Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Kesempatan kedua


__ADS_3

Sudah 2 minggu berlalu semenjak pitching dengan Gavels. Selama itu pula Regina terus mengawasi postingan social media Gian. Hanya ada 2 postingan terbaru, tentang update dunia investasi. Tak ada yang aneh disana. Regina yang awalnya berniat meminta maaf lewat social media, mengurungkan niatnya. Dia berpikir bahwa Gian juga salah, dia sudah berkata tidak sopan dan meremehkannya.


Fadli dan Maya datang ke ruangannya pagi-pagi dengan wajah ceria.


“Bu Rere, udah baca email?” Tanya Fadli tanpa basa-basi.


“Belum. Aku masih meriksa laporan keuangan bulan lalu. Why?”


“Liat deh, saya udah forward-in sesuatu.”


“Ada apa sih mesam-mesem gitu?” Tanya Regina sambil tertawa melihat Fadli dan Maya. Kemudian Regina membuka laman e-mail dan menemukan pemberitahuan undangan pitching yang di forward oleh Fadli.


“Ini serius? Proposal kita tembus buat pitching lagi? PZ Ventures?” Kata Regina kaget. Setelah kegagalannya di Gavels, dia tidak menyangka akan diberikan kesempatan lagi di PageZero Ventures. Rupanya masih ada yang mau melirik perusahaannya.


‘Ternyata cowo nyebelin itu gak nyebarin gossip aneh-aneh ke sesama investor ya’ Batin Regina.


“Tadi saya juga dapat telepon untuk meminta konfirmasi kehadiran perwakilan perusahaan di jadwal yang sudah ditentukan.” Kata Maya.


“Iya, konfirmasi saja, May. Aku pasti kesana kok.” Regina ikut senyam-senyum tidak jelas seperti Maya dan Fadli.


Seharian itu Regina mempersiapkan presentasinya. Dia juga meyakinkan dirinya untuk jangan bertindak emosional saat pitching nanti. Perusahaannya memang kacau dan dia adalah pemimpin amatir yang tidak tahu apa-apa soal bisnis. Meskipun ragu PZ Ventures akan memberikan investasinya, Regina harus meyakinkan mereka untuk mengikutsertakannya kedalam program inkubasi perusahaan.


Regina menjadi seratus kali lebih bersemangat hari ini, setelah menelan kekecewaan saat kejadian bersama Gian. Dia juga was-was setiap hari, sangat takut jika kejadian tersebut akan membuat nama perusahaannya tercemar dimata para investor.


 


***

__ADS_1


Gian berangkat ke kantornya lebih pagi, takut kalau diperjalanan terjebak macet. Pasalnya hari ini dia harus menghadiri rapat direksi. Ada hal yang membebaninya untuk menghadiri rapat ini. Posisi Gian di Gavels masih mengambang. Belum ada keputusan mengenai siapa yang akan menggantikan kakeknya menjadi CEO. Orang-orang itu pasti butuh bukti konkrit bahwa Gian lah penggantinya. Pak Narta tetap kuat menjalankan tugasnya mengikuti surat wasiat kakek. Dia tidak akan menyerahkan ataupun mengumumpkan kepada anggota direksi sebelum Gian menikah.


Sebenarnya anggota direksi tidak tau prakondisi yang menghalangi Gian untuk menjadi CEO. Pak Narta hanya memberitahukan bahwa keputusan untuk mengumumkan penerus Gavels masih menjadi bahan diskusi keluarga. Selama hampir 4 bulan ini mereka tidak sering bersuara dan mempertanyakan. Namun jika terlalu lama dan mengulur waktu, kepercayaan mereka pada Gian akan menurun. Mereka akan menganggap sebenarnya Gian bukanlah orang yang ditunjuk Gumelar untuk menggantikannya.


Rapat kali ini dihadiri oleh 14 anggota direksi, berasal dari keluarga konglomerat dan pebisnis rekan kakeknya. Om Bayu yang merupakan wakilnya pun hadir. Dirapat kuartal perusahaan kali ini Gian merasa sangat ciut dan tidak berdaya.


Rapat berjalan lancar selama 3 jam. Banyak hal yang dibahas mengenai perusahaan terutama growth dan stategi mereka kedepannya. Perkembangan Gavels selama kepemimpinan Gian bagus dan melebihi ekspekatasi. Gian mengira itu saja sudah cukup, namun ternyata tidak.


“Saya ingin membahas ini karena sampai sekarang tidak ada yang membicarakannya.” Sela Pak Sunaryo saat mencapai akhir pertemuan mereka. “Saya belum mendapatkan pemberitahuan apapun mengenai ahli waris dan penunjukan pemimpin perusahaan dari kuasa hukum Pak Gumelar.” Lanjutnya. Pak Sunaryo adalah salah satu pemegang saham, laki-laki yua berusia 57 tahun yang sangat ambisius.


That’s it!


Seru Gian dalam hati, dia sudah menantikan dan membayangkan ada orang yang akan membicarakan posisinya sebagai penerus di rapat ini. Meskipun tahu hal ini akan ditanyakan, tetap saja Gian tidak siap untuk menjawabnya.


“Saya juga masih menunggu bagaimana keputusan tersebut.” Tambah yang lain.


“Kami bukan hanya menghargai kinerja, tapi kami juga melihat siapa yang akan memimpin perusahaan ini nantinya.”


