Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Meminta Restu


__ADS_3

Regina terus mengulur waktu untuk bertemu dengan keluarganya. Setelah mendapatkan respon positif dari keluarga Gian, sudah waktunya mereka melanjutkan rencana selanjutnya untuk meminta restu keluarga Regina. Tapi Regina memilih untuk tidak bekerjasama, kebimbangan dihatinya karena harus berbohong kepada keluarganya membuat Gian jadi makin tidak sabar.


Sudah hampir 2 minggu semenjak pertemuan terakhir mereka, saat Regina datang ke apartemennya untuk marah-marah. Mereka belum sempat bertemu lagi karena kesibukan masing-masing. Namun tiap hari Gian mengirim pesan untuk meluangkan waktu bertemu langsung keluarga Regina. Tak ada jawaban dari pesan-pesan tersebut. Bahkan tak jarang telepon GIan ditolak oleh Regina.


Pukul 5 sore mobil Gian terparkir rapi di parkiran gedung Edmode. Gian sudah menunggu Regina keluar dari tempat kerjanya. Setelah menunggu 15 menit, barulah Regina muncul, keluar dari lobby kantor bersama rekan kerjanya. Gian turun dari mobil dan menghampiri Regina. Jika Regina menolak untuk berkomunikasi dengannya, maka dia harus datang langsung menemuinya. Regina tidak mungkin bisa menghindar kali ini.


“Regina, kita perlu ngomong.” Kata Gian menghadang Regina. Terlihat keterkejutan dalam wajah Regina. Rekan-rekannya pun terlihat bingung kenapa Gian berada disana dan mengenal Regina. Mereka saling berbisik dibelakang.


“Bu Regina kenal Pak Gian?” Tanya Maya takjub. Sudah tidak aneh kalau Maya mengenal Gian. Dia adalah fans Gian yang bahkan secara tidak langsung memberitahulkan identitas Gian pada Regina yang saat itu masih buta.


“Sampai ketemu senin ya, May.” Balas Regina pada Maya. Kemudian berjalan melewati Gian menuju mobil Gian yang terparkir disebrang. Tanpa kata-kata, Gian mengekor dan masuk ke mobil.


“Ngapain sih kamu kesini?” Tanya Regina marah ketika mereka sudah duduk di mobil Gian.


“Ngapain kamu menghindar? Seengaknya bales kek pesan aku.” Balas Gian tak kalah kesal.


Regina terdiam. Mengatur napasnya agar tidak meledak marah pada Gian.


“Aku ga bisa. Aku ga mau bohongin keluargaku.” Ucap Regina sendu setelah beberapa menit mengunci bibirnya.


“Regi, we already signed the contract and you can’t back off your decision like this.” Kata Gian penuh penekanan. 2 minggu dia mencoba sabar, tapi setelah mendengar omong kosong Regina secara langsung membuat kemarahan naik ke kepalanya.


“I know, but I can’t do this, Gi. I can’t lie to them.” Air mata meleleh dipipi Regina. Perasaan bersalah menyelimuti Regina. Dia tidak mau berbohong pada orang tua keduanya, orang yang mengurusnya saat orang tuanya tiada. Regina mengatakan pada dirinya kalau dia bisa melakukan apapun untuk mempertahankan perusahaan, bahkan bisa menjual dirinya sendiri pada Gian. Tapi jika harus membohongi keluarganya untuk pernikahan palsunya, hatinya menjadi gamang. Dia mengira bahwa pernikahannya dengan Gian hanya rahasia, hal yang bisa dia tutupi dari keluarga.


“Oke kalau kamu ga bisa ngelakuin itu. Berarti kamu siap nerima kalau perusahaan kamu ga bisa selamat. Lihat orang-orang yang bergantung sama keputusan kamu, Re!” Kata Gian sambil menunjuk karyawan yang keluar dari gedung Edmode untuk pulang. “Kamu bahkan ga bisa ngegaji mereka buat bulan depan, kan? You let them drowning with you. You are pathetic leader.” Lanjutnya mengompori.


Regina diam kembali. Gian tahu dia akan menang, tidak ada pilihan lain untuk Regina selain melanjutkan rencananya.


“Kamu sekarang milih. Keluar dari mobilku dan kamu ga akan dapat bantuan apa-apa dari aku. Atau kamu ikut aku, kita berangkat sekarang ke rumah keluarga kamu di Bandung.” Kata Gian tegas.


Regina hanya menunduk, melihat ke jemarinya yang dia mainkan dengan gusar. Mereka lama tak berbicara lagi setelahnya. Hanya suara gumaman dari karyawan yang berangsur-angsur keluar gedung, suara mobil di jalanan depan perusahaan, kemudian suara air hujan yang baru saja jatuh ke depan kaca mobil Gian. Semakin lama semakin deras dan kencang.


