Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Cara Main Gian


__ADS_3

Arsila


[Gi, besok jadi nginep dirumah kakek, kan?]


Gian


[Iya. Besok gua bawa cewe gua. Siapin kamar buat dia]


Panggilan telepon masuk ke handphone Gian. Pasti Arsila sangat penasaran dengan maksud balasan chat dari Gian. Menatap layar handphone-nya, Gian hanya terkekeh.


“Apa?” Tanya Gian saat telepon mulai tersambung.


“Cewe apa? Siapa? Hah? Yang jelas dong infonya!” Kata Arsila menginterogasi.


“Sabar. Tenang. Tenang.”


“Tenang pala lu! Siapa yang lu maksud? Cewe apa nih?”


“Pacar gua lah.”


“ASLI LU PUNYA PACAR? DEMI APA LU?” Teriak Arsila.


“Iya beneran. Berisik lu ah.”


“BOHONG LU! SIAPA? DIBAYAR BERAPA DIA JADI PACAR LU?” Tanya Arsila. Sudah jelas kan kenapa Gian sangat berhati-hati untuk tidak melakukan pernikahan terlalu cepat. Pasti keluarganya tidak akan begitu saja percaya dia punya pacar.


“Enak aja dibayar. Besok tunggu aja. Nanti gua kenalin.”


Gian mematikan telepon. Berulang kali Arsila meneleponnya kembali namun Gian mengabaikannya. Bahkan hingga malam hari Arsila tetap meneleponnya dan membombardir chat Gian dengan banyak pertanyaan. Saking kesalnya akhirnya handphone dimatikan. Untunglah Arsila tidak memutuskan untuk tiba-tiba datang ke apartemennya. Dia sudah lelah bekerja hari ini dan ingin istirahat.


***


Sabtu siang Gian menjemput Regina di apartemennya. Baru kali ini Regina berkendara bersama Gian. Mereka sudah mempersiapkan skenario yang akan dimainkan di depan keluarga Gian. Bagaimana mereka bertemu, berapa lama kenal, bagaimana mereka bisa berpacaran, dan pertanyaan lain yang mungkin keluarga ajukan.


Regina mengenakan baju cukup santai dan rapi, kemeja baby pink, ditambah vest rajut berwarna putih dan kulot warna senada. Rambutnya digerai dan wajahnya mengenakan make up nuansa peach yang membuatnya terlihat segar. Dia juga sudah mempersiapkan tas berisi baju tidur dan long dress untuk acara lamaran Arsila. Tidak lupa Regina membawa buah tangan, mini pastry yang dibuatnya sendiri untuk terlihat mengesankan.


Sejujurnya Regina sangat gugup, seumur hidupnya dia tidak pernah bertemu dengan calon mertua. Hubungannya tidak pernah seserius itu bersama mantan-mantannya terdahulu.


Sama halnya seperti Regina, Gian juga yatim piatu. Maka tante dan omnya otomatis adalah mertua bagi Regina. Saat diceritakan tentang sepupu-sepupunya yang sukses, Regina sedikit cemas tidak bisa menyesuaikan diri.


“Tegang banget.” Komentar Gian saat mereka sedang melaju. Beberapa kali Regina terlihat menghela napas dan terlihat gugup.


“Iyalah. Aku belum pernah dikenalin gini ke keluarga orang, mantan-mantanku aja ga pernah. Apalagi sekarang aku harus ngebohong.”


“Kok ga pernah dikenalin ke keluarga mantan? Backstreet? Ga bener tuh mantan-mantan kamu.”


“Sok tau.” Jawab Regina galak. Gian hanya tertawa kecil.


“Santai aja. Keluargaku orangnya santai kok. Ya palingan banyak ditanya aja sih. Soalnya rare  occasion aku bawa cewe ke rumah.”


“Nah itu masalahnya. Lagian kamu aneh banget sih ga pernah pacaran. Kaya, ganteng, pinter. Kalau jadi kamu kayanya aku bakalan jadi playboy deh. Ga perlu tuh pura-pura kaya gini.”


Gian tertawa lepas menanggapi komentar Regina. Mungkin memang seharusnya seperti itu sejak dia muda. Tapi hingga sekarang pun Gian tidak pernah ingin pacaran atau tertarik pada siapapun.


