Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Program Hamil


__ADS_3

Postingan di sosial media Arsila membuat Regina mematung beberapa saat. Hasil tes kehamilan dan wajah bahagia Arsila dan Darius tergambar disana. Namun sebaliknya, air mata justru luruh ke pipi Regina. Harusnya dia juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan Arsila jika kehamilannya masih bertahan. Mengingat kejadian itu kembali membuat Regina sakit. Dia belum bisa merelakannya.


Gian baru keluar kamar mandi, mengenakan baju yang nyaman dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia melihat Regina di atas kasur, menangis memandangi handphone-nya. Padahal sebelum dia mandi mereka masih tertawa dan mengobrol dengan santai.


“Kamu kenapa, Re?” Tanya Gian, duduk di samping Regina, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal.


“Kak Arsila hamil.” Jawab Regina mencoba terdengar tenang, Gian mengambil handphone dari genggaman Regina. “Kalau aja aku ga bodoh—“


“Regina!” Ucap Gian memperingatkan Regina agar tidak mulai menyalahkan dirinya sendiri. Saat itu Regina tidak tahu apa-apa tentang kehamilannya, kecerobohan itu bukanlah salahnya.


“Aku mau mulai program hamil, Gi.”


Gian terdiam sejenak, “Ya udah.“


“Aku masih nyari dokter yang tepat buat promil.”


“Ya udah cari info dulu aja semua dokter yang menurut kamu bagus. Aku ikut aja.”


Regina memeluk GIan, mood-nya kembali membaik setelah mendengar persetujuan Gian tentang rencananya melakukan program kehamilan.


“Thank you.” Ucap Regina.


Gian memperhatikan Regina yang kembali ceria. Sebenarnya dalam hati, Gian belum ada keinginan untuk memiliki anak. Dia masih menikmati waktu berdua saja dengan Regina. Bahkan Gian tidak keberatan sama sekali jika mereka akhirnya memutuskan tidak punya anak. Tapi Regina sangat menginginkannya. Sulit untuk menolak permintaan istrinya itu.


Setelah Gian memutuskan untuk melanjutkan pernikahannya menjadi sebuah hubungan yang sebenaranya, hidupnya menjadi cukup sibuk dengan keberadaan Regina. Meskipun semua pekerjaannya berjalan cukup lancar juga, harus diakui performanya menurun. Gian mudah sekali terdistraksi oleh urusannya bersama Regina. Tentu saja semua itu menyenangkan. Tapi jika harus menambah 1 orang lagi dalam hidupnya yang membuat fokusnya hilang dari pekerjaan, Gian tidak tahu apakah dia bisa. Semua pikiran itu dia telan sendiri, takut jika Regina tahu, dia akan sangat kecewa padanya.


***


Regina mulai pencarian dokter kandungan ahli fertilitas lewat forum-forum di internet. Sekarang Regina setiap hari berdiskusi dengan Arsila perihal rekomendasi dokter dan pengalamannya mengikuti program kehamilan. Beberapa ibu-ibu di lingkungan sosialita juga menawarkan beberapa dokter rekomendasi untuk Regina pertimbangkan.

__ADS_1


Sekarang Regina sudah mulai aktif bekerja kembali setelah masa cuti kegugurannya selesai, rekan-rekan kerjanya yang lebih senior juga sering memberikan nasehat agar Regina cepat hamil kembali. Siklus bulanannya sudah mulai lancar, sebenarnya tidak masalah jika mencoba kehamilan alami dulu tanpa pemeriksaan ke dokter. Namun mempersiapkan kembali untuk kehamilannya, Regina butuh saran ahli karena masih takut mengalami kegagalan seperti sebelumnya. Semakin awal dipersiapkan, dia akan semakin siap.


“Ini Dokter Arifin, anak yang punya Rumah Sakit tempatku ikut promil.” Ucap Arsila memperkenalkan dokter muda berumur 35 tahunan di sebuah acara pertemuan. Regina menjabat tangan dokter ramah tersebut.


“Masih muda, udah jadi spesialis dan ahli fertilitas juga. Hebat banget ya.” Kata Gian dengan nada sedikit kasar. Dia tidak menyukai cara dokter tersebut menatap istrinya dan tebar pesona.


“Bukan dia dokternya, Gi.” Kata Regina berbisik dan memperingatkan Gian.


“Oh saya bukan dokter kandungan, dan saya juga belum jadi spesialis. Masih residen di bagian bedah umum.” Balas Arifin santai sambil tersenyum. “Nanti saya hubungi Dokter Ratih dan lihat kesediaan jadwal konsul diluar jam praktik beliau. Biar Bu Regina ga usah antri di pendaftaran umum. Soalnya pasien beliau banyak banget, maklum dokter senior.” Lanjutnya.


“Makasih banyak bantuannya, dok.”


“Don’t mention it.”