“Aku ikut kamu. Tapi kita ke apartemenku dulu buat ambil baju.” Kata Regina lemah, dengan berat hati dia memutuskan untuk melanjutkan rencana pernikahan kontraknya. Gian tak dapat menyembunyikan senyum kemenangannya. Untung saja Regina tidak melihatnya. Entah kenapa dia merasa puas setelah memojokkan Regina pada pilihan sulit.


“Oke.” Katanya sambil mengulurkan tangan. “Kunci mobil kamu. Aku titipin sama satpam biar mobilmu bisa dibawa pulang supirku.” Lanjut Gian.


Regina mencari-cari di dalam tasnya. Kunci kecil tersebut dia serahkan pada Gian yang dengan segera turun dari mobil. Mengembangkan payungnya kemudian berjalan ke pos satpam untuk menitipkan kunci mobil Regina.


***


Keduanya sudah berada di jalan tol menuju Bandung. Di luar jalanan basah karena hujan yang sepertinya turun merata dari Jakarta hingga kearah Bandung. Hanya ada suara musik dari radio di dalam mobil. Regina diam sedari tadi, ekspresinya gelap dan masam. Dia juga tidak berusaha menemani Gian mengobrol agar tidak mengantuk saat menyetir. Dia tidak peduli Gian mengantuk hingga menabrakan diri sekalipun. Mungkin lebih bagus jika Gian mengantuk, kemudian menggulingkan mobil Lexus mewahnya dijalanan basah sampai mereka berdua mati. Setidaknya masalah yang ada dipikiran Regina juga ikut menghilang bersamanya.


Regina akhirnya memejamkan mata, dan tertidur sepanjang perjalanan. Menghentikan dirinya dari doa-doa dan harapan jelek yang mungkin saja terkabul dan membunuhnya.


Mereka sampai pukul 8 malam di rumah paman dan bibi Regina. Tak sulit bagi Gian menemukan rumahnya di daerah menuju Lembang tersebut, setelah mengikuti maps dan mengikuti deskripsi Regina. Seat sampai mereka disambut hangat. Paman dan bibi Regina, pensiunan berumur lewat 60an. Sangat ramah dan excited bertemu Gian. Mereka tinggal bertiga bersama dengan anak bungsunya yang masih kuliah.


Setelah mandi dan membersihkan diri. Gian diajak makan malam, sudah tersedia menu-menu khas rumahan di meja. Gian merasa pulang ke rumah neneknya dan dimasakkan banyak makanan enak.

__ADS_1


Regina membantunya mengambil makanan, melayani tepatnya. Sejak tiba dirumah, gesture dan ekspresi Regina berubah menjadi ceria dan menyenangkan. Matanya berbinar ketika menatap Gian, menunjukan pada paman dan bibinya bahwa mereka dekat dan saling menyukai. Dia terus menggandeng lengan Gian, menautkan jemarinya ke jemari Gian, bersandar dan terus berada didekat Gian. Sampai pamannya terus berdeham protes. Gian harus mengatakan bahwa dia cukup terkesan dengan acting Regina yang lumayan. Melawan semua perasaan enggannya, dia berbohong dengan cukup sempurna.


“Kamu nyobain ini? Lotek..” Kata Regina pada Gian sambil tersenyum.


“Kalau di Jakarta namanya gado-gado ya?” Tanya Bibi Regina. “Disini namanya lotek.” Lanjutnya tersenyum.


“Kalian sampai hari apa nginepnya?” Tanya pamannya.


“Minggu. Nanti minggu siang kita pulang ke Jakarta.” Jawab Gian.


“Ooh.. Ya udah besok kita ajak Gian jalan-jalan di Bandung. Banyak jajanan enak di Bandung mah. Nanti Uwa kasih tau.” Kata bibinya senang.


“Ngapain sih? Cape tau, mending di rumah aja.” Protes Regina.


“Ya kamu aja di rumah sendiran, neng. Biar uwa aja ajak Gian jalan-jalan sekitar sini.”


“Aku aja yang ajak Kak Gian jalan-jalan, Mah. Biar aku yang berduaan sama Kak Gian.” Kata Dina menawarkan diri.


“Dih genit lu!” Balas Regina jengkel.


“Biarin.” Kata Dina sambil menjulurkan lidah mengejek. “Aku tuh penasaran, kok Kak Gian mau sih sama Kak Rere? Padahal dia tuh judes tau. Kak Gian kan ganteng kaya boyband korea.”


Gian hanya tertawa mendengarnya.


“Heh! Biar judes kaya gini yang mau sama aku banyak kali. Emangnya kamu. Jomblo sedari lahir!”


