Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Pesta Ulang Tahun Arsila


__ADS_3

Gian mengambil slide and sour, dia memesan mocktail kali ini. Tak ingin mabuk karena besok harus kembali bekerja. Dia menyesap minuman itu sedikit tanpa minat.


Hari ini adalah ulang tahun ke-33 Arsila, semua rekan dan saudaranya datang untuk merayakannya di hotel berbintang di Jakarta. Ballroom hotel tersebut di dekorasi elegan dengan warna ungu mendominasi, seperti warna favorit Arsila. Pesta sudah berlangsung 1 jam, Arsila sudah menerima banyak ucapan dan hadiah dari para tamunya, pun telah meniup lilin dan berdoa. Bisa ditebak, doa-doa yang tamunya sampaikan tak jauh dari pernikahan. Darius, laki-laki yang sudah 6 tahun dipacari Arsila tersenyum setiap kali doa tersebut meluncur.


Diantara semua saudara sepupu di keluarga Airlangga, hanya Lina yang sudah berkeluarga. Selebihnya hanyalah orang single yang menikmati masa mudanya. Namun mereka punya kekasih yang bisa dijadikan sasaran tembak ketika kapan ditanya mengenai pernikahan, kecuali Gian. Hanya Gian jomblo sejati yang sepertinya terus dikasihani.


Beberapa waktu lalu Gian baru berkelit dari pembicaraannya dengan Tante Yuniar yang menanyakan tentang calon pasangan.


“Sini tante kenalin sama karyawan tante, dia Head of Marketing, masih single, umur 28 tahun, anaknya cantik, baik, pinter, sayang keluarga.” Ucap Tante Yuniar. Mungkin tantenya tersebut merasa bersimpati kepada keponakannya yang harus mencari istri agar bisa mewarisi warisan ayahnya.


“Gak dulu deh, tante.” Jawab Gian malas.


“Loh kok gitu? Kamu tuh udah harus cepetan cari, Gi. Kamu mau semua warisan papa ga jadi milik kamu? Terus kamu mau hidup kaya gimana?”. Desak Tante Yuniar.


Gian Cuma mengiyakan semua ceramah dari tantenya tersebut. Setelah itu melarikan diri dengan berbicang dengan kenalan bisnisnya.


Tamu yang Arsila undang memang beragam. Dia terkenal sebagai social butterfly, punya banyak kenalan dan circle pertemanan. Mulai dari yang berprofesi model, artis, pebisnis, tokoh politik, hingga dokter. Pantas saja Arsila tak pernah kehilangan orang untuk direkomendasikan pada Gian.

__ADS_1


Namun, Arsila sudah menolak membantu Gian mencari pasangan. Gian pun sebenarnya sudah malas dan ingin menyerah saja. Malah dia punya pikiran gila untuk mencari perempuan yang ingin kawin kontrak dengannya. Agar hidupnya lebih nyaman dan keinginannya cepat tercapai.


**


Suara sepatu menggema sepanjang lorong hotel menuju ballroom. Dari desainnya sepatu tersebut adalah salah satu koleksi Alexandre Birman, Petra Slingback Pumps berwarna pink dan hitam terpasang cantik dikaki Regina. Serasi dengan warna Midi A-Line dress-nya yang berwarna pink, dengan potongan sederhana yang menampilkan pinggang rampingnya. Jika dilihat seksama, Regina seperti boneka barbie yang baru saja dibeli dari toko dan diberi gaun mahal. Wajahnya yang cantik dengan riasan natural dan rambut ikal sepundak yang dibiarkan terurai berkibar seiring langkahnya.


Alex berdiri di samping Regina dengan gagah. Dia mengenakan jas berwarna hitam, pas dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap.


Hari ini Regina menemani Alex untuk menghadiri pesta ulang tahun kenalannya. Alex mengatakan disana banyak sekali rekan kerja dan pebisnis yang mungkin saja bisa menjalin koneksi bisnis dengan Regina. Selama ini Regina belum pernah diajak ke acara tempat pebisnis berkumpul, bahkan dia tidak tahu ada acara seperti itu.


Alea, Maya, dan Fadli tahu mengenai hal ini. Mereka menberi dukungan agar Regina dekat dengan Alex. Siapa tau hal itu akan bermanfaat bagi perusahaan. Meskipun cara seperti ini bukan hal yang diinginkan Regina. Tapi demi perusahaan, dia rela beramah tamah dengan Alex.


Mereka memasuki ballroom hotel, banyak sekali tamu yang hadir disana. Mereka berpakaian rapi dan cantik, gaun-gaun dan jas mahal mereka kenakan. Ya tentu saja, ini pesta pebisnis kelas atas dan konglomerat. Biarpun ayahnya dulu pebisnis, dia tidak pernah mengajak Regina ke acara sekelas ini. Levelnya memang sangat berbeda.


Beberapa tamu menyapa dan menjabat tangan Alex, kemudian berbincang dengannya. Alex juga mengenalkan Regina kepada rekan pebisnisnya, membantunya menjalin koneksi dengan orang-orang yang terlihat penting itu.


“Sebenernya ini pesta siapa sih? Kok banyak banget orang pentingnya? Sampe kayanya tadi aku lihat artis gitu dateng kesini.” Tanya Regina yang takjub.

__ADS_1


“Arsila. Salah satu cucu pemodal ternama, Gumelar Airlangga, yang punya Gavels. Kamu ga tau Gavels?”


Deg.


Jantungnya berasa turun kekakinya mendengar Gavels. Ini pesta salah satu anggota keluarga Airlangga, pemilik Gavels?


“Sini, Re. Aku kenalin rekan sesama investor.” Lanjut Alex. Mereka berjalan kearah kumpulan laki-laki berjas rapi yang Alex sebutkan sebagai rekan investor.


Alex mengenalkan satu persatu dari mereka dan jabatan diperusahaannya. Namun Regina hanya terpaku pada satu wajah, yang sangat Regina kenali. Dia berdiri disana, ikut memandang Regina. Tanpa senyum, tanpa ekspresi. Wajah itu seakan baru keluar dari sebuah pemotretan majalah bisnis.


“Nah kalau yang ini Gian, sepupu yang punya acara. Dia CEO Gavels sekarang.” Ucap Alex.


Napas Regina terasa berat karena panik, tangannya berkeringat. Entah kenapa dia sangat takut untuk memandang Gian. Merasa malu, marah, takut bercampur aduk. Terlintas kejadian beberapa minggu lalu dengan Gian dikepalanya. Regina mengalihkan pandangan ke arah sepatunya. Sementara Gian masih menatap gadis itu tanpa bicara sepatah katapun.


 


 

__ADS_1


__ADS_2