Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Momen Berharga


__ADS_3

Gian mempersiapkan perjalanan ke Bandung untuk anniversary mereka. Menginap di salah satu hotel disana, juga bekunjung ke rumah bibi dan paman Regina. Mereka disambut dengan hangat. Meskipun hanya sebentar, Regina sangat senang. Perasaanya menjadi lebih baik setelah bertemu dengan keluarganya.


Malamnya mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan berdua, menikmati dinginnya Kota Bandung dari salah satu café yang menawarkan pemandangan cantik. Puas berjalan-jalan, mereka kembali ke hotel. Melakukan kegiatan menyenangkan dan menegangkan berdua. Udara dingin Kota Bandung membuat pasangan tersebut sulit lepas dan terus memanaskan gairahnya. Harusnya mereka sering-sering berlibur kesana. Semakin dingin, semakin romantis.


Setelah Gian mengatakan untuk lebih menikmati semua prosesnya dan tidak terlalu terburu-buru, Regina berhenti melihat jadwal biologisnya, kapan tamu bulanannya datang, kapan harusnya mereka berhubungan. Dia juga berhenti melarang Gian pergi keluar kota atau lembur sesekali. Kini pikirannya dia fokuskan lagi untuk berkarya, bekerja, dan menikmati waktunya bersama Gian.


...****************...


Mobil melaju dengan pelan dijalanan yang cukup ramai. Hujan turun deras. Mereka rencananya menginap di kediaman Gumelar. Semua saudara Gian juga akan menginap disana untuk acara Arsila nanti sore. Hanya ada suara musik dari radio yang diputar di mobil Gian.


Regina terus diam sepanjang perjalanan, menatap jalanan basah di luar jendela. Moodnya benar-benar sedang jelek. Sejak pagi kepalanya berat dan tubuhnya tidak nyaman. Dia ingin berdiam diri saja di rumah. Tapi itu tidak mungkin. Dengan susah payah dia menata hati dan tubuhnya yang lemas tak bersemangat untuk pergi.


Regina sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan bersedih dengan kegagalannya selama beberapa bulan kebelakang. Apalagi sekarang dia harus hadir ke acara 4 bulanan kehamilan Arsila di kediaman Gumelar. Dia harus ikut berbahagia atas kehamilan sepupu Gian itu.


“Kamu kenapa diem terus dari tadi pagi? Sakit?” Tanya Gian dari balik kemudinya.


“Gak apa-apa kok.” Jawab Regina singkat.


“Kamu masih kepikiran soal kenapa kamu belum hamil juga? Kamu jadinya males ikut acara Arsila sekarang?”


“Kok kamu nuduh kayak gitu sih?”


“Bukan nuduh, tapi nanya. Kalau kamu ngerasa gitu juga gak apa-apa. Normal kok kalau kamu ngerasa iri dan jadi males ketemu cewek lain yang lagi rayain kehamilannya karena kamu belum hamil juga. Manusiawi. Kan kamu gak doain jelek juga sama mereka.”


“Ngga. Aku ga ngerasa kayak gitu. Aku baik-baik aja.”


“Kalau kamu ngerasa gak nyaman buat dateng ke acara Arsila, aku bisa puter balik sekarang. Ga usah kesana. Biar aku yang cari alasan sama Arsila.”


“Apaan sih, Gi. Aku bilang gak apa-apa juga.”


Regina sedang malas berdebat dengan Gian. Hari ini dia sangat malas melakukan apapun. Hanya ingin diam dan tidak berbicara pada siapa-siapa. Saat sampai di kediaman Gumelar, semua saudara Gian sudah berkumpul. Mereka ikut membantu menyiapkan dan merapikan tempat untuk pengajian nanti sore. Regina dengan terpaksa ikut bergabung, tersenyum, mengobrol dan bercanda meskipun mood-nya sedang tak karuan.


“Kamu jadi konsul sama Dokter Ratih?” Tanya Arsila saat para wanita sedang berkumpul di ruang tengah.


“Udah kok, Kak.” Regina sebenarnya sangat malas membahas ini. Apalagi semua saudara Gian ada disini sekarang.


“Terus gimana katanya?”


“Suruh nunggu 6 bulan dan dikasih vitamin aja.”


“Rere lagi promil?” Tanya Esty.

