
Gian tidak membiarkan Regina beristirahat malam itu. Dia melakukannya lagi, lagi, dan lagi hingga kelelahan. Binatang buas dalam dirinya dia lepaskan untuk memenuhi kepuasannya. Tak ada yang bisa menghentikannya, bahkan ketika Regina memohon untuk berhenti, Gian tidak menggubrisnya.
Badan Regina rasanya remuk, kelelahan menjalari setiap otot ditubuhnya, dan rasa perih yang tak hilang dari organ kewanitaannya. Dia menyalahkan Gian atas semua ketidaknyamanannya saat ini. Rasanya ingin memukulnya. Semua bayangan romantis tentang malam pertama seperti yang ada dibuku dan drama-drama nyatanya hanya bualan saja. Gian sama sekali tidak romantis, dia kasar dan agresif. Setelah membersihkan diri, pagi itu Regina tidak ingin bergerak sama sekali. Hanya bergulung dibawah selimut di kamarnya. Hari ini dia memutuskan untuk tidak masuk kerja dan beristirahat setelah serangan semalam dari Gian.
“Re, aku udah bikin sarapan. Mau makan sekarang?” Tanya Gian sambil membuka selimut yang menutupi kepala Regina.
“Ga mau.”
“Kok gitu sih? Kenapa?” Ucap Gian “Masih sakit karena semalam?” Bisik Gian ditelinga Regina. dengan cepat Regina menutup kembali selimut ke wajahnya. Menyembunyikan wajahnya yang merona merah karena malu. Regina tak habis pikir, Gian dengan santai mengatakan tentang kejadian semalam.
“Sana ah! Cepetan ke kantor!” Teriak Regina dari balik selimut.
“Iyaa.. Kamu ga ngantor?”
“Ga. Aku izin sakit.”
“Kamu beneran sakit karena yang semalam?”
“Berisik ih, Gian!!”
“Sorry, Re.” Kata Gian lembut. “Kamu mau aku temenin hari ini?”
“Ga usah. Kamu berangkat kerja aja. Aku cuma pingin istirahat.”
“Beneran?”
Regina mengengguk dari balik selimut. Gian menyingkapkan sedikit hingga bisa melihat puncak kepala Regina, kemudian menciumnya.
“Kalau ada apa-apa, cepet telepon aku ya.”
Regina tertidur hingga pukul 10, baru kemudian turun ke dapur dan memakan sarapan yang ditinggalkan Gian tadi pagi. Dia merasa sudah lebih baik sekarang. Tak ada kegiatan yang Regina lakukan setelahnya selain duduk di ruang tengah dan menonton drama Korea. Tak ada email ataupun panggilan apapun dari kantornya. Pasti Dimas melarang rekan-rekan kerja Regina yang lain untuk menghubunginya saat cuti atas perintah Gian. Tapi notifikasi pesan dari Gian terus berbunyi dari tadi.
[Gian]
Re, udah bangun?
Masih sakit?
Mau ke dokter?
Udah makan?
Re, kok gak bales?
Kamu marah ya sama aku?
Reginaaa.
Sayang, bales dong.
Mau aku pulang buat temenin kamu?
Regina hanya tersenyum melihat semua pesan yang Gian kirimkan. Dia tidak mengerti laki-laki itu sama sekali. Terkadang melihat tingkahnya sangat lucu, tapi disaat yang berlainan Gian bisa sangat menakutkan. Apalagi mengingat kejadian malam pertamanya dengan Gian. Dia benar-benar dikuasai nafsunya yang gila.
[Regina]
__ADS_1
Aku udah bangun. Udah sarapan. Sekarang lagi nonton drakor.
[Gian]
Kamu udah gak apa-apa?
[Regina]
Udah baikan.
[Gian]
Oke. Gas lagi nanti malam.
[Regina]
F*ck you!!!!
***
Rabu malam, Regina dan Gian menghadiri acara makan malam salah satu kolega kerja Gian. Setelah kejadian dengan Alex, Regina sedikit takut untuk melakukan kegiatan seperti ini lagi. Makanya dia jarang hadir dan menyuruh Gian untuk datang sendiri. Tapi kali ini dia memberanikan diri. Tak selamanya dia harus bersembunyi dan ketakutan. Apalagi sekarang Regina sudah benar-benar jadi istri Gian. Dia harus selalu hadir menemani Gian dalam acara seperti ini. Terlalu lama absen dalam kegiatan bersosialisasi dengan para petinggi perusahaan dan rekan kerja Gian akan menimbulkan gosip-gosip tak menyenangkan mengenai rumah tangga mereka. Padahal mereka baru saja benar-benar memulainya.
Regina mengenakan dress in viscose and lace berwarna broken white dari Givenchy. Tadinya dia ingin memakai dress midi A-line yang dibuatnya, tapi Gian malah merobeknya dengan brutal saat malam pertama mereka.
