Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
It's you.. always you


__ADS_3

“Dim, Maaf banget saya ga buka handphone tadi sore. Jadi gimana keputusan kerjasamanya?” Kata Regina yang sedang tersambung dengan Dimas ditelepon. Selama sore tadi Regina sibuk memasak di dapur dan meninggalkan handphone-nya di kamar Gian karena ketiduran. Panggilan tidak terjawab dari Dimas lebih dari 10 kali dan pesan-pesannya yang tidak terbalas.


“Semuanya udah beres kok, Bu. Saya tadi sore udah konsultasi sama Pak Gian. Dia udah approve kerjasama dengan Vendor yang dari Vietnam. Beliau bilang semua dokumennya oke.” Balas Dimas.


“Gian? Tadi sore?”


“Iya. Tadi telepon ke Bu Rere ga ada yang angkat. Pak Gian yang balik telepon saya. Maaf ya ganggu cutinya, Bu.”


“Oh gak apa-apa, Dim.”


Mereka melanjutkan membahas tentang pekerjaan selama beberapa menit sebelum sambungan terputus. Gian kemungkinan tadi sore mengetahui panggilan-panggilan dari Dimas kemudian balik menghubunginya. Kemudian menyelesaikan pekerjaan yang harusnya Regina kerjakan. Dimas juga mengatakan mengirim dokumen mengenai vendor pada Gian untuk berkonsultasi. Bahkan saat sakit Gian tetap sempat bekerja? Benar-benar orang gila kerja.


Meskipun Regina merasa lega karena Gian membantunya, dia masih saja sebal dengan kata-kata yang diucapkannya tadi di dapur. Iya. Iya. Dia tahu, dari awal Gian memang mencari wanita yang sama sekali tidak tertarik dengannya. Dia pikir Regina akan mudah jatuh cinta padanya? Perasaan aneh yang dia rasakan bukan cinta.


Bukan, Re! Kamu cuma lagi bingung aja! Kamu ga mungkin jatuh cinta sama si workaholic menyebalkan itu! Kamu cuma kesepian dan butuh temen aja, Re. Makanya kaya gitu. Ucapnya dalam hati meyakinkan diri.


***


Regina sudah menyelesaikan beberapa rekomendasi desain untuk produksi selanjutnya dan mengecek material yang cocok untuk desain tersebut. Sekarang waktunya cukup luang hingga makan siang. Dia membuka handphone-nya dan melihat-lihat sosial media, mencari inspirasi mengenai tren busana saat ini.


Di laman sosial medianya muncul postingan Lina, sepupu tertua Gian, yang sedang bersama adiknya Maya, Yuniar dan Bayu. Mereka berfoto di restoran mewah dan sebuah kue tersaji di depan Yuniar. Ditambah dengan caption ‘Happy Birthday, Mommy!”. Foto tersebut di pos dua hari lalu. Tante Yuniar Ulang Tahun!!


Gawat!! Regina benar-benar tidak tahu. Gian juga tidak mengatakan apa-apa padanya tentang ulang tahun tantenya. Padahal Tante Yuniar sudah Regina anggap seperti mertuanya sendiri.


Gian nyebelin! Kenapa sih ga ngasih tau hal kaya gini!


Regina meluapkan rasa frustrasi dan kekesalannya untuk mengumpat pada Gian. Semua hal buruk dan menyebalkan selalu berhubungan dengan dia. Dengan keberanian, Regina menekan tombol panggilan ke nomor Yuniar. Menunggu telepon tersebut tersambung.


“Halo, Re.” Jawab Yuniar lembut.


“Tante, selamat ulang tahun ya. Maaf Aku lu—”


“Oh iya makasaih loh hadiahnya, Re. Tante seneng banget dapet handbag dari YSL. Kok tau sih tante suka warna Turquoise?” Potong Yuniar dengan semangat.


Dia sama sekali tidak mengirimkan hadiah apapun pada Yuniar, apalagi tahu warna favoritnya. Bahkan ulang tahunnya saja baru Regina ketahui beberapa menit yang lalu dari postingan Lina di sosial media. Pasti Gian yang mengirim hadiah tersebut mengatasnamakan Regina.


“Umm.. Gian yang bilang.” Kata Regina terbata.


“Oh ya? Wah ga nyangka dia perhatian sama tante sampe cerita ke kamu gini. Lain kali kalian dateng ke rumah, kita makan malam bareng atau kesini pas libur.”


