Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Terimakasih


__ADS_3

Sarapan sudah tersaji dimeja saat Regina turun ke dapur. Gian membuatkannya soft pancake dengan butter dan sirup maple. Wangi pancake mengisi ruangan dan membuatnya lapar. Baru kali ini Gian memasakkan makanan untuknya.


“Kamu udah baikan?” Kata Gian saat Regina memasuki dapur.


Regina hanya mengangguk pelan. Dia tidak sempat melihat wajahnya sendiri dicermin saat turun. Pasti dia terlihat sangat kacau, dia juga bisa merasakan matanya bengkak karena menangis semalaman. Masih terlintas kejadian tadi malam diingatannya. Perbuatan yang dilakukan Alex membuatnya sangat takut. Tapi entah kenapa yang paling diingat Regina hanya Gian. Gian dan Gian. Bagaimana brutalnya dia memukuli Alex, dan pelukannya sepanjang malam. Dia sangat malu karena terus menempel pada Gian malam kemarin. Sekarang dia tak mampu menatap laki-laki di depannya itu tanpa tersipu. Perasaanya sangat tergerak oleh perilaku Gian tersebut.


Pancake yang cantik menunggu untuk disantap. Regina duduk di salah satu kursi meja makan tanpa bersuara. Gian kemudian duduk disampingnya. Tangannya menggapai lengan Regina yang masih diperban.


“Masih sakit?” Tanya Gian lagi. Dia mengelus pergelangan tangan Regina dengan lembut. Hanya anggukan yang bisa Regina berikan untuk pertanyaan-pertanyaan Gian. Apakah Gian melihatnya yang tiba-tiba jadi salah tingkah?


Karena tangannya yang cedera, Regina dengan susah payah memotong-motong pancake yang ada dihadapannya. Dengan sigap Gian mengambil alih dan memotong-motong pancake tersebut menjadi bagian yang mudah dimakan, agar Regina tidak kerepotan. Kemudian dia hanya memperhatikan Regina menyelesaikan sarapannya.


“Kamu ga makan?” Tanya Regina yang semakin tidak nyaman terus diawasi oleh Gian.


“Udah tadi.” Jawabnya santai. “Regi, soal yang semalam.” Lanjut Gian berhati-hati. Dia takut Regina masih trauma dengan kejadian tersebut.


“Aku udah menghubungi keluarga Mahendra soal kelakuan Alex, juga udah punya bukti CCTV di hotel soal pelecehan itu. Mereka ingin meminta maaf sama kamu dan bilang buat ga bawa masalah ini ke polisi. Tapi aku ga bisa ngasih mereka balasan apapun tanpa persetujuan kamu. Kalau kamu mau ngajuin kasus ini ke polisi, aku akan sewa pengacara dan minta orang-orangku buat ngumpulin bukti lain buat nuntut mereka.” Kata Gian menjelaskan.


Regina diam sesaat untuk berpikir. Keluarga Mahendra adalah salah satu konglomerat dan investor besar, sama halnya dengan keluarga Airlangga. Kejadian ini pasti tak ingin bocor ke publik. Tapi Regina tidak ingin Alex lolos begitu saja tanpa hukuman. Dia juga tak ingin melihat wajahnya yang menjijikan itu. Jika Regina melaporkan kejadian ini ke polisi, apakah Gian juga akan terlibat? Malam itu Gian memukuli Alex hingga cedera. Dia takut Gian juga akan dituntut untuk hal tersebut.


“Kamu mukulin Alex tadi malem. Kamu juga bakal dilaporin sama keluarga Mahendra?”


“Ngga. Mereka ga akan berani laporin aku balik.”


“Aku ga akan laporin ini ke polisi, Gi. Tapi aku mau Alex dihukum dan aku ga mau lihat dia lagi seumur hidupku.”


