Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
I promise.. there'll be only good thing


__ADS_3

"Re, jangan marah dong. Aku minta maaf."


Regina tidak merespon perkataan Gian. Dia malah sibuk melepaskan pelukan suaminya itu. Mencengkram lengan yang membelit tubuhnya. Kali ini Gian sangat kelewatan menyebalkan. Regina berusaha bangkit dari tempat tidur tapi Gian tak menyerah memeluknya hingga Regina sulit bergerak.


"Lepasin!!!" Bentak Regina.


"Ngga. Kalau kamu belum maafin aku, ga akan aku lepasin."


Kali ini Gian memang melakukan kesalahan, tapi menurutnya ini tidak terlalu kelewatan. Lagipula Regina juga menyukainya kan? Meskipun awalnya dia melakukannya dengan terpaksa.


"Kamu ga dengerin apa kata dokter?!"


"Kan aku buang di luar."


"Ya kan. tetep aja gak boleh." Protes Regina.


"Tapi kamu suka, kan?"


Regina cemberut dan menatap Gian dengan galak, yang dibalas senyuman lebar oleh Gian. Sebal melihat senyuman seolah tak bersalah itu, Regina menjambak rambut Gian.


"Iya ampun, Re. Aku ga akan kayak gitu lagi." Teriak Gian kesakitan.


Sulit menolak hasratnya yang bergejolak tiap melihat Regina. Apalagi setelah mengetahui bahwa Regina mau melakukan apa saja agar Gian tidak berpaling pada wanita lain. Regina terlihat lebih seksi ketika menjadi posesif seperti itu. Gian sangat menyukainya.


Cerdas, agak licik, cantik, dan posesif. Gian sangat menyukai kombinasi itu dari Regina. Semakin terlihat menggoda setiap kali memikirkan bagaimana Regina menyingkirkan orang lain untuk tujuannya. Dia suka wanita yang ambisius dan berani. Membuat jiwanya semakin tertantang untuk menaklukkan Regina.


Malam tadi Gian tidak bisa menahannya. Mungkin karena beberapa minggu terakhir ini mereka berhenti melakukannya. Membuat Gian rasanya frustasi ingin melepaskan hasratnya segera. Tapa pikir panjang dia memaksa Regina melayaninya. Meskipun dia tahu seharusnya beberapa beberapa bulan kedepan, Gian harus sedikit menahannya.


Regina sudah tentu menolak dan berontak. Tapi tombol ON pada gian sudah ditekan, jelas Regina tidak akan selamat. Malam itu dia miliknya. Gian yang sangat pengertian berubah menjadi kejam kalau berurusan dengan masalah ranjang.


"Aku anter ke dokter kalau kamu ngerasa sakit atau kenapa-kenapa." Ujar Gian menenangkan.


"Kalau ada apa-apa pokoknya itu salah kamu!"


"Iyaa. Ga akan ada apa-apa kok. Masa ditengokin sebentar sama ayahnya ga mau? Jangan jadi anak durhaka ya kamu!" Kata Gian sambil mengelus perut Regina.


...****************...


Kehamilan Regina semakin hari semakin terlihat, kini perutnya semakin membesar. Meskipun harus mengalami banyak drama dan perasaan tidak nyaman seperti mual dan muntah, pusing, dan sakit kepala. Regina cukup menikmati semuanya. Apalagi Gian sangat perhatian dan menjaganya.


Regina memutar tubuhnya di hadapan cermin, melihat perutnya yang sedang hamil 4 bulan. Meskipun banyak yang mengatakan perutnya belum terlihat terlalu besar, tapi Regina bisa melihatnya sendiri. Perut ratanya kini membuncit.


"Gi, aku udah kelihatan hamil belum?" Tanya Regina yang sedang mencoba baju gamis berwarna putih untuk acara pengajian nanti sore.


"Hmm.. Udah." Kata Gian singkat, sibuk dengan handphone-nya.


"Liatin! Kamu jawab gak liat aku dulu.


Gian melihat Regina sekilas, "Iyaa."


"Aku gendutan gak sih?"

__ADS_1


"Kamu mau dijawab dengan jawaban suami idaman atau suami durhaka?"


Regina mengerucutkan bibirnya dengan kesal, "Pasti aku gendutan, kan?"


