Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Hadiah Malam Pertama


__ADS_3

Acara ijab kabul dan juga resepsi telah selesai diselenggarakan. Namun masih ada satu acara yang menunggu Regina, yaitu acara makan malam yang Gian rencanakan untuk menjamu kolega bisnisnya. Pada acara ini, Gian dengan resmi memperkenalkan pendampingnya. Banyak tamu dari luar negeri dan orang-orang penting yang bekerjasama dengan perusahaan Gian. Seharusnya mereka menjadwalkan acara seperti ini dilain hari, tapi Gian ingin semua selesai hari ini.


Ketika bibinya mengatakan mengenai pergaulan yang mungkin tak bisa diikuti Regina, ini adalah salah satunya. Saat Regina menjadi istri Gian, dia juga harus menjadi pendamping dan representasi kehidupan rumah tangga Gian. Itu artinya dia akan ikut menemani hampir seluruh kegiatan bisnis Gian jika diperlukan.


Arsila pernah menceritakan padanya tentang perjodohan dan kencan-kencan yang pernah Gian lakukan. Betapa sulitnya dia menyaring calon istri yang sesuai dengan taste-nya. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya, dimulai dari pendidikan, pekerjaan, dan juga penampilan. Gian juga tidak sekonyong-konyong memilih Regina menjadi istri kontraknya. Gian tidak mungkin mempertaruhkan harga dirinya menikahi sembarangan wanita yang tidak jelas dan tidak sesuai dengan kelasnya. Meskipun hanya untuk pernikahan kontrak. Atas pertimbangan-pertimbangan itu pula, dia secara kebetulan dipilih. Regina adalah CEO dan owner Edmode, berkuliah di Lasalle College of The Arts jurusan fashion design and textiles, dan sudah jelas Gian mengakui penampilan Regina sangat menarik. Selain itu, fakta bahwa saat itu Regina sedang terpuruk dan butuh bantuan membuat Gian berani mengambil resiko menawarkan pernikahan kontrak. Regina adalah salah satu kandidat sempurna untuk semua sandiwara yang ingin diciptakan Gian. Istri yang cerdas dan cantik, dan orang yang bersedia menjalani hubungan pura-pura.


Demi perannya tersebut, Gian menempatkan Regina dibarisan paling depan untuk mewakilinya dalam pergaulan sosial para pebisnis dan konglomerat beserta keluarganya. Regina sangat mampu memainkan peran tersebut dan Gian mempercayainya.


Regina beristirahat sejenak di kamar hotel tempatnya dirias tadi pagi. Keluarganya dari Bandung sudah berpamitan pulang. Hanya ada dia dan 2 orang perias yang masih disana untuk menyiapkan make up acara makan malam nanti.


Acara akan dimulai pukul 7 malam. Sebenarnya Regina sudah sangat lelah, rasanya seluruh badannya terasa sakit, belum lagi hatinya yang sangat kacau sedari pagi. Regina hanya terbaring di kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sementara para perias mempersiapkan gaunnya.


Kali ini Regina akan mengenakan cocktail dress selutut berwarna putih dengan model A-Line off shoulder dan lower back, yang akan menampilkan leher dan punggungnya yang cantik. Pada bagian bawah gaunnya terdapat detail lace dan penambahan bahan tulle agar bervolume.


Regina bangkit dari tempat tidur dan mulai menyiapkan diri. Menghias wajahnya dengan make up natural dengan dominasi warna pink, menata rambutnya menjadi low bun dengan bridal braid, dan mengenakan dress yang telah disiapkan. Saat menatap dirinya dicermin, Regina bisa membayangkan kumpulan ibu-ibu konglomerat yang mengenakan gaun indah dan saling berceloteh. Regina akan menjadi salah satunya.


Saat jam menunjukan pukul 7, Gian sudah menjemputnya di depan kamar hotel. Dia mengenakan salah satu jas rancangan Brioni Vanquish, salah satu perusahaan mode terkenal di Italy. Steel blue linen dan silk Virgilio suit sangat pas dia kenakan. Gian tampil sangat tampan hari ini. Dia mengenakan jas-jas berkualitas dengan harga yang fantastis untuk pernikahannya.


