Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Lamaran


__ADS_3

“Bu Rere, saya minta penjelasan!!!” Ucap Maya pagi-pagi saat Regina baru tiba di ruangan kantornya.


“Penjelasan buat..?” Tanya Regina pura-pura bingung. Dia tahu apa yang ingin Maya ketahui darinya. Pertanyaan besar kenapa Gian datang ke kantornya hari Jumat lalu, dan penjelasan mengenai foto Gian yang dia posting di social media.


“Inii, ini…” Kata Maya sambil menunjukan foto Gian yang Regina unggah. “Bu Rere, pacaran sama Gian Hadian Airlangga?” Lanjutnya dengan ribut.


Regina menjawabnya dengan senyuman.


“Kok bisa, Bu? Aaaaaa Selamaaaaat!!! Saya iri tapi ikut seneng! Saya kan yang ngefans-nya, Bu! Malah Bu Rere yang pacarannya.” Maya tidak bisa berhenti mengoceh dan memberinya pertanyaan. Regina hanya mendengarkan dan menjawab seperlunya sambil tersenyum.


“Pasti ini juga yang ngirim Pak Gian ya?” Kata Maya menunjuk Bunga Anyelir merah yang sudah ditempatkan di vas berisi air di atas lemari dokumen Regina. “Tadi ada yang ngirim bunga ini buat Bu Rere, tapi ga ada nama pengirimnya. Pasti dari Pak Gian, kan?” Lanjutnya riang.


“Gak tau.” Jawab Regina bingung. Mungkin iya itu dari Gian. Dia mungkin melakukan hal-hal seperti itu untuk bersandiwara dan membohongi banyak orang, termasuk rekan-rekan Regina di Edmode. Regina mengabaikannya, dia tak mau ambil pusing apa yang ingin dilakukan oleh Gian.


“IIh udah ganteng, romantis juga. Sumpah aku iri loh, Buuuu. Pokoknya aku dukung kalian sampe sah.”


“Oh soal itu. Saya mau izin ga masuk kerja hari Kamis dan Jumat. Soalnya saya ada acara keluarga akhir minggu ini. Kalau ada yang urgent, kirim aja lewat email ya. Saya tetep pegang laptop kok.” Kata Regina.


“Jangan-jangan Bu Rere mauu.. “ Ucap Maya menggoda.


“Iya, saya hari sabtu mau lamaran.” Balas Regina santai.

__ADS_1


“WHAAAAATT??!! Baru kemarin ketauan pacaran, minggu ini udah mau lamaran aja. Iiih Bu Rere sama Pak Gian sat set sat set gitu yaa. Mantap Keren banget!” Maya semakin ribut setelah mendengar kabar lamaran dari Regina.


“Jangan ribut dan jangan siapa-siapa dulu ya sebelum acaranya beres.” Pinta Regina.


“Siap, Bu! Maya bisa jaