
Regina bangun dengan kepala yang berat dan perut lapar. Jam di kamarnya menunjukkan pukul 11.45. Mbak Inah kemudian masuk ke kamar, mengecek kondisi atasannya tersebut.
"Udah bangun, Bu? Masih mual? Nanti saya bikinin minuman jeruk yang baru kalau masih mual." Katanya sambil duduk di tepian ranjang.
"Aku laper, Mbak."
"Saya udah masakin ayam kecap, sop, perkedel jagung. Mau dibawain kesini?"
"Aku makan di dapur aja, Mbak."
Di meja makan Mbak Inah sudah mempersiapkan makanan yang dia masak. Regina makan dengan lahap. Rasa mualnya sudah hilang entah kemana. Padahal tadi pagi dia tidak bisa memakan apapun dan selalu memuntahkan kembali makanan yang masuk.
"Tadi Pak Gian telepon, nanyain kabar Bu Rere. Teleponin terus setiap setengah jam. Saya bilangin Bu Rere tidur terus, belum bangun. Seneng ya kan kalau suami perhatian kayak gitu?" Celoteh Mbak Inah.
Regina hanya tersenyum dan memakan makanannya sambil mendengarkan.
"Suami saya yang sekarang juga sayang banget sama saya. Tiap hari diantar jemput kemana-mana. Selalu ngirim wa, nanyain lagi apa."
"Suami yang sekarang? Emang Mbak Inah pernah nikah sebelum sama yang sekarang?"
"Ini suami kedua. Suami pertama saya pengkhianat. Selingkuh sama sahabat dekat saya. Padahal kita udah kayak saudara, sejak kecil temenan, sekolah bareng, kerja di pabrik bareng. Eh malah selingkuh sama suami saya sampe dia hamil. Harus hati-hati sekarang tuh, biarpun sama sahabat yang udah kita anggap saudara sendiri. Bisa aja paling kenceng nusuk dari belakang." Kata Mbak Inah menceritakan masa lalunya.
Regina menghentikan makannya sejenak. Meneguk air sebanyak-banyaknya, menghilangkan haus dan rasa tak nyaman yang tiba-tiba muncul dihatinya. Kemudian membuka handphone-nya, menekan tombol telepon menghubungi seseorang.
"Halo, Gilang."
"Iya, Halo. Ini siapa ya?" Tanya seorang laki-laki muda pada sambungan telepon.
__ADS_1
"Saya Regina, saya tahu nomor ini dari kakak kamu, Gita. Kita pernah ketemu waktu penerimaan beasiswa di Yayasan Bhakti. Inget sama saya?"
"Oh iya, Bu. Saya inget Bu Regina. Istri bosnya Kak Gita."
"Iya bener. Kamu ada waktu luang? Saya mau nawarin freelance sama kamu. Gak lama kok. Lumayan buat nambahin uang jajan, kan?"
"Kebetulan saya lagi libur habis selesai UAS semester 1, Bu. Saya punya banyak waktu luang."
"Oke, kamu punya kendaraan, kan?"
"Iya. Saya punya motor."
"Good. Saya kirim detail kerjaannya di chat aja. Gimana?"
"Iya. Siap, Bu."
Regina tersenyum. Mengirimkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Gilang. Dia berharap firasatnya salah. Tapi sebagian dari dirinya tahu bahwa hal ini bisa saja terjadi. Semua dugaannya bisa jadi benar.
...****************...
Sekarang Regina sudah cukup tenang menghadapi semua serangan brutal di sosial medianya. Dia tidak perlu mencoba menjaga citra dirinya atau mengklarifikasi semua hal yang telah disebarkan tentangnya. Dia bukan artis atau orang terkenal. Hanya Gian saja yang menjadi tokoh publik, bukan dirinya. Diam dan tak menanggapi lebih baik untuk saat ini.
Hal yang paling penting untuknya adalah menjaga kesehatan dan kewarasannya. Dia tahu hal seperti ini bertujuan untuk menggoyahkan mentalnya. Fokus utamanya saat ini hanya untuk janin yang dikandungnya. Regina mulai mengatur kembali hati, pikiran, dan tubuhnya untuk mempersiapkan masa kehamilan yang berat.