“Iya, tante. Kalau Gian ga sibuk.” Jawab Regina canggung.


“Ah dia sih sibuk terus. Harus dipaksa.”


“Iya, tante. Hahaha”


Regina menghela napas ketika mengakhiri sambungan telepon dengan Yuniar. Gian berbuat sejauh ini untuk mendukung semua kebohongannya. Membuat Regina terlihat seperti menantu yang perhatian. Dia tidak peduli dan mungkin harus berterimakasih pada perbuatan Gian tersebut. Tanpa sadar menyelamatkannya dari malu karena tidak memperhatikan ulang tahun Yuniar.


***


Hujan turun cukup lebat saat Regina keluar dari kantornya. Dia pergi ke supermarket terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Berbelanja bahan makanan yang sudah habis.


Regina mengendarai kendaraannya cukup santai. Malas untuk cepat sampai ke rumah, dia tidak ingin bertemu Gian. Perasaannya belum membaik gara-gara ucapannya kemarin. Rasanya ingin menjambak rambut lurusnya itu sampai botak.

__ADS_1


Saat Regina menyetir tiba-tiba saja mobilnya bermasalah. Dia menghentikannya di pinggir jalan, kemudian menyatakannya kembali. Tapi kendaraan tersebut tidak mau menyala.


Regina panik. Mobilnya mogok lagi! Dia berhenti di daerah yang tidak ada orangnya. Benar-benar sendirian di pinggir jalan. Tak ada yang bisa dia mintai bantuan.


Regina membuka handphone-nya tapi dia tidak tahu siapa yang harus dihubungi. Tukang bengkel yang tempo hari pun tidak mungkin datang kesini. Tempat mereka terlalu jauh.


Apa dia harus menghubungi Gian? Regina mengerang tidak menyetujui idenya sendiri. Tak ingin bergantung dan meminta tolong orang menyebalkan itu. Tapi satu-satunya orang yang terlintas dipikirannya hanya Gian. Akhirnya dia hanya diam 15 menit di tempat, menunggu ada mobil yang lewat untuk dia mintai bantuan. Di tengah hujan dan antah berantah tanpa siapa-siapa, hari mulai gelap.


Harusnya dia buang saja mobil tukang mogok ini dan beli mobil baru. Tidak apa-apa kalau dia harus mencicil tiap bulan asal dia tidak mengalami kejadian seperti ini terus. Regina membatin dan kesal sendiri. Semua hal membuatnya kesal akhir-akhir ini.


Jendala mobilnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Regina melihat ke jendela, kemudian menurunkan kacanya.


“Ngapain kamu diem disini?” Tanya Gian.


Sial! Kenapa sih harus dia yang datang?


“Mobilku mogok. Ga mau nyala.” Regina membenci dirinya sendiri. Pasti dia terlihat sangat menyedihkan di depan Gian. Dia tidak ingin Gian bersimpati padanya. Nanti dia merasa kalau Regina bergantung padanya dan menyukainya. Ih sebal.


“Ya udah turun. Naik mobil aku aja.”


“Terus mobil aku?”


“Nanti aku telepon orang buat bawa mobil kamu ke bengkel.”


Regina akhirnya menuruti kata-kata Gian. Meskipun dalam hatinya dia terus menggerutu. Melihat wajahnya membuat makin sebal. Kenapa sih harus Gian yang lewat?


Mereka saling diam dimobil menuju rumah. Regina hanya memandangi jalanan basah di luar. Jarak tempat mobilnya mogok ternyata cukup jauh dari rumah. Tadi dia terpikir untuk jalan kaki saja meninggalkan mobilnya. Tapi ternyata itu tidak mungkin.


“Kamu kok pulang cepet? Tumben.” Kata Regina memecah keheningan. Dia melihat jam tangannya dan waktu menunjukkan masih pukul 6 sore.


“Ngapain?”


“Ya mobil kamu udah jelek suka mogok-mogokan gitu. Mau aku beliin yang baru?”


“Ga usah. Aku ga mau berutang lagi sama kamu. Cukup dana bantuan buat perusahaanku aja.” Jawab Regina ketus. Regina tak habis pikir dia menawarkannya membeli mobil seperti membeli camilan. Tentu saja dia tak akan menerima tawaran Gian.


“Bukan utang. Hadiah dari aku.”


“Ga mau. Ga usah.”


Mereka kemudian terdiam.


