Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Punch Party


__ADS_3

Gian mengobrol bersama kenalan bisnisnya. Beberapa diantaranya adalah teman sekolah Gian, yaitu Jerry dan Radith yang kini melanjutkan bisnis keluarga dan juga menjadi investor. Gian memang tak punya sahabat akrab, tapi mereka saling mengenal dan kadang nongkrong bareng berbagi pikiran.


Alex menghampiri Gian dan rekan-rekannya yang sedang mengobrol. Alex juga salah satu kenalan Gian, mereka bersekolah ditempat yang sama ketika SMA. Sifatnya sangat berkebalikan dengannya, sehingga dia tidak bisa terlalu akrab.


Dibelakangnya dia dibuntuti seorang wanita yang berjalan kikuk. Setelah beberapa saat Gian mengenali sosok wanita tersebut. Dia yang berteriak di ruang meeting saat pitching, wanita emosional yang membuat suasana hatinya kesal hari itu. Si pebisnis amatir.


‘Dia.. si cewek kurang ajar. Siapa namanya kemarin? Renata? Revina? Dia datang sama Alex? Kok bisa?’ tanya Gian dalam hati.


“Nah kalau yang ini Gian, sepupu yang punya acara. Dia CEO Gavels sekarang.” Ucap Alex.


Wanita itu menghindari tatapan mata Gian, mengalihkannya ke lantai. Gian tidak ingin berkata apapun. Dia pasti sudah mendapatkan investor, buktinya dia datang dengan Alex hari ini. Atau dia dan Alex...


“Kamu belum ngasih ucapan ke yang ulang tahunnya. Kamu kan udah bawa kado.” Kata Regina bersuara.


“Oh iya. Sampe lupa ini acaranya siapa, saking banyaknya kenalan buat diajak ngobrol.” Kata Alex riang. “Gua tinggal dulu ya, guys.” Lanjutnya pada Gian dan rekan-rekannya.


Mereka kemudian pergi. Menghilang ke kerumunan untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Arsila.


“Gila si Alex, cewe yang mana lagi tuh? Perasaan beda sama yang dibawa kemaren ke acaran adek gua.” Ucap Jerry.


“Alah paling cuma diajak one night stand doang sama dia. Kaya biasa” Tambah Radith.


“Tapi yang ini yang mantep sih. Cakep dan body-nya.. uuuh.. mantep kayanya kalau lagi gituan.”


“Parah lu.”


“Jago juga ya si Alex dapet yang oke kaya gitu. Ketemu dimana dia?”


“Kaya model ya?”


“Pebisnis katanya, bro. Bukan cewek-cewek murah. Pantes oke nih. Kok mau sama si Alex ya? Kan Penjahat Kelamin tuh dia.”


“Kena tipu kali ya hahaha”


Boys will be boys. Sehebat apapun mereka, beberapa diantaranya pasti saat berbicara dengan temannya bercandaan mereka akan mengarah ke hal-hal cabul.


Gian diam mendengarkan tanpa berkomentar. Tak ada untungnya mengurusi hidup orang lain. Hidupnya saja sudah cukup bermasalah.


***


Alex dan Regina menyapa dan memberi selamat pada Arsila. Kemudian berbincang sejenak pada beberapa orang yang menyapa Alex. Rupanya Alex sangat terkenal dan berpengaruh.


Regina menyukai pesta ini, namun sayangnya satu hal yang mengganggunya adalah Gian. Kenapa dia harus bertemu dengan Gian. Dia hanya menatap Regina tanpa mengatakan apapun. Apakah dia sudah lupa dengan Regina? Tapi jika dilihat dari tatapannya dan cara diamnya jelas dia mengenal Regina, tapi tak ingin berurusan dengannya. Mungkin ini bagus juga. Dia bisa terus diam dan tidak membocorkan kejadian dulu.


“Champagne?” Kata Alex menawarkan minuman yang dibawa para pelayan.


“Ngga. Aku ga minum.” Regina menolak.

__ADS_1


“Serius? Hmm.. So you are that good girl type, huh?” Goda Alex.


“Not really. Cuma punya toleransi rendah sama alkohol aja. Aku pingin cari minuman yang lain.” Jawab Regina.


“Oke. Kalau gitu aku balik ke temen-temenku yang tadi ya. Disana.” Kata Alex menunjuk ke arah Gian dan teman lainnya yang berkumpul.


“Yup. Nanti aku nyusul.” Jawab Regina bohong. Dia tidak ingin kembali kesana dan bertemu Gian lagi.


Alex berlalu. Regina menjauh dari kerumunan dan duduk dipojok ruangan. Menonton penampilan penyanyi yang tak dikenalnya. Memesan mocktail yang diminum tanpa berselera. Regina tetap berada disana, mungkin lebih dari 30 menit.


***


“Mana cewe lu?”


“Lagi cari minum.” Jawab Alex.


“Sebulan berapa cewe yang lu pacarin?”


“Ga gua pacarin, Jer. Cuma fwb-an.”


“Anj#ng lu! Hahaha”


“Tapi yang ini susah gua deketin, bro. Seminggu gua deketin ga mau diajak kemana-mana. Giliran gua bilang mau gua kenalin ke pebisnis, mau deh dia.”


“Emang siapa sih dia? Ketemu dimana lu?”


“Terus lu tipu gitu bilang perusahaannya lolos pitching?”


“Kagak gua tipu, cuma gua kasih harapan palsu doang. Gua bilang kita sedang mempertimbangkan buat masuk program inkubasi. Padahal ya kaga  hahaha”


“Tol#l lu, anj#ng!” Kata Gian tiba-tiba menanggapi. Dia daritadi hanya diam mendengar pembicaraan cabul mereka, lama-lama membuatnya risih. Apalagi Alex bersikap dan bekerja tidak profesional menjalankan tugasnya. Jika Alex adalah karyawannya yang menggunakan jabatan untuk menipu orang lain, Gian tidak akan segan untuk memecatnya dan memenjarakannya.


“Santai, bro. Gua cuma pingin nge-room sama dia aja. Lu juga harusnya nyobain, Gi. Biar ga jomblo terus.” Kata Alex membalas. Menepuk-nepuk pundak Gian.


“Najis.”


“Ah sok suci lu, tol#l. Padahal siapa tau lu juga koleksi cewenya banyak.” Kata Alex sambil tertawa. “atau lu homo? Gua ga pernah liat lu sama cewe soalnya.” Lanjut Alex kemudian tergelak.


“Lu mau gua tonjok dimuka apa diperut? Atau mau gua tendang aja biji lu?” Balas Gian kesal.


“Santai santai. Bercanda doang, anj#ng!”


Mereka terus berbincang, tertawa, bercanda dan saling mengumpat layaknya seperti pemuda biasa di tongkrongan. Kadang-kadang juga membicarakan bisnis mereka. Tak lupa juga mereka minum-minum, mulai dari champagne, tequilla, ada juga yang meminum wiski. Semua disediakan di pesta Arsila.


“Gua mau tambah lagi.” Kata Alex yang sudah mulai oleng karena mabuk.


“Udah bro. Lu udah mabok.” Cegah Radith.

__ADS_1


“Gua ga apa-apa. Masih bisa lanjut.” Kemudian Alex terhuyung jatuh. Jerry dan Gian membantu Alex duduk kembali di kursi.


“Pulang aja lu sana!” Kata Gian.


“Gua masih kuat. Asliiii..”


“Kalau lu buat masalah diacara sepupu gua. Langsung gua hajar lu.” Lanjut Gian.


Gian kemudian pergi mencari Regina. Dia berkeliling diantara kerumunan manusia yang sedang menikmati acara. Kemudian menemukannya duduk sendiri dipojok ruangan, menonton keramaian. Gian menghampiri Regina, yang kaget melihatnya mendekat.


“Heh! Urusin tuh cowo lu. Cepetan suruh pulang. Udah mabok.” Ucap Gian.


Regina cepat-cepat berdiri dan pergi menemui Alex, tanpa mengucapkan apapun pada Gian. Sementara itu Gian mengekor dibelakang Regina dan memanggil pelayan untuk membantu membopong Alex keluar ballroom.


“Alex, lex, bangun.” Kata Regina mengguncang badan Alex yang terduduk di kursi.


Alex berdiri dan meraih pinggang Regina. Memeluknya dan mendekatkan wajahnya. Regina bisa mencium bau alkohol yang menyengat. Tangannya semakin erat mendekap. Dengan sekuat tenaga Regina menggeliat melepaskan diri.


“Apaan sih, Lex. Lepasin!!”


Cuupp.


Tanpa aba-aba Alex mencium bibir Regina. Refleks Regina menjauhkan diri dan menampar Alex hingga terjatuh. Tamparannya cukup keras hingga Alex hilang keseimbangan.


“Cewe b#ngsat! Jangan sok jual mahal lu!” Teriak Alex. Kemudian Alex bangkit dengan susah payah.


“Lex, udah lex.” Bujuk Jerry.


“Kalau ga ada gua, lu ga bakal kesini. Kenalan sama orang penting! Lu tuh cuma perempuan murahan yang ngurus perusahaan kecil aja ga becus. Lu pikir gua mau invest di perusahaan lu yang gagal itu? Ngga! Gua Cuma pingin make lu doang, anj#ng!!!” Teriak Alex. Para tamu mendengar keributan dan melihat berkumpul karena penasaran.


Regina yang masih kaget dengan perbuatan Alex hanya bisa terdiam mendengarkan ocehan dan teriakan Alex. Rasanya malu dan sakit mendengarnya. Ternyata Alex tidak berniat membantunya. Sedari awal dia hanya ingin mendekati Regina dan melecehkannya. Air mata turun ke pipi Regina. Dia mengira Alex orang yang baik, sesaat dia merasa bersyukur dipertemukan dengan Alex yang memperkenalkannya ke pebisnis kenalannya.


“Padahal kalau lu sama gua, lu cuma tinggal ngangkang aja. Gua kasih tuh dana buat perusahaan lu yang ga guna itu.” Lanjut Alex terus berteriak.


Semakin banyak orang berkumpul untuk melihat keributan tersebut.


Alex menepis tangan Jerry dan Radith yang menahannya. Kemudian dia maju ke arah Regina, mengepalkan tangannya hendak memukul Regina yang diam tak bergerak.


BUUGHH


Pukulan mendarat di wajah Alex, membuatnya terjatuh untuk kedua kalinya. Namun kali ini dia tak sadarkan diri. Hidungnya berdarah. Dia terkapar ditengah pesta.


“Gua udah bilang jangan bikin masalah diacara sepupu gua, tol#l!” Ucap Gian setelah memukul Alex. Dia memberi kode pada pelayan yang tadi mengikutinya untuk membereskan Alex.


Regina mematung dan shock dengan kejadian itu. Dia hampir tidak biasa memproses apa yang terjadi. Dilihatnya Alex sudah terkapar dilantai dan Gian berdiri diantara mereka.


“Keluar.” Ucap Gian pada Regina. Kemudian menggenggam lengan Regina, menyeretnya menembus kerumunan yang melihat keributan. Mereka keluar dari ballroom menuju koridor-koridor sepi hotel dan berjalan masuk ke lift. Turun ke bawah.

__ADS_1


 


__ADS_2