
Arsila datang ke rumah sakit membawa beberapa pakaian ganti Gian, buah-buahan, dan camilan lainnya untuk Regina. Tadi malam dia sangat kaget mendapatkan pesan dari Gian tentang Regina yang keguguran. Dia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Regina mengalami kejadian seperti ini. Arsila semakin bersimpati padanya karena saat ini dia sedang dalam program kehamilan. Makanya dia berniat datang pagi-pagi untuk memberikan dukungan moral untuk Regina.
Saat sampai di lantai 4 rumah sakit tempat Regina menginap, Arsila melihat Gian duduk sendiri di kursi panjang dekat nurse station. Pandangannya berkabut, dia terlihat sedang berpikir. Sepertinya kehilangan ini juga berdampak pada Gian. Segera Arsila duduk disamping Gian.
“Are you okay, Gi?” Tanya Arsila khawatir. Gian hanya menggeleng pelan kemudian menghembuskan napas dalam-dalam. “It’s okay. Kamu pasti kaget pas tahu Regina keguguran.” Lanjut Arsila bersimpati. Namun Gian menggeleng lagi.
“Aku khawatirin hal lain, Sil.” Balas Gian.
“Kamu belum baikan sama Regina soal si Vanya itu?” Arsila menebak pikiran Gian.
“Regina ga mau percaya sama aku. Dia malah minta cerai.”
Arsila menyandarkan punggungnya ke kursi. Ikut terseret kedalam keputusasaan Gian. Dia menghembuskan napas berat.
“Should I help?” Tanya Arsila kemudian menggenggam tangan Gian. Tak ada balasan dari Gian.
“Aku ngerti sih kenapa Regina bisa bikin keputusan ekstrem kaya gitu tanpa mau denger alasan kamu dulu. Apalagi kamu bilang, dia dulu pernah ditinggalin nikah sama tunangannya. Ga akan gampang percaya lagi sama cowo, terlebih dia lihat kamu bareng sama cewe yang bikin dia cemburu. Trust issue-nya ga main-main, Gi.” Jelas Arsila. “But, let me talk to her. Siapa tahu dia bisa mikirin ulang soal keputusannya. Regina gak mungkin tiba-tiba gak sayang sama kamu, Gi.” Lanjut Arsila menenangkan Gian.
***
Ketika masuk ke ruang rawat inap, Regina sedang duduk memandang kosong jendela di samping tempat tidurnya. Dia baru mengalihkan pandangan ke arah pintu saat Arsila menyapanya.
“Gimana kabar kamu, Re? Udah baikan?” Kata Arsila berjalan menuju ranjang Regina kemudian memeluknya. “Ga usah dijawab. Aku tahu kamu gak baik-baik aja.” Lanjut Arsila semakin erat memeluk Regina.
Hanya anggukan kuat yang bisa Regina berikan untuk merespon. Hatinya hancur hingga tak berbentuk lagi. Keputusan beratnya mengenai hubungannya dengan Gian ditambah kehilangan bayinya. Dia tidak akan pernah baik-baik saja. Air matanya luruh lagi ke pipinya.
“Gak apa-apa nangis aja yang banyak, yang kenceng. Saat kaya gini kita gak usah pura-pura kuat.” Arsila mencoba menenangkan Regini, mengusap-usap punggungnya bersimpati.
Buah-buahan yang dibawanya ditata di keranjang buah dekat ranjang Regina. Kemudian Arsila mengupas satu buah mangga dan menyimpannya di piring pada overbed table. Menyerahkannya ke depan Regina untuk dia makan. Regina memakan satu persatu buah yang telah Arsila kupas. Rasa manis menyeruak dimulutnya, membuatnya lebih tenang.
“Aku boleh tanya sesuatu ga, Re? Ga dijawab juga ga apa-apa.” Kata Arsila berhati-hati. “Kamu masih sayang sama Gian?” Lanjutnya.
“Kak Arsila tahu masalah aku sama Gian ya? Dia cerita?” Balas Regina, dia sudah bisa menduga dari pertanyaan yang Arsila ajukan. Regina menyimpan garpunya dipiring, tak melanjutkan makannya.
“Lebih tepatnya Gian beberapa hari lalu dateng, terus akhirnya cerita. Aku kenal Gian dari kecil, dia ga pernah cerita apapun, seburuk apapun kejadian itu selalu dia simpan sendiri. Tapi kemarin dia dateng ke rumahku, dengan penampilan acak-acakan, kurang tidur, dan putus asa. Aku udah menduga masalahnya rumit, ga bisa dia simpan sendiri. Makanya dia sampe nyari aku buat cerita.”
“Aku tahu, kamu bakal nganggap ceritaku ini sebagai pembelaan buat Gian. Dan aku juga ga punya hak buat mencampuri urusan kalian. Tapi sebagai orang yang kenal dan deket sama Gian dan Vanya dari dulu. Aku mau memastikan sama kamu, kalau Gian ga pernah suka sama Vanya. Sejak dulu sampai sekarang.”
