Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Kekesalan Gian


__ADS_3

Sekretaris Gian yang bernama Gita masuk ke ruangan bersama dua orang yang membawakan tray makanan. Satu orang membawa bento dan beberapa pastry, sedangkan yang lain membawa jus dan camilan kemasan. Mereka menyimpannya di meja dihadapan Regina.


“Kalau Bu Regina butuh yang lain, bisa langsung hubungi saya di ekstensi 012.” Kata Gita sambil tersenyum ramah.


“Makasih. Ini aja cukup kok.” Balas Regina.


Regina tidak menyentuh makanannya sama sekali. Dia hanya duduk di sofa menyandarkan kepalanya menatap langit-langit kantor Gian. Masih terbayang pertemuannya dengan Rafi tadi. Rasanya ingin mengutuki nasib buruk percintaanya. Mantan tunangannya yang sudah membuatnya terluka datang kembali saat dia sudah menikah. Laki-laki yang sedang dia sukai adalah suami yang tak pernah menginginkan hubungan romantis dengannya. Semua pilihan sangat buruk untuk hati dan kewarasannya. Kenapa dia tidak diberikan cerita cinta yang normal saja?


Belum lagi dia memikirkan sikap Gian yang tiba-tiba sangat aneh. Entah untuk alasan apa dia begitu kesal padanya. Regina ingin mempercepat waktu dan pulang ke rumah, mengistirahatkan pikirannya dari laki-laki tidak jelas yang datang ke kehidupnya.


Bosan menunggu, Regina berjalan mengelilingi ruangan. Memperhatikan toples-toples kopi dari berbagai jenis kopi yang tak dia ketahui. Gian sangat suka kopi, dia juga punya mesin pembuat kopi di rumah, dari brand paling mahal. Sementara dirinya tak bisa meminum kopi karena penyakit asam lambungnya mudah kumat. Ada satu toples berisi kemasan-kemasan kecil cokelat seduh, merek yang selalu Gian seduhkan untuknya di rumah. Kalau diingat kembali, Gian berulang kali memberikannya cokelat hangat bahkan sebelum Regina mengatakan dia tidak menyukai kopi. Malam saat Regina datang terburu-buru meminta bantuannya, ataupun malam saat berbincang di rumah kakeknya. Bagaimana dia bisa tahu tentang minuman kesukaannya?


Tak mau ambil pusing, Regina melanjutkan melihat-lihat berbagai piagam dan penghargaan yang diperoleh Gavels sebagai salah satu perusahaan investasi besar. Semua dipajang rapi dalam lemari dan di gantung pada dinding. Matanya kemudian terfokus pada foto-foto yang disimpan dalam bingkai di atas lemari display. Foto-foto seorang kakek dan anak kecil, bersama istrinya, anak-anaknya, menantunya, dan cucu-cucunya. Regina bisa mengenal setiap wajah yang ada dalam frame, kecuali beberapa diantaranya. Dia juga langsung mengenali Gian saat masih anak-anak. Tak banyak yang berubah dari wajahnya, dia tampan dan menggemaskan. Dugaannya adalah, 2 orang yang lebih tua adalah kakek dan nenek Gian, sedangkan 2 orang yang lebih muda dan berfoto bersama Gian adalah ayah ibunya. Yang tidak ada disana hanya fotonya, mana mungkin Gian memajang fotonya, kan? Keberadaanya akan terhapus dalam hidup Gian kurang dari 2 tahun lagi. Regina tersenyum muram.


Setelah tak ada lagi yang bisa Regina lihat di ruangan itu. Dia akhirnya duduk di kursi kerja Gian. Bersandar dan kembali menatap langit-langit.


Pintu terbuka dengan suara yang cukup keras, Gian masuk dengan tergesa. Dia membuka blazernya kemudian melemparkannya ke arah sofa, dengan tak sabar tangannya melonggarkan ikatan dasinya sambil berjalan ke arah Regina yang masih terduduk di kursi kerjanya. Mengkerut saat melihat Gian masuk dengan penuh kekesalan.