Ballroom hotel sudah didekorasi dengan indah, beberapa kursi ditempatkan di depan dekat panggung yang kini telah diisi oleh seorang penyanyi wanita ibu kota dan band pengiringnya. Beberapa kursi dan meja bendar ditempatkan di sisi lain, tempat orang-orang berkumpul dan mengobrol. Makanan tersaji dipiring-piring yang diletakan di meja panjang. Banyak sekali jenisnya dimulai dari daging-dagingan, udang, pastry, sandwich, serta minuman-minuman yang tak kalah jumlahnya. Regina yakin ini adalah pesta konglomerat yang Regina tidak kenal siapa.
“Tante, Om.” Sapa Gian saat melihat Tante Yuniar dan Om Bayu yang sedang berdiri mengobrol dengan beberapa orang. Mereka kemudian menoleh kearah Gian dan Regina.
“Eh Rere, apa kabar, sayang?” Kata Tante Yuniar kemudian mencium pipi kiri kanan Regina “Tante kangen deh, udah lama ga pernah ketemu.” Lanjutnya sumringah.
“Iya, udah ga terlalu sibuk sekarang.”
“Bagus kalau gitu, bisa ikut acara kaya gini lumayan nambah social circle loh, Re.” Ujar Tante Yuniar.
“Iya, nanti aku usahakan luangin waktu.” Balas Regina.
“Gimana kalau sekarang aja tante kenalin sama beberapa istri dewan direksi internal Gavels. Kebetulan mereka lagi hadir diacara ini.” Kata Regina mengajak Regina. “Boleh, Gi?” Lanjutnya meminta persetujuan Gian.
“Kalau Regina mau, ya udah.” Balas Gian santai.
Regina akhirnya mengikuti Tante Yuniar menemui para istri direksi internal Gavels. Dalam pikiran Regina sudah terbayang ibu-ibu sosialita. Dia pernah menemui beberapa diantaranya saat makan malam setelah pernikahannya, tapi kini dia lupa karena terlalu banyak yang dikenalkan Gian padanya. Sebenarnya saat ini dia sedang malas bergaul dengan para sosialita tersebut, dia hanya ingin menempel pada Gian saja.
“Eh Bu Yuniar, lama gak ketemu. Gimana kabarnya?” Kata salah ibu-ibu usia 40 tahunan yang menggunakan dress cocktail berwarna sage.
“Baik, Bu Rika. Gimana si kakak? Jadi sekolah di Aussie?” Balas Tante Yuniar.
“Aduh masih bingung dia tuh, malah sekarang pinginnya di Korea. Pusing jadinya.” Kata Bu Rika.
“Itu siapa, Bu?” Tanya wanita bergaun biru muda yang sedari tadi menatap Regina.
“Ini Regina, Istrinya Gian.”
Mereka berseru “Oooh” dengan serentak. Regina tersenyum canggung. Sekitar 6 orang duduk di meja tersebut. Tante Yuniar memperkenalkan mereka satu-persatu pada Regina, wanita bergaun sage bernama Rika, wanita bergaun biru muda bernama Anita, wanita bergaun navy bernama Lestari, wanita bergaun hijau zamrud bernama Handayani, dan satu-satunya wanita muda yang Regina taksir seumuran dengannya bernama Vanya. Tante Yuniar dan Regina duduk bergabung dengan kumpulan tersebut.
Seperti yang sudah Regina duga, mereka bukan wanita sembarangan. Melainkan ibu-ibu sosialita dengan gaya yang elegan dan barang branded terpasang ditubuh mereka. Regina bisa mengenali dengan mudah beberapa brand ternama seperti Prada, LV, GUCCI, Chanel, pada akseseoris dan tas yang mereka kenakan. Beberapa mengenkan diamond dan berlian yang tak kalah mahal. Hal yang bagus saat dia mengerti mengenai dunia fashion, Regina bisa melihat lifestyle yang mereka senangi.
__ADS_1
“Sampe lupa, Gian sekarang udah nikah. Jarang bawa istri soalnya ke acara kaya gini.” Kata Anita. Regina dari tadi hanya tersenyum canggung. Dia tidak seperti biasanya hari ini.
“Maklum, Regina sibuk sama perusahaan fashion-nya.”
“Oh, Regina owner perusahaan fashion? Perusahaan apa?” Tanya Vanya akhirnya bersuara. Jika dilihat sekilas, diantara wanita-wanita yang telah berumur disana, Vanya jelas yang paling menarik. Regina mengakui bahwa wanita tersebut sangat cantik. Dengan wajah berfitur tegas ciri khas keturunan Timur Tengah, badan yang tinggi langsing, kulit putih, dan gesture yang elegan. Dia juga terlihat ramah, sejak tadi terus tersenyum. Sepertinya Regina bisa dekat dengan Vanya.
“Edmode. Sebenarnya perusahaan kecil sih. Produknya juga bukan untuk market high end.” Jelas Regina.
“Wah cocok sama Gian dong ya, sama-sama pengusaha.” Puji lestari.