“Mereka udah cabut dia dari posisinya di PZ Ventures dan semua asetnya udah dibekukan sama ayahnya. Hari ini dia pergi ke LA. Dia bakal menetap disana. Kalau Alex sampe melanggar dan balik ke Indonesia. Keluarga Mahendra bakal berurusan sama orang-orangku. Kalau keputusan kamu ga akan laporin Alex, aku ga ada hak buat maksa. Tapi kalau kamu mau lanjutin kasusnya. I’ll be here by your side and do my best to support you.” Ucap Gian meyakinkan. Mendengarnya membuat hati Regina terasa nyaman. Selama ini dia selalu menghadapi banyak hal sendirian, tanpa siapapun untuk bersandar dan mendukungnya. Kata-kata Gian sangat menyentuh perasaannya. Regina belum mengenal Gian lama, tapi dia sangat bisa diandalkan. Kehadirannya menjadi tiang kokoh tempatnya berpegangan.

__ADS_1


Semua yang dilakukan Gian padanya bukan pura-pura. Dia penuh empati dan sampai saat ini sangat berhati-hati dengan perasaan Regina. Mungkin karena itu juga, Gian terus mengingatkan Regina kalau pernikahan ini hanyalah kontrak semata. Agar Regina tidak terluka mengharapkannya membalas perasaannya. Tapi hari ini Regina gagal membaca tanda peringatan yang selalu Gian pasang. Semua kebaikan Gian menuntun Regina untuk terus menyukainya. Hatinya tidak bisa berhenti.


***


Menyadari perasaannya pada Gian, tidak membuatnya menjadi lebih baik. Malah Regina makin merasa takut dan kosong. Dia tahu ending apa yang akan menantinya. Apakah dia akan memendam perasaaannya hingga kontrak berakhir? Atau dia akan maju memperjuangkannya? Itu artinya dia harus membuat Gian jatuh cinta padanya. Regina tidak tahu rintangan apa yang akan menantinya jika mencoba menerobos pagar pembatas yang Gian pasang untuk menjauhkannya dari dirinya. Terlebih Regina juga belum mengenal Gian lebih banyak.


Ini tidak benar! Regina terus mengulangi merapal ini dalam hati “Dia terlalu cepat jatuh cinta dengan Gian”. Hanya dalam 2 bulan bertemu dia sudah mengakui dirinya menyukai laki-laki itu. Ini bukan seperti kebiasaannya. Ini terlalu berbahaya. Dia tidak ingin terluka lagi karena jatuh cinta. Kegagalannya yang dulu sudah membuatnya begitu hancur. Apalagi sekarang dia mengharapkan seseorang yang tidak pernah menginginkan hubungan romantis untuk membalas perasaannya.


Lamunan Regina buyar saat teman kerjanya berseru dengan ceria “Sukses buat Edmode!!!” sambil membuka confetti dan bersorak. Hari ini mereka sedang berada di salah satu café yang menyediakan ruang private untuk karaoke, merayakan keberhasilan Edmode dalam kesuksesan penjualan salah satu item fashion, serta beberapa kerjasama yang menguntungkan yang telah ditanda tangani Edmode. Bisnisnya berangsur membaik karena kepiawaian Dimas memimpin Edmode. Orang-orang yang ditunjuk Gian tidak pernah mengecewakan.


“Guys, saya pulang duluan ya.” Ucap Regina pada rekan-rekan kerjanya yang masih sibuk karaoke dan mengobrol.


“Kok cepet banget pulangnya sih, Bu? Kan baru jam setengah 8.” Kata Mita.


“Bu Rere kan udah punya suami, harus pulang cepet. Emangnya kamu jomblo!” Bela Dimas.


Mereka terus menggoda Regina yang ingin pulang cepat. Padahal dia menginginkan pulang cepat karena suasana hatinya yang kacau. Bukan karena ingin bertemu Gian. Melihat wajahnya sekarang akan membuatnya makin tak karuan. Dia tidak menyukainya.


***


Aroma kopi tercium hingga ke ruang tengah. Saat Regina pulang, Gian sedang berada di dapur menyeduh kopi. Dia sudah mengirim pesan sebelumnya pada Gian, hari ini ada acara dengan rekan kantornya. Regina berpikir Gian juga tidak akan pulang cepat karena hari ini dia tidak memasak. Tapi sepertinya Gian pulang pukul 7 seperti biasanya.