Saat sampai dikediaman Gumelar yang sekarang ditempati oleh Arsila dan ibunya, mereka disambut oleh seluruh anggota keluarga. Mereka duduk di ruang keluarga yang sangat besar sambil menonton film dan memakan cemilan.


“Asli Gian bawa cewe. Gua kira bohongan loh, Sil.” Kata Lina saat melihat Gian dan Regina datang.


“Iya kan kak? Gua juga ga percaya pas si Gian bilang mau bawa cewe. Kirain halu doang karena stress disuruh kawin.” Komentar Arasila.


Regina diperkenalkan kepada seluruh keluarga, dimulai dari Tante Yuniar, Om Bayu, Tante Yudhita, Om Rahmat, Tante Esty, Arsila, Lina, Maya, Elsa dan Intan. Semuanya tampak antusias memberikan pertanyaan karena penasaran. Regina yang mengira akan canggung jadi lebih tenang setelah melihat reaksi mereka yang ramah dan ramai.


“Kamu beneran nih pacaran sama Gian?” Tanya Elsa.


“Iya beneran kok.” Jawab Regina.


“Kok bisa?”

__ADS_1


“Kok mau?”


“Dari kapan pacarannya?”


Pertanyaan terus berdatangan. Regina sampai pusing harus menjawab yang mana.


“Berisik banget sih kalian.” Protes Gian.


“Heh diem ya lu. Gua ga nanya sama lu!” Kata Elsa.


“Kita baru kok pacarannya. Hampir dua minggu gitu.” Kata Regina.


“Kok bisa? Kenalan dimana? Padahal Gian tuh susah banget kalau ketemu cewe. Pasti ada aja komentarnya.” Tanya Arsila heran. Padahal dia sudah mengenalkan banyak wanita kepada Gian selama 3 bulan. Tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Namun tiba-tiba Gian membawa seorang wanita ke pertemuan keluarga. Arsila penasaran dengan cerita mereka.


“Emm.. jadi sebenernya, awalnya aku sering ikut seminarnya Gian soal investasi, bisnis, gitu. Aku suka dan sempat ngobrol dan tanya-tanya pas acara selesai. Terus follow Instagram-nya Gian. Beberapa kali kirim pesan dan caper, tapi ga pernah di notice...” Jelas Regina.


“Terus, terus?”


“...Beberapa kali juga ketemu lagi pas acara resmi kantor. Kayanya dari sana sih Gian jadi tahu aku. Familiar gitu. Sampe pas acaranya Kak Arsila..”


“Hah? Kamu ke pesta aku? Jangan-jangan kamu cewe yang sama Alex ya?” Potong Arsila.


“Iya.”


“Oh ini loh cewe yang bikin Gian jadi ribut di acaraku, yang aku ceritain itu loh Ma.” Lanjut Arsila excited kepada ibunya.


“Bikin ribut? Si Gian?” Tanya Lina tak percaya.


“Iya loh, kak. Si Gian tiba-tiba nonjok si Alex sampe pingsan. Terus keluar gitu dan ga balik sampe acaraku beres.”


“Habis itu kalian deket?” Tanya Lina pada Regina.


“Ya gitu. Kita jadi deket dan chatting-an, jalan, dan  ya gitu lah kak..” Kata Regina malu-malu. Ya, semua cerita ini sudah mereka susun sebelumnya. Tidak sepenuhnya bohong. Mereka memang kenal saat acara resmi perusahaan, ketika pitching. Regina juga mem-follow sosial media Gian dan mengirim pesan padanya meskipun tak dibalas. Mereka juga bertemu di pesta Arsila. Kenyataan bahwa Gian bersikap tak masuk akal hari itu membantu skenario pertemuan mereka terlihat sangat meyakinkan.


“Gua udah ada feeling sih, pas si Gian tiba-tiba bikin keributan dan katanya belain cewe. Nih pasti ada apa-apa. Ngaku lu?” Kata Arsila kapada Gian. Gian yang dari tadi diam saja hanya mendelik dan mengejek pada Arsila.