Arifin menghilang diantara kerumunan setelah pembicaraan selesai. Regina menatap kesal pada Gian yang dari tadi bersikap menyebalkan di depan Arifin.


“Ya habisnya dia liatin kamu kaya gitu. Aku ga suka ada cowo yang liatin kamu genit.”


“Dia udah punya istri dan anak, Giaaan!!” Kata Regina kesal. Padahal sikap Arifin biasa saja padanya.


***


Setelah mendapatkan konfirmasi mengenai jadwal dokter dari Arifin, Regina dan Gian menjalankan serangkaian tes penunjang untuk memulai program hamil. Seperti yang dikatakan Arifin, Dokter Ratih merupakan salah satu dokter senior dan terbaik dibidangnya. Dokter berusia 52 tahun tersebut sangat ramah, dan informatif. Sama sekali tak keberatan ketika Regina bertanya banyak hal mengenai program hamil yang akan mereka jalankan.


Setelah 2 kali konsultasi dan melakukan tes laboratorium untuk mengecek urine, darah, dan tes sp*rma. Regina juga melakukan USG. Dokter mengatakan tak ada masalah pada pasangan tersebut. Meskipun Regina sempat mengalami keguguran, dokter menyarankan untuk melakukan kehamilan alami terlebih dahulu selama 6 bulan kedepan, karena tidak ditemukan masalah yang menghalangi kehamilan secara alami pada mereka. Beberapa vitamin dan obat kesuburan juga sudah di resepkan agar diminum secara teratur.


Untuk 6 bulan kedepan, Regina akan menjalankan semua saran dan nasehat dokternya. Gian hanya mengikuti dan menemani Regina saja. Dia memasrahkan semua urusan program hamil ini pada istrinya yang sangat semangat.


Bulan Pertama

__ADS_1


“Re, aku ada business trip 4 hari ke Medan.” Kata Gian memberitahu saat makan malam.


“Kapan?”


“Hari senin berangkat.”


Regina mengecek handphone-nya sejenak, “Ga boleh. Itu deket masa ovulasi aku, Gi. Kan kamu tahu kita lagi promil dan harus berhubungan dekat masa ovulasiku.”


“Ini penting, Aku gak bisa batalin.”


“Tapi kita kan lagi promil, Gi. Kamu harusnya sediain waktu biar ga ke luar kota dulu.”


“Ya udah bulan depan aja mulainya, bulan ini aku ga bisa kosongin jadwal. Aku harus pergi ke luar kota.”


“Kok kamu gitu sih, Gi?”


“Ya gimana. Aku beneran sibuk bulan ini. Kita bisa mulai bulan depan, Re. Ga usah buru-buru juga.”


Perdebatan mereka di meja makan membuat Regina kesal pada Gian. Kebiasaan gila kerjanya belum juga berubah, padahal Regina hanya butuh beberapa hari saja. Tapi Gian tetap tidak bersedia menyediakan waktunya. Apa mungkin Gian tidak berpikir promilnya penting? Sejak awal Gian memang menyetujui idenya untuk mengikuti promil, tapi dia tidak excited sama sekali. Tuduhan buruk menjadi liar di kepala Regina.


“Kamu ambil cuti aja seminggu, terus ikut aku ke Medan. Bisa, kan?” Tanya Gian menawarkan solusi. Regina hanya diam saja, masih sebal untuk menanggapinya.


Meskipun enggan akhirnya Regina mengikuti apa yang dikatakan Gian. Ikut ke Medan bersamanya, sekalian berlibur pikirnya. Tapi setelah sampai disana, Gian menghabiskan 4 hari dengan meeting bersama perusahaan yang bekerja sama dengannya. Menginggalkan Regina di hotel sendirian. Dia hanya pulang ke hotel saat sore ketika semua urusannya selesai.


Regina menatap aplikasi tracking untuk jadwal bulananya, seharusnya 3 hari yang lalu dia sudah menstruasi. Tapi kedatangannya belum juga muncul. Ada perasaan khawatir dan harap yang tak bisa dia jelaskan. Apa mungkin promilnya berhasil sekali coba? Regina belum berani mengeceknya dengan test pack. Lebih baik menunggu hingga seminggu.


Banyak buku dan info diinternet yang sudah Regina baca untuk mempersiapkan kehamilannya kali ini. Selama 5 hari dia sudah merasakan perubahan dalam tubuhnya. Tanda-tanda awal kehamilan memang hampir mirip ketika datang bulan, dia sendiri juga tidak bisa membedakannya. Regina dengan sabar menunggu 2 hari lagi untuk mengeceknya.


Perasaan tak nyaman Regina rasakan di perutnya ketika terbangun, mood-nya tiba-tiba menjadi jelek. Saat ke toilet, perasaan Regina semakin suram dan gelap setelah melihat seberkas darah membekas pada dalaman yang dia kenakan. Regina menstruasi. Promil bulan pertama gagal total.

__ADS_1


__ADS_2