“Kamu jangan lupa, sekarang kita bakal ketemu sama orang yang sangat penting untuk kesuksesan rencana kita.”  Kata Gian sambil menggandeng tangan Regina. Mereka berjalan berdua dikoridor menuju ballroom tempat makan malam. “Kita harus kelihatan bahagia dan sempurna.” Lanjutnya.


Selain restu keluarga yang harus didapatkan, tugas mereka berdua adalah meyakinkan satu orang penting untuk  mecapai tujuan mereka. Narta Hutabarat. Pengacara dan sahabat dekat kakek Gian. Tanpa meyakinkannya, Gian tidak akan pernah mendapatkan posisinya di Gavels dan hak warisnya. Kalau Narta tahu mengenai pernikahan kontaknya yang melanggar perintah dari kakeknya, sudah pasti Gian akan kehilangan kesempatan.


Regina menarik napas panjang saat mereka masuk ke ballroom. Tampilan ruangan itu sudah berubah, bukan lagi dekorasi serba putih seperti tadi siang pada acara pernikahannya. Sekarang sudah berubah menjadi ruangan dengan meja-meja bundar kecil tempat para tamu berkumpul, makan dan berbincang.


Mereka berkeliling untuk bertemu dengan para tamu. Gian memperkenalkan Regina pada kolega-kolega bisnisnya, termasuk para istri yang mereka ajak. Regina telah mempersiapkan dirinya untuk ini, berbincang dengan orang-orang penting yang berpengetahuan luas tentang bisnis. Mereka banyak menanyakan tentang kehidupan Regina, pekerjaan dan pendidikannya. Seperti yang sudah dia duga. Mereka seperti sedang menginterogasi dan menilai siapa yang Gian tampilkan menjadi pendampingnya. Apakah dia bisa menjadi bagian dari kelompok pendamping para pebisnis atau tidak. Regina tetap percaya diri menampilkan dirinya pada kolega bisnis suaminya. Tak ada yang kurang dari dirinya, pengetahuannya yang lumayan mengenai bisnis, penampilannya yang memukau, dan yang paling dia banggakan adalah sense serta wawasan fashion-nya yang mengagumkan.


Banyak istri dari kolega bisnis Gian tertarik dengan pembicaraan mengenai fashion. Apalagi saat Regina menceritakan bagaimana dia membuat setiap gaun indah yang dia kenakan hari ini untuk pernikahannya. Mereka dengan mudah menerima Regina dan akrab dengannya. Gian hanya tersenyum simpul memperhatikan bagaimana Regina merebut perhatian setiap tamunya malam ini. Dia memang benar telah memilih orang yang tepat untuk peran sebagai istrinya.


“Hebat kamu, dapet istri cantik begini.” Kata Hartanti, istri dari Narta Hutabarat. Gian memperkenalkan Regina pada pasangan tersebut. Mereka sekarang duduk dalam satu meja.

__ADS_1


“Iya dong.” Balas Gian bangga.


“Dulu tuh Gian masih kecil, segini nih..” Lanjutnya sambil memeragakan tinggi Gian sepinggangnya. “Suka ngintilin Pak Gumelar kemana-mana, sampe ke kantor aja diikutin. Sekarang udah nikah aja. Ga percaya saya si Gian udah gede gini.”


Hartanti terus menceritakan tentang masa kecil Gian yang selalu diingatnya. Mereka cukup dekat, karena Gumelar dan Narta merupakan sahabat karib. Awalnya hanya rekan bisnis yang mengurusi masalah hukumnya saja, kemudian teman bermain golf dan memancing, setelah itu persahabatan tumbuh dan keluarga mereka saling mengenal satu sama lain. Makanya Narta sangat akrab dan tahu tentang Gian. Mereka harus berhati-hati memainkan perannya untuk mendapatkan kepercayaan Narta.