"Kalaupun iya juga gak apa-apa. Kan normal lagi hamil berat badan nambah." Jawab Gian menenangkan.


"Tapi aku jadi ga pede. Lihat nih lengan aku mulai bergelambir." Keluh Regina. Dia ingin hamil tapi tetap bisa mempertahankan badannya yang proporsional bak model. Memang keinginan wanita itu terkadang sangat aneh.


"Ya udah sih. Kamu masih kelihatan cantik kok."


"Ya aku tahu kalau aku cantik. Tapi aku gendut."


"Terus kamu mau aku ngapain? Kok jadi kesel sama aku sih?"


"Awas ya kalau kamu selingkuh gara-gara aku tambah gendut!"


Gian tersenyum. Mana mungkin dia berani berselingkuh dengan istri seperti Regina. Bukan hanya Gian yang akan dibuat tak berdaya setelah berselingkuh. Nanti selingkuhannya pun akan menderita. Regina tidak mungkin membiarkan wanita yang mendekatinya hidup nyaman.


"Ya mana mungkin lah aku selingkuh. Kan aku udah punya istri yang cantik dan keren kayak kamu." Jawab Gian memeluk dan mengecup pipi Regina.


"Jijik. Gombalan kamu norak."


"Terus kamu mau digombalin kayak gimana?"


"Ga mau. Gombalan kamu bikin geli." Tolak Regina. "Dek, jangan sampai nanti kamu kaya ayahmu ya, kalau gombal menjijikkan."


Gian hanya tertawa menanggapinya. Dia melihat ke arah cermin, menatap perut istrinya yang sedikit membuncit. Perasaan aneh muncul dihatinya. Ketika awal merencanakan kehamilan dan mengetahui Regina hamil, perasaannya masih biasa saja dan cenderung enggan, karena Gian merasa belum siap menjadi ayah.


...****************...


5 bulan kemudian


"Gi, kok aku kayaknya mules ya?" Kata Regina masuk ke ruang kerja Gian sambil memegangi perutnya yang sudah membesar.


"Bukannya HPL-nya 2 minggu lagi ya?" Tanya Gian bingung.


"Ya mana aku tahu. Gian ih. Aku mules."


"Mules aja atau mules banget?"


"Giaaaan!!!"


"Iya iya. Ayo ke rumah sakit dulu."


Regina sudah mengalami pembukaan 4, mereka akhirnya menunggu di ruang VIP untuk menunggu Regina pembukaan lengkap. Rasa sakit di perut Regina semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu.


Tak jarang Gian menerima cakaran dan cubitan dari Regina selama menunggu proses pembukaan lengkap. Gian hanya pasrah dan mencoba terus menenangkan Regina. Dia tahu rasa sakitnya tidak sebanding dengan yang Regina rasakan. Gian akan melakukan apa saja untuk bisa meringankan rasa sakit yang istrinya rasakan. Tapi yang hanya bisa dia lakukan sekarang adalah memeluknya, mengelus pinggangnya, memijat lembut, dan terus mendampingi Regina.


Selama ini Regina mengira bisa melewati detik-detik kelahiran dengan mulus tanpa masalah. Nyatanya tidak. Semua senam hamil, seminar, olahraga, yoga dan banyak hal yang dia ikuti rasanya percuma dibawah rasa sakit yang seperti membakar punggungnya.


Keringat mengucur di dahi Regina, dia sudah sangat lemas setelah kontraksi selama 5 jam. Namun pembukaannya masih stuck di pembukaan 7.

__ADS_1


Regina mulai dibawa ke ruang bersalin 2 jam kemudian setelah pembukaan lengkap. Gian menunggu di luar dengan khawatir. Dia takut terjadi apa-apa pada istrinya dan anaknya.


Gian baru diperbolehkan melihat Regina dan anaknya yang lahir setelah perawat memanggilnya ke dalam. Bayi kecil menempel di dada Regina. Dengan tangis haru Regina memeluk bayi merah kecil tersebut, dia belum sepenuhnya pulih. Kecupan kecil di kening istrinya yang basah oleh keringat diberikan Gian. Keduanya tak bisa mengucapkan kata apapun. Terlalu bingung, haru, dan bahagia dalam satu waktu.


Tatapan Gian tak pernah lepas dari bayi yang menggeliat dan bersuara kecil di dekapan Regina. Ini pertama kalinya dia melihat bayi yang baru lahir, apalagi itu adalah anaknya.


