
Sudah seminggu semenjak Gian dan Regina menjadi pasangan suami istri. Kehidupan mereka kembali seperti semula. Mereka tetap bekerja dan tinggal terpisah di apartemen masing-masing.
Regina masih sering menerima candaan rekan ditempat kerjanya mengenai statusnya yang masih pengantin baru. Humor-humor dewasa sering dilemparkan padanya, berharap Regina menyambutnya. Namun dia hanya ikut tertawa dan bingung harus membalas apa.
Tidak ada yang terjadi antara dia dan Gian setelah pernikahan, hanya ciuman malam itu saja yang Gian berikan. Bahkan semenjak itu mereka sudah tidak berkomunikasi lagi. Tak satu pesan pun Regina terima dari suaminya. Terkadang dia ingin mengasihani dirinya sendiri karena merasa seperti istri yang tidak diinginkan. Tapi disisi lain dia juga tak ingin mendapatkan apapun dari Gian, bahkan perhatian sekalipun.
...***...
Pukul 7 pagi Gian sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, membersihkan lantai apartemennya yang berdebu, sarapan dan mandi. Rambut basahnya masih tersisa dikepalanya saat dia memasukkan cucian kotor ke mesin cuci. Bel apartemen berbunyi. Dia tidak pernah kedatangan tamu sepagi ini.
Saat pintu dibuka, Narta sudah berdiri disana. Mengenakan sweater rajut berwarna bata dan celana panjang berwarna cokelat. Tas selempang kecil tersampir di pundaknya.
“Saya ganggu ya pagi-pagi?” Sapanya sambil tersenyum lebar.
“Oh ngga kok.” Balas Gian kaget. “Masuk, Pak.” Lanjutnya sambil mempersilakannya masuk.
“Regina kemana, Gi?” Kata Narta saat telah duduk di sofa.
“Emm.. ke pasar.” Kata Gian berbohong. Mampus, dia tidak siap untuk kunjungan dadakan seperti ini. Bagaimana kalau Narta sampai tahu bahwa dia dan Regina tidak tinggal bersama? Tiba-tiba Gian panik.
“Pagi-pagi gini?” Tanyanya lagi heran.
“Emm..ya.. Soalnya makanan udah pada abis.” Jawab Gian terbata.
“Kamu ga nganter? Kasihan loh sendirian.”
“Saya disuruh...nyuci.” Jawab Gian ragu.
“Oh... Saya kesini mau ketemu kalian. Ada hal yang harus dibicarakan. Amanah dari almarhum Pak Gumelar.”
“Harus kita berdua? Regina lagi ga ada. Saya nanti bisa kasih tau kalau dia udah pulang.”
“Saya pingin Regina juga denger.”
Narta benar-benar tidak bisa ditawar. Dia baru akan bicara jika Regina hadir disana.
“Saya telepon Regina dulu kalau gitu.” Kata Gian menyerah dan membuka handphone-nya.
‘Sayang, kamu udah belum belanjanya?’ Kata Gian saat telah tersambung dengan Regina di telepon.
‘Hah?’ Regina yang sedang BAB di toilet bingung karena panggilan telepon Gian. Dia mengecek layar teleponnya untuk melihat siapa yang menghubungi. Dia tidak salah lihat, itu nomor Gian.
‘Cepetan pulang ya, sayang. Ada Pak Narta disini.”
‘Gian apaan sih?’
‘Regi, ada Pak Narta berkunjung kesini. CEPETAN PULANG.’ Ulang Gian penuh penekanan.
‘Hah? Pak Narta ke apartemen kamu? Ngapain? Sepagi ini?’ Tanya Regina.
‘Iya. Aku ga tau, makanya cepetan pulang aja. Belanjanya nanti siang aja.’ Lanjut Gian dengan lembut. Mencoba tidak menaikkan nadanya karena Regina belum tersambung dengan maksud obrolannya.
‘Ih kenapa sih gak ngasih tau dulu kalau mau dateng!’ Keluh Regina. ‘Iya bentar lagi aku kesana!’
Regina menyelesaikan dengan cepat masalah perutnya. Kemudian langsung berangkat ke tempat Gian. Dia mengendarai mobil dengan ngebut. Jalanan cukup lengang karena sekarang akhir pekan.
__ADS_1
‘Dimana?’ Kata Gian ditelepon bertanya lagi saat Regina masih menyetir.
‘Sabar bisa ga sih? Kamu mau aku mati kecelakaan karena ngebut?’ Jawab Regina kesal.
‘Ya udah cepatan!’
Regina sampai di apartemen Gian. Napasnya tersengal-sengal karena harus berlari kesana. Gian membuka pintu apartemennya dan mereka saling berbisik bersitegang. Regina mendorong kantong berisi makanan ke arah Gian yang secara acak dia kosongkan dari lemari esnya di rumah. Untuk melengkapi skenarionya berbelanja makanan seperti yang dikatakan Gian.
