Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Vanya


__ADS_3

“Kamu jadi berangkat ke yayasan?” Tanya Gian sambil memeluk Regina dari belakang saat sedang memasak nasi goring untuk sarapan.


“Hmm..”


“Kalau kamu ga mau ga usah dateng aja.”


“Mau kok. Aku ga keberatan. Kenapa sih? Kamu ga percaya aku bisa wakilin kamu disana?”


“Bukan gitu. Aku cuma ga mau nambah beban kamu aja sama kegiatan kaya gini. Kamu ga harus aktif di acara-acara sosial atau kumpul sama istri-istri petinggi Gavels kok, Re.”


“Aku bilang kan ga keberatan. Aku ga ada masalah kumpul sama ibu-ibu sosialita kayak mereka. Ga ada yang harus aku takutin bergaul sama orang high class kaya mereka. Aku masih muda, cantik, selera fashion-ku bagus, pinter, dan suamiku CEO Gavels.”


Gian hanya tertawa mendengar jawaban sangat percaya diri dari istrinya. Sebenarnya Gian percaya Regina bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya dikalangan sosialita. Dia punya kapabilitas dan background yang cukup mengesankaan. Regina juga bukan tipe wanita pemalu yang sulit bergaul, dia adaptif dan sangat menyenangkan. Gian sudah melihat bagaimana Regina menarik perhatian para istri koleganya di acara makan malam setelah resepsi pernikahan mereka. Tapi tetap saja, menurut Gian bergaul bersama orang-orang seperti itu tidak terlalu penting.


“Tau ga, Gi? Yang jadi beban itu kamu sebenernya.” Kata Regina “Berat. Minggir aku lagi masak!” Lanjutnya sambil mengedikkan bahu menyingkirkan kepala Gian yang bersandar disana. Dengan sengaja Gian mempererat pelukannya dan menciumi leher Regina.


Regina berangkat diantar oleh Pak Ayus menggunakan mobil barunya yang Gian belikan minggu lalu. Regina sudah menolaknya, tapi Gian mengatakan kalau Regina butuh mobil baru untuk mempermudah mobilitasnya. Dia tidak ingin Regina terus memesan taksi online untuk mengantarnya bekerja. Gian juga menawarkan Pak Ayus menjadi supri pribadi Regina, tapi tawaran itupun Regina tolak. Dia bisa berkendara sendiri, meskipun sedikit khawatir awalnya mengingat kecelakaan yang dia alami beberapa waktu lalu.


Saat sampai di Yayasan Bhakti milik Gavels, Regina sudah disambut oleh pengurus dan dipersilakan duduk di salah satu meja VIP bersama para istri direksi internal Gavels yang lain. Hanya ada Bu Rika, Bu Anita dan Vanya yang hadir. Selebihnya tidak bisa mengikuti kegiatan ini karena ada agenda lain.


Acara seperti ini biasanya dilakukan 2 hingga 3 bulan sekali. Menampilkan pagelaran seni dan serah terima bantuan untuk anak-anak dari  Gavels lewat Yayasan Bhakti. Salah satu anak yang sukses lewat kegiatan charity ini adalah Dimas, yang telah dibiayai hingga S2 oleh Gavels dan menjadi karyawan top dibawah kepemimpinan Gian. Melihat begitu besarnya yayasan tesebut dan batuan yang Gavels berikan serta manfaat yang diterima oleh anak-anak ini, tak heran keluarga Airlangga menjadi salah satu keluarga yang sangat berpengaruh, terutama Gian. Setiap saat Regina selalu disadarkan oleh kenyataan betapa kaya dan berpengaruhnya Gian. Dia kadang ngeri sendiri, bagaimana kalau dia bermasalah dengan laki-laki itu.


Regina yakin semua orang di Aula Yayasan Bhakti memperhatikannya. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat istri dari CEO Gavels menghadiri acara ini. Pasti mereka sangat tertarik dengan istri dari sumber keuangan dan pendanaan mereka.Hari ini Regina sudah memperisapkannya dengan baik sebagai perwakilan Gian. Dia sudah mempersiapkan sambutan yang dia latih tadi malam bersama Gian. Dia juga sudah mengenakan pakaian yang nyaman, blus lavarlliere berwarna rose glace dari Celine, dipadukan dengan rok pensil 4D jacquard berwarna light beige dari Givenchy yang membuatnya terlihat sederhana namun elegan. Sangat cocok untuk acara charity seperti ini.


Semua rangkaian acara sudah selesai dilaksanakan. Regina sudah memberikan sambutannya yang mengesankan, dia menjadi lebih percaya diri melihat reaksi dari orang-orang yang ada disana terhadapnya. Penampilan-penampilan seni dan pemberian bantuan juga berjalan dengan lancar.


