Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Bunga Misterius


__ADS_3

Material-material sample baru saja datang ke kantor. Sejak pagi Regina sudah sibuk membawa gulungan material ke workshop. Saat memindahkan gulungan material leather, tanpa sengaja Regina menjatuhkan vas bunga berisi bunga mawar putih. Pecahan vas berceceran hancur.


“Aduh Sorry. Nanti saya beresin.” Kata Regina menyesal.


“Ga usah, Bu. Panggil Mang Jajang aja buat beresin.” Kata Rina yang kemudian membantu Regina menaruh material di meja.


“Yaaah.. Bunga dari Pak Gian hancur deh.” Kata Maya kecewa. Regina kemudian teringat kembali bunga kiriman yang datang tanpa nama pengirim setelah kembalinya dia dari Bandung bersama Gian. Hingga saat ini, selalu ada bunga yang mengisi ruang kerjanya. Setiap hari. Dia tidak pernah mempertanyakan siapa yang menyimpan bunga tersebut disana atau siapa pengirim bunga tersebut.


“Emang ini dari Gian?” Tanya Regina ragu.


“Iya kan tiap hari ada yang ngirim khusus buat Bu Rere. Kalau bukan dari Pak Gian, siapa dong?” Tanya Maya. Entah kenapa rasa penasarannya terusik. Apakah benar pengirimnya Gian? Rasanya sulit membayangkan dia melakukan itu setiap hari, memesan bunga dan memberikannya untuk Regina secara anonim. Gian bahkan kadang lupa memberitahu kalau akan pergi business trip padanya. Mana mungkin dia rajin mengirim bunga setiap hari?


“Kamu tau bunga ini dari toko mana?”


“Heavenly Florist.” Kata Maya yang sudah hapal diluar kepala.


Regina jadi semakin penasaran. Dia harus mencari tahu siapa pengirim bunga yang setiap hari tanpa absen mengirimkan buket-buket indah tersebut. Apakah itu benar Gian? Namun pikirannya dia fokuskan kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk hari ini.


***


Pasta dipiring diputar-putar tanpa berselera. Perasaan kurang nyaman tumbuh dihati Regina, mengingat buket-buket bunga yang dikirimkan padanya di kantor. Sebagian dari dirinya mempercayai bukan Gian yang mengirimkannya. Lalu siapa?


“Gi, kamu pernah ngirim sesuatu ga ke kantorku?” tanya Regina pada Gian yang sibuk melahap makanannya.


“Sesuatu apa?” Tanyanya bingung.


“Yaa.. kayak hadiah, atau bunga gitu?”


Gian menggeleng. Sudah Regina duga itu bukan dari Gian, tidak mungkin dari dia.


“Emangnya kenapa?”


“Ada yang ngirim bunga buatku setiap hari, selama 3 bulan ini. Tapi ga ada nama pengirimnya. Aku gak pernah notice itu sebelumnya karena cuma ditaruh di ruangan. Temen kantorku ngira itu dari kamu.”

__ADS_1


Gian menautkan alisnya bingung. Dia jadi ikut penasaran  siapa pengirim bunga yang Regina maksud. Apalagi bunga-bunga tersebut dikirim setiap hari khusus untuk Regina, bahkan sudah 3 bulan hingga sekarang. Bukan hal yang aneh kalau Regina punya pengagum rahasia, mengingat dia sangat cantik dan menarik. Dia teringat kejadian 1 bulan yang lalu dengan Alex, bahkan saat Regina sudah menjadi istrinya pun tak membuat laki-laki yang tertarik padanya berhenti mengincarnya. Akan jadi masalah jika si pengirim bunga misterius ini membahayakan Regina lagi.


***


“Halo, Dim.” Sapa Gian saat tersambung ditelepon dengan Dimas.


“Halo, Pak. Selamat malam. Ada apa ya telepon malam-malam gini?”


“Gini, saya dapat cerita dari Regina, ada kiriman bunga buat dia setiap hari. Itu beneran?”


“Hmm.. kayanya saya pernah denger dari Maya. Tapi bukannya yang kirim itu Pak Gian ya?” Tanya Dimas heran.


“Saya gak pernah kirim bunga atau apapun ke kantor Regina.”


“Waduh terus siapa dong ya?”


“Saya boleh minta tolong untuk cari tahu masalah ini? Siapa pengirimnya dan apa maksudnya kirim bunga sama Regina setiap hari gitu.”


***


Heavenly Florist belum buka, menurut pencarian Regina di akun social medianya, toko bunga tersebut buka pukul 8 pagi. Dia sengaja berangkat lebih pagi hari ini untuk menyelidiki siapa yang mengirimkan bunga padanya.


Semalam dia mencoba menghubungi kontak mereka tapi tak ada balasan apapun. Sepertinya memang dia harus pergi langsung dan menanyakan siapa pengirim bunga misterius tersebut.


