
Sapuan kuas dengan terampil dilakukan oleh Perias Pengantin ke pipi Regina. Wajahnya tampak segar setelah diberi blush on. Namun itu semua tidak bisa menutupi kegelisahan yang dirasakan Regina. Sejak tadi dia menghembuskan napas dengan berat.
“Tegang banget, Mbak. Cantik kok. Cantik.” Kata Perias Pengantin meyakinkan Regina berulang kali. “ Ga pake make up aja tuh udah cantik. Makanya saya ga banyak-banyak kasih make up, biar kelihatan natural tapi aura pengantinnya keluar.”
“Iya, Re. Cantik banget. Tenang aja. Ini kan teteh yang make up-in udah ahli.” Ucap Bibi Regina dengan bangga memperhatikan keponakannya yang sedang dirias.
Regina sudah bersiap sejak jam 5 pagi di salah satu kamar Hotel Shangri La tempat dia hari ini melangsungkan pernikahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perasaannya campur aduk, tegang, takut, sedih, dan entah perasaan lain yang tidak dia ketahui. Mulai hari ini kontrak pernikahannya dengan Gian akan resmi.
Bantuan dari Gian suda diterimanya beberapa minggu lalu, berupa dana dan orang-orang yang Gian percaya telah mengisi posisi penting di Edmode. Selama itu pula bebannya terasa berkurang, Edmode memulai babak baru dengan pemimpin dan visi baru. Keadaan tidak serta merta menjadi lebih baik, tapi semua berangsur pulih.
Selama beberapa minggu juga Regina disibukan dengan persiapan pernikahannya. Meskipun hanya pernikahan kontrak, tapi semuanya acara yang dilakukan asli. Acara, gedung, tamu, dekorasi dan baju yang dia kenakan. Semua berdasarkan pilihan Regina. Gian memberinya kebebasan untuk memilih konsep pernikahan yang Regina inginkan. Sesuai dengan apa yang dia impikan. Dia mengatakan meskipun ini hanya hubungan bohongan, perayaannya adalah nyata dan semua itu milik Regina.
Gian bahkan tidak berkomentar tentang budget yang harus dia keluarkan untuk pernikahannya hari ini. Dia selalu menyetujuinya, meskipun terkadang Regina ragu untuk memilih sesuatu yang menurutnya terlalu mahal. Tapi hal yang sangat disayangkan oleh Regina adalah Gian terlalu sibuk untuk berdiskusi hal-hal detail tentang acara ini seperti bunga apa yang akan dipakai untuk dekorasi, warna gaunnya, make up-nya, dan hal-hal kecil lain yang menurut Regina harus diperhatikan. Bahkan Gian menghilang beberapa hari dan tidak bisa dihubungi selama seminggu karena harus melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya. Semua persiapan pernikahan ternyata menguras emosi dan energi Regina. Pernikahan bohongan atau bukan, rasanya dia tetap ingin meledak dan memaki Gian yang tidak bisa bekerjasama.
Pernikahan dengan adat Sunda dipilih oleh Regina. Pada acara ijab kabul hari ini, dia akan mengenakan kebaya putih panjang dengan ekor dan taburan mote. Regina yang mendesainnya sendiri, tetapi pengerjaannya dilakukan oleh karyawannya yang sudah ahli menjahit kebaya.
Mahkota siger telah terpasang di kepala Regina, yang sudah dihiasi kembang tanjung, kembang goyang pada sanggul, dan dua untaian bunga melati. Sejak subuh tadi, Regina belum melihat bagaimana rupanya setelah menggunakan make up dan mengenakan baju kebayanya. Perias pengantin baru memperlihatkannya saat semua hampir selesai dan tinggal merapikan saja.
__ADS_1
Setelah perias mengizinkannya untuk melihat cermin, Regina merasa puas dengan hasilnya. Pantulannya yang mengenakan baju kebaya dan riasan pengantin terlihat cantik dan tidak terlalu berlebihan. Perpaduan make up semi bold dan flawless tampak tidak terlalu berlebihan pada wajahnya. Dia sangat menyukai tampilan yang natural namun tetap terlihat elegan.
