Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Status


__ADS_3

Pelayan menyajikan toripaitan ramen shoyu, spicy ramen, dan cold ocha ke meja Gian dan Regina. Kemudian dengan ramah mempersilakan mereka menyantapnya sebelum meninggalkan meja. Regina segera menyeruput kuah spicy ramennya, terlihat bahagia saat merasakan pedas gurih dari makanan yang masuk ke mulutnya. Gian tertawa kecil melihat kelakuan Regina. Dia segera memakan ramen dihadapannya juga. Regina berkali-kali memuji rasa ramennya. Dia sangat menyukai rasa kuah dan tekstur mie-nya. Selama beberapa saat mereka hanya sibuk menyuap makanan tanpa berbicara.


“Heran kenapa cewe suka banget makanan pedes.” Kata Gian memperhatikan Regina yang masih menikmati ramen pedasnya.


“Buat ngilangin pusing dan badmood.” Jawab Regina sekenanya.


“Emang kamu lagi pusing dan badmood kenapa? Ada masalah?”


“Yaa.. ada yang aku pikirin.”


“Apa? Masalah kerjaan?”


“Bukan, kerjaan aku baik-baik aja. To be honest, It’s too well than I expected. Everything’s okay at  work.”


“Terus apa? Mikirin mantan kamu?” Kata Gian dengan nada tidak senang.


“Bisa berhenti ga bahas mantan aku terus?”


“For now, No.”


Regina mendelik tidak senang dengan jawaban Gian. Dia benar-benar tidak akan bisa berhenti membahas Rafi disetiap kesempatan. Padahal Regina sudah mengatakan tidak berhubungan lagi dengan mantannya. Laki-laki ini seperti punya dendam pribadi pada Rafi. Padahal mereka belum pernah bertemu.


“Aku cuma kepikiran soal kita.” Kata Regina akhirnya sambil menaruh sumpitnya di hashioki (tatakan sumpit) “Soal status kita.” Lanjutnya.


“Maksudnya?” Tanya Gian bingung menautkan kedua alisnya.


“Kita udah tahu kalau kita punya perasaaan satu sama lain. Terus status kita apa? Kontrak kita kaya gimana kelanjutannya?”


Gian menyimpan sumpitnya juga. Meminum ocha dingin yang menyegarkan tenggorokannya sebelum menjawab pertanyaan Regina. Ini salah satu yang dia pikirkan juga setelah mengakui bahwa dia menyukai gadis itu. Bagaimana dengan hubungan mereka setelah ini. Apakah perasaannya pada Regina cukup kuat untuk melanjutkan pernikahan kontrak mereka menjadi hubungan yang sebenarnya, karena harus diakui, Gian masih menyimpan keraguan tentang keterikatannya dengan seseorang. Gian menginginkan Regina, itu sudah jelas. Tapi apakah perasaan itu saja bisa membuatnya bertahan untuk pernikahan yang panjang? Saat memiliki perasaan pada seseorang dan membuka hatinya, dia juga harus siap membuka dunianya pada Regina. Mempersilakannya menginvasi semua kedamaian hidupnya.


“Kalau kamu punya concern soal itu. Ayo omongin sekarang.” Jawab Gian.


“Kamu punya perasaan sama aku, tapi kamu ga siap bulan lanjutin pernikahan dan bangun keluarga kaya orang pada umumnya kan, Gi?”

__ADS_1


Gian hanya diam tak menjawab. Tapi Regina sudah mendapatkan apa yang dia ingin tahu. Gian tidak siap untuk pernikahan. Regina menghela napas berat. Menatap Gian berharap dia salah.


“So, what you gonna do with us? With me?” Tanya Regina tiba-tiba merasa sedih. “I love you, and I knew you love me. But it wouldn’t end up well with us, would it?”


“Aku lagi mikirin itu juga. Sekarang aku belum tahu jawabannya.” Kata Gian. “Aku sendiri kaget soal perasaanku sama kamu, hal yang ga pernah aku rasain ke orang lain. Saat ini ada banyak prioritas yang aku pikirin, terutama soal pekerjaan. Membangun keluarga bukan bagian dari prioritasku saat ini. Meskipun kamu tahu, aku punya perasaan sama kamu dan aku ga mau kamu punya pilihan yang lain selain aku.”


