Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Honeymoon


__ADS_3

“Sorry” Kata Regina sambil terisak.


“Kenapa?” Tanya Gian bingung dengan tingkah Regina. Kenapa dia tiba-tiba menangis dan meminta maaf padanya? Padahal rasanya selama perjalanan dia baik-baik saja. Regina semakin kuat memeluk Gian. Kekecewaan menyergap hatinya.


“I got my period. Sorry.” Jawab Regina sedih.


“Kamu nangis cuma karena itu?” Kata Gian tertawa. Dia mengira terjadi hal serius pada Regina.


“Tapi sekarang kan honeymoon kita, Gi. Kita udah jauh-jauh ke Maldives.” Kata Regina kesal dan sedih, dia mengusap air matanya. Padahal dia semalaman sudah mempersiapkan dirinya agar terlihat cantik dan sempurna dihadapan Gian.


“So, do you want it? Making love?” Gian mencoba menahan diri untuk tidak tertawa.


“Kamu kan yang mau?”


“Siapa bilang?”


“Kan kamu yang ngajak honeymoon. Emangnya aku bego apa ga tau maksud kamu ngajak kesini?”


“Aku bilang liburan kok. Kamu aja yang mikirnya kejauhan.” Ledek Gian. Regina cuma mendelik sebal pada Gian. percuma semua rasa sedih dan kekhawatirannya mengenai reaksi Gian. dia pikir Gian akan kecewa karena mereka tidak jadi malam pertama.


“Sebel! Aku ga bisa snorkeling, ga bisa foto-foto dan pamer bikini. Padahal paha aku udah kecilan abis diet.”


Mata Gian terbelalak. Kaget dan kesal dengan ucapan Regina.


“Ga ada pamer dan foto-foto pake bikini. Awas ya kamu! Kalau sampai post foto-foto seksi disosial media, aku tutup akun kamu!” Ancam Gian.


“Bodo amat!” Balas Regina kesal. Dia berdiri kemudian berjalan ke dalam villa. Merebahkan diri dikasur. Perutnya kram dan sakit, semakin lama semakin nyeri. Ditambah kepalanya juga nyut-nyutan. Seharusnya dia tidak begadang tadi malam dan cukup istirahat untuk perjalanan mereka kesini. Regina selalu sakit kalau kurang tidur menjelang menstruasi.


Gian membawakan makanan untuk Regina. Namun selera makan Regina sedang tidak baik. Dia hanya memakan setengah croissant kemudian meminum obat pereda nyeri dan segera tidur. Ini bukan honeymoon seperti diharapkannya. Perutnya seperti diiris-iris dengan pisau dan yang ingin dia lakukan hanya berbaring. Suara ombak yang lembut paling tidak membawa sedikit ketenangan dalam tidurnya.


Selama Regina tertidur Gian menyibukan diri untuk mengurus beberapa urusan pekerjaan. Malam sudah datang. Dia bisa melihat cahaya bulan yang terang terpantul ke lautan dari resortnya. Setelah beberapa jam di depan layar laptopnya, Gian akhirnya merasa lelah.


Melihat Regina masih tertidur, Gian membaringkan diri disampingnya. Menatap lama-lama gadis itu. Perasaan aneh mucul lagi dihatinya, pikirannya juga menjadi liar tak terkendali. Gian teringat bagaimana sedihnya Regina ketika memberitahukannya mengenai menstruasinya tadi sore. Dia menginginkan hal yang Gian pikirkan juga? Hal seperti itu terdengar lucu tadi, tapi sekrang dia merasa kecewa juga. Gian ingin menyentuh Regina. Membiarkan pikiran liarnya berlarian. Apalagi ditempat seperti ini, dengan suara ombak daan cahaya bulan yang indah.

__ADS_1


Dengan lembut Gian membelai rambut Regina. Menyingkirkan helaian yang jatuh menutupi wajahnya. Dia ingin mengecup bibirnya. Setelah malam saat menginap di rumah kakeknya, mereka tidak pernah tidur satu kamar lagi selain hari ini. Meskipun mereka sudah saling jujur mengenai perasaan masing-masing, kamar mereka tetap terpisah. Regina jelas tidak mau tidur dengannya saat Gian mengatakan dia belum siap dengan arah hubungan mereka. Sejatuh cinta apapun dirinya, Regina tak ingin Gian menyentuhnya sama sekali saat hubungan diantara mereka masih sebuah kontrak saja. Jelas kali ini berbeda.


Regina pelan-pelan membuka matanya dan menatap Gian yang berbaring dihadapannya sambil mengelus kepalanya dengan muka yang masih mengantuk. Dia belum sepenuhnya terbangun.


“Jam berapa?” Bisiknya.


“Jam 9 waktu Maldives. Di Indonesia udah jam 11. Aku bangunin kamu?” Tanya Gian lembut setengah berbisik juga. Regina menggeleng.


“Perut kamu masih sakit?” Lanjut Gian.


“Ngga. Cuma lemes aja.”


“Oke, kalau gitu tidur lagi.”