__ADS_1
“Tapi aku lihat dia sama Vanya. Dia juga nawarin kerjasama seakan-akan dia ga punya masa lalu apa-apa sama Vanya. It hurts me.”
“I know. Dia terlalu baik, terlalu considerate, dan ga pernah anggap Vanya ancaman buat dirinya. Selama dia ga punya perasaan apa-apa, hal kayak gitu ga masalah dilakukan, beda sama kita. Iya kan? Selama orang itu punya masa lalu sama kita atau pasangan,lebih baik kita menghindar atau gak berhubungan sama sekali dengan mereka. Hal-hal kayak gitu gak masuk akal buat Gian.”
“Disaat kayak sekarang, yang kamu butuhin cuma pasangan kamu, Re. Cuma Gian. Kamu ga bisa lewatin kehilangan bayi kamu sendirian. Jangan bikin keputusan yang akan bikin kamu menyesal. Kalian masih baru, belum 1 tahun menikah. Salah paham kayak gini pasti akan sering terjadi.”
“Kamu boleh ga percaya sama Gian. Tapi kamu percaya sama aku kan, Re? Kita sama-sama cewe, aku ngerti perasaan kamu kayak gimana. Aku terkesan bela Gian karena aku emang tahu dia ga salah. Kalau dia beneran selingkuh sama Vanya dan berbuat jahat, aku yang akan duluan hajar dia dan nyuruh kamu buat tinggalin dia.” Kata Arsila tersenyum sambil menggenggam tangan Regina.
Regina tahu keputusannya sangat terburu-buru dan emosional, dia tidak memberikan Gian kesempatan untuk mengatakan alasannya, ketika Gian telah menjelaskan pun tetap saja Regina tidak bisa menerimanya. Arsila benar, saat ini dia sangat membutuhkan Gian. Dia ingin dihibur dan diperhatikan. Setiap hari saat dia melarikan diri dari Gian, dalam hati kecilnya selalu berharap dia ditemukan. Dan Gian akhirnya selalu menemukannya.
***
Setelah 3 hari di rawat di rumah sakit, Regina diizinkan pulang. Mereka tidak pernah membicarakan lagi tentang Vanya ataupun kejadian malam itu. Meskipun mereka tidak sepenuhnya mengatasi masalah dan berbaikan. Ada suasana canggung yang masih mereka pertahankan. Hanya berbicara dan berkomunikasi seperlunya. Sebenarnya Regina yang masih mencoba mendiamkan Gian. Sedangkan Gian tetap memperlakukannya dengan baik dan meperhatikannya.
Sama halnya ketika mereka awal menikah dulu, kini Gian menempati kamar yang terpisah. Regina masih menolak untuk tidur satu ranjang dengan Gian. Sebenarnya kesal dan marah sudah hampir tak bisa Gian kendalikan karena sikap Regina yang tidak masuk akal. Semuanya tidak adil baginya. Regina sama sekali tidak mau bersikap baik dan menurunkan amarah atau egonya. Gian setiap hari ingin mendesak dan mempertanyakan semua perilaku Regina. Memintanya menjelaskan apa sebenarnya keinginannya sekarang. Jika Regina terus menyiksanya dengan bersikap dingin dan tetap ingin berpisah dengannya, terpikir untuk menyetujuinya saja.
Namun Gian selalu mengingat nasehat Arsila untuk memberikan Regina waktu dan bersikap egois sekarang. Menerimanya lagi setelah krisis kepercayaan bukan perkara mudah. Yang harus Gian lakukan adalah membuktikan bahwa hubungan mereka memang pantas untuk dipertahankan dan dia memang menyayangi Regina dengan setulus hati, meskipun sikap Regina saat ini sedang menyebalkan.
2 minggu telah berlalu namun tak ada perubahan dengan sikap Regina padanya. Gian sudah tidak tahu lagi harus bersabar hingga kapan. Dia yakin pelan-pelan dia akan meledak juga. Sekarang setiap pulang, perasaan Gian menjadi berat dan tidak nyaman. Gian memang menyayangi Regina, tapi lama kelamaan dia semakin frustrasi dengan keadaan rumah tangganya.
Semua lampu ruangan sudah mati kecuali lampu dapur yang masih menyala dengan terang. Sepertinya Regina sudah tertidur dan lupa mematikannya. Saat Gian berjalan masuk ke dapur, Regina sedang duduk sendirian di meja makan. Menatap kosong cangkir berisi minuman cokelat yang mungkin saat ini sudah menjadi dingin.
“Ga bisa tidur.” Jawabnya singkat.
“Cepetan tidur. Jangan bergadang, kamu harus banyak istirahat.”