“At least kamu jujur ngomongin ini sama aku.” Kata Regina sambil tersenyum. Laki-laki di depannya adalah workaholic level paling tinggi yang pernah Regina temui. Dia bahkan bekerja saat hari libur, membangun bisnis dan pengaruhnya dimana-mana. Membuatnya menyerahkan sebagian perhatian dan waktunya untuk Regina dan membangun keluarga akan menyulitkannya. Sama seperti apa yang menjadi awal tujuan kontrak mereka. Gian hanya ingin dibiarkan berkarir dengan tenang. Memiliki perasaan pada Regina sudah pasti bukan bagian dari rencananya. Regina merasa senang bisa menerima perasaan dari Gian, tapi sekaligus patah hati karena itu tidak mengubah kesepakatan yang telah mereka buat.


“Ya udah. Aku cuma pingin denger itu doang. Ayo pulang, aku pingin istirahat.” Kata Regina.


“Kamu bakal jadi benci aku karena ini?”


“Aku sedih. Tapi aku tetap sayang sama kamu, Gi. Aku bukan anak remaja yang bakal marah karena ga bisa maksain pemikiran aku ke orang lain. Kalau kamu ga siap berkeluarga. Aku ga bisa berbuat apa-apa buat mengubah itu.”


Regina tersenyum meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja diantara mereka. Mereka akhirnya pergi dari tempat makan tersebut. Berjalan sepanjang mall menuju tempat parkir. Bergandengan tangan namun hati dan pikiran mereka berlarian tak karuan. Beberapa kali Regina melihat keluarga kecil berjalan beriringan, menuntun bayi, menggendong anak-anak. Tampak bahagia. Semua gambaran tentang pernikahan adalah membangun keluarga kecil bagi Regina. Sekarang dia mengenggam tangan orang yang sangat dia cintai, tapi keinginannya jelas jauh diujung dunia. Gian memang membuka hatinya, tapi belum mempersilakannya masuk dan berada di dunianya.


***


Beberapa hari Gian terus memikirkan percakapannya dengan Regina. Mempertanyakan kembali perasaannya berulang-ulang. Dia hampir tidak bisa tertidur nyenyak karena pikirannya kacau. Sebagian dari dirinya sangat takut kalau Regina suatu saat akan membencinya dan pergi dengan laki-laki yang bisa memberikannya kesempatan untuk membangun keluarga, dengan laki-laki yang menawarkannya pernikahan yang sebenarnya. Dia tahu bagaimana otaknya hampir gila dan perasaannya yang tak karuan saat Rafi datang ke hidup Regina lagi. Dia takut tiba-tiba gadis itu menghilang.


Tak ada yang berubah dari sikap Regina semenjak percakapannya tempo hari. Dia tetap ceria, berbicara sepanjang waktu padanya, memeluknya, menciumnya dan bersikap manja seperti seorang kekasih. Regina memang benar, perasaannya tetap sama pada Gian meskipun dia tidak bisa memberikannya kepastian tentang komitmen pada hubungan mereka. Tapi hal itu malah menjadi beban yang bertambah berat bagi Gian. Dia ingin Regina bahagia. Benar-benar bahagia, bukan pura-pura menerima keputusannya yang kemungkinan merugikannya dimasa depan.


Regina menghabiskan weekend-nya selain menonton drama Korea, adalah dengan mengurus taman kecil yang ada di rumah. Semenjak pindah, Regina memang menanam banyak tanaman di taman tersebut. Mulai dari bunga mawar, anggrek, lidah mertua, beberapa pakis haji, dan tanaman lain yang tak Gian tahu. Selain itu, bangku taman juga ditambahkan disana. Sehingga saat luang Regina akan menghabiskan sore untuk duduk membaca novel sendiri.


