Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Konflik


__ADS_3

[Rafi]


*Mengirim foto*


Jadi gini cara main cowo kamu? Pake duit dan kekuasaannya biar aku dipecat dari kerjaan. He’s so sick! Psychopath!


Regina hanya membatu ketika menerima pesan dari Rafi. Dia mengirimkan surat bukti pemecatan tempatnya bekerja. Gian mengatakan akan membereskan masalah dengan Rafi. Tapi tak pernah terpikir olehnya dia akan melakukan hal seperti ini.


Selama hampir 2 minggu, tak ada kiriman bunga lagi ke kantor Regina. Dia juga tak pernah mendengar kabar apapun dari Rafi setelahnya. Ini untuk pertama kalinya Rafi muncul kembali. Mengirimkan pesan soal pemecatannya.


Regina menutup handphone-nya, melanjutkan makan malam kembali tapi pikirannya menjadi kusut. Dia menatap Gian yang duduk dihadapannya, makan dengan tenang.


“Gi, kamu punya hubungan apa sama perusahaan Indo Arcon?”


Gian menghentikan tangannya menyendok makanan. Kemudian menatap Regina.


“Aku investor diperusahaan itu. Baru tanda tangan MoU minggu lalu. Kenapa?” Kata Gian tenang, kemudian tersenyum. “Kamu mau ngomongin soal mantan kamu?” Lanjutnya lagi. Regina tidak menyukai reaksi yang Gian berikan, dia terlihat meremehkan.


“Kamu bikin dia dipecat dari kerjaannya? Jadi ini maksudnya waktu kamu bilang mau beresin masalah sama Rafi? Bikin dia kehilangan pekerjaan?” Regina benar-benar sulit mempercayainya. Selama ini dia menganggap Gian adalah orang yang baik, yang tidak akan melakukan hal-hal sejenis ini untuk mengatasi masalahnya. Dia mengorbankan orang lain, membuat mereka kehilangan pekerjaan hanya untuk membuat mereka tutup mulut.


“Emangnya kenapa?”

__ADS_1


“Kenapa kamu bilang? Gi, Rafi tuh ga melakukan hal jahat. Ga perlu sampe sajauh ini.”


“Ga melakukan hal jahat? Jadi menurut kamu stalking itu bukan hal jahat? Seneng kamu ada yang ngawasin dan ngasih bunga tiap hari? Berasa ada penggemar, gitu?” Kata Gian kesal. Kenapa Regina tidak paham bahaya apa yang bisa orang itu lakukan.


“Ya bukan kaya gitu. Kamu tuh terlalu berlebihan kalau sampe pake kekuasaan kamu buat bikin dia dipecat kaya gini, Gi.”


“Regi denger, kemarin dia cuma kasih bunga dan stalking kamu, besok dia bisa aja masuk ke rumah dan berbuat jahat sama kamu. Kamu ga paham kalau dia terobsesi sama kamu? Dia ninggalin istrinya, balik ke Indonesia buat ngikutin kehidupan kamu, dan mohon-mohon supaya bisa balik lagi sama kamu. Itu yang kamu bilang ga berbuat jahat?”


Gian benar-benar kehilangan kesabarannya kali ini. Entah kenapa Regina bisa berpikir bahwa perbuatan mantannya itu bukanlah hal yang salah.


“Dia ga mungkin berbuat sejauh itu, Gi. Aku kenal lama sama dia.”


“Kamu ga inget kejadian sama Alex dulu? Dia ngelakuin itu di acara formal yang dihadiri banyak orang penting, dia ngelecehin kamu bahkan saat ada AKU DISANA!” Teriak Gian emosi. “Kamu pikir orang yang terobsesi ga bakalan berubah jadi nekat kaya gitu karena kamu udah kenal lama sama dia?”


Regina mengunci mulutnya. Dia benci harus diingatkan dengan kejadian Alex. Rafi bukan Alex. Dia sahabatnya, pacaranya selama bertahun-tahun dan dia tidak pernah melakukan hal buruk padanya seperti Alex. Gian tidak mungkin paham bagaimana hubungannya dengan Rafi, meskipun sebagian dirinya membenci laki-laki itu karena meninggalkannya, tapi Rafi bukanlah orang yang sanggup berbuat nekat.


