
“Hai, Re. Akhirnya kita bisa ketemu lagi.” Katanya sambil tersenyum.
Rafi?!!
Laki-laki itu berdiri disana, seperti yang selalu diingatnya. Tinggi, berkulit sawo matang, berbadan tegap, dan memiliki bekas luka di dekat alisnya, yang bisa membedakannya dari banyak laki-laki yang di kenal Regina. Dia tidak berubah sama sekali semenjak terakhir bertemu, hanya saja pipinya lebih tirus. Sepertinya berat badannya berkurang beberapa kilo.
Regina mengerjap-ngerjap tak percaya. Bukannya dia harusnya di luar negeri? Apakah study-nya sudah selesai? Kenapa dia datang lagi mencarinya? Pertanyaan-pertanyaan terbentuk di kepala Regina, sama besarnya dengan rasa sedih, takut, kecewa dan amarah yang naik dengan cepat. semua dinding pertahanan hatinya rasanya hancur. Dia ingin menangis disana. Namun dengan keras menahannya dengan mengepalkan tangan hingga jemarinya terasa sakit.
“Ngapain kamu kirimin bunga setiap hari buatku?” Kata Regina mencoba untuk tetap tenang.
“Aku mau ngobrol sebentar sama kamu.”
“Aku gak ada waktu. Aku banyak kerjaan di kantor.” Kata Regina berbohong. Dia hari ini memutuskan untuk langsung pulang. Bergulung dibalik selimut dikamarnya dan menangis seharian. Pikirannya sudah tak ada di tempat kerja.
Dengan langkah cepat Regina keluar dari toko bunga, meninggalkan Rafi disana. Rupanya laki-laki itu mengejar Regina keluar. Jelas dia tidak ingin menyerah sebelum mereka berbicara.
“Re, please. Aku mau kita ngobrol sebentar.” Kata Rafi menghadang Regina.
“Buat apa? Kamu mau ngobrolin apa lagi sama aku? Kita udah ga punya hubungan apa-apa. Aku ga butuh penjelasan apa-apa dari kamu dan kamu juga udah menikah sama orang lain.”
“Aku udah cerai.” Ucap Rafi dengan cepat. “Aku udah cerai sama Winda setahun yang lalu.” Lanjutnya, ekspresinya terlihat sedih dan bersalah.
“Terus urusannya sama aku apa?” Regina tidak terkesan dengan informasi baru ini. Dia tidak peduli. Apakah hatinya sudah benar-benar tidak punya perasaan lagi terhadap Rafi? Regina sendiripun kaget bahwa dia tidak bereaksi terhadap kabar perceraian Rafi.
“Aku tahu kamu cuma pura-pura ga peduli sama aku, Re.”
“Pede banget kamu ngomong kaya gitu.”
Kata-kata dari Rafi sudah tidak bisa mempengaruhinya lagi. Dia sudah teramat benci dan kecewa dengan laki-laki itu. Muak terus berada di dekatnya. Kabar tentang perceraiannya mungkin akan dia tanggapi berbeda jika dia datang setahun yang lalu saat luka besar masih menganga di hati Regina dan saat dia sedang berusaha menyembuhkannya. Namun hidup Regina sudah berfokus ke hal lain saat ini. Regina terus berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Tidak ingin berinteraksi lebih jauh lagi.
“Aku tahu soal pernikahan kamu dan suami kamu. Kebohongan kamu.” Kata Rafi seakan baru mengeluarkan senjata pamungkas, wajahnya dipenuhi riak kemenangan.
“Maksudnya?” Regina berusaha tetap tenang. Bagaimana mungkin ada orang selain dia dan Gian yang mengetahui tentang kontrak pernikahan yang mereka lakukan? Pasti Rafi hanya menakut-nakuti dia saja. Tapi Regina sangat terganggu dengan kata-katanya.
“Kita ngobrol sebentar.” Balasnya sambil tersenyum. Regina tahu jelas itu adalah perangkap agar mereka bisa berbicara. Tapi Regina tidak bisa mengabaikan kata-kata Rafi yang mungkin dapat membahayakan kontraknya dengan Gian. Mereka bahkan belum setengah jalan mencapai keinginan mereka masing-masing. Regina juga tidak ingin kontrak pernikahannya hancur dan Gian meninggalkannya sekarang. Ini baru awal. Dia belum memulai apapun untuk meluluhkan hati si workaholic.
“Fine.”
Mereka masuk ke salah satu café yang tak jauh dari sana. Memesan cappuccino hangat dan butter croissant. Rafi menyeruput kopinya dan terlihat sangat santai. Bagaimana bisa orang ini terlihat santai setelah membuat Regina trauma dan menderita karena meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain? Semua keburukannya terlintas di kepala Regina dan dia merasa beruntung tidak pernah menikah dengannya.