“Kamis ini ada undangan makan malam dari salah satu kolega bisnisku. Kamu ga ada lembur kan kamis ini?” Tanya Gian.


“Ga ada.”


***


Pukul 7 Regina sudah bersiap. Dia mengenakan coctail dreas berwarna maroon. Rambutnya di gerai tanpa aksesoris. Wajahnya dipercantik dengan riasan smokey eyes yang membuatnya terlihat elegan dan dewasa.


Mereka pergi diantar oleh Pak Ayus. Gian memang paling malas harus berkendara malam hari. Regina tidak banyak bicara selama perjalanan. Hanya Pak Ayus dan Gian yang banyak bercerita mengisi keheningan.


Selama acara makan malam, mereka terlihat seperti pasangan yang romantis. Gian selalu merangkul Regina, menempatkan tangannya pada pinggang gadis itu dengan posesif. Regina menelan semua kekesalannya terhadap Gian demi berpura-pura baik didepan semua orang.

__ADS_1


Meja-meja bundar di tempatkan di seluruh ballroom hotel, tempat para tamu undangan. Mereka duduk bersama dengan beberapa kenalan Gian.


“Udah isi, Re?” Tanya salah satu ibu-ibu, istri kolega bisnis Gian.


“Belum. Kita masih menikmati bulan madu. Santai aja.” Jawab Gian sambil tersenyum.


Regina diam-diam mencibir. Bulan madu? Cih. Bahkan mereka sekamar saja tidak pernah. Gian memasang pagar disekitarnya. Mengusir Regina berkali-kali dengan mengatakan mereka bukan suami istri asli. Lama-lama rasanya muak sendiri dengan kebohongan yang Gian ucapkan dengan mudah tentang hubungan mereka. Tidak ada malam pertama yang indah, kehidupan rumah tangga yang romantis, atau hubungan yang istimewa diantara mereka.


“Saya permisi ke toilet dulu.” Kata Regina ditengah obrolan.


Kemudian bangkit dari tempat duduknya keluar ballroom. Toilet berada cukup jauh dari sana. Berada di ujung gedung, melewati koridor kemudian belok ke kiri. Regina diam di toilet yang kosong tersebut beberapa lama, untuk menenangkan pikirannya yang berkabut karena banyak kebohongan yang dia ucapkan hari ini.


Regina merapikan make-upnya sedikut, memoles lipstick yang sedikit luntur. Cermin memantulkan wajahnya yang mengenakan make-up dengan sempurna, terlihat cantik namun ada kekosongan besar dihatinya yang tidak bisa dia jelaskan. Cukup puas dengan waktu break-nya, dia memutuskan kembali ke acara.


Saat melangkah keluar toilet, sosok yang dia kenal menunggu di luar. Dia mengenakan jas hitam, berdiri menyilangkan tangannya. Ingatan malam saat pesta Arsila muncul dipikiran Regina. Dia membenci malam itu dan orang yang ada dihadapannya.


“Hebat ya lu. Habis ngincer gua sekarang ngincer Gian.” Kata Alex sinis.


Regina tidak ingin berurusan lagi dengan Alex. Langkahnya dia percepat dan berlalu pergi melewatinya. Namun, Alex mencegahnya dengan menahan lengan Regina.


“Lepasin!!” Bentak Regina galak.


“Dibayar berapa lu sama Gian? Gua tau lu nikah sama dia karena mau morotin duit dia, kan?” Ucap Alex sambil tersenyum meremehkan.


“Jangan sok tau lu!”


“Atau lu jual diri sama dia? Biar dia bisa nyelametin perusahaan lu yang hampir bangkrut itu, kan?”


Regina hanya diam menahan kemarahannya.


“Regina, kalau lu butuh duit kenapa ga dateng ke gua aja sih? Hmm?”


Alex mendorong Regina dan memojokkannya ke dinding. Dia mencengkram pergelangan tangan kiri Regina yang bersiap memukulnya. Regina berteriak kesakitan karena cengkraman Alex. Dengan cepat Alex membungkam mulut Regina dengan tangannya yang lain, merapatkan tubuhnya hingga Regina tidak bisa bergerak. Air mata turun dari sudut mata Regina. DIa benar-benar terpojok.


