Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Starting to Bloom


__ADS_3

Pernyataan cintanya kepada Regina semalam masih membuat dirinya sendiri tidak percaya. Selama hidupnya tak pernah dia menyatakan perasaan pada seorangpun. Kenapa Regina? Kenapa harus dia? Tak ada jawaban untuk pertanyaannya tersebut. Sebagai seorang investor handal dia selalu tahu perusahaan mana yang potensial untuk menanamkan modal. Dia bisa menganalisis dengan mudah kelebihan dan kekurangan suatu perusahaan. Tapi saat berhadapan dengan perasaannya, dia jadi tak tahu arah kebenaran. Apakah ini hubungan yang potensial? Apakah Regina pasangan yang tepat dan potensial? Dia tidak tahu jawabannya.


Gian banyak di dekati wanita yang lebih cantik, lebih menarik, lebih sukses, lebih baik, dan banyak kelebihan lain dibandingkan dengan Regina. Tapi tak ada satupun yang membuat hatinya tergerak seperti yang dia rasakan pada Regina. Perasaannya nyaris seperti sebuah obsesi yang tidak bisa dia hentikan.


Entah bermula sejak kapan. Apakah dimulai saat pertama kali bertemu dengannya ketika pitching? Regina membuat Gian kaget dengan kemarahannya, membuat dirinya mudah diingat. Atau ketika dia datang bersama Alex dipesta Arsila? Membuatnya untuk pertama kali perlu melindungi gadis itu. Mungkinkah saat dia datang ke kantornya dengan basah kuyup kemudian memeluknya? Membuatnya bersimpati pada kesulitannya. Bisa jadi saat pertama kali menciumnya saat berada di rumah kakeknya? Membuatnya merasakan sensasi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Gian tidak bisa menentukan kapan dia merasakahan perasaan yang berbeda pada Regina. Mungkin saja perasaan itu pelan-pelan muncul karena pertemuan-pertemuan mereka setiap hari selama 6 bulan terakhir ini.


Hal yang sangat jelas bagi Gian saat ini adalah, dia terus memikirkan Regina hingga rasanya dia sudah tak waras. Mengatakan pada Regina tentang perasaannya tak membuatnya menjadi serta merta merasa tenang. Namun rasanya seperti semakin tak terkendali. Mereka sudah bertemu tadi pagi, dia sudah memeluknya dan merasakan kehangatan tubuh mungil Regina yang membuat hatinya tak karuan. Dia juga sudah mengubur wajahnya dirambut Regina dan menghirup banyak-banyak wangi shampoo yang membuat perasaannya menggila. Tapi semua itu belum cukup. Saat ini dia ingin melihat Regina lagi, melihatnya terus, melihatnya selamanya.


[Gian]


Kamu lagi ngapain?


[Regina]


Ya kerja lah kalau jam segini. Kenapa sih? Tumben nge-chat aku. Kamu gabut?


[Gian]


Ga gabut kok. Aku lagi meeting. Aku kangen, pingin lihat kamu.


Regina tidak bisa menahan senyumnya membaca pesan dari Gian. Perasaan aneh muncul di dadanya. Dia salah mengira bahwa Gian hanya membuat perasaannya nyaman dan terlindungi. Laki-laki itu juga sekarang sudah berhasil membuat perasaanya meletup-letup seperti kembang api. Berapapun umurnya sekarang, dia merasa kembali seperti gadis SMA yang tersenyum-senyum sendiri menerima pesan dari kekasihnya. Jatuh cinta membuatnya merasa kembali muda.


Tidak ada balasan lagi dari Regina. Gian menutup handphone-nya dengan kecewa, kemudian memperhatikan presentasi dari Daud, salah satu staffnya yang menangani investasi dibidang F&B. Semua hal rasanya jadi tidak begitu menarik bagi Gian. Kenapa dia dulu sangat terobsesi dengan pekerjaannya ya? Padahal semuanya membosankan. Dia ingin segera pulang dan bertemu Regina. Sepertinya benar kalau Regina adalah sejenis virus yang sudah menjangkiti otaknya dengan parah.


[Regina]


*Mengirim Foto*


Handphone Gian bergetar. Cepat-cepat dia membukanya. Setelah melihat foto selfie yang dikirimkan Regina untuknya, senyum terkembang dibibirnya. Dia tidak bisa berhenti tersenyum melihat layar handphone-nya. Melihat foto Regina yang cantik membuat hatinya berbunga. Tanpa dia ketahui orang-orang di ruang meeting sedang memperhatikannya yang dari tadi tersenyum menatap layar handphone.

__ADS_1


“Pak Gian.” Panggil Gita, salah sekretarisnya. Gian kemudian tersadar dengan tatapan orang-orang yang ada di ruang rapat mengarah padanya. Dengan canggung dia berdeham.


“Sorry saya kurang fokus. Jadi gimana kelanjutannya?” Kata Gian mulai menguasai dirinya kembali.


Rapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Gian kembali fokus pada pekerjaannya setelah distraksi menyenangkan dari Regina. Dia tidak boleh seperti ini. Dia harus tetap profesional.


...****************...


Seharian ini pekerjaan Gian sangat banyak karena dia tidak ke kantor selama 2 hari saat menemani Regina di rumah sakit. Padahal dia sudah ingin pulang dan bertemu Regina. Selama bekerja, dia juga menahan diri untuk tidak menghubungi Regina karena takut akan membuat pikirannya teralihkan. Semua hal ini menyiksanya.


Pintu ruangannya di ketuk dari luar, kemudian seseorang masuk. Gian masih menatap dokumen-dokumen dan sedang menandatanganinya. Tak sempat menatap siapa yang masuk ke ruangannya.