Saat pulang Vanya menawarkan untuk datang ke salah satu outlet produk pastry-nya untuk makan siang. Mereka sampai disebuah café yang menyajikan kue-kue cantik, dan roti-roti yang menarik. Vanya merekomendasikan beberap produk unggulannya antara lain caramel prof, orange almond, butter croissant, choux chocolate, dan masih banyak yang tersaji dimeja.


“Keren banget loh kamu tadi, Re. ga nyangka istrinya Gian jago gini public speaking-nya. Tau gitu dari dulu ikutan, biar saya ga disuruh-suruh lagi untuk bacain kata sambutan.” Kata Bu Rika.


“Saya baru sempat sekarang buat ikutan acara kayak gini, dulu masih sibuk ngurus perusahaan.” Balas Regina senang.


“Tapi sekarang kamu ga menjabat jadi CEO lagi diperusahaan kamu kan, Re? Kenapa?” Tanya Vanya.


“Aku serahin sama orang yang lebih kompeten untuk mengurus perusahaanku. Soalnya aku gak punya background bisnis.”

__ADS_1


“Gian yang bantuin ngurus perusahaan kamu?”


“Partly, yes.”


“Perusahaan kamu ga berafiliasi dengan Gavels kan, Re? Ga seperti perusahaan punya Tante Yuniar?”


“Ngga, aku bukan bagian dari Gavels.”


“Kok bisa perusahaan kamu ga berafiliasi dengan Gavels padahal suami kamu CEO-nya?” Tanya Vanya sambil tersenyum. “Equinox punya Tante Yuniar aja langsung di invest sama Gavels, is that weird kalau perusahaan istrinya sendiri ga masuk di list Gavels? Padahal industri kamu salah satu yang sangat diincar Gian.”


Regina tidak tahu apa maksud Vanya bertanya seperti itu padanya. Dia seperti mendesaknya untuk mengatakan posisi perusahaannya di perusahaan Gian. Sejak awal Gian tidak punya niat untuk memberikan investasi secara resmi untuk perusahaanya. Untuk apa Vanya menanyakan urusan itu?


“Perusahaanku memang ga menerima investasi dari Gavels dan urusan internal perusahaanku juga bukan untuk di diskusikan dengan orang lain.” Balas Regina tajam.


“Gian ga tertarik sama perusahaan kamu?”


“Maksud kamu apa?”


“Mustahil buat orang kayak Gian buat skip perusahaan yang menurutnya berpotensi untuk dijadikan tempat berinvestasi. Apalagi itu perusahaan milik orang terdekatnya. Dia pasti sangat tertarik buat ngasih perusahaan tersebut dukungan. Kemarin aku baru tanda tangan MoU dengan Gavels, bahkan perusahaan baru kayak punya aku pun bisa masuk daftarnya Gian. Aneh buatku kalau perusahaan kamu justru ga punya koneksi apa-apa ke Gavels.”


Regina tidak tahu siapa Vanya sampai sangat tertarik dengan hubungan perusahaannya dengan Gavels. Tapi yang dia katakana benar dan masuk akal. Gian memberikannya bantuan secara personal hingga sekarang, tanpa peduli pertumbuhan perusahaannya yang semakin meningkat. Apakah hingga saat ini Gian masih meremehkan Regina?


“Kamu kayaknya tahu banget soal Gian sampe bisa menyimpulkan dan memprediksi keputusan bisnisnya kaya gitu?” Balas Regina dengan tenang, meskpiun dalam hatinya ada perasaan mengganggu yang tidak bisa dia jelaskan.


“Loh? Gian ga pernah cerita soal aku ya? Semua orang juga udah tau kalau aku sama Gian temen dari kecil. Kita bahkan selalu satu sekolah sejak SD sampe kuliah. Aku juga pebisnis kaya Gian, makanya tau kebiasaan dia dalam mengambil keputusan bisnisnya. Kamu kok sampai ga tahu soal itu? Kalian beneran pasangan, kan?” Senyuman tak pernah lepas dari bibir Vanya. Setelah mendengarkan apa yang dia katakan dan arah pembicaraan mereka. Regina akhirnya mengerti, Vanya sedang mencoba berkompetisi dengannya. Siapa diantara mereka yang paling baik dan mendapatkan kepercayaan Gian sebagai partner professional lewat bantuan Gian ke perusahaan masing-masing.


Pertemuan itu berakhir kurang menyenangkan untuk Regina. Vanya seperti sedang mengungkapkan mengenai hubungannya dengan Gian. Memang benar hingga kini keputusan Gian tentang perusahaannya tidak berubah, masih under qualified untuk Gavels. Gian juga hingga sekarang tidak pernah membicarakan potensi bisnis dari perusahaan Regina, tidak seperti yang dia lakukan dengan Vanya. Regina baru menyadari hal tersebut dan entah kenapa itu melukai hatinya. Gian masih menganggapnya bodoh dan tidak kompeten.