“Vanya juga baru rintis perusahaan loh, di bidang F&B.” Sela Handayani.
“Kalau Vanya sih udah ga diragukan lagi. Sukses ya sayang bisnisnya.”
“Makasih, Tante Rika.” Kata Vanya tersenyum “Oh ya, kamu sama Gian ketemu dimana? Kayaknya industri kalian beda deh? Kok bisa sampe ketemu?” Lanjutnya bertanya pada Regina.
“Ketemu di pesta Arsila. Sempet ada kejadian ga enak yang bikin Rere terlibat disana, waktu itu Gian tolongin Rere. Eh kayaknya tuh anak jatuh cinta pada pandangan pertama gitu.” Potong Tante Yuniar, bahkan sebelum Regina sempat membuka mulut.
“Wah beruntung banget ya, katanya Gian kan agak susah di deketin cewe.” Kata Anita. “Saya dengernya dari suami saya loh.” Tambahnya.
“Alhamdulillah sekarang Gian udah ketemu jodohnya. Ya kalau udah ketemu orang yang tepat, ga akan susah di dekatin kok.” Balas Tante Yuniar. Regina hanya tersenyum canggung. Cerita seperti itu tidak sepenuhnya benar. Hubungannya dengan Gian lebih rumit dibandingkan dengan sekedar bertemu, jatuh cinta, dan menikah. Regina sekilas menangkap ekspresi masam dari Vanya, sebelum dia tersenyum kembali dan ikut tertawa mendengar pernyataan dari Tante Yuniar. Mungkin Regina salah melihat.
Pembicaraan cukup menyenangkan setelahnya. Mereka banyak berbicara tentang makanan, tren fashion, dan tempat-tempat liburan yang menjadi rekomendasi. Regina merasa lebih diterima di kelompok tersebut. Mereka juga menjadwalkan pertemuan berikutnya untuk acara charity. Kebiasaan yang dilakukan oleh para istri dan keluarga petinggi Gavels.
Regina kembali pada Gian setelah perkumpulan dadakan itu selesai. Gian sedang berdiri sendirian melihat penyanyi yang sedang membawakan lagu dengan merdu. Saat mereka bertemu kembali, Regina menautkan jemarinya pada Gian, dengan cepat Gian memeluknya dan mencium pipinya.
“Ngobrol apaan sih lama banget? Aku ditinggal sendirian.” Keluh Gian.
“Yaa banyak.”
“Kamu seneng?”
“Lumayan.”
Gian tidak berhenti menatap Regina. Padahal tak sampai 1 jam dia menghilang dari pandangan tapi rasanya dia sudah merindukannya. Dia ingin cepat-cepat pulang saja, menikmati malam berdua dengan Regina. tangannya mulai usil menyentuh tali-tali tipis di dress yang Regina kenakan, rasanya ingin menariknya hingga terlepas semua.
“Gian!” Kata Regina memperingatkan dengan galak. Gian hanya membalasnya dengan tersenyum. Kemudian perhatiannya teralihkan pada orang yang memanggilnya.
“Hai Gian.” Kata Vanya. “Apa kabar? Lama gak ketemu.” Sapanya. Kemudian memeluk Gian dengan singkat. Regina cukup kaget dengan yang dilihatnya. Meskpiun itu hanya pelukan sapaan biasa, tapi entah kenapa dia tidak menyukainya.
“Hai, Van. Kamu kemana aja jarang kelihatan?” Balas Gian bertanya balik.
“Aku setahun kemarin tinggal di Jepang. Research buat start up yang baru aku rintis beberapa bulan lalu.”
“Oh ya? Kamu bikin start up? Bidang apa?”
“F&B. Jadi aku lagi ngembangin start up dengan konsep cloud kitchen dan multi brand gitu. Jadi fokus ke produk boba, kopi, teh dan bakery. Sekarang aku udah punya sekitar 25 outlet di Jakarta. But need more to grow up. Aku masih nyari support pendanaan nih.” Kata Vanya menjelaskan.
“Kedengaran menarik. Kebetulan Gavels lagi ekspansi ke industry F&B ini. Baru beberapa bulan jalan. Butuh lebih banyak partnership. Kalau mau kirim aja proposal ke Gavels. Siapa tahu kita meets the criteria.” Kata Gian tertarik.
“Really? Start up aku masih baru loh, Gi.”
“Cobain aja. I know your competences.”
Gian dan Vanya sibuk berdiskusi mengenai bisnis. Mereka terlihat sangat akrab dan sudah saling mengenal lama. Regina merasa tersisihkan karena tidak begitu paham dengan dunia bisnis dan cara memimpin brand. Dia hanya tahu tentang fashion, bukan tentang cara menjalankan bisnis. Entah kenapa muncul perasaan yang menganggu hatinya saat melihat Gian sangat antusias membicarakan pekerjaan dengan Vanya. Regina merasa sedikit cemburu.
__ADS_1