“Gua masih penasaran sama lu.” Bisiknya ditelinga Regina. Bibirnya kemudian menelusuri wajah Regina, menciuminya dengan santai. “Lu gak bakal dapet yang kaya gini dari Gian, Re. Gua kenal dia dari dulu. Dia ga tertarik sama cewe.” Ucapnya lagi semikin brutal. Ciumannya turun ke leher. Regina terus menggeliat menolak semua sentuhan Alex yang menjijikan. Dia tidak bisa berteriak, mulutnya masih terbungkam. 


“Kenapa lu cakep banget sih, Anj*ng! Gua jadi sang*e tiap liat lu!” Racaunya yang terus menciumi wajah dan leher Regina. Sementara Regina terus bergerak, menendang-nendang, dan berteriak tertahan. Tangannya yang lain yang masih bebas mencakar dan menjambak rambut Alex dengan putus ada. Waktu terasa berjalan sangat lama bagi Regina. Tempat itu sepi, tak ada yang datang kesana seorangpun. Alex bisa berbuat lebih dari ini jika tak ada yang datang menolongnya. Regina benar-benar ketakutan. Sekarang dia tidak bisa mengendalikan tangisnya dan teriakannya. Cengkraman tangan Alex di pergelangan tangannya semakin kuat karena perlawanan Regina, dia semakin kesakitan. Seluruh tubuhnya merasa kesakitan.


Tiba-tiba dengan satu cengkraman di kerah belakang leher Alex, dia terlempar menjauhi tubuh Regina. Alex terhuyung jatuh. Hal yang selanjutnya Regina saksikan hanyalah Alex yang terbaring dilantai dan pukulan-pukulan yang mendarat ke wajahnya dengan ganas. Dia tidak berhenti meskipun Alex sudah memohon-mohon padanya. Semakin Alex memohon, cengkraman di leher dan pukulannya semakin kencang. Alex bisa saja cedera parah dan meninggal karena itu.


“GIAN!!!” Teriak Regina mencoba menghentikan laki-laki yang sedang memukuli Alex. Dia tidak ingin Gian mendapatkan masalah karena mencederai Alex.


Gian berhenti, namun jelas dia belum puas menghajar Alex. Napasnya masih tersengal. Menahan kemarahan yang masih meliputinya. Kemeja dari dalam blazernya terlihat berantakan, seperti halnya rambutnya. Gian benar-benar marah.


Tanpa sepatah katapun, Gian bangkit dan meninggalkan Alex yang terbaring. Hidung dan bibir Alex berdarah. Wajahnya pun bengkak karena pukulan beruntun. Dia tidak bisa bangun.


Gian berjalan kearah Regina, melihat gadis itu mematung ketakutan. Penampilannya sangat berantakan, air mata turun ke pipinya, dan dia terus memegangi pergelangan tangannya yang membiru. Gian benar-benar membenci pemandangan itu. Gian merangkul Regina, menenangkannya meskipun hatinya sendiripun masih sangat kacau karena rasa marah. Regina terisak dalam pelukannya.


“Sekarang udah gak apa-apa.” Kata Gian menenangkan Regina, mengelus rambutnya dan terus mendekapnya. Regina merasakan kehangatan Gian, aroma tubuhnya yang bercampur dengan parfum menenangkannya. Ketakutannya meluruh hilang seiring pelukan Gian yang semakin dalam.


Gian, dan selalu Gian yang berhasil menyelamatkannya dari banyak hal. Dia selalu muncul diwaktu yang tepat, saat Regina membutuhkan seseorang. Dia selalu ada menangani banyak maslah dalam hidupnya akhir-akhir ini. Bahkan begitu semenjak insiden dengan Alex dipesta Arsila. Pada akhirnya, Regina terus dibantu dan membutuhkan keberadaan Gian.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Regina terus memeluk Gian. Dia juga tidak berusaha melepaskan pelukan Regina tersebut. Malahan terus menenangkannya. Saat sampai rumah sakit, dokter mengobati pergelangan tangan kiri Regina yang sepertinya terkilir karena cengkraman Alex. Dokter membungkusnya dengan perban. Mereka pulang dengan diresepkan obat pereda nyeri dan menyuruhnya mengompres pergelangan yang terkilir dengan kompres dingin.

__ADS_1


Sebelum pulang, Gian memanggil Pak Ayus untuk melakukan sesuatu. Dia berpamitan pada Regina dan menghilang. Menuju rumah, Gian menyetir mobilnya sendiri. Beberapa menit sekali dia menanyakan kondisi Regina. Tapi kemudian Regina tertidur diperjalanan karena kelelahan.


__ADS_2