"Bayinya laki-laki, sehat, lengkap, dengan berat 3,1 kg, lahir secara normal." Ucap Dokter Ratih yang mendampingi proses persalinan.


Telunjuk Gian menyentuh jemari kecil bayinya, yang kemudian di genggam manusia kecil itu. Sentuhan pertama dan perkenalannya dengan anak laki-lakinya, membuat air mata Gian meluruh. Gian nuaris tak pernah menangis, apalagi karena terharu. Tapi melihat anak pertamanya lahir dengan sempurna membuatnya begitu bahagia dan tersentuh.


"Mau coba gendong?" Tanya Dokter Ratih.


Perawat mengambil bayi itu dari dekapan Regina, yang kemudian disusul suara tangisan kecil. Tidak rela berpisah dari ibunya. Perawat lain membantu menempatkan tangan Gian agar bayi nyaman dalam gendongannya, selama ini Gian tidak pernah melakukannya. Dia takut malah menyakiti bayi kecilnya. Dengan canggung Gian menggendong tubuh mungil anak pertamanya, tangisnya reda ketika berada dipangkuan Gian.


"Dari bayi aja udah kelihatan mirip banget bapaknya ya?" Kata perawat yang membantu Gian menggendong bayinya.


"Biasanya gitu. Udah capek-capek ibunya bawa 9 bulan, eh malah semuanya mirip bapaknya." Sahut Dokter Ratih bercanda.


Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, Regina tertidur beberapa jam untuk memulihkan tenaganya. Sejak bayinya dipindahkan ke ruangan bersama Regina, Gian tidak bisa berhenti memandanginya. Takjub sendiri melihat makhluk sekecil itu bisa hidup di dalam tubuh Regina dan sekarang sudah berada di dunia.


Dulu Gian selalu merasa tidak siap menjadi ayah. Bahkan saat Regina pertama kali keguguran pun, tak ada perasaan sedih seperti yang dirasakan istrinya. Ketika Regina mengatakan ingin memiliki anak kembali, sebenarnya perasaannya campur aduk. Dipenuhi ketakutan dan ketidaksiapan berbagi hidupnya yang damai dengan 1 orang lagi manusia selain Regina.


Gian hanya bisa berusaha ikut bahagia ketika Regina dinyatakan hamil. Meskipun setelah dia bisa merasakan bayi itu hidup di dalam perut istrinya lewat gerakan-gerakan tak terduga, Gian merasa penasaran juga. Bagaimana jadinya setelah dia bertemu dengan anaknya nanti.


Melewati waktu panjang berpura-pura dia siap di depan Regina tentang kehadiran anak mereka. Untuk pertama kalinya semua ketakutan tersebut menghilang saat merasakan genggaman kecil bayinya di ruang bersalin tadi. Dia sekarang sudah siap menyerahkan semua hari-hari damainya dan melindungi manusia mungil ini.


Semua perasaan aneh yang dia rasakan bahkan lebih banyak dibandingkan saat dia mengakui perasaannya pada Regina. Hanya dengan melihat bayi ini saja, Gian sudah berjanji pada dirinya sendiri. Setelah ini hanya ada hal-hal baik yang akan terjadi pada hidup mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebentar lagi tamat, cuma tinggal beberapa bab lagi 😘👌


Terimakasih yang sudah mau baca sampai sini. Karya pertamaku yang cukup pendek tapi menguras waktuku.


Jangan kemana-mana dulu karen masih sisa beberapa bab yaa.. Anaknya belum dikasih nama, btw. Author nya masih bingung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mau iklan dulu.


Nantikan Novel kedua yang release setelah ini tamat.


Author kasih spoilernya dulu



blurb :


H-7 pernikahannya, Nara harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengandung anak yang bukan dari calon pengantinnya. Melainkan anak dari Arvin, bosnya. Orang yang sangat Nara benci. Kehidupan sempurnanya seketika hancur.


Nara harus menikah dengan Arvin. Bos yang terkenal karena skandalnya, seorang badboy, anak band, pemain wanita, dan anak durhaka.

__ADS_1


Bisakah Nara bahagia dengan Arvin? Ataukah pernikahan ini malah membawa luka untuk mereka berdua?


__ADS_2