Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Tentang Perasaan


__ADS_3

Saat mendengar suara terisak dari balik telepon, amarah Gian naik ke kepala. Setelah mengatakan dia akan menjemput Regina, sambungan telepon ditutup. Dengan cepat dia pergi dari kantornya. Sekretarisnya yang ingin memberitahukan meeting tak lama lagi dibuat bingung.


“Tunda dulu sebentar. Saya ada urusan.” Katanya sambil berlalu.


Segera dia mengendarai mobilnya dengan pikiran yang kalut. Dia memacu mobilnya dengan cepat. Entah apa yang terjadi dengan Regina, mendengar dia menangis dari balik telepon menandakan sesuatu yang buruk terjadi.


Kenapa sih dia harus menyelidiki pengirim bunga itu sendiri? Kenapa dia tidak memintanya untuk melakukannya? Dia marah sekaligus kesal. Harusnya Gian tahu kalau Regina memang sangat impulsif. Dia seperti bocah yang dengan sengaja lompat kedalam bahaya. Selalu seperti itu.


Akhir-akhir ini Gian selalu berpikir ada hal yang berubah darinya. Sebagian otaknya seperti dibajak oleh gadis itu. Entah sejak kapan dia selalu saja beraksi berlebihan terhadap tindakan-tindakan Regina. Terkadang Gian tidak menyukainya, namun tubuhnya seperti menuntunnya untuk melakukan itu berulang-ulang. Dia akan pulang lebih cepat dari biasanya, duduk mendengarkan Regina berceloteh sepanjang makan malam, dia tidak ingin Regina makan malam sendirian karena dia pulang telat, memastikan kondisi mobil Regina baik setiap pagi karena mobilnya gampang mogok, membuatkannya cokelat panas setiap pagi karena Regina tidak bisa meminum kopi, mengisi lemari tempat camilan karena Regina sangat suka ngemil saat menonton, mengawasinya di kantor lewat Dimas dan banyak hal yang tidak masuk akal yang tak pernah dilakukan sebelumnya.


Awalnya Gian mengira ini hanya karena ingin menjaga agar suasana diantara dia dan Regina baik dan tidak terjadi masalah. Regina sangat menolaknya saat pertama menjalankan kontrak pernikahan dan tinggal satu rumah. Padahal Gian bukanlah musuhnya, dia melakukan semua itu hanya untuk membuat Regina menurunkan sikap defensif terhadapnya. Dia berbuat baik agar hubungan antar keduanya tidak begitu canggung. Tidak bisa dibayangkan harus tinggal dengan orang yang tak dikenalnya selama 2 tahun, apalagi jika diantara mereka tidak terjalin hubungan yang baik. Namun lama kelamaan, Gian merasa sangat perlu untuk terus ikut campur dan melindungi gadis itu karena dia sering membawa masalah yang tak terduga.


Sikap baiknya terhadap Regina tanpa dia sadari berubah menjadi kebiasaan dan keharusan. Dia terus melakukan itu untuk membuat Regina nyaman dan hubungan mereka tidak kaku lagi. Tapi sepertinya perilakunya sudah jauh dari niat awalnya. Perasaan-perasaan aneh timbul dalam hatinya jika hal itu berhubungan dengan Regina.


Dalam hidupnya kedamaian adalah hal yang sangat penting. Gian tidak pernah punya musuh ataupun mencoba mengusik kehidupan orang lain. Dia bahkan tidak sekalipun menggunakan kemampuan bela dirinya untuk melukai orang lain. Tidak perlu hal tersebut. Pertama kalinya dia menghajar seseorang adalah karena Regina, yang kedua kalipun karena Regina. Selalu karena dia. Setelah mengantar Regina pulang saat kejadian bersama Alex, Gian langsung mendatangi kediaman Mahendra dan mengancam Adijaya Mahendra karena perbuatan anak keduanya itu. Gian tidak pernah seemosional itu seumur hidupnya. Menimbulkan kekacauan di rumah orang lain yang menjadi salah satu sahabat kakeknya. Sampai sekarang, dia membenci dirinya sendiri karena kehilangan ketenangannya saat itu.