Kemudian Regina menutup matanya lagi. Gian masih menatap Regina, belum puas memperhatikannya.


“Gi, sorry.” Bisik Regina sambil terpejam.


“Kamu kan yang pingin, cowo kan yang mengharapkan hal-hal kaya gitu? Sebenernya aku takut.” Balas Regina. Kini dia membuka matanya dan menatap Gian.


“Kenapa takut?”


“Menurut kamu kenapa?”


Gian tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya pada Regina. Menautkan bibirnya pada gadis yang baru tersadar dari mimpinya itu. Dengan pelan mendorong pundak Regina hingga dia tidur terlentang. Kini Gian berada diatas Regina, bibir mereka masih bertaut. Sentuhan dari lidah Gian yang merajalela menyadarkan Regina sepenuhnya. Mereka bertahan cukup lama saling memagut dengan mesra. Hingga Gian memutuskan mengincar leher Regina. Menyentuhnya dengan hidung dan bibirnya, mendaratkan kecupan disana.


Jelas Regina protes dengan sentuhan-sentuhan Gian, dia mengerang dan menjambak rambut Gian. Sentuhan tersebut berhenti, Gian menatap Regina. Kemudian memegang kedua tangan Regina dikedua sisi kepalanya. Dengan senyuman tipis, dia melanjutkan kembali kecupannya di leher Regina. Beberapa hickey dia buat di leher mulus gadis itu, yang sedari tadi terus menggeliat protes. Napasnya memburu dengan cepat.


Sekali menyentuh Regina, akal Gian tiba-tiba langsung hilang. Dia tidak bisa berhenti menjelajahi leher Regina yang putih dan indah. Dia ingin melakukan lebih dari ini. Dia ingin merasakan seseatu dibalik blus hitam Regina yang sedari tadi menggodanya. Kecupannya terus turun ke bawah, mengikuti rasa penasarannya.


“Gi, Please stop!!” Ucap Regina dengan panik saat Gian mencoba melakukan hal yang lebih dari itu. Saat ini mereka sedang tidak bisa dan tidak boleh melakukannya.


Gian akhirnya berhenti. Menjauhkan tubuhnya dari Regina, kemudian berbaring kembali di kasur disebelah Regina. Menatap langit-langit kamar mencoba mengendalikan hasratnya yang sudah mengendalikan otaknya.

__ADS_1


“Gian” Panggil Regina dengan khawatir.


“Hmm..”


“Sorry” Ucap Regina menyesal.


Gian sudah lebih tenang sekarang. Untung saja belum ada yang bangun dalam dirinya. Dia hanya baru memanaskan mesin dan dengan mudah mendinginkannya kembali. Kini dia berbalik dan memeluk tubuh Regina.


“Aku ngantuk.” Kata Gian mempererat pelukannya. Tak lama dari itu mereka terlelap.


***


Cukup banyak kegiatan yang dilakukan dihari kedua honemoon mereka. Pagi-pagi setelah sarapan, mereka mencoba snorkeling diarea dekat resort. Meskipun hanya Gian yang melakukannya. Regina hanya menunggu di kapal. Mengambil banyak foto disana. Setelah itu makan siang di Deelani. Makanan laut yang segar di restoran mediteranian menggugah selera makan. Saat kembali ke resort, disana sudah tersedia cake yang disajikan dengan cantik. Sepanjang sore Gian dan Regina hanya berjalan-jalan di private beach di depan villa mereka.


Gian mengunggah beberapa foto Regina saat berjalan-jalan dan makan ke sosial medianya. Dengan caption ‘Forever Mine’ dan sepenggal lirik lagu tersebut. Komentar dan like dan post tersebut menggila. Terutama dari keluarganya.


‘Gilaa. Bucin akut’ Tulis Lina.


‘Gitu dong liburan berdua. Berproses. Biar tante cepet gendong cucu’ Tulis Tante Yuniar.


‘Alhamdulillah. Akur terus ya, Gi.’ Tulis Tante Esty.


‘Anjaay.. jijik gitu caption lu.’ Tulis Intan.


‘Setelah 6 bulan kawin, baru honeymoon sekarang. Gila sih parah banget lu.’ Tulis Arsila.


Gian membalas beberapa vandalisme di kolom komentar sosial medianya yang ditulis sepupu-sepupunya yang iseng. Mereka benar-benar senang menggoda dan mengejek Gian. Regina hanya tertawa membaca komentar-komentar tersebut. Orang lain yang ikut berkomentar tak kalah seru, terutama fans Gian yang cintanya tak terbalas.


Mereka pulang ke Indonesia keesokan paginya. Melewati waktu panjang perjalanan dengan mengobrol dan bercanda seperti biasanya. Honeymoon kali ini memang gagal total. Tapi Regina dan Gian cukup senang dengan waktu singkat mereka untuk bercengkrama dan saling mengenal lebih jauh. Mereka selalu punya hari esok dan waktu lain, untuk melakukan banyak hal lain berdua.


*Regina difotoin ayang


__ADS_1


__ADS_2