__ADS_1


“Iya, Tante. Doain ya.”


“Ya pasti. Tapi jangan sampe jadi stress karena pingin cepet-cepet hamil.” Kata Yuniar.


“Nikmati aja prosesnya. Masih muda. Banyakin liburan, honeymoon terus.” Esty menambahkan.


“Khawatir boleh, apalagi kalau lihat temen atau saudara yang cepet hamil. Tante juga kosong 3 tahun, sampe kepikiran dan nangis-nangis terus dulu.” Ucap Yudhita.


“Tante juga nunggu lumayan lama sampe bisa hamil?” Tanya Regina penasaran. Dia jarang bertemu dengan Yudhita atau berkomunikasi dengannya, tidak tahu juga mengenai kehidupannya.


“Iya. Sampe stress, berantem sama Om Rahmat terus, dan jadi sakit-sakitan. Apalagi kan tante tinggalnya di perkampungan. Ngurus kerjaan di lapangan. Udah gak kehitung berapa banyak yang nanyain kapan hamil setiap hari. Sampe disuruh minumin jamu, berobat ke orang pinter, atau ngikutin mitos-mitos daerah itu biar cepet hamil.”


“Akhirnya Yudhita nangis-nangis pingin berhenti kerja.” Ledek Yuniar.


“Kalau ada yang nanyain kayak gitu tiap hari bikin mental jadi down juga, kan? Untungnya kalau disini kan jarang ada yang nanyain sampe segitunya. Paling ada sesekali yang nanya kapan hamil, besok juga lupa dan gak ketemu lagi.” Kata Yudhita.


“Yang berat banget tuh, kalau yang nanya dan nuntut itu dari suami atau keluarga dekat. Kita kadang susah jawabnya. Kalau tante disini sih santai aja, asal kalian happy. Gian juga ga banyak komentar kayaknya, kan?” Tambah Yuniar.


Regina mengangguk menyetujui. Dia merasa cukup terhibur dengan semua kata-kata penyemangat dari saudara-saudara Gian. Mereka sangat suportif terhadap semua usaha Regina. Banyak hal yang harus Regina syukuri sekarang. Dia menikah dengan Gian yang sangat peduli dan mendukungnya. Juga keluarganya yang hangat dan menerimanya dengan baik, tanpa menghakimi, atau menuntut apapun darinya.


Acara dimulai pukul 4 sore. Orang-orang mulai berdatangan ke rumah menggunakan dress code baju putih. Ruang tamu dikhususkan untuk tamu laki-laki, dan ruang tengah untuk tamu perempuan. Beberapa orang ibu-ibu sosialita yang Regina kenal juga datang. Tapi untung saja tak ada Vanya disana. Bisa-bisa mood-nya tambah hancur hari ini.


Saat waktu menunjukan pukul 6, satu per satu tamu mulai berpamitan. Tak lupa mereka membawa hampers untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Meskipun banyak yang masih tinggal dan mengobrol. Namun ruangan lebih lengang. Regina melihat Gian berjalan ke dapur, kemudian undur diri dari obrolan untuk mengikuti suaminya. Dapur sepi, semua orang sekarang berada di ruang tengah dan ruang tamu.


“Gian.” Kata Regina menyandarkan kepalanya ke pundak Gian yang sedang meminum air dingin dari kulkas “Boleh gak kita pulang aja? Ga usah nginep.”


Gian merangkul Regina, kemudian menatapnya “Kenapa?”


“Aku gak enak badan. Pusing. Pingin pulang dan istirahat.”


“Kamu pucat banget, Re.” Kata Gian khawatir. Regina terlihat pucat dan lemas. Keringat dingin muncul di leher dan dahinya, membuat helaian rambutnya basah. Padahal ruangan ber-AC dan sejuk.


“Ya udah kita sekarang pulang. Aku kasih tahu dulu yang lain.” Lanjut Gian.


Mereka akhirnya berpamitan untuk pulang lebih awal dengan alasan Gian harus mengerjakan pekerjaan penting malam ini. Selama perjalanan Regina hanya tertidur. Badannya seakan habis berlari marathon, lemas tak berdaya dan kehilangan energi. Kepalanya juga sangat pusing. Bahkan saat sampai rumah dia merengek untuk digendong turun dari mobil menuju kamar.