“Udah lama nunggu ya, Pak. Maaf ya. Saya harus belanja dulu.” Kata Regina sambil duduk disebrang Narta. Gian mengikuti dibelakangnya.
“Gak apa-apa. Saya yang datang ga bilang dulu.” Kata Narta. “Apartemen kamu masih lengang gini. Ga ada barangnya Regina disini?” Lanjutnya bertanya pada Gian sambil memperhatikan sekeliling. Memang tidak ada barang Regina disana, karena mereka tidak pernah tinggal bersama semenjak menikah.
“Emm.. Barang-barang saya sebagian masih di apartemen, barangnya banyak.” Jawab Regina canggung.
“Oh ya? Emang disini ga cukup?”
“Emm.. Agak sempit sih. Jadi sebagian masih di simpan disana.” Lanjut Gian.
“Wah kalau gitu kebetulan. Jadi saya kesini mau menyampaikan amanat dari almarhum Pak Gumelar. Soal tempat tinggal kalian setelah menikah.” Kata Narta dengan ceria.
“Maksudnya?” Tanya Gian bingung.
“Jadi beliau menitipkan pada saya hadiah untuk pernikahan cucu-cucunya. Setiap cucunya yang menikah, beliau sudah menyediakan rumah untuk ditinggali. Jadi kalian bisa pindah ke tempat yang lebih luas daripada diapartemen.”
“Maksudnya kakek udah beliin rumah buat kita, gitu?”
“Iya. Lina juga sudah mendapatkan rumah tinggal dari Pak Gumelar setelah menikah. Begitupun kamu, dan nanti Arsila menyusul.”
“Kita lebih suka tinggal di apartemen aja. Rencananya kita mau beli unit yang lebih besar dibandingkan dengan ini.”
“Ga usah.” Bantah Narta. “Pakai aja rumah yang udah Pak Gumelar kasih. Disana lebih luas, ada tamannya. Supaya nanti anak-anak kalian bisa main ditaman. Daripada di apartemen kan ga leluasa. Lingkungannya juga bagus kok.” Lanjutnya lagi.
“Yakin kalian ga bersedia? Ini amanat dari Pak Gumelar loh.” Kata Narta penuh penekanan. “Gi?” Lanjutnya bertanya pada Gian.
Gian tampak sedang berpikir. Dalam perjanjiannya dengan Regina, mereka tidak harus tinggal bersama. Tapi rupanya kakeknya telah menyediakan rumah untuknya bersama istrinya. Kalau keinginan kakeknya tersebut ditolak. Ada kemungkinan proses alih warisnya akan dipersulit oleh Narta. Gian paham apa yang sedang dilakukan Narta disini, dan bagaimana pemikiran kakeknya.
“Ya udah nanti kita pindah kesana.” Kata Gian pasrah. Regina menatap Gian dengan sebal mendengar ucapannya tersebut.
“Nah gitu. Nanti kamu bisa menghubungi Haryanto asisten saya untuk pengurusan dokumennya. Sementara waktu saya ga ada di Jakarta. Saya hari ini pulang ke Medan untuk acara pernikahan keponakan. Makanya saya pagi-pagi kesini.” Jelas Narta sambil tertawa.
Mereka kemudian mengobrol setelah itu cukup lama. Hingga akhirnya Narta pamit untuk pulang dan melanjutkan perjalanan ke bandara.
“Sekarang jadi rajin keramas ya, Gi?” Kata Narta tertawa sambil menunjuk rambut Gian yang belum kering.
“Pengantin baru.” Kata Gian menanggapi candaan tersebut.
Regina hanya diam cemberut di tempat tadi dia duduk. Setelah seminggu tidak bertemu dengan Gian. Malah kabar jelek yang didapatkannya.
“Kenapa sih kamu harus setuju?” Tanya Regina kesal saat Gian datang sehabis mengantar Narta pulang.
“Ya gimana, itu kan permintaan kakek. Emang kamu pikir aku tau bakal kaya gini?” Kata Gian menyerang balik. Regina hanya membuang napas sebal.
“Kayanya kakek kamu tau kalau kamu bakal ngelakuin hal kaya gini. Pura-pura nikah sama orang. Makanya dia ngasih kamu rumah biar kita tinggal bareng.”
Gian hanya terdiam dan menghela napas. Dia juga tidak menginginkan mereka tinggal bersama. Dia tidak ingin hidupnya dicampuri oleh orang lain. Gian hanya ingin hidup tenang dan bekerja.
__ADS_1
“Biarpun kita tinggal satu rumah ya ga masalah. Lagian kita bisa pisah kamar dan ga tidur bareng. Terus apa masalahnya?” Kata Gian menawarkan solusi. “Kalau aku ga nurutin permintaan kakek. Bisa-bisa tujuan aku ga akan tercapai. Kamu mau?”