“Kamu udah makan, Gi?” Tanya Regina saat masuk ke dapur, kemudian lekas mengambil air putih dan meminumnya.


“Udah.” Jawab Gian singkat, masik sibuk dengan mesin pembuat kopinya. “Gimana makan malamnya?”


“Yaa.. gitu.” Regina bingung harus mendeskripsikan apa. Acara makan malamnya seru, tapi dia tidak berkonsentrasi sama sekali. Bahkan dia hampir tidak peduli Edmode mengalami kemajuan yang begitu pesat. Semua arah pikirannya hanya tertuju pada Gian, yang sekarang berada dihadapannya sambil membelakanginya dengan tangan sibuk menyeduh kopi.

__ADS_1


“Makasih ya.”


“Makasih buat apa?” Kata Gian sambil berbalik, kini mereka berdiri saling berhadap-hadapan kopi yang diseduhnya sudah aman masuk ke cangkir. Dia sesekali menyeruputnya.


“Karena bantuan kamu, sekarang Edmode bisa punya kesempatan kaya sekarang. Penjualan naik, kerjasama dengan vendor yang berkualitas, dan kayanya perusahaanku bakal tambah berkembang buat kedepannya.”


“Well, keinginan kamu sebagian udah tercapai. Meskpun sekarang baru awal, dan perlu banyak basic yang harus diperkuat biar perusahaan kamu bisa bertahan.”


“Terus gimana sama kamu? Keputusan soal asset dan posisi Gavels udah ditentukan?”


“Minggu kemarin aku udah resmi menjabat sebagai CEO Gavels. Tapi untuk asset, kayanya akan dikasih bertahap. Pak Narta belum kasih keterangan lagi dalam waktu berapa lama sampai semua asset yang menjadi hakku bisa berpindah tangan. Tapi kayanya bisa sampai setahun atau lebih.”


“Kenapa? Emang kamu ga memenuhi syarat?”


“Kakek maunya kaya gitu. Aku pun ga ngerti.”


Regina terdiam sejenak, ada hening diantara mereka . Kemudian dia maju beberapa langkah kea rah Gian, berhenti tepat dihadapannya. Regina berjinjit dan mencium bibir Gian sekilas. Dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri maupun perasaannya.


“Ini hadiah buat bantuan kamu.” Kata Regina sambil tersenyum. Dengan cepat berbalik dan berlalu pergi, namun Gian menahannya. Membuat Regina berhadapan kembali dengan Gian. Cangkir kopi disimpannya di belakang. Kini kedua tangan Gian meraih wajah Regina.


“Lakuin yang bener kalau mau bilang terimakasih.”


Bibir mereka kemudian bertaut, aroma kopi memenuhi Regina. Rasanya manis sekaligus pahit. Sama halnya seperti perasaannya sekarang terhadap Gian. Regina membiarkan Gian merasakan bibirnya, lama. Dia juga tak ingin melepaskannya. Perasaannya menggila dalam waktu sekejap saja.


Agak lama mereka mematung sambil memagut kedua bibir  sebelum Regina mendorong Gian menjauh. Dia terlalu menginginkan Gian. Meskipun Gian pada akhirnya membalas 1000 ciuman darinya, tetap saja dia tidak akan memberikan perasaan apapun padanya. Semua sentuhan dan ciuman dari Gian tidak akan membuat arah hubungan mereka akan berjalan kearah yang diinginkannya.


“Kamu yang minta kali ini.” Ucap Gian sambil tersenyum nakal. “Aku ga akan nolak kalau kamu mau” Lanjutnya terus menggoda Regina. Dengan gerakan tiba-tiba Regina menginjak kaki Gian dan berjalan pergi dari dapur.

__ADS_1


“Aaaaa cewe Gila!!!” Teriak Gian.


__ADS_2