“Jadi kamu mau ngomongin apa?” Tanya Regina yang tak mau berlama-lama. Rafi menaruh cangkir kopinya sebelum berbicara.
__ADS_1
“Aku mau minta maaf buat semua kesalahanku sama kamu. Aku ga bisa hidup tanpa kamu, Re.” Ekspresinya berubah sedih. “Aku menikah karena keinginan mama, supaya aku bisa hidup di London dengan pendamping. Ada yang ngurusin aku disana. Aku juga ga bisa kalau harus LDR. Makanya aku pertimbangin buat nikah sama calon pilihan mama, saat itu kamu bener-bener ga fokus sama aku, Re. Kamu sibuk dengan perusahaan yang ditinggalkan ayah kamu. Tapi setelah menikah aku ga bisa.. beneran ga bisa sayang sama istriku. Aku selalu inget kamu.”
Regina menghela napas mendengar penjelasan dari Rafi. Matanya terasa panas. Ingin menangis. Kenapa sekarang? Kenapa harus datang lagi saat lukanya sudah hampir sembuh dan saat dia menemukan kembali perasaan pada orang lain? Di dalam hatinya, jelas ada bagian yang tidak bisa diisi orang lain, bahkan Gian sekalipun. Rafi sudah menjadi bagian dari masa mudanya. Mereka berpacaran semenjak SMA.
“Aku udah ga punya perasaan apa-apa sama kamu.” Kata Regina berusaha menahan perasaannya agar terlihat tenang dan tidak peduli.
“Aku tahu kamu bohong, Re. Kamu ga bisa gantiin hubungan kita yang panjang sama orang yang bahkan baru kamu kenal.”
“Berarti kamu ga tahu apa-apa soal aku. Aku bisa aja gantiin kamu dengan mudah kok. Sama kaya kamu gantiin aku begitu aja.”
“Tapi kenyataannya aku ga bisa, Re. Buktinya sekarang aku balik lagi ke kamu.” Rafi menggenggam tangan Regina yang dengan cepat dia tarik.
“Aku pingin kita kaya dulu lagi.”
“Maksud kamu kaya dulu lagi?”
“Memperbaiki hubungan kita, dan mulai lagi.”
“Aku udah jadi istri orang lain.”
“Aku tahu ada hal yang ga beres sama pernikahan kamu.” Katanya dengan mata berkilat penuh tuduhan. Regina ikut menatapnya dengan tajam. Dia tidak ingin kalah.
Regina tersenyum meremehkan.
“Tuduhan kamu ga berdasar. Emang kamu pikir aku kaya pemain drama, gitu?”
“Bisa jadi.” Rafi kembali menyeruput kopinya. “Aku ngirim kamu bunga setiap hari dan ngikutin kamu. Berharap aku punya kesempatan buat ketemu kamu dan minta maaf. Tapi aku malah menemukan kebohongan soal pernikahan kamu.” Rafi diam sejenak, mengamati perubahan wajah Regina. Dia mengenal gadis itu begitu lama. Dia tahu, kekhawatiran jelas tergambar diwajahnya.
“Kalian ga tinggal bareng setelah menikah. Bahkan dia ninggalin kamu sendirian di hotel saat malam pertama, kan?” Senyum sinis melengkung dari bibir Rafi. Merasa menang seakan baru menangkap kebohongan yang Regina sembunyikan. “Aku akhirnya hubungi Alea, tapi ternyata dia udah ga kerja bareng kamu. Dia bilang ga kenal sama cowo yang kamu nikahi dan ga pernah ingat kamu deket sama cowo manapun. Apalagi aku baru tahu fakta tentang perusahaan kamu yang akan bangkrut dari Alea. Emang kamu pikir ga ada yang aneh dari hubungan kalian? Investor kaya dan CEO dari perusahaan yang hampir bangkrut. Aku bisa simpulkan sendiri selanjutnya kaya gimana.”
Regina menatap Rafi dengan penuh amarah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat kebohongannya terungkap. Ini akan jadi masalah besar kalau Rafi tidak tutup mulut.
“Kamu ga takut kalau paman dan bibi kamu tahu soal ini, Re? Mereka bakal kecewa banget sama keponakannya yang menjual dirinya buat nyelametin perusahaan.”
Regina tetap mengunci mulutnya. Membiarkan laki-laki itu mencecarnya. Kepercayaan dirinya hilang saat itu juga. Regina tahu bahwa Rafi sangat dekat dengan keluarganya. Dia bisa dengan mudah memberitahukan kebohongannya itu pada mereka.
“Terus mau kamu apa?”
“Tinggalin cowo itu dan balik sama aku.”