“Kalian emang kenalannya darimana? Kok bisa Regina yang kerja di industri fashion kenal Gian?” Tanya Narta.


“Kita kenalan pas acara ulang tahunnya Kak Arsila. Kebetulan saya diajak temen kesana, terus dikenalin sama Gian.” Jawab Regina.


“Oooh.. kenalan di pesta ya. Saya juga sama bapak nih, kenalan pas acara kaya gini. Dulu dijodoh-jodohin sama kakak. Ternyata dia yang minta dijodohin. Sayanya ga mau.” Kenang Hartanti.


Mereka terus mengobrol lama setelahnya dan dengan cepat akrab dengan Regina. Gian bisa melihat bahwa pasanagan tersebut yakin pada acting yang sedang dia dan Regina mainkan. Acara makan malam ini berjalan lancar. Regina diperkenalkan dengan baik kepada para kolega bisnis Gian. Rupanya Regina telah mendapatkan tempat dihati beberapa orang disana, para istri pebisnis ini menyukai pengetahuan dan keterampilan Regina di dunia fashion. Gian tidak perlu khawatir mengenai pergaulan kelas atas yang akan Regina masuki.


...*** ...


Makan malam selesai sekitar pukul 10 malam. Semua tamu sudah berpamitan pulang. Gian dan Regina kemudian beristirahat di salah satu kamar tipe three bay suite di hotel tersebut yang merupakan paket weddings yang telah mereka sediakan. Kamar tersebut telah didekorasi untuk menyambut pasangan baru, dengan handuk berbentuk angsa, taburan kelopak mawar di bed-nya, dan lilin-lilin aromatis yang telah menyala.


Kamar hotel tersebut terdiri atas 3 ruangan tanpa sekat, yaitu area bedroom, dining room, dan living room. Ini adalah salah satu kamar mewah yang disediakan di hotel. Gian dengan segera membaringkan dirinya di atas kasur. Regina hanya duduk di sofa di dining room. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika ini pernikahan normal pada umumnya, maka sekarang adalah malam pertamanya menjadi istri. Dia seharusnya melayani suaminya dan merasakan pengalaman indah berdua. Namun dia dan Gian tidak memiliki hubungan seperti itu.


Gian hanya berbaring di kasur semenjak tadi, mungkin dia sekarang sudah tertidur karena kelelahan. Sebenarnya Regina pun merasa sangat lelah juga. Tapi dia sangat bingung harus bagaimana. Apakah harusnya dia mandi dan membersihkan diri? Apakah dia harus bergabung tidur bersama Gian? Atau dia harus tidur diantara sofa-sofa yang tersedia di ruangan? Sementara Gian sudah tidak sadar entah kemana. Regina akhirnya hanya membuka kado-kado yang ada dihadapannya, kemudian menatap kerlap-kerlip suasana malam kota Jakarta dari jendela besar di ruangannya. Merenung.


“Kamu lagi ngapain?” Tanya Gian tiba-tiba dari belakang Regina. Membuyarkan lamunannya. Gian rupanya sudah bangun dari tidur singkatnya. Regina hanya menggeleng. Gian kemudian duduk disalah satu sofa dihadapan Regina. Memijat-mijat tengkuknya karena lelah.


“Aku mau pulang sekarang.” Lanjut Gian.


“Pulang? Kemana?” Tanya Regina bingung.


“Ke apartemenku lah. Emangnya kamu mau aku tidur disini?” tanya Gian. Regina hanya terdiam.

__ADS_1


Dia tidak ingin berada disini bersama Gian. Tapi meninggalkannya pada malam pertama membuat perasaan Regina tiba-tiba menjadi sedih. Dia lupa mengingatkan bahwa hubungan mereka hanya pura-pura. Meskipun secara hukum dan agama Gian adalah suaminya, mereka tidak akan melakukan hubungan apapun setelah menikah.


“Terus aku gimana?” Tanya Regina.


“Ya kalau kamu mau nginep disini, silakan. Ruangannya di booking sampai besok siang kok.”