Regina masih belum rela untuk tinggal bersama dengan Gian. Tapi jelas kedatangan Narta kesini bukan untuk membujuk mereka, melainkan memaksa mereka agar pindah. Regina sadar mengenai hal itu, tetapi hatinya masih saja bekum menerimanya. Dia masih diam dan mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
“Regina, kamu harus mengikuti apa yang ada diperjanjian kita. Mengikuti aturan mainku.” Kata Gian dengan tegas. “Minggu depan kita pindah ke rumah baru.” Lanjutnya.
Regina tidak bisa berkata tidak pada perintah Gian. Mau tidak mau dia harus mengikutinya sesuai perjanjian mereka. Meskipun bertentangan dengan keinginannya. Lagipula Gian adalah suami sahnya. Secara moral, dia harus tunduk padanya.
...*** ...
... ...
... ...
Setelah banyak perdebatan diantara Gian dan Regina akhirnya mereka pindah pada hari Minggu. Sepekan setelah kedatangan Narta ke apartemen Gian.
Jasa pindahan rumah sudah tiba, saat Gian dan Regina sampai kesana. Dengan sigap para petugas tersebut mengangkut barang-barang yang ada di truk ke dalam Rumah.
Rumah baru mereka cukup besar, seperti yang dikatakan Narta. Terdiri dari 4 kamar di lantai 2, dapur dan ruang keluarga yang luas, serta ruang tamu. Garasinya pun cukup besar, bisa memuat kedua mobil Regina dan Gian. Terdapat taman di samping namun belum terisi tanaman, hanya rumput-rumput dan semak yang tidak cukup tinggi.
“Aku mau dikamar utama, yang ada walking closet-nya.” Kata Regina setelah melihat-lihat rumah tersebut.
“Ya aku lah yang tidur disana. Aku kan yang punya rumah.” Balas Gian tak mau kalah.
“Kamu ga lihat baju-baju dan barangku yang banyak?” Kata Regina menunjuk 6 koper baju-bajunya yang masih teronggok di ruang tamu. Gian tidak mau berdebat lagi dengan Regina, setelah seminggu terus beradu argumen dengannya. Membuat Regina mau pindah saja sudah menyebabkan sakit kepala.
“Ya udah terserah.” Kata Gian mengalah.
Gian membayar orang untuk merapikan semua barang-barang dan menatanya. Dia hanya mau terima beres dan tidak mau pusing.
Ruangan belum banyak yang mereka tempati. Hanya kamar Regina, kamarnya dan satu kamar yang Gian jadikan ruang kerjanya. Belum banyak furnitur yang diisi di rumah tersebut. Hanya beberapa barang seadanya yang mereka bawa dari apartemen masing-masing. Sepertinya memang mereka berdua hidup sangat minimalis hingga sekarang.
Saat semua sudah selesai dan rapi. Mereka untuk pertama kalinya duduk berdua di meja makan di dapur rumah baru, sebagai suami istri. Mereka hanya memesan makanan dari ojek online. Tidak sempat memasak karena terlalu sibuk mengurus pindahan.
“Besok aku bakalan business trip ke Singapura buat 3 hari. Aku ga akan ada dirumah.” Kata Gian memecah keheningan diantara keduanya.
“Oke.” Balas Regina. “Oh ya, Gi. Aku mau pake kamar kosong diatas buat ruangan kerjaku. Aku juga pingin desain ulang interior dapur, ruang keluarga dan ruang tamu. Oh ya, aku pingin ganti TV jadi yang lebih gede.” Lanjut Regina penuh semangat.
Gian bangkit dari duduknya, mengambil dompet yang berada disaku belakang celananya. Kemudian mengeluarkan kartu kreditnya.
“Pake aja terserah kamu.” Katanya sambil menaruh kartu kredit diatas meja.
“Buat renovasi?” Kata Regina canggung. Dia sebenarnya tidak berniat meminta uang dari Gian, dia hanya memberitahukan saja rencananya untuk mendesain ulang rumah ini. Lagipula ini rumah Gian, dia harus meminta izinnya terlebih dahulu.
“Buat pegangan kamu juga. Terserah kamu mau pake buat apa.”
Regina semakin merasa canggung karena Gian.
“Anggap aja aku kasih kamu nafkah. Sekarang aku kan suami kamu.” Kata Gian memiringkan kepalanya menatap Regina sambil tersenyum menggoda.
“Huweek” Balas Regina jijik. Gian hanya tertawa melihat reaksi Regina.
Malam itu mereka cukup banyak mengobrol tentang berbagai hal, terutama kemajuan bisnis Regina. Sebenarnya jika tidak sedang kesal, Regina adalah teman berbicara yang cukup menyenangkan. Dia senang melihat Regina berceloteh dan bercerita. Mungkin bukan hal yang buruk bagi mereka untuk tinggal bersama. Sekarang Gian punya teman ngobrol saat pulang dari tempat kerja.
__ADS_1