Regina tertidur hingga pagi, tapi saat terbangun tubuhnya masih belum membaik. Dia masih merasa pusing dan lemas. Meskipun tak separah kemarin.


“Kamu masih ga enak badan?” Bisik Gian saat melihat istrinya terbangun. Gian bangun lebih awal dan selesai beribadah subuh. Regina hanya mengangguk pelan, merapatkan kembali selimutnya.


“Mau aku buatin sarapan apa?”

__ADS_1


“Ga mau makan.” Balas Regina pelan.


“Omelet?” Tanya Gian lagi. Regina tidak membalasnya.


Gian sudah berlalu keluar menuju dapur. Regina turun dari tempat tidur dan pergi ke toilet. Tubuhnya berasa tidak bertulang karena lemas, sekarang perutnya tiba-tiba tidak nyaman saat berdiri. Dengan cepat Regina berlari ke toilet. Memuntahkan isi perutnya di wastafel. Regina berkali-kali muntah, hingga yang bisa dia keluarkan hanya air dan liur pahit di mulutnya. Setelah itu dia mencuci mulutnya menggunakan air dingin. Kelelahan dan hanya menatap bayangannya di cermin.


Selama beberapa detik dia memandangi wajahnya yang balik menatapnya. Cepat-cepat dia membuka rak dibalik cermin, mengambil beberapa test pack dari sana. Regina sudah tidak pernah melihat kalender jadwal bulanannya, ataupun menandai kapan dia sedang dalam masa subur. Tapi mungkin saja keajaiban itu datang sekarang, kan?


Dengan tidak sabar Regina menunggu indikator berubah pada 4 merek test pack yang dia pakai. Perlahan satu garis merah muncul hampir bersamaan. Hati Regina sudah siap kecewa lagi. Tapi kemudian garis kedua mucul dengan samar di salah satu alat uji tersebut. Tak berapa lama alat uji yang lain mulai berubah menunjukan 2 garis merah yang tegas. Regina terpaku beberapa detik tidak percaya, air mata turun ke pipinya tanpa diminta.


“GIAAANN!” Teriak Regina.


Dia berlari keluar toilet, melewati kamarnya, menuruni tangga dan masuk ke dapur. Disana, Gian sedang sibuk memasak omelet untuk sarapan. Regina langsung memeluk Gian, membuat laki-laki itu kaget dan hampir menumpahkan omelet dari teflonnya.


“Kenapa? Kamu kenapa, Re?” Tanya Gian panik. Namun Regina tidak menjawabnya. Hanya suara tangis yang terdengar darinya. Selama beberapa lama, Regina terus memeluk Gian tanpa penjelasan.


“Aku hamil, Gi.” Kata Regina melepaskan pelukannya, memperlihatkan 4 test pack dengan dua garis merah pada Gian.


Gian tersenyum, “Alhamdulillah.” Katanya tenang, menarik kembali Regina ke pelukannya. Mengecup kening istrinya dan terus mengusap-usap kepalanya dengan lembut.


Regina menangis semakin kencang, meluapkan semua perasaan terharu dan rasa senang yang tak terbayangkan. Akhirnya dia diberi kepercayaan lagi untuk mendapatkan keturunan. Dia melupakan perasaan tidak nyaman diperutnya, pusing dikepalanya, dan rasa lemas ditubuhnya. Dia hanya ingin merekam kejadian hari ini menjadi momen paling berharga dalam hidupnya. Mulai hari ini Regina akan menjadi seorang ibu.


“Kamu mau sarapan sekarang?” Tanya Gian, saat Regina mulai bisa menguasai dirinya.


“Gak mau, mual.”


“Aku udah bikini omelet.”


“Gak mau. Aku pingin makan yang manis.”


“Ya udah aku bikinin pancake?”


Regina mengangguk dan tersenyum. Kemudian berjinjit mengecup bibir Gian.


“Thank you.”


Semua hal terbaik yang Regina rasakan hari ini berkat Gian. Orang yang selalu mendukungnya dan memperhatikannya. Dan sudah pasti, satu-satunya orang yang bisa mewujudkan keinginannya untuk membuatnya menjadi seorang ibu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Double up karena hari ini author nya sedang libur kerja 😌✌️

__ADS_1


__ADS_2