“Dokumennya lagi saya tanda tangan. Laporannya saya nanti email ke kamu dan koordinasi sama tim accounting—“ Kata Gian mengoceh.


“Kamu masih sibuk ya, Gi?” Kata Regina menghampiri. Gian kemudian mengarahkan pandangannya pada orang yang masuk ke ruangannya. Ternyata orang itu adalah Regina.


“Kok kamu ke sini sih?” Kata Gian sumringah.


“Aku ga akan lama kok.” Balas Gian menekan nomor ekstensi sekretarisnya.


“Dokumennya udah saya tanda tangan.” Katanya ditelepon. Sekretaris Gian masuk ke ruangan kemudian mengambil dokumen yang sudah ditanda tangani.


“Laporannya saya submit sendiri. Kamu pulang aja. Saya yang kirim notice ke accounting.”


“Baik, Pak. Selamat Sore.” Kata Mira. “Sore, Bu.” Lanjutnya tersenyum ramah pada Regina, setelah itu keluar dari ruangan Gian.


Regina kemudian duduk di kursi dihadapan meja Gian. Memperhatikannya sibuk bekerja. Gian mencoba tidak peduli dengan Regina, dia memfokuskan mata dan pikirannya pada laporan yang harus diselesaikannya.


“Kamu sebenernya kesini mau gangguin aku kerja, kan?”  Kata Gian yang matanya masih terpaku pada layar komputer. Regina tersenyum dan mengangguk menyetujui. Gian pasti lembur setelah tidak masuk kerja beberapa hari, Regina tidak ingin pulang ke rumah sendiri dan kesepian. Makanya dia datang ke kantor Gian, memaksanya agar pulang lebih awal.

__ADS_1


“Aku ga konsentrasi.”


“Tujuan aku emang buat itu kok.”


Gian tergelak. Kemudian menarik napas panjang dan kembali bekerja. Selama lebih dari 10 menit mereka tidak saling berbicara. Jari Gian sibuk di keyboard dengan mata tertuju pada komputer. Sementara Regina terus menatap Gian. Menganggumi wajah laki-laki di depannya yang dengan serius bekerja.


“Kamu kalau lagi kerja kelihatan keren.”


“Kalau lagi ga kerja?”


“Nyebelin. Soalnya suka ngeledekin aku.”


Gian hanya membalasnya dengan senyuman lebar. Regina bangkit dari tempat duduknya, mendekati Gian. Dia menyingkirkan tangan Gian dari keyboard-nya, menggeser kursinya kebelakang. Kemudian duduk dipangkuan Gian. Laki-laki itu hanya diam, kaget dengan apa yang dilakukan Regina.


“Katanya kangen dan mau lihat aku. Aku udah disini tapi di diemin.” Kata Regina menggoda Gian. Dia menempelkan keningnya ke kening Gian dan menatap laki-laki itu.


“F*ck!” Erang Gian kesal.


Gian merengkuh wajah Regina, dengan cepat menautkan bibirnya. Regina terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Gian. Ini bukan seperti yang diharapkannya. Bibir Gian bergerak ingin tahu, membuka bibir Regina dengan perlahan. Sapuan lidahnya membuat kaki Regina lemas, mengirimkan sinyal bahaya ketubuhnya. Setiap sentuhan bibir Gian, rasanya sangat berbeda. Entah karena sekarang dia tahu laki-laki itu juga memiliki perasaan padanya juga. Tapi kali ini sentuhannya menggelitik perutnya. Seperti kembang api yang diledakkan disana. Seperti kebiasaan Gian, dia selalu menghentikannya ditengah jalan. Memberi Regina waktu untuk mengambil napas. Kemudian dengan cepat melakukannya lagi, dari awal, pelan kemudian semakin intens. Tiga kali, empat kali, Regina semakin tenggelam dan tidak bisa mengendalikannya. Hanya mengikuti apa yang Gian perintahkan lewat sentuhan-sentuhan bibir dan lidahnya. Regina benar-benar menyesal mencoba menggoda Gian. Akhirnya dia mendorong tubuh Gian agar berhenti. Napasnya memburu tak karuan.


“Aku lagi kerja. Makanya jangan gangguin. Aku pusing lihatnya.” Kata Gian santai.


“Ya udah aku diem.” Kemudian Regina bangkit dari pangkuan Gian. Berjalan dengan kesal ke arah sofa dan berbaring disana. Selama Gian sibuk menyelesaikan pekerjaannya, Regina hanya memainkan handphone dan tertawa sendiri melihat postingan lucu di internet.


“Ayo pulang!” Kata Gian berdiri di dekat sofa. Dia sudah bersiap untuk pulang. Sementara Regina masih berbaring dan bermalas-malasan di sofa.


“Makan dulu yuk!” Kata Regina kemudian berdiri dan memunguti tas dan blazernya yang terserak sembarangan di sofa.


“Mau makan apa?”

__ADS_1


“Ramen.” Blas Regina sambil tersenyum. Gian mengangguk menyetujui.


Kantor sudah gelap saat mereka keluar ruangan kerja Gian. Mereka berjalan menuju lift sambil saling merangkul. Gian merasakan sensasi aneh saat berjalan menyusuri kantor yang sepi dengan Regina. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasa senyaman ini saat pulang setelah menyelesaikan pekerjaan. Tapi saat merangkul Regina, mendengarnya tak berhenti berbicara disampingnya, rasanya seperti musim semi tumbuh dihatinya. Bahkan bulan diluar yang cahayanya menyelinap ke kaca lorong kantornya terasa sangat indah. Jadi seperti ini ya rasanya jatuh cinta?


__ADS_2