“Kalau begitu saya sarankan Anda untuk memberikan solusinya. Kuasa hukum kakek sudah memberitahukan 6 bulan setelah pembacaan surat wasiat, keputusan mengenai siapa yang akan melanjutkan Gavels akan diberikan. Jika saat ini Anda ingin jawaban dan kepastian dari saya. Maka saya tidak akan memberikan Anda apapun.” Kata Gian tegas. Semua orang dalam ruangan diam.


“Jika siapa yang memimpin bagi Anda sangat penting lebih dari kinerja dan pertumbuhan perusahaan yang kita dapatkan sekarang, saya jadi bertanya apakah Anda sudah memiliki calon lain untuk memimpin Gavels selain saya?” Lanjut Gian menatap lekat satu persatu anggota direksi. Giant sadar dia tidak memiliki kekurangan apapun untuk memimpin perusahaan ini. Dia tahu bahwa dirinya cerdas, kompeten, dan ambisius. Laporan pertumbuhan perusahaan akan berbicara sendiri mengenai fakta tersebut.


Ruangan hening, beberapa orang menundukan kepalanya. Tak mampu menyela. Sebagian dari mereka memang memiliki nama lain selain Gian yang mereka anggap sebagai calon pemimpin Gavels, yaitu Bayu. Mereka masih menganggap Gian masih hijau, masih muda untuk memimpin perusahaan besar tersebut. Kinerja dan karakter Gian yang kuat membuat mereka terkesan, namun bisnis juga butuh orang berpengalaman untuk mengaturnya. Gian masih kekurangan jam terbang dibandingkan Bayu. Maka dari itu suara mengenai siapa yang cocok berada di posisi pemimpin bercabang, ada yang memilih Gian dan adapula yang menginginkan Bayu.


Rapat berakhir dengan muram. Setelah anggota direksi pergi meninggalkan ruangan, Gian dan Bayu belum beranjak dari tempat duduknya.


“Kalau kamu pikir dengan mengatakan hal kaya tadi bikin mereka memihakmu, kamu salah. Justru mereka bakal makin mikir kamu masih muda dan terlalu sensitive.” Kata Bayu membuka pembicaraan.

__ADS_1


“Aku ga menanggapi mereka dengan sensitive, hanya memperjelas aja dimana posisi suara mereka.” Balas Gian.


“Gi, Om bukan musuh kamu. Seandainyapun Om menginginkan posisi kamu saat ini, semuanya akan dilakukan dengan jujur dan bermartabat. Bagaimanapun mereka adalah kumpulan orang tua yang masih berpikir konvensional. Mereka menganggap anak muda tanpa pengalaman hanya bocah yang pamar dan sok pintar. Kamu harus dapat kepercayaan mereka, bukan menyerang mereka.”


“You’ve lost your calm, pull your **#* together!” Pungkas Bayu kemudian meninggalkan Gian sendirian di ruangan.


F#ck!!


Gian mengutuki dirinya sendiri. Semua yang dikatakan oleh Bayu memang masuk akal dan Gian membenarkan bahwa dia telah kehilangan ketenangannya menghadapi masalah ini. Rasanya tidak ada yang bisa dia kendalikan, dia juga benar-benar buntu. Gian harus menikahi seseorang demi mendapatkan haknya sebagai ahli waris dan memimpin Gavels, benar-benar ide paling gila yang dilakukan kakeknya.


Sekejap Gian ingin menyerah dan membiarkan semua haknya hilang begitu saja. Tapi hatinya tidak rela, dia ingin memperjuangkannya. Dia harus segera mencari istri bagaimanapun caranya. Jika perlu dia akan melakukan nikah kontrak demi mendapatkan harta warisan dari kakeknya.


***


Regina selesai mempresentasikan perusahaannya di depan perwakilan PZ Ventures. Alex Mahendra Putra, adalah salah satu anak dari keluarga Mahendra pemilik PZ Ventures, yang hari ini menjadi perwakilan untuk pitching bersama Regina. Kesan yang diberikan oleh Alex kepada Regina cukup positif. Tidak seperti Gian yang menunjukan ketidaktertarikan terhadap presentasi Regina dan perusahaannya, Alex justru mendengarkan dan memberikan responnya. Regina jadi merasa lebih nyaman berbicara.


Regina belum yakin 100% akan mendapatkan kabar baik untuk kerjasama, namun kali ini dia bersikap baik. Tentu saja pasti ada pertimbangan lain agar perusahaan Regina paling tidak masuk ke dalam list program inkubasi. Alex menyambut ide tersebut dan mengatakan akan mendiskusikannya.


“Saya akan mendiskusikan mengenai bagaimana kelanjutan kerjasama kita dengan pihak lain di perusahaan. Tentunya saya tidak bisa memutuskan ini sendiri.” Kata Alex ramah.


“Terimakasih sudah mempertimbangkan dan memberikan kesempatan.” Balas Regina riang.


“Jika berkenan apakah saya boleh meminta kontak personal Bu Regina? Mungkin saya nanti akan membutuhkannya jika ada hal yang ingin saya tanyakan untuk jadi bahan pertimbangan kami.”


“Oh ya. Silakan.” Regina memberikan nomor teleponnya, dan saling bertukar kontak. Mereka mengobrol ringan dan berbasa-basi setelah pitching selesai. Hari ini sangat menyenangkan bagi Regina, rasanya dia punya harapan lagi. Sikap baik Alex membuatnya merasa optimis.


 

__ADS_1


 


__ADS_2