nomor kontak Gian yang dia berikan malam itu. Sesaat setelah sampai rumah, dengan congkak, Regina membuang kartu nama Gian ke tempat sampah. Baginya berpikir untuk menikah karena membutuhkan uang saja sudah sangat menjijikan, apalagi melakukan pernikahan kontrak. Tapi hari ini, dia menelan semua kesombongannya dan bersiap mengambil keputusan.
__ADS_1