Mengetahui hubungan Gian dan Vanya diacara seperti ini juga membuatnya terdengar sangat konyol dan bodoh. Dia bisa melihat Bu Rika dan Bu Anita yang mendengarkan pembicaraan itu ikut penasaran, kemudian saling melirik memberikan kode. Gian tidak pernah menceritakan apapun tentang hidupnya pada Regina, kemudian mereka akan menyimpulkan bahwa hubungan Gian dan Regina ternyata tidak sedalam itu. Bahkan mungkin akan menyimpulkan bahwa Gian dan Regina tidak memiliki hubungan yang istimewa dalam pernikahan mereka.


Semuanya memuakkan!


***


Gian pulang ke rumah pukul 7 malam. Dia langsung berjalan menuju dapur tempat Regina sedang menyiapkan piring untuk makan malam. Gian kemudian memeluknya dari belakang, mencium pipi Regina. Namun Regina hanya diam, dia tidak bereaksi apa-apa.

__ADS_1


“Vanya siapa, Gi?” Tanya Regina.


“Kenapa emangnya?”


“Vanya siapa?” Tanya Regina lagi. Gian bisa mendengar ada kekesalan dinada bicara Regina.


“Dia ngomong apa sama kamu?”


“Aku nanya Vanya siapa? Susah banget sih buat jawab?” Kata Regina marah.


“Temenku dari kecil.”


“Udah gitu doang? Kayaknya kamu kenal banget sama dia sampe perusahaan barunya dapet bantuan Gavels.”


“Kamu kenapa sih, Re?”


“Spesial banget ya dia sampe perusahaan baru aja langsung lolos dan tanda tangan MoU sama Gavels? Sementara aku… kamu ga pernah bahas tuh kelanjutan buat perusahaanku. Tawarin kerjasama kek, atau apa gitu? Oh iya, soalnya aku ga kompeten, bahkan aku ga bisa jadi CEO diperusahaan aku sendiri.”


“Kamu sebenernya ngomong apa sih? Kalau kamu ada masalah tolong jelasin yang bener.”


“Nothing. I just realized that you are still thinking that I’m stupid and incapable for being your business partner. Ga kayak temen dari kecil kamu Vanya.”


“Vanya yang bikin kamu berpikir kaya gitu? Omongan dia?”


Regina tidak menjawab pertanyaan dari Gian. Hanya kekesalan yang ada dikepalanya sekarang dan pikiran-pikiran jelek tentang Gian. Regina benci diremehkan, meskipun dia tahu dia tidak sehebat itu dalam dunia bisnis. Dia benar-benar benci diremehkan dan tidak dianggap bahkan oleh orang yang dia anggap paling dekat.


“Aku emang ga invest lewat Gavels di perushaan kamu melainkan bantuin kamu secara personal, dan itu sebenarnya ga ada masalah, kan? Kamu tahu sendiri perusahaan kamu lagi tumbuh dan dalam masa perbaikan sekarang. Ga lama lagi bakalan stabil dan kamu ga butuh investor buat bertahan.” Kata Gian menjelaskan dengan tenang. “Regina, aku ga pernah nganggap kamu bodoh karena ga paham tentang bisnis. Kamu punya keahlian sendiri yang ga orang lain bisa, you are an excellent fashion designer. Kamu ga harus marah sama hal-hal kayak gini. Meskipun kamu ga dapat bantuan dari Gavels. Tapi aku yang langsung ngurus perusahaan kamu lewat Dimas. Kalau kamu pikir dengan kerjasama bikin Vanya atau siapapun jadi spesial buatku, kamu salah. Justru kamu yang harusnya ngerasa spesial karena aku sendiri yang ngurus perusahaan kamu.”


Regina hanya diam. Hari ini pikirannya terus disetir oleh orang lain. Dia merasa bodoh karena menanggapi hal-hal seperti ini. Semua yang dikatakan Gian benar, tapi rasanya dia begitu marah dengan perkataan Vanya. Logikanya sedang tidak berjalan. Dia hanya menanggapi kata-kata Vanya karena dia sepertinya cemburu padanya. Dia tidak menyukai Vanya yang memeluk Gian, dia tidak menyukai Vanya yang berbicara dan berdiskusi mengenai bisnis dengan Gian, dia tidak menyukai kenyataan kalau Vanya adalah teman Gian sedari kecil. Iya, masalahnya bukan tentang investasi Gavels diperusahaannya. Masalahnya adalah dia terlalu mendengarkan kata-kata Vanya.


“Kamu ga pernah cerita soal temen deket kamu sama aku.”


“Buat apa?”


“Aku kelihatan bodoh aja ga tau apa-apa soal kamu. Vanya sampai segitunya merasa kenal sama kamu. Dia emang siapa?”

__ADS_1


“Temen aku sejak kecil. Orang yang kakek jodohin sama aku.”


__ADS_2