Kali ini hobinya sudah bertambah, Regina beberapa minggu kebelakang sangat menyukai menanam sayur hidroponik di tamannya. Dia membeli media tanam dan wadah-wadah untuk tanamannya. Hari sabtu pagi seperti ini dia akan sibuk mengurus tamannya tersebut. Saat Gian menghampirinya, Regina sedang menanam benih bayam merah.


“Kemarin aku minta dikirimin pohon strawberry dari Bandung sama uwa. Kira-kira disini tumbuh ga ya, Gi?” Tanya Regina yang tangannya masih sibuk mengurus tanaman.


“Jakarta panas. Strawberry ga akan tumbuh.” Gian duduk di bangku taman sambil memperhatikan Regina yang sedang bekerja. Tanpa sengaja Gian memainkan dan mencabuti daun-daun ditanaman mawar punya Regina.


“Gi, jangan dicabutin! Nanti jadi gundul daunnya. Gimana sih!” Kata Regina kesal melihat tangan Gian yang usil.


“Regi, kita liburan yuk besok.” Kata Gian tiba-tiba.

__ADS_1


“Hah?”


“Kita liburan. Honeymoon ke Maldives besok.”


Regina menatap Gian kemudian tertawa kencang.


“Honeymoon? Maksudnya Honeymoon ke luar negeri kaya Kak Arsila gitu?” Regina tertawa geli mendengar perkataan Gian. “Emangnya kita nikah beneran kaya mereka? Mau ngapain kesana?” Lanjutnya.


“Ayo nikah beneran. Ga ada lagi kontrak, kita berkeluarga kaya orang lain.”


Regina terdiam mendengar perkataan Gian. Beberapa hari lalu, Gian masih teguh dengan keputusannya tentang kontrak dan arah hubungan mereka. Sekarang hatinya luluh. Apa doa Regina akhirnya dikabulkan?


“Kamu yakin? Kok tiba-tiba berubah pikiran?”


“Ga tiba-tiba kok. Aku udah pikirin dengan matang. Aku mau nyoba buat hidup kaya orang lain. Aku mau hubungan kita juga kaya hubungan pada umumnya.”


“Kamu ga ngerasa kepaksa kan, Gi?”


“Aku serius. Kenapa? Kurang romantis ya?” Gian kemudian bangkit dari bangku. Memetik bunga mawar yang ada di dekatnya, dan berjalan ke arah Regina. Gian berlutut dihadapan Regina sambil memegang bunga mawar.


“Karena kita udah nikah dan sah secara hukum dan agama. Pertanyaannya aku ganti. Regina, mau ga kamu jadi istriku beneran tanpa kontrak dan membangun keluarga sama aku?” Kata Gian dengan cengiran lebar.


Regina tertawa melihat Gian dan mendengar kata-kata menggelikan darinya.


“Jijik tahu ga sih, Gi.” Kata Regina masih tidak bisa berhenti tertawa.


“Ayo cepetan jawab. Lututku sakit nih.” Kata Gian yang akhirnya ikut tertawa.


“Iya mau.” Balas Regina kemudian mengambil bunga yang Gian berikan. “Kamu tuh ngerusak tanamanku terus. Lain kali beli bunga, jangan asal potek dari tamanku. Ga romantis banget sih, Gi.” Lanjut Regina kesal.


“Iyaaa.. Nanti aku beliin bunga kaya yang dikasih mantan kamu.” Kata Gian bangkit kemudian memeluk Regina.


“Mulai deh bahas-bahas mantan.” Ucap Regina kesal dan mencubit pinggang Gian.

__ADS_1


“Aww” Teriak Gian kesakitan. Pelukannya semakin erat pada Regina.


Sekarang hatinya sudah yakin. Setelah berulang kali memikirkan mengenai hubungannya saat ini. Gian memilih untuk membuka hati dan dunianya untuk Regina. Dia tahu kehilangan Regina akan membuatnya lebih gila dibandingkan kehilangan seluruh waktu untuknya berkarir. Untuk saat ini, obsesinya pada Regina mengalahkan semua obsesinya terhadap pekerjaan.


__ADS_2