Gian masih tertawa mendengar penuturan Dina soal Regina. Fakta bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang kepribadian dan kebiasaan Regina membuat ceritanya semakin menarik bagi Gian.


“Dina, ga boleh gitu.” Ucap Paman Regina memperingatkan.


Mereka makan malam sambil mengobrol dan tertawa, teruatama karena Regina dan Dian saling berceloteh dan beradu pendapat. Seperti Gian dan Arsila yang saling menyayangi tapi lebih sering bertengkar.


Gian merasa diterima dengan baik dikeluarga Regina. Mereka orang-orang sederhana dan menyenangkan. Rasanya seperti memiliki orangtua kembali. Bagi Gian dan Regina yang yatim piatu, bertemu orang seperti mereka bisa mengobati kehilangan. Gian mengerti kenapa Regina tidak bisa berbohong pada paman dan bibinya. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba timbul dalam hati Gian saat dia sudah diperlakukan dengan begitu baik, bahkan seperti anak mereka sendiri disini. Tapi rencananya tak boleh gagal dan mundur, hanya karena perasaan sentimental yang dia rasakan sesaat.


***


“Rere ngajak Gian kesini karena udah yakin?” Tanya bibinya. Regina dan bibinya berada di dapur, mencuci dan membereskan sisa makan malam mereka.


Mendengar pertanyaan itu Regina hanya diam. Dia menyiapkan diri untuk berbohong pada orang yang sangat disayanginya. Melakukan penipuan dan mempermainkan pernikahan.


“Menurut Uwa, Gian orangnya kaya gimana?” Tanya Regina.


“Baik, sopan, yang jelas ganteng.” Jawabnya sambil tertawa menggoda Regina. “Uwa sempet khawatir pas Rere cerita kalau Gian punya perusahaan gede banget. Jadi apa namanya tuh? CEO, banyak uang, banyak kenalannya.”


“Kenapa?”


“Ya.. orang-orang kayak gitu jauh pergaulannya dari orang kayak kita. Takutnya Rere ga bisa menyesuaikan sama kehidupan dia, atau dianya yang ga bisa menyesuaikan sama kehidupan Rere. Tapi kayaknya orangnya supel, adaptif. Dia bisa ngomong sopan depan orang tua, meskipun kita ga sekaya dia.”

__ADS_1


“Terus? Yang bikin uwa ngerasa khawatir apa lagi?”


“Uwa juga takut karena dia kaya, dia jadi semena-mena sama perasaan Rere. Pake uangnya buat bikin Rere ngelakuin hal yang Rere ga suka.”


Regina tertegun mendengar ucapan bibinya. Gian memang sudah melakukannya, bahkan sebelum bibinya mengatakan kekhawatiran tersebut. Dengan uangnya, Gian merencanakan pernikahan kontrak seakan-akan membeli Regina dan keputusan-keputusannya. Sama seperti hal yang dilakukannya hari ini. Tiba-tiba datang, menggunakan uangnya untuk membuat Regina memilih pilihan yang tidak dia sukai. Namun Regina sadar, bukan sepenuhnya salah Gian. Dia yang membiarkannya melakukan hal itu, karena Regina menyetujuinya.


Bukan waktunya lagi bagi Regina untuk merasa gamang pada pernikahan kontraknya. Dia sudah sampai sejauh ini dan memutuskan. Dia tidak bisa kembali ke Jakarta bersama Gian dan mengatakan padanya bahwa dia mundur. Tak terbayang apa yang bisa dilakukan Gian padanya jika hal tersebut terjadi. Regina terlalu takut untuk membayangkannya.


“Aku sayang sama Gian. Aku ga tau ini karena yakin sama dia atau bukan, tapi aku ga mau kalau nikah sama yang lain selain Gian.” Kata Regina tersenyum pada bibinya. Dia mencoba menguatkan diri, mengatakan kebohongan dan omong kosong yang menghancurkan hatinya.


“Ya kalau Rere udah bilang gitu. Uwa ga mungkin ga kasih restu.” Balas bibinya tersenyum.


***


Hari sabtu pagi mereka sudah bersiap-siap pergi untuk jalan-jalan. Mereka berniat mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar Lembang. Namun karena akhir pecan, jalanan macet di penuhi kendaraan yang ingin berwisata juga di daerah itu.


Mereka sempat berkunjung ke Gunung Tangkuban Parahu dan De Ranch. Tak lupa mereka berfoto bersama. Rasanya aneh bagi GIan yang selalu menghabiskan akhir pekan berada di apartemennya, bergumul dengan dokumen dan bekerja. Sekarang dia berwisata seperti turis lokal.


Mereka melanjutkan jalan-jalan ke daerah kota. Berfoto di Gedung Sate, berkeliling di Braga, dan makan jajanan-jajanan khas Bandung. Gian sebenarnya sering ke Bandung untuk perjalanan bisnisnya. Namun baru pertama kali jalan-jalan seperti ini.