Gian menggeser kursi yang ditempati Regina. Mencengkram lengan kursi tersebut kemudian mencondongkan badannya ke arah Regina. Mengintimidasinya. Regina semakin mengkerut diposisinya. Menatap mata Gian langsung yang penuh amarah. Rasanya ingin lari.


“Kenapa kamu dateng ke toko bunga itu sendirian, hah? Kenapa ga bilang dulu sama aku kalau mau nyari tau pengirim bunga aneh itu? Kenapa kamu tuh suka nyari perkara kaya gini sih? Kamu ga sadar itu bahaya?” Tanya Gian tidak sabar. Regina bisa merasakan emosi disetiap pertanyaan yang Gian ajukan.


“Gi..” Tenggorokannya rasanya tercekat, tak bisa mengeluarkan suara karena takut. Baru kali itu dia melihat Gian begitu marah. Matanya nyalang menatap Regina.


“Sekarang aku tanya sama kamu. Wajar gitu ada orang yang ngirimin bunga sama kamu setiap hari selama 3 bulan berturut-turut tanpa nama? He is a freak, Re! Terus kamu dengan entengnya dateng mau nangkep basah si pengirim bunga itu. Terus mau aja ngobrol bareng dia? Kamu ga inget yang dilakuin Alex sama kamu apa? Hah?” Gian terus memberedel pertanyaan dan melempar kemarahannya pada Regina. Tanpa memberi Regina kesempatan untuk menjelaskan.


“Seneng ketemu mantan kamu lagi? Padahal kamu bilang dia bikin kamu harus pergi ke psikolog buat terapi. Kenapa gampang banget diajak ngobrol berdua sama dia? Ga curiga dia bakal ngapa-ngapain kamu?” Gian melonggarkan cengkramannya dikursi. Kemudian duduk bersandar di meja kerjanya. Dengan frustrasi dia melepas ikatan dasinya dengan satu gerakan tangan. Kemudian mencoba mengatur napasnya kembali agar lebih tenang.

__ADS_1


Regina masih terpaku di tempatnya. Kaget dengan apa yang dilontarkan Gian. Melihat kemarahan laki-laki itu membuatnya takut. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan tangisnya yang tanpa aba-aba keluar begitu saja.


Saat Gian melihat Regina sudah berurai air mata, dia menyadari sikapnya sangat berlebihan. Amarahnya sudah di puncak kepala semenjak menjemputnya dari cafe. Selama meeting, dia tidak bisa berkonsentrasi dan ingin segera meluapkan kekesalannya pada gadis itu. Tapi setelah melihatnya kaget dan menangis karena ulahnya. Gian mengutuki dirinya sendiri.


Selalu saja kehilangan kendalinya. Semua kekhawatirannya berubah jadi rasa jengkel dan amarah yang tidak bisa dia jelaskan. Harusnya dia bersyukur Regina baik-baik saja dan selamat. Pengalaman tak menyenangkan karena Alex, membuatnya bereaksi berlebihan pada laki-laki yang mendekati Regina.


Dengan satu tangan, Gian menarik Regina berdiri dari kursi. Kemudian memeluknya. Isaknya semakin kencang saat Gian mendekapnya.


“Sorry. Aku beneran kesel banget karena kamu gegabah.” Kata Gian lembut. Semua amarahnya seakan menguap seketika. “Lain kali bilang dulu sama aku. Nanti biar aku yang cari orangnya, jangan ngelakuin ini sendirian. Aku udah punya feeling buruk soal kiriman-kiriman bunga tiap hari itu. Makanya aku suruh Dimas yang nyari tahu. Maafin aku lupa bilang sama kamu.” Lanjutnya menenangkan sambil mengusap punggung Regina.


“Kamu ga apa-apa, kan?”


Regina hanya menjawab dengan anggukan. Dia merasa lebih tenang sekarang.