Gian mengerang dan mencengkram setirnya, mengenyahkan kekesalan dan rasa paniknya. Kenapa semua hal tentang Regina selalu mempengaruhinya? Padahal tujuannya hanya ingin hidup damai dan berkarir tanpa perlu memikirkan hal lain. Berulang kali dia menenangkan diri dengan pergi business trip, menjauhi Regina. Berusaha menghilang dan tidak menghubunginya. Tapi saat pulang dan melihat Regina lagi, pikirannya akan kembali penuh olehnya.


...****************...


Rafi sudah pergi dari café beberapa saat lalu. Dia cukup waras untuk tidak melanjutkan pembicaraannya karena Regina begitu marah dan histeris. Dia memberikan nomor kontaknya untuk dihubungi, gadis itu masih berbaik hati menyimpannya. Dia sangat mengetahui bagaimana Regina, meskipun saat ini mungkin hatinya sedang mengarah pada orang lain. Tapi ada bagian untuknya yang tidak akan bisa digantikan. Mereka berulang kali putus-nyambung selama pacaran. Mencoba untuk mengisi hati dengan yang lain, sebelum akhirnya bersatu kembali. Kali ini pun, Rafi percaya hati Regina masih menyimpan perasaan padanya. Sama halnya seperti dia. Meskipun dulu dia sangat yakin untuk meninggalkan Regina karena perbedaan pendapat, dia tidak bisa berbohong dan tidak bisa mencintai Winda, istrinya.


Hal yang selalu ingin dia lakukan setiap hari adalah pulang ke Indonesia dan menemui Regina. Dia akan melakukan apa saja agar bisa bersama lagi, bahkan mendukung keputusannya jika Regina ingin terus berkarir dan mementingkan perusahaannya. Asalkan Regina kembali padanya. Kehidupan rumah tangga Regina dengan orang baru tersebut tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka lewati. Orang baru tetaplah orang baru. Dia tidak tahu apapun tentang Regina.


Pelayan wanita memberikan Regina segelas air putih setelah Rafi pergi, kemudian tersenyum menenangkan. Mungkin dia mengira Regina habis putus dengan pacaranya karena berteriak dan menangis disana. Pelayan tersebut memberi isyarat semangat kepada Regina sebelum kembali ke tempatnya dibalik kasir.


Selama 1 jam Regina hanya duduk disana sambil berusaha menghentikan tangisnya dan mengontrol perasaannya. Perasaannya tak karuan, kedatangan Rafi membuka luka lama yang tak ingin diingatnya. Tapi semua memori tentang laki-laki itu juga bukanlah tentang luka, namun tentang masa remaja dan perasaan cintanya yang bertahun-tahun dia rasakan, bertemu dengannya juga memberinya perasaan senang yang tidak bisa dijelaskan. Mulutnya bisa saja berbohong tidak menginginkan Rafi lagi, tapi melihatnya berada dihadapannya memohon dan meminta maaf membuat hatinya gentar.

__ADS_1


Perasaan tersebut tidak bisa dia bandingkan dengan perasaanya terhadap Gian, hal yang berbeda dari banyak sisi. Regina menyukai Gian yang sangat bisa diandalkan, selalu bersikap baik padanya, dan melindunginya, tapi apakah hal seperti itu bisa diakui sebagai cinta? Regina memikirkan kembali perasaannya terhadap Gian. Tak ada perasaan meletup seperti kembang api saat mereka bersama, hanya perasaan damai dan nyaman, terkadang kebingungan dan kekosongan. Berbeda dengan hal yang selalu dirasakannya dengan Rafi, perasaan padanya seperti sebuah festival. Ramai dan menyenangkan, cintanya tumbuh ketika remaja dan berlanjut hingga mereka dewasa.