“Tuh kan cantik.” Kata Perias meyakinkan Regina. “Lipstick-nya mau ditambahin lagi ga?” Lanjutnya saat merapikan ekor kebaya Regina. Warna peach dengan hint orange memang warna yang sangat cocok untuk kulitnya.
“Udah segini aja.” Jawabnya merasa puas.
Beberapa orang asistennya dari Wedding Organizer masuk ke kamar dan memeriksa persiapan Regina. Acara sudah dimulai dan Gian sudah berada di venue untuk ijab kabul. Tiba-tiba hati Regina menjadi gelisah kembali. Rasanya dia tidak bisa bernapas dengan benar, mungkin karena kekhawatirannya atau korset yang kencang mengikat perutnya. Tangannya menjadi dingin dan berkeringat.
“Udah tenang. Gak apa-apa. Bismillah.” Kata Bibinya menenangkan saat melihat Regina tampak khawatir dan bernapas dengan berat.
...***...
Saat Regina telah duduk dikursi berdampingan dengan Gian, dia hanya menunduk menatap tangannya. Bahkan dia tidak berani menatap paman dan penghulu di depannya. Dunianya seperti berjalan dalam gerakan slow motion, dia tidak bisa memfokuskan suara-suara diluar pikirannya. Hanya ada isi kepalanya yang ribut mengutuki dirinya sendiri.
‘Regina bodoh! Tolol! Kamu bakal terjebak dengan orang yang ga kamu kenal!’
‘Kamu udah mempermaikan pernikahan’
__ADS_1
‘Cewe tolol! Dosa kamu gak bakal dimaafin!’
‘Kamu ngecewain orangtua kamu!’
‘Habis kontrak selesai kamu bakalan jadi janda! Ga ada cowo yang bakal mau sama kamu!’
‘Kamu udah jual diri demi uang!’
Semua riuh dalam kepalanya mengaburkan suara-suara disekitarnya. Suara penghulu yang sedang berbicara dengan Gian untuk mengecek kelengkapan dokumen, suara Pamannya yang menjadi wali membacakan ijab, suara orang-orang yang berbisik di ruangan, semuanya seperti disenyapkan ditelinganya. Semua suara itu kembali saat Gian mengucapkan kalimat yang sangat tak ingin Regina dengar.
“…Saya terima nikah dan kawinnya Regina Pragita Wijaya binti almarhum Haris Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Ucap Gian dalam satu tarikan napas.
Senyap berganti menjadi penuh dan bising di telinga Regina dengan ucapan SAH dan doa-doa yang mengiringinya dari penghulu dan tamu undangan. Jantungnya terasa berhenti di detik tersebut. Regina sudah menyerahkan satu momen penting dalam hidupnya untuk sebuah kebohongan besar. Air matanya memaksa untuk keluar, tapi dia tidak boleh menangis disini. Dengan susah payah Regina menggigit bibir bawahnya agar tak menangis.
Setelah ijab kabul, semua yang dilakukan Regina seperti sebuah potongan film yang dia tonton dari kejauhan. Prosesi adat yang dilakukan, pose-pose yang dipotret untuk diabadikan, ucapan-ucapan selamat dari banyak tamu undangan seperti tak nyata bagi Regina. Dia bahkan tidak ingat apa yang Gian bisikan padanya, doa apa yang Paman dan Bibinya ucapkan saat sungkeman, atau pelukan-pelukan dari rekan serta saudaranya.
Sampai saat dia harus berganti baju untuk kedua kalinya dia hanya menatap kosong cermin. Gaun putih dengan model long sleeve mermaid dress dengan bahan tulle dan lace yang menampilkan siluet rampingnya terasa asing untuk Regina. Padahal dia sendiri yang membuatnya, namun seperti orang lain yang memakainya.
__ADS_1
Acara masih berlanjut hingga pukul 4 sore, banyak tamu yang hadir untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama. Diantara para tamu undangan yang datang, banyak kerabat dan rekan kerja Gian maupun Regina yang hadir. Acara akan kembali berlanjut nanti malam, yang Gian susun untuk kolega bisnis Gian yang terbatas. Sampai saat itu tiba Regina tetap berada disana tersenyum, memeluk, dan mengucapkan terimakasih seperti robot yang sudah di program. Jiwanya sudah hilang terkubur entah dimana, jauh di dalam balutan busana yang cantik dan make up yang mempesona.