“Kamu ngomongin apa sama mantan kamu? Kenapa sampai nangis gitu pas aku telepon?”


“Rafi tahu soal pernikahan kontrak kita.” Katanya lemah. Senyum seketika menghilang dari wajah Gian.


“Maksudnya?”


“Dia tahu kita ga tinggal bareng setelah nikah, dia juga tahu kamu pergi pas malam pertama kita di hotel ninggalin aku sendirian, dia nyari tahu tentang kondisi perusahaanku sama mantan Vice CEO-ku dan dapat info kalau perusahaanku hampir bangkrut. Makanya aku nikah sama kamu buat bantu keuangan perusahaanku. Dia bilang pernikahan kita cuma bohongan.”


“Terus?”


“Dia minta aku buat balik lagi sama dia, karena di juga udah cerai sama istrinya.”


Gian melepaskan pelukannya kemudian terkekeh mendengar kata-kata Regina. Dia memijat pelipisnya sambil terus tersenyum tidak percaya.

__ADS_1


“Wah mantan kamu beneran gila.” Gian benar-benar kehilangan kata-kata. Obsesinya pada Regina sampai sejauh itu. Dia tahu detail yang bahkan tidak diperhatikan orang lain.  


“Jadi selain ngirim bunga tiap hari, dia juga stalking kamu? Sampai tahu aku pergi pas malam pertama kita? Waah.. Gila”


“Dia.. sebenarnya ga jahat kok, Gi.” Kata Regina membela. Rafi bukan orang yang seperti itu. Dia tidak akan melakukan hal yang lebih jauh dari itu.


“Belum.” Kata Gian tak senang mendengar Regina membelanya. “Kenapa kamu yakin dia ga jahat? Bukannya dia ninggalin kamu buat nikah sama orang lain?” Lanjut Gian tajam, mengingatkan Regina untuk berpikir lebih waras. Regina kemudian terdiam mendengar pernyataan itu. Tepat sasaran.


“Jangan-jangan kamu kepikiran buat balik lagi sama dia?” Ada nada mencibir dari kata-kata Gian. “Regina?” Lanjutnya mendesak. Tapi tak ada kata yang keluar untuk menjawab pertanyaan Gian tersebut. Ya. Dia terpikir sesaat untuk melanjutkan kisahnya dengan Rafi, karena begitu putus asa dengan hubungannya dengan Gian sekarang. Tak ada yang bisa dia harapkan dengan pernikahannya.


Melihat Regina hanya mengatupkan mulut, membuat kekesalannya muncul lagi entah dari mana. Bagaimana bisa Regina berpikir untuk kembali bersama orang yang menyakitinya seperti itu?


“Nanti aku yang beresin masalah ini.”


“Kamu mau ngapain?”


“Beresin biar dia tutup mulut. Perjanjian kita masih panjang. Aku belum dapetin apa yang aku mau. Ga boleh ada penganggu kaya gini.”


Sesaat Regina bisa merasakan nada dingin dibalik kata-kata Gian. Apa yang akan dia lakukan pada Rafi agar dia tidak membocorkan rahasia mereka? Dia berharap Gian tidak melakukan hal buruk pada Rafi. Bagaimanapun Rafi adalah orang yang sangat dikenalnya.


Pintu tiba-tiba diketuk. Sekretaris pertama Gian yang cantik masuk ke ruangan.


“Kirim email aja semuanya. Saya mau pulang cepet sekarang. Nanti saya beresin di rumah.” Kata Gian langsung memerintahkan.


Dia berjalan dan memunguti blazernya yang teronggok di sofa. Kemudian menengok ke arah Regina yang masih diam ditempatnya.


“Kamu ga mau pulang? Mau diem disini terus?”

__ADS_1


Segera setelah mendengarnya Regina berlari mengikuti Gian keluar ruangan. Berjalan ke lift menuju parkiran. Kemudian berkendara menuju rumah.


__ADS_2