Hubungannya dengan Gian juga hanyalah kontrak semata, selain itu Gian belum tentu menyukainya. Laki-laki tersebut berulang kali mengatakan untuk tidak mencoba memiliki perasaan apapun padanya. Seandainya pun itu cinta, bukanlah itu hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan? Haruskah dia memperjuangkan perasaan seperti itu pada Gian yang dengan jelas menolaknya sejak awal? Lagipula hubungan mereka akan berakhir kurang dari 2 tahun lagi. Tak akan ada yang tersisa diantara keduanya.


Sementara Rafi sangat mencintainya. Dia kembali setelah sekian lama, bercerai dan meninggalkan istrinya untuk kembali dengannya. Dulu mungkin Rafi pergi dan membuatnya terluka. Tapi sekarang dia datang lagi dan ingin menebusnya. Orang-orang sering mengatakan lebih baik bersama dengan orang yang mencintai kita dibandingkan dengan orang yang kita cintai. Tapi apakah itu hal yang benar?


Saat Gian sampai di café, Regina hanya duduk sendirian. Menatap kosong cangkir kopi yang tidak diminumnya. Dia menatap bingung Gian saat melihatnya mendekat.


“Cowo itu kemana?” Kata Gian tanpa basa-basi.


Regina terdiam sejenak sebelum menjawab Gian yang sekarang sudah duduk dihadapannya, di tempat tadi Rafi duduk. Penampilannya agak berantakan, dasinya tampak longgar, rambutnya yang lurus sedikit mencuat dibagian samping seperti habis dijambak, dia tidak memakai blazernya. Tatapannya kurang menyenangkan, sepertinya Gian datang kesini dengan membawa awan badai dikepalanya. Dia terlihat bad mood.


“Cowo apa?” tanya Regina bingung.


“Mantan kamu”


“Kok kamu tahu soal mantanku?” Tanya Regina tambah bingung. Gian tadi meneleponnya mengatakan dia akan menjemput, kemudian menutupnya dengan segera ketika Regina menyebutkan dimana dia sekarang berada. Sepertinya Gian tahu tentang pertemuannya dengan Rafi, makanya dia langsung menanyakan keberadaan laki-laki itu saat datang.


“Udah pulang sejam yang lalu.”


“Terus ngapain kamu masih disini nangis-nangis?” Tanyanya kesal. Regina merasa sedang dimarahi dan dia tidak menyukainya. “Ayo cepetan pulang.” Lanjutnya kemudian menarik lengan Regina agar berdiri. Gian membayar tagihan sebelum keluar ke parkiran, menuntun Regina ke mobilnya.


“Aku bawa mobil kok, Gi.” Kata Regina saat mereka sampai di mobil Gian.


“Tinggalin aja, nanti Pak Ayus yang bawa.”


Regina ingin menolaknya. Tapi Gian sedang dalam kondisi yang buruk, dia ketus sekali. Setelah beberapa bulan tinggal dengannya, Regina tahu kapan Gian sedang tidak mood untuk berbicara apalagi di debat. Meskipun hampir setiap hari Gian sangat baik, ada saat dimana Regina bahkan tidak berani menolak perkataan Gian. Akhirnya dia masuk mobil mengikutinya dengan diam.

__ADS_1


Diperjalanan Regina hanya menatap jalanan. Dia takut untuk menatap Gian yang sedang kesal. Kenapa dia bisa sekesal itu? Apakah karena tahu Regina menemui Rafi? Seharunya hal tersebut tidak membuat moodnya hancur seperti sekarang, kan? Gian tidak pernah menganggap Regina sebagai pasangannya. Kalaupun Regina menemui laki-laki lain dan berkencan dengan mereka, harusnya hal tersebut tidak akan menjadi masalah, seperti yang perjanjian mereka sebutkan. Apakah Gian cemburu? Regina segera menghilangkan pikiran tersebut dari benaknya. Gian adalah satu-satunya orang yang paling rajin mengatakan jangan pernah punya perasaan apapun dihubungan ini. Mana mungkin dia cemburu dan menaruh perasaan untuknya.


“Kok ini ke kantor kamu sih?” Tanya Regina saat mobil memasuki gedung Gavels. Gian menghentikan mobilnya di lobby depan.


“Aku ada meeting sekarang.”


“Ya udah aku pulang pake taksi online aja.”


“Diem di kantor aku dulu.” Katanya dingin sambil menatap Regina yang dari tadi protes. Regina langsung mengatupkan kembali bibirnya, tidak berani membantah.


Mereka turun dari mobil. Gian menyerahkan kunci mobilnya pada petugas yang akan memarkirkan mobil. Mereka berjalan menuju lift. Regina baru ke gedung ini lagi semenjak dia dengan putus asa menemui Gian untuk meminta tolong. Kali ini berbeda dengan terakhir kali berkunjung. Tidak ada penolakan dari satpam. Malahan semua orang sekarang memberinya anggukan dan senyuman. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan terlihat berbisik-bisik kepada temannya setelah melihat Regina mengekor di belakang Gian.  Kalau dipikir-pikir ini pertama kalinya Regina kesini semenjak menikah dengan si CEO Gavels. Regina teringat dia baru saja menangis, pasti wajahnya sangat jelek sekarang. Jika tahu Gian akan membawanya kesini, dia akan menutupi mata merahnya dengan concealer dan berdandan sedikit. Menyebalkan! Dia tidak suka dilihat saat penampilannya berantakan.


Di lift hanya ada mereka berdua. Regina masih belum berani membuka mulutnya dihadapan Gian. Entah apa maksudnya dia dibawa kesini. Lift berhenti kemudian berdenting sebelum pintu terbuka. Dua meja berada di sisi kiri dan kanan pintu menuju ruangan Gian. Dulu saat Regina kesini, kursi tersebut kosong, sekarang ada 2 wanita cantik yang mendudukinya. Sekretaris Gian.


Salah satu diantara mereka berdiri saat melihat Gian keluar dari lift. Wanita cantik dan tinggi, dengan kemeja putih dan rok span berwarna kelabu, badannya ramping menampilkan lekukan tubuh indah. Rambutnya tergulung rapi, tanpa poni, dengan riasan make up bold, ditambah lipstik maroon yang segar. Regina membenci fakta bahwa sekretaris Gian sangat cantik seperti ini. Jika dibandingkan dengannya yang hari ini terlihat seperti bocah yang hilang, tanpa riasan dan baju cantik, membuatnya tambah sebal.


“Pak, meeting-nya sudah saya tunda 15 menit. Tamunya sudah ada di ruang meeting sekarang.” Katanya dengan lembut.


“Saya segera kesana.” Kata Gian. “Gita, pesenin Regina makan siang.” Lanjut Gian pada sekretarisnya yang lain. Wanita yang lebih muda, kemudian berdiri dari mejanya dan mengangguk sambil tersenyum pada Regina.


Ruangan Gian tampak sama seperti yang terakhir Regina ingat. Ruangan dengan desain modern dan minimalis dengan dominasi warna putih dan hitam. Gian merapikan penampilannya sejenak, kemudian memakai blazer berwarna navy yang dia tinggalkan di kursi kerjanya, dan kemudian menenteng laptopnya.


“Tunggu disini sebentar. Aku mau meeting dulu.” Ucapnya pada Regina kemudian meninggalkan ruangan. Regina hanya mengangguk menurutinya dengan patuh kemudian duduk di sofa yang dulu dia duduki saat pertama kali menemui Gian.


 


...----------------...

__ADS_1


Sebenernya Gian udah mulai suka belum sih sama Regina? Hayooo


hahahaha 😂


__ADS_2