“Kayanya sampai aku berbusa ngejelasin ke kamu sekalipun, kamu ga bakal mau paham concern aku apa. Karena kamu selalu bersimpati sama mantan kamu itu, kan? Kamu sebenernya masih mau kan sama dia?”


“Aku ga berpikir kaya gitu.”


“Bohong! Ya udah kalau kamu pikir dia ga jahat. Silakan balik lagi aja sama dia. Lagian kontrak kita ga ngelarang kamu berkencan lagi sama dia kok.”

__ADS_1


“Aku ga ada niat berkencan lagi sama dia, Gi. Kenapa masalahnya jadi kesana sih? Aku cuma mempermasalahkan tindakan kamu yang sampai bikin Rafi dipecat dari kerjaannya! Itu doang!” Regina merasa sangat tersakiti dengan tuduhan Gian. Padahal saat ini hatinya hanya untuk Gian. Dia tidak bisa menahan tangisnya.


“Karena aku khawatir sama keselamatan kamu, Re! aku bertindak kaya gitu biar kamu selamat dan ga ngalamin kejadian kaya dulu. Biar dia tutup mulut dan pergi dari kehidupan kamu!”


“Ga gini caranya, Gi.”


“Terus menurut kamu aku harus kaya gimana? Kalau kamu punya cara lain biar dia tutup mulut dan pergi, silakan lakuin. Tapi kamu ga akan bisa kan, Re? Pada akhirnya kamu bakal selalu memihak dia.” Kata Gian, perasaannya benar-benar kesal saat Regina selalu saja membela mantannya itu. “Kalau kamu beneran kenal dia dan berpikir dia ga akan melakukan hal jahat sama kamu, oke. Terserah kamu. Aku ga akan ikut campur lagi soal kamu sama dia. Keselamatan kamu bukan tanggung jawab aku lagi. Aku udah peringatin kamu sekarang.”


Gian bangkit dari tempat duduknya. Takn ada lagi yang bisa perbuat untuk meyakinkan Regina tentang kekhawatirannya terhadap Rafi.


“Bilang sama dia, suruh masuk ke perusahaan yang ga bekerjasama dengan Gavels.” Kemudian berjalan pergi dari dapur. Meninggalkan Regina dengan perasaan yang campur aduk.


Sesaat yang lalu Regina merasa yakin bahwa tindakan Gian yang seenaknya menggunakan kekuasaanya untuk menyingkirkan Rafi dengan membuatnya dipecat dari pekerjaan adalah perbuatan yang salah. Tetapi sekarang dia malah merasa sangat terluka karena Gian mengatakan tidak akan peduli lagi dengan keselamatannya. Regina meyakini hingga sekarang Rafi bukan orang jahat, dan tidak akan berbuat jahat padanya. Tapi sulit untuk meyakinkan Gian akan hal itu.


...****************...


Setelah pertengkarannya dengan Regina malam itu. Gian menarik dirinya dari hal-hal yang berhubungan dengan Regina. Dia melanjutkan kembali kebiasaannya lembur di kantor hingga pulang larut malam. Sementara Regina tetap menunggu setiap hari saat jam makan malam. Memasakan Gian makanan dan menunggunya. Meskipun hingga berjam-jam menunggu, Gian tak kunjung pulang. Hingga akhirnya dia makan sendiri dan bergulung sambil menangis di kamarnya.


Tidak ada lagi hal-hal yang tak masuk akal yang Gian kerjakan untuk Regina. Dia berhenti menyeduhkan cokelat panas di pagi hari untuknya sebelum sarapan. Dia berhenti mengecek mobil tua Regina setiap pagi sebelum berangkat kerja agar tidak mogok. Dia berhenti memperhatikan Regina. Mereka juga jadi jarang bicara.


Gian memanfaatkan pertengkaran dan aksi perang dinginnya dengan Regina untuk mereset kembali kehidupannya, tanpa ada yang menganggu. Beberapa business trip ke luar kota menambah waktu baginya untuk kembali mengendalikan diri, berusaha menghilangkan Regina dari pikirannya. Dia sadar gadis itu dengan paksa mengambil alih semua perhatiannya beberapa bulan ini. Membuatnya terus merasa khawatir dan perlu melindunginya. Tapi ternyata hati Regina tak pernah menganggap semua perhatiannya adalah hal yang perlu diapresiasi. Dia malah dengan keras kepala membela mantannya yang sangat terobsesi padanya itu.

__ADS_1


__ADS_2