“Oh..” Balas Regina singkat. Kemudian Regina berjalan menuju bedroom. Mengambil handuk yang tersedia diatas kasur, dan berniat membersihkan diri. Dia terlalu lelah untuk pulang. Lebih baik tidur disini hingga besok.


Gian merasakan ada nada kesedihan dalam suara Regina. Dia bukan orang yang tanpa perasaan. Semenjak tadi pagi, Gian sudah mengetahui bahwa Regina tidak merasa baik-baik saja. Bagaiman dia menahan tangis saat ijab kabul, bagaimana tatapannya saat resepsi, dan bagaimana dia seperti terdisosiasi selama acara berlangsung. Regina mampu mengendalikan dirinya saat acara makan malam, tapi sekarang dia muram kembali.


“Kamu aku tinggal disini aja?” Tanya Gian diambang pintu bedroom.


“Ga usah, kamu pulang aja.”


“Beneran?” Tanyanya lagi. Regina hanya mengangguk mengiyakan.


Gian mendekati Regina yang berdiri di dekat kasur. Menyentuh pinggang ramping Regina dan menelusuri pungungnya yang mengenakan gaun lower back. Gian menyentuh wajah Regina dengan lembut mengarahkan bibirnya bertaut.


Regina bisa merasakan bibir lembut Gian menyentuh bibirnya, kali ini sangat lembut dan penuh perasaan. Tak seperti yang dilakukannya saat di rumah kakeknya. Aroma parfum woody dan floral dari parfum Gian tercium, entah kenapa membuat Regina sangat nyaman. Gian menjatuhkan tubuh Regina diatas kelopak bunga yang bertaburan di bed sheet. Dia melepaskan Regina untuk bernapas. Kemudian melanjutkannya lagi dengan hati-hati. Kali ini Regina tidak menolaknya, tidak ada perlawanan ataupun cengkraman galak dari gadis itu. Dia diam dan mengikuti sentuhan Gian. Otak Regina terasa kosong dan tak bisa berpikir, hanya ada aroma Gian yang memenuhi hidung dan kepalanya serta bibir lembut yang menyentuhnya.


Gian selalu melepaskannya sejenak, memberinya kesempatan untuk berhenti dan menatap wajah Regina, matanya yang coklat, bulu matanya yang lentik, bentuk alisnya yang indah, hidungnya yang mancung dan kecil serta bibirnya yang manis. Dalam beberapa detik terdiam kemudian menautkan bibirnya lagi, pada gadis yang bingung dan pasrah tersebut. Dia ingin mengutuki dirinya karena terlalu menikmatinya. Dia terus melakukannya 3 atau 4 kali, entah dia tidak dapat menghitungnya. Kemudian melepaskan Regina yang terbaring diatas kelopak-kelopak bunga.


“Hadiah malam pertama dari aku.” Katanya lembut ditelinga Regina. Kemudian bangkit dan berdiri. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terus melanjutkan perbuatannya. Mereka sudah menyetujui perjanjian tak akan melakukan hubungan seperti itu. Gian sangat yakin kalau dia bisa saja kehilangan kendali jika meneruskannya.


Regina terduduk dikasur, mulai menguasai dirinya yang seperti habis dibajak dan dikendalikan. Menatap Gian yang telah berdiri menjauhinya.


“Nanti aku kabari kalau ada masalah. Bye.” Ucap Gian singkat. Kemudian pergi meninggalkan kamar hotel. Meninggalkan Regina sendiri. Selama beberapa menit Regina hanya menatap ruangan kosong yang ditinggalkan Gian. Air mata meleleh dipipinya. Dia memeluk lututnya dan menangis dengan histeris. Perasaannya kacau. Amat sangat kacau. Sedih, takut, kecewa, terluka, dan bingung. Dia ditinggalkan sendirian di malam pertamanya.


Ciuman yang diberikan Gian malah memperumit isi kepala dan hatinya.

__ADS_1


 


__ADS_2