Bunga yang dikirim padanya setiap hari berbeda-beda, mawar, anyelir, krisan, tulip, dan banyak lagi yang tidak pernah Regina ingat. Semua bunga tersebut Maya yang menerimanya, kemudian dia masukkan ke vas bunga dan dia simpan di ruangan Regina. Karena Maya selalu berpikir pengirim bunga tersebut adalah Gian, dia pun tak pernah curiga terhadap kiriman-kiriman tersebut.


Mungkin jika kiriman itu hanya sesekali, Regina tak akan ambil pusing. Tapi itu dilakukan setiap hari selama 3 bulan. Hal tersebut membuatnya tidak nyaman, bukan malah tersanjung. Dia takut orang tersebut suatu hari akan lebih berani dibandingkan hanya mengirim buket bunga saja.


Seorang perempuan muda berusia 20an keluar dari toko bunga tersebut, kemudian membereskan display toko mereka, membawa ember-ember besar berisi bunga ke luar dan menatanya. Regina menunggu sampai perempuan tersebut selesai membuka toko bunganya. Dia akan datang seperti pelanggan pada umumnya.


Diminumnya kopi yang tadi pagi dia pesan untuk sarapan, beserta 2 buah donat glaze. Dia tidak sempat sarapan di rumah, dan berangkat lebih dulu tanpa memberitahu Gian. Lagipula Gian tak perlu tahu masalah seperti ini.


Setelah menunggu sekitar 20 menit di mobilnya. Akhirnya Regina turun dan masuk ke toko bunga tersebut. Suara lonceng bergemerincing saat Regina membuka pintu toko. Perempuan yang tadi dilihatnya berdiri dari balik meja kasir dan mengucapkan selamat datang dengan ramah. Ada satu lagi perempuan yang umurnya tak jauh darinya sibuk memotong tangkai bunga.

__ADS_1


“Pagi, kak. Ada yang bisa dibantu?” Tanyanya ramah.


“Saya kesini bukan mau beli bunga, tapi mau nanya sesuatu Mbak.” Jawab Regina.


“Tanya apa ya?”


“Jadi selama 3 bulan ini, saya setiap hari mendapatkan kiriman bunga ke kantor. Pengirimnya pesan bunga dari toko ini. Saya boleh tahu identitas pengirim bunga tersebut?”


Pernjaga toko tersebut terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. Mungkin mengingat-ingat pesanan mana yang dimaksud.


“Kirimannya ke kantor Edmode untuk Regina.” Kata Regina lagi, membantunya mengingat.


“Oh!” Kata penajaga toko tersebut berseru mengingat kiriman bunga yang dimaksud. “Saya tahu sih orangnya, Mbak. Kalau kebetulan sedang shift saya, dia suka dateng kirim bunga buat Regina di Edmode. Tapi saya ga tau namanya siapa. Dia ga pernah nyebutin namanya dan kiriman bunganya juga anonim. Mungkin kalau transaksi kartu kreditnya bisa ditelusuri saya bisa bantu, Cuma itu melanggar privasi dan saya ga punya kewenangan buat itu.” Jelas penjaga toko tersebut. Regina kecewa karena tidak dapat mengetahui siapa pengirim bunga misterius untuknya.


“Kalau gitu sebutin ciri-cirinya aja deh, Mbak.” Kata Regina putus asa.


“Hmm… Cowo, orangnya tinggi, ganteng, kulitnya sawo mateng, postur badannya bagus kaya tentara” Jelasnya “Oh ya, ada bekas luka gitu di deket alisnya.” Lanjutnya lagi.


Deg!


Seketika satu wajah tergambar dibenak Regina. Orang yang tak ingin dia ingat. Bahkan mengucapkan namanya saja Regina tak mau. Diantara semua kemungkinan pengirim bunga misterius tersebut, dia yang paling tidak ingin Regina masukkan ke dalam daftar.


Lonceng dari pintu masuk bergemerincing, menandakan ada pelanggan  yang datang ke toko. Dengan suara langkah kaki yang berat dari sepatunya dia masuk ke dalam toko.


“Ini dia orangnya!” Kata si penjaga dengan muka bahagia. Dia mungkin mengira telah menyaksikan adegan romantic dimana si penggemar rahasia yang setiap hari mengirim bunga akhirnya bertemu pujaan hatinya.


Regina berbalik menghadap laki-laki yang baru saja masuk ke toko. Dia mengingatnya dengan jelas wajahnya dan semua hal yang pernah di lakukan pada Regina.


“Hai, Re. Akhirnya kita bisa ketemu lagi.” Katanya sambil tersenyum.


Regina mematung. Merasakan desiran kemarahan dan kesedihan yang menjalari hatinya. Semua terapi ke psikolog yang pernah dia lakukan dulu terasa percuma saat melihat laki-laki dihadapannya kembali.


Dia membencinya! Sangat membenci mantan tunangannya!

__ADS_1


__ADS_2