Pembicaraan perempuan yang tidak bisa diikuti membuat Gian, Om Bayu dan Om Rahmat menyingkir sendiri. Mereka berada diruangan lain membicarakan bisnis, bola, otomotif, dan hal-hal yang tidak perempuan mengerti.


Mereka makan malam bersama dan saling mengobrol juga bercanda. Regina merasa nyaman dan senang karena semua keluarga Gian sangat baik padanya. Hingga rasanya Regina memang akan jadi bagian diantara mereka.


...***...


Gian


[Keluar sebentar, aku mau ngomong.]


Regina


[Yaudah ngomong di chat aja. Ngapain sih? Udah malem tau!]


Gian


[Cepetan! Jangan banyak tanya!]


Dengan enggan Regina keluar dari kamar tamu yang berada di lantai 2 menuju ke dapur. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Sudah tidak ada aktivitas dari orang-orang di rumah.


Gian sedang duduk menunggu di kursi bar dapur. Coklat hangat sudah tersedia disana untuk Regina. Meskipun Regina sudah kenyang dan tidak ingin memakan atau meminum apapun, dia tetap mengambilnya untuk menghargai Gian. Mereka kemudian duduk bersebelahan.


“Gimana keluargaku?” Tanya Gian sambil sesekali meminum kopi dari cangkirnya.


“Baik. Rame. Aku suka. Kirain bakal canggung, ternyata mereka asyik banget.”


“Baguslah.”


“Gimana? Acting-ku juga bagus kan?” Kata Regina memelankan suara. Senyum merekah dari bibirnya.


“Yaa. Lumayan.”

__ADS_1


Regina terus menceritakan kembali apa yang tadi siang dibicarakannya dengan sepupu dan tante-tante Gian kepada Gian. Dia seperti anak kecil yang sedang mengadu. Terlihat bersemangat dan senang dengan teman-teman baru. Gian hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi. Dia tidak banyak bicara, seperti sedang memikirkan sesuatu.


“...terus ya aku kagum banget sama Tante Yudhita. Dia mengabdikan diri jadi penyuluh pertanian, ke daerah-daerah. Kadang ninggalin suami dan anak-anaknya buat kerja. Pasti berat tapi keren banget.” Kata Regina menjelaskan. Gian menangguk-angguk setuju.


Coklat hangat dicangkir Regina sudah habis, tak terasa dia sudah cerita begitu banyak. Mungkin sudah hampir 15 menit mereka disana.


“Jadi kamu manggil aku kesini buat ngomong apa sih? Malah jadi aku yang daritadi ngomong.” Kata Regina teringat saat melihat coklat hangat dicangkirnya habis


“Emmm..”


“Apaan? Kamu mau ngomong apaan?”


“Ga jadi deh.”


“Dih, aku udah kesini juga. Tau gitu aku tidur daritadi. Besok kan harus nyiapin acara lamaran Kak Arsila pagi-pagi. Kamu ga jelas banget tau ga?!” Protes Regina.


Regian berdiri dari tempat duduknya. Membawa cangkirnya menuju kitchen sink untuk mencucinya. Gian juga mengikutinya. Saat Regina berbalik, Gian menutupi jalan. Berdiri dihadapan Regina.


“Awas!” Kata Regina menyingkirkan Gian. Sayangnya Gian terlalu kuat.


Bukannya menyingkir Gian malah semakin mendekati Regina dan memojokkannya hingga tubuh Regina menempel di kitchen sink. Dengan satu tangannya Gian memegang kepala belakang Regina hingga dia mendongak keatas. Tiba-tiba Gian menautkan bibirnya dengan bibir Regina, lembut. Kaget dengan ci*man Gian, dia berusaha melepaskan diri. Mencengkram lengan Gian. Dia bisa merasakan bisep dilengan Gian yang memegang belakang kapalanya. Gian melepaskan bibirnya sejenak, memberi Regina waktu bernapas. Kemudian dengan cepat mulai ********** lagi, diawali dengan pelan dan lembut hingga berubah agresif. Regina bisa merasakan aroma kopi yang diminum Gian dimulutnya. Tangan yang lainnya berada dipinggang Regina, kemudian bergerak masuk ke atasan piyama. Gian bisa merasakan kulit punggung Regina. Jemarinya berhenti dikatian br* Regina. Dengan putus asa, tangan Regina yang lain pun mencengkram lengan Gian. Tapi tak ada yang berhasil menjauhkannya dari tubuhnya.