Ruangan Dokter Ratih terasa nyaman dengan AC yang dingin ditengah panasnya Kota Jakarta yang menyengat. Asistennya membantu Regina berbaring di tempat tidur khusus untuk USG. Dokter Ratih memulai pemeriksaan.
"Nih udah kelihatan kan detak jantungnya?" Kata Dokter Ratih riang. Memperlihatkan grafik naik turun di layar yang Regina dan Gian tidak pahami.
__ADS_1
"Normal kan, dok?" Tanya Gian penasaran.
"Normal kok. Janinnya udah terbentuk, biarpun masih sebesar kacang. DJJ juga sudah kelihatan. Kalau mau dengar DJJ nya nanti ya, 2 sampai 3 minggu lagi baru bisa kedengaran jelas. Sekarang kalau lihat dari grafik DJJ nya normal 150 bpm." Kata Dokter Ratih menjelaskan.
"Selama gak ada masalah kayak flek, kram perut hebat, atau mual muntahnya parah, semuanya oke. Kalau ada tanda-tanda kayak gitu langsung hubungi saya aja." Lanjutnya.
Selama hampir 1 jam Regina dan Gian terus bertanya kepada Dokter Ratih tentang kondisi kehamilan saat ini. Mereka juga menerima banyak saran dan anjuran yang Dokter Ratih sampaikan agar kehamilan Regina kali ini berjalan lancar.
"Buat trimester pertama, tahan dulu ya mainnya, Pak. Jangan dulu ditengokin dedeknya loh. Biar si ibunya gak kontraksi dini. Setelah itu boleh kok, justru dianjurkan kalau nanti menjelang persalinan." Goda Dokter Ratih sambil tersenyum.
Gian hanya berdeham canggung. Sepertinya Dokter Ratih tahu apa yang ingin ditanyakan para suami saat istrinya hamil muda.
Sore hari setelah pemeriksaan selesai, mereka menikmati waktu berjalan-jalan di mall. Regina sangat ingin membeli banyak jajanan. Hari itu banyak sekali yang Regina masukkan ke perut, mulai dari ramen, takoyaki, thai tea, donat, cheesecake, dan cemilan lainnya. Gian hanya mengangguk menyetujui ketika Regina menunjuk sebuah tempat makan. Asal istrinya senang, biarpun Gian kebingungan kenapa nafsu makan Regina bisa menjadi sebesar itu.
...****************...
Melalui banyak pertimbangan, diskusi, dan perdebatan, akhirnya Regina memutuskan untuk resign dari perusahaannya. Tentu saja Gian mengatakan kalau Regina bisa kembali kapan saja setelah melahirkan. Kondisi tubuh Regina sekarang baik, meskipun terkadang ada hari-hari dimana dia merasa sangat sakit dan muntah-muntah. Hingga rasanya ingin bergulung seharian ditempat tidur.
Sejak dulu Regina sangat aktif, dia tidak terlalu suka berdiam diri di rumah seperti sekarang. Tidak memiliki kegiatan seperti ini membuatnya mudah bosan. Dia sesekali mengirim pesan pada Maya, mendengarkan gosip yang dia lewatkan di kantor. Selebihnya hanya mengulangi rutinitas menonton, membaca, mengurus tamannya, dan memasak. Regina mengagumi dirinya sendiri yang sekarang sudah seperti ibu rumah tangga sejati, meskipun dia tidak mencuci dan membersihkan rumahnya karena sudah dilakukan Mbak Inah.
Handphone-nya bergetar, menampilkan pesan dari Gilang. Regina menatap layar dan terdiam sejenak. Kemudian membalas pesan Gilang dengan secepat kilat.
Tidak butuh waktu Regina sudah memperoleh tanggapan seperti yang dia inginkan. Orang-orang yang mengenal lama dirinya kenapa sulit sekali belajar bagaimana Regina bisa sangat pendendam.
"Gila ya lu, Re! Lu br*ngsek banget ngelakuin ini sama gue!" Kata seseorang disambungan telepon.
"Gue cuma balas apa yang lu lakuin ke gue. Impas, kan? Lu tau sendiri, kalau gue sebenernya bukan orang yang baik banget. Gue juga suka main licik."
__ADS_1
"Anj*ng lu!"
"Gimana? Lu udah siap digebukin bapak lu atau masuk panti rehabilitasi?" Tanya Regina, kemudian tertawa renyah.