“Gi.”
“Hmmm”
Regina terdiam sesaat, menghembuskan napas berat sebelum menlanjutkan perkataannya.
“Aku udah bunuh anak kita, Gi.”
“Maksudnya?” Tanya Gian bingung.
“Aku ga tau kalau saat itu aku hamil, aku minum banyak obat, aku pikir aku sakit. Sampe akhirnya aku keguguran.” Air mata berjatuhan tak tertahan. Regina mengira bisa mengatasi perasaan bersalahnya seiring waktu berjalan. Tapi semakin hari, dia tidak bisa tenang. Apalagi Gian tidak tahu penyebab kegugurannya.
__ADS_1
Gian cukup terkejut dengan pengakuan Regina. Selama ini dia berpikir Regina merahasiakan kehamilan darinya karena masih marah padanya, ternyata mereka sama-sama tidak tahu mengenai kehamilan itu hingga hari disaat Regina keguguran. Gian menyeret kursi dan duduk disamping Regina, kemudian memeluknya. Regina menangis kembali seperti saat pertama kali bangun di rumah sakit. Tangannya meremas kemeja Gian dengan kuat. Dia terus meratap.
Tak ada yang bisa Gian lakukan selain memeluknya, mengelus punggung Regina, dan berada disana menyokongnya. Mungkin selama 2 minggu ini pikirannya terus tertuju pada perasaan bersalah karena kehilangan. Gian sama sekali tidak bisa membaca sedikitpun bahwa Regina sedang depresi pasca keguguran. Dia selalu mengira sikapnya yang dingin karena masalahnya dengan Vanya.
“Kamu ga usah merasa bersalah. Bukan salah kamu, karena kamu ga tahu apa-apa waktu itu, Re.” Ucap Gian lembut.
Arsila benar. Saat ini Gian lah yang sangat dia butuhkan. Bisa mengatakan semua hal yang mengganggunya dan memeluknya lagi setelah sekian lama membuat perasaannya lega. Dia begitu takut Gian akan sangat marah mendengar penjelasan Regina tentang penyebab kegugurannya. Tapi Gian menanggapinya dengan tenang dan malah terus berusaha menenangkannya.
Regina menyadari tindakan bodohnya selama ini. Jika Gian memang benar-benar selingkuh, dia akan merebut kembali laki-laki ini dari siapapun juga. Gian miliknya. Regina membutuhkan. Tak ada seorang wanita pun yang akan memiliki Gian selain dirinya, termasuk Vanya.
***
Sebuah paket sampai di kediaman Sunaryo, salah satu anggota direksi dan pemegang saham Gavels. ART mereka menyerahkan paket tersebut kepada Melinda, istri Sunaryo. Mereka sedang sarapan pagi bersama anak dan cucunya di ruang makan.
“Ada paket buat ibu.” Kata ART tersebut menyerahkan ke tangan majikannya.
Paket ukuran sedang dengan box berwarna silver dan pita sutra berwarna senada. Dengan bingung Melinda membuka paket tersebut. Setelah melepas box cantik yang membungkus. Box lain muncul, berwarna biru velvet dengan ukiran sulur-sulur tanaman dari tinta emas tergambar di box-nya.
“Ya Ampuuuun. Ini yang mamih cari.” Seru Melinda ketika melihat sepasang anting cantik terbuat dari berlian, lengkap dengan sertifikatnya.
“Apa tuh, Mih?” Tanya Sunaryo penasaran.
“Anting berlian, Pih. Yang Mamih mau itu.”
“Wah dari siapa tuh yang ngirim barang mahal kaya gitu?” Tanya Sunaryo curiga.
“Regina?” Ucap Melinda bingung, saat membaca kartu ucapan kecil bertuliskan selamat ulang tahun untuknya. “Istrinya Gian? Iya kan? Yang baru nikah sama Gian itu?” Lanjutnya tambah bingung.
“Kok tahu Mamih suka berlian?”
“Ga tau. Mamih ga pernah ngobrol sama istrinya Gian selain pas makan malam setelah resepsi.”
“Mungkin ngajak temenan kali, Mih.” Ucap anak Melinda “Kan sekarang udah jadi istrinya Kak Gian. Harus bergaul sama istri orang-orang penting di Gavels.” Lanjutnya menduga.
Perkataan anaknya masuk akal. Istri Gian yang selama ini tak pernah bergaul ataupun diekspose CEO muda itu memang mungkin sedang mencari kawan untuk bergabung dilingkungan sosialnya yang baru. Melinda menghargai pemberian Regina dan cara perkenalannya tersebut. Dia langsung meminta kontak Regina pada asisten suaminya untuk berterima kasih secara langsung dan menjalin hubungan baik dengannya. Tidak ada salahnya dekat dengan istri CEO muda yang baru menetas dilingkungan sosialita tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan like ya❤️