“Kamu gila!”
__ADS_1
“Kenapa? Toh kalian bukan pasangan beneran, kan?”
“Aku ga mau balik lagi sama kamu. Ga akan pernah.”
“Jangan bilang kamu...” Rafi terkekeh.
“Kalau iya kenapa? Kalau aku udah mulai sayang sama dia emangnya kenapa?” Tanya Regina emosi.
“Tapi dia nggak kan, Re?”
“Aku tinggal berusaha aja biar dia bisa balas perasaanku.”
“Kamu pikir aku ga nyari tahu soal suami kamu? Cowo egois, yang mementingkan dirinya sendiri, ga pernah pacaran seumur hidupnya, gila kerja, yang cuma dia pikirkan dia adalah perusahaannya. Kamu sebenernya udah sadar kan, kamu bukan bagian dari dunianya. Kenapa kamu tetap berusaha ngubah orang kaya gitu? Buat apa, Re? Kenapa ga balik sama aku yang udah jelas sayang sama kamu?”
“Udah aku bilang aku ga mau! Aku ga mau balik lagi sama orang yang nyakitin aku, yang ga pernah bela aku pas mamanya maki-maki aku karena milih ngurus perusahaan ayah, yang nikah sama cewe lain dan ninggalin aku tanpa ngomong apapun, ngebiarin aku mohon-mohon biar balik lagi. Udah cukup, Fi. Kalau kamu mau nyebarin soal pernikahan bohonganku. Silakan. Aku ga peduli. Cepetan pergi dari sini aku ga mau liat kamu!” Teriak Regina. Dia sudah tidak bisa menahan amarahnya yang semakin memuncak. Untunglah cafe itu tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang di meja dan pelayan yang menengok kearah mereka untuk mengetahui keributan tersebut. Dia sudah tidak peduli dengan rasa malu, dia hanya ingin laki-laki itu pergi dan tidak mengganggunya lagi.
***
Mata Gian terfokus pada layar komputer di kantornya, mempersiapkan meeting dengan salah satu perusahaan energi yang akan dilakukannya nanti sehabis makan siang. Dia membaca laporan keuangan dari perusahaan tersebut untuk menganalisis. Handphone yang berada di mejanya bergetar.
“Halo, Dim. Ada apa?” Ucapnya saat mengangkat telepon.
“Saya tadi sudah email soal informasi yang Pak Gian minta tadi malam. Saya sudah minta manager toko bunga yg ngirim bunga untuk Bu Regina melacak nomor transaksi dari kartu kredit si pengirim. Saya juga sudah menyelidiki sedikit tentang orang tersebut. Semuanya ada di email, Pak.” Jelas Dimas.
“Oke. Thanks, Dim.”
“Oh ya. Apa Bu Regina sakit hari ini? Soalnya ga masuk kantor”
Setelah menutup telepon dari Dimas, tangannya langsung mengarah ke mouse dan membuka email yang Dimas kirimkan. Dia mendownload attachment, kemudian membuka file tersebut.
Dimas sudah merangkum tentang laki-laki yang mengirim bunga misterius oada Regina. Namanya Rafi Abimana, berusia 30 tahun, bekerja di perusahaan energi sebagai staff ahli dibidang chemical engineering, lulusan S2 jurusan chemical engineering di Loughborough university London. File tersebut juga menampilkan foto-fotonya, serta alamat sosial medianya.
“London?” Gumam Gian. Dia teringat cerita Regina tentang mantan tunangannya yang meninggalkannya menikah dengan perempuan lain dan akan berkuliah di Londan. Apakah orang ini yang Regina maksud? Jika iya, maka semua kiriman bunga itu sangat masuk akal. Orang yang punya motif khusus untuk mengirimkan bunga setiap hari selama 3 bulan berturut-turut adalah mantan tunangan Regina.
Gian tidak menyukai fakta yang dia dapatkan. Ada perasaan tidak nyaman dihatinya. Apalagi Dimas mengatakan hari ini Regina tidak masuk kerja. Kemungkinan Regina menyelidiki pengirim bunga tersebut sendiri. Apakah mereka sudah bertemu? Apa yang mungkin dilakukan mantan tunangannya pada Regina?
Pikiran buruk menguasai Gian. Dia tidak mau kejadian seperti yang dilakukan Alex terulang lagi. Kenapa para laki-laki itu terus mengejar Regina padahal dia sudah menikah dengannya? Sekarang dia benar-benar merasa jengkel.
Dengan cepat Gian menekan tombol telepon dan menghubungi Regina. Tak begitu lama telepon tersebut tersambung.
“Kamu dimana? Cepetan bilang dimana! Aku jemput!” Ucap Gian kesal tanpa menunggu Regina bersuara.
__ADS_1