Dulu saat Gian kecil, kakek dan neneknya akan meluangkan waktu diakhir pekan untuk mengajaknya jalan-jalan. Ke puncak, ke taman safari, ke kebun binatang, bahkan berkemah. Mereka melakukan itu agar Gian bisa segera melupakan kehilangan orangtuanya.


Setelah malam mereka baru kembali ke rumah. Ketika makan malam usai, Gian di panggil untuk duduk berdua dengan Paman Regina. Mereka duduk di bangku teras. Udara dingin Lembang menggigit tubuh Gian. Di meja sudah tersedia kopi susu dan beberapa camilan dan gorengan.


Lama setelah mereka duduk, keduanya mengobrol tentang banyak hal, tentang kebun , tentang bola, politik, dan pekerjaan. Gian juga banyak diceritakan tentang masa-masa muda Paman Regina. Terkadang teringat kakeknya yang juga sering membicarakan hal tersebut saat luang.


“Jadi kamu sama keluarga kamu siapnya kapan datang kesini lagi?” Tanya Paman Regina sambil menyesap rokoknya.


“Kapan aja siap. Kalau bapak ada waktu luang.” Jawab Gian.


“MInggu depan, bisa?” Asap kelabu mengepul dari hidungngnya.


“Bisa.” Gian dengan yakin menjawab.


“Kalau Uwa sih ga ada masalah kalau kamu sama Rerenya udah yakin dan siap. Udah saling sayang” Ada keheningan setelah itu. “Uwa cuma mau pesan aja, Rere udah diminta baik-baik dari keluarganya. Kalau nanti kamu udah ga suka, ga sayang, dan ga berkenan hidup sama-sama. Tolong dikembalikan baik-baik juga sama kita. Jangan disakiti, apalagi dimadu.” Lanjutnya menceramahi.


Gian membenci perasaan bersalah yang menjalari hatinya. Mendengar kata-kata yang hanya bisa diucapkan oleh sosok ayah untuk calon menantu laki-laki, membuat Gian merasa sudah berkhianat bahkan sebelum melakukannya. Sesaat, Gian menyetujui ide Regina untuk menikah diam-diam saja dibanding harus mendengarkan nasehat tulus untuk pernikahan yang bahkan tidak diinginkannya.


***


Minggu siang Gian dan Regina sudah bersiap untuk pulang. Banyak oleh-oleh yang Paman dan Bibi Regina bawakan untuk mereka. Setelah berpamitan, mobil melaju untuk kembali ke Jakarta.


Selain pembicaraan terkait lamarannya minggu depan, Gian tidak banyak mengobrol dengan Regina. Selepas pulang dari sana Regina kembali seperti sebelumnya, muram. Di sepanjang perjalanan Regina hanya bermain handphone dan tertidur. Gian kali ini tidak ingin menyalahkan sikapnya yang begitu masam. Bahkan rasanya diapun merasakan beban yang sama setelah mengobrol bersama Paman Regina. Betapa serius kebohongan mereka bisa menyakiti orang-orang tersebut.


Setelah mengantar Regina pulang ke apartemannya. Gian lekas pulang juga ke tempatnya. Energinya seperti habis dimakan perasaan bersalah. Dia hanya membaringkan diri di kasurnya, menatap langit-langit kamar. Merasa sangat bodoh dan bersalah. Masih terngiang kata-kata yang diucapkan oleh Paman Regina. Dia bahkan tidak punya perasaan apapun pada Regina, tapi membayangkan harus mengembalikannya pada orangtuanya 2 tahun lagi sangat membebani Gian.


Gian meraih handphone-nya untuk mengalihkan banyak pikiran buruknya. Kemudian melihat notifikasi dari Regina di sosial medianya. Gian membukanya dan menemukan Regina memposting foto-foto selama liburan. Paman, Bibi, Dian, Regina dan dirinya tersenyum melihat kearah kamera untuk selfie. Slide foto lain memperlihatkan dia yang sedang mengobrol, makan, dan pose-pose candid yang tidak diketahuinya di potret oleh Regina. Di dalam caption tertulis icon hati merah kecil, tak lupa menandai Gian disetiap fotonya. Ratusan komentar dan ribuan like sudah terisi pada postingan Regina tersebut. Banyak yang mengucapkan selamat dan menanyakain siapa laki-laki yang di post bersama keluarga Regina. Foto tersebut dikirim sekitar satu jam yang lalu. Saat perjalanan pulang dari Bandung.

__ADS_1


Disaat Gian menjadi gamang dengan pernikahan kontraknya. Regina sudah menetapkan hati, melanjutkan rencana untuk terus maju bersandiwara.


__ADS_2