Dengan sentakan tiba-tiba Gian melepaskan bibir dan tangannya dari tubuh Regina. Memberi Regina ruang. Napasnya memburu karena ci*man Gian yang intens. Selama beberapa detik setelah Gian melepaskannya, Regina hanya diam saja dengan pandangan marah. Sebelum sempat menyerang Gian, terlebih dahulu Gian menangkap kedua tangan Regina yang bersiap memukulnya. Menautkan keduanya ke sisi kitchen set. Gian mensejajarkan dirinya hingga Regina bisa melihat wajah Gian tepat didepannya.


“Kamu ngapain?” Desis Regina marah.


“Aku lagi pingin aja. Kenapa? Marah? Aku ga ngelanggar perjanjian kita, kan? Ciuman dan pelukan doang?” Ucap Gian sambil tersenyum.


“Lepasin gak?” Kata Regina.


Gian melepaskan kedua tangan Regina dan mundur beberapa langkah. Dengan cepat Regina mendorong Gian dan berlari menuju kamarnya.


Dikamar dia mencoba menenangkan diri dan meredam kemarahannya. Rasanya ingin menampar wajah Gian saat itu juga. Tapi dia tidak bisa. Regina kalah cepat dan kuat. Apalagi hal seperti ini juga sudah disetujui olehnya dalam perjanjian. Tapi Regina tidak menyangka Gian akan seagresif itu.


...***...


Sejak pagi saat sarapan Regina sangat ingin menghindari Gian. Dia masih marah dengan apa yang dilakukan Gian tadi malam. Tapi Regina tidak bisa melakukannya. Sepanjang hari itu dia harus berakting agar terlihat seperti kekasih bersama Gian.


Dia mengambilkan makanan untuk Gian, merapikan bajunya, dan terus duduk berdekatan menempel dengan Gian. Padahal kenyataannya dia sangat ingin menonjok mukanya.


Acara lamaran Arsila dimulai pukul 10 pagi. Keluarga sudah datang dan duduk di ruang tamu. Sekitar 10 orang mengantar Darius. Para tetua saling berbincang. Keluarga Gian diwakilkan oleh Om Bayu dan Om Rahmat.


Makanan banyak tersedia di meja-meja ruang tamu dan ruang tengah. Sejak pagi catering berdatangan mengantarkan camilan dan makanan berat untuk makan siang yang dipesan untuk acara ini.


Arsila dan Darius bertukar cincin. Kemudian keluarga saling membicarakan tentang tanggal baik untuk pernikahan keduanya. Setelah diputuskan mereka akan menikah sekitar 6 bulan sejak lamaran hari ini.


Memasuki jam makan siang semuanya menyantap makanan yang telah disediakan. Sambil berbincang dan tertawa. Regina sejenak melupakan rasa marahnya dengan ngobrol bersama keluarga Gian dan keluarga Darius. Mereka semua ramah dan menyenangkan bagi Regina.


Sekitar pukul 4 sore, keluarga Darius pulang. Begitupun dengan Regina. Sepupu Gian saling bertukar kontak dengannya. Berjanji akan menghubungi atau mengajaknya makan siang suatu hari. Regina akhirnya pamit dari sana.


Selama berada di mobil, Regina menutup rapat mulutnya. Dia bahkan memalingkan wajahnya dan hanya menatap jendela serta pemandangan diluar.


“Kamu masih marah?” Tanya Gian memecah keheningan.


“Menurut kamu?” Regina bertanya balik dengan galak.


“Ya menurutku kamu ga usah marah.” Jawab Gian santai. Regina menatap Gian dan mendelik.


“Aku bilang kan aku ga melanggar perjanjian. Itu masih dibolehin kan?”


“Buat apa kaya gitu? Ga perlu kan?”


“Perlu. Ikutin aja cara mainku dan diem aja.” Pungkas Gian tegas.


Setelah itu tak ada kata-kata lagi dari mereka. Regina sampai di apartemennya dan masih menumpuk kemarahannya. Sementara Gian pulang, tenggelam dalam pikirannya sambil melanjutkan perjalanan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2