
Pukul 11 malam Gian baru pulang ke rumah. Lampu-lampu sudah mati, sepertinya Regina sudah tidur. Kebiasaannya beberapa waktu ini dia pulang lebih malam. Menghindari waktu makan malam bersama Regina. Dia sedang tidak ingin berbicara apapun dengannya.
Gian mengerti bahwa Regina masih menyimpan perasaan pada mantannya, yang membuatnya tidak bisa berpikir secara logis. Entah kenapa hal tersebut sangat menganggunya. Perasaan tidak menyenangkan itu berulang kali muncul setiap mengingat Regina terus membela mantannya.
Apa yang salah dengan tindakannya? Dia berusaha melindungi kerahasiaan kontrak mereka dan menghindarkan Regina dari bahaya dengan membuat mantannya kehilangan pekerjaannya. Gian ingin memberi laki-laki itu peringatan agar tidak main-main dengannya. Apalagi berusaha mendekati Regina kembali.
Mengetahui fakta bahwa Regina sangat lembek bersikap pada mantan yang telah menyakitinya tersebut membuat Gian muak. Kalau dia menginginkan untuk kembali bersama orang itu, dia tidak akan peduli lagi pada Regina.
Semua usahanya untuk membuatnya aman malah dianggap hal yang berlebihan olehnya. Harusnya Regina berterima kasih padanya.
Dimeja makan sudah tersedia makan malam. Meskipun Gian mendiamkan Regina, dia tetap memasakan makanan untuknya setiap hari. Rasanya ingin mengabaikannya saja, tapi Gian tak sampai hati melakukannya. Dia akan tetap duduk dan memakan makanan tersebut sampai habis. Dia kesal dengan Regina, tapi tak bisa menolak makanan yang dimasak untuknya. Dia tahu kalau makanan itu bersisa saat pagi, Regina akan sangat murung. Sejak kapan dia merasa sangat bertanggung jawab terhadap perasaan Regina?
...****************...
Pernikahan Arsila adalah acara yang tidak bisa dihindari. Mereka akan berkumpul di kediaman Gumelar untuk acara siraman dan pengajian sebelum pernikahan Arsila. Terpaksa Gian dan Regina harus menginap disana atas permintaan keluarga. Mereka harus bersikap semuanya baik-baik saja. Padahal mereka sudah tidak bertegur sapa selama 2 minggu.
Topeng dan kebohongan sebagai pasangan suami istri harus mereka pasang kembali. Demi menghindari kecurigaan dan pembicaraan jelek dari keluarga.
Regina tidak ingin meminta maaf pada Gian yang bersikap berlebihan terhadap Rafi. Begitupun Gian yang tidak ingin meminta maaf pada Regina karena merasa tindakannya sudah tepat untuk membuat mantannya dipecat dari pekerjaannya. Tak ada yang mau mengalah diantara keduanya. Meskipun mereka tahu saling mendiamkan satu sama lain sangat menyiksa perasaan mereka.
“Kamu lagi berantem ya sama Gian?” Tanya Lina tiba-tiba saat Regina berkumpul dengan Arsila dan Lina untuk mengobrol di balkon lantai 2. Regina hanya menggeleng dan tersenyum.
“Ketahuan kali, Re.” Kata Arsila.
__ADS_1
“Gian tuh ketahuan banget kalau lagi bad mood.” Tambah Lina.
“Iya, jadi super jutek. Ngeselin emang anaknya.”
“Kenapa sih? Berantem karena apa?”
“Ngga kok, cuma karena masalah kecil doang.”
“Gian tuh sifatnya kadang jelek banget. Dia ga mau minta maaf kalau dia ngerasa ga salah. Dia tuh batu banget, ga bisa dibilangin. Harus banyak sabaaaar.” Kata Arsila sambil tertawa.
“Tapi gampang kok biar dia luluh dan ga marah-marah terus. Bikin dia ngerasa dibutuhin.”
Pembicaraan dengan sepupu Gian sangat menyenangkan untuk Regina. Banyak hal yang tidak dia ketahui tentang laki-laki itu. Setidaknya disini dia tidak merasa kesepian karena punya teman mengobrol. Semenjak Gian bersikap dingin padanya. Dunianya kembali menjadi sepi tanpa obrolan-obrolan singkat saat pulang kerja.
Setelah acara siraman dan pengajian selesai, Regina beristrirahat di kamar lama Gian ketika dia masih tinggal di rumah ini. Mereka harus tidur sekamar sekarang. Sebenarnya dalam keadaan sekarang Regina sangat ingin meminta untuk tidur di kamar tamu, dan berharap tidak bertemu dengan Gian untuk sementara waktu. Tapi hal tersebut akan menjadi pertanyaan besar bagi keluarga, mereka harus mempertahankan kebohongan tentang pernikahan kontraknya. Selain itu, kamar tamu kini penuh ditempati saudara dari Esty, ibu dari Arsila. Mereka jauh-jauh datang dari berbagai kota untuk menghadiri acara ini.
Regina merebahkan badannya di kasur setelah membersihkan diri. Dia menarik selimut dan mencoba memejamkan mata. Tapi tak kunjung tertidur. Jika dipikir kembali ini adalah pertama kalinya mereka tidur bersama di satu kamar. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar. Dia tidak mengharapkan apapun, tapi perasaannya tiba-tiba menjadi gugup.
Gian baru masuk ke kamar saat hampir larut malam. Dia melihat Regina yang sudah tertidur di salah satu sisi ranjang. Di tengah, sudah ditempatkan guling dan bantal untuk memisahkan ruang tidur mereka di ranjang. Gian berpikir Regina sepertinya tidak mau tidur bersamanya. Itu sudah jelas, yang hanya ada dipikiran Regina saat ini adalah mantannya. Pasti seperti itu.
Gian memainkan handphone-nya sejenak sambil duduk di sofa. Dia memeriksa beberapa pesan penting yang tak sempat dibukanya karena harus mengikuti acara sejak sore. Setelah itu, dia menyimpan handphone-nya dan beranjak ke kamar mandi.
Mata Regina sebenarnya belum terpejam saat Gian datang ke kamar. Tapi dia memutuskan untuk diam membatu seperti orang tertidur. Dia bisa mendengar apa yang Gian lakukan di kamar dan melihatnya dari matanya yang dia biarkan sedikit terbuka. Mencuri-curi pandang pada laki-laki itu. Cukup lama Gian berada di kamar mandi, kemudian dia keluar bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang hitam. Lama dia mencari-cari kaos di tas yang dia bawa dari rumah. Sampai akhirnya menemukan kaos putih polos dan memakainya.
__ADS_1
Saat melihat secara sembunyi-sembunyi saat Gian keluar dari kamar mandi, hatinya terlonjak mendapati laki-laki tersebut hanya bertelanjang dada. Tiba-tiba dia merasa tersipu dan malu sendiri. Padahal dia sudah sering melihat artis-artis Korea di drama berpenampilan seperti itu. Tapi itu pertama kalinya Regina melihat langsung di dunia nyata. Apalagi itu adalah Gian. Regina segera menutup matanya, menghentikan pemandangan yang bisa membuat jantungnya berdetak sangat kencang dan panik entah kenapa.
Gian membaringkan diri di samping Regina. Mereka tidur dengan posisi saling membelakangi dan terhalang guling sebagai pembatas. Dengan segera Gian menarik selimutnya dan memejamkan mata. Regina bisa merasakan gerakan-gerakan yang dibuat oleh Gian di sebelahnya, juga dia bisa mencium aroma menthol yang segar saat Gian berbaring disana. Laki-laki itu sudah bersih dan beraroma menthol yang menyegarkan, membuat perasaan Regina semakin tidak karuan. Dia ingin membalikan badannya kemudian memeluk Gian dari belakang. Mencium aroma wanginya sehabis mandi dan merasakan kehangatan pelukan Gian. Pasti rasanya sangat nyaman. Regina mengutuki dirinya sendiri dalam hati karena pikiran anehnya. Ingin sekali dia menampar pipinya agar tersadar.
Regina diam tak bergerak saat Gian berbaring di ranjang. Sepertinya gadis itu sudah tertidur lelap dan tidak mendengar apa-apa saat Gian masuk ke kamar. Mereka tidur bersisian, namun terasa berjauhan. Saat menjatuhkan kepalanya kebantal dan mencoba terlelap. Gian bisa merasakan keberadaan Regina disebelahnya. Tercium wangi shampoo yang dia gunakan pada rambutnya yang terurai. Campuran wangi floral yang manis. Membuat seketika perasaannya menggila. Dia ingin membalikkan tubuhnya, kemudian memeluk Regina. Merasakan aroma shampoo dan parfumnya banyak-banyak. Pikirannya semakin tak terkendali. Dia sangat ingin menyentuh kulit putih Regina, merasakan dingin dan lembutnya. Semakin Gian memejamkan mata, semakin banyak pikiran kotor yang menganggunya. Membuatnya malu sendiri hingga telinganya memerah karena membayangkan hal yang tidak seharusnya.
Saat ini dia sedang kesal dengan gadis itu. Tapi nalurinya tidak bisa berbohong sama sekali. Dia sangat ingin memeluk Regina saat itu juga. Otak dan hatinya selalu saja tak tenang dan berisik saat memikirkan gadis itu. Gian kira setelah mencoba menjauhinya, semua perasaan aneh yang dia rasakan akan menghilang. Ternyata dia salah. Regina benar-benar menghancurkan ketenangan dan kedamaian dihidupnya.
F#ck!
Gian bangkit dari tempat tidur dengan gerakan tiba-tiba. Membawa bantalnya dan menjauh dari Regina. Kini dia tidur di sofa yang berada di kamar tersebut. Semakin lama berada satu ranjang dengan Regina, pikiran kotor dan hasratnya semakin menggila. Gian mengingatkan pada dirinya sendiri berulang kali “Ini hanya pernikahan kontrak” dan dia tidak boleh melakukan hal-hal seperti itu pada Regina. Lagipula gadis itu tak menginginkannya, yang ada dalam kepalanya hanya mantannya yang gila itu.
Malam itu tak satupun dari mereka tertidur dengan nyenyak. Hanya membaringkan tubuh dan pura-pura terlelap, sementara pikiran mereka penuh dengan fantasi dan dugaan-dugaan yang tak nyata.
...****************...
Gian baru menyelesaikan meeting saat melihat panggilan dari Regina ke handphone-nya. Dia sedikit terperanjat dengan panggilan tersebut, sudah hampir 3 minggu mereka bertengkar dan tidak ada satupun dari mereka yang mengalah. Semenjak itu pula mereka tak saling berkirim pesan ataupun menghubungi. Apakah Regina menyerah dan mencoba meminta maaf padanya sekarang? Gian menekan tombol untuk menjawab telepon tersebut.
“Gi.. aku sekarang di Rumah sakit.. aku kecelakaan.. nabrak orang.. kamu bisa dateng ke sini ga?” Kata Regina dengan terbata diiringi suara terisak. Gian sudah bisa membayangkan bagaimana wajahnya dibalik telepon.
Kecelakaan? Menabrak Orang? Masalah apalagi yang dia timbulkan sekarang?
“Ya, aku kesana sekarang.” Balas Gian. Jelas hatinya menjadi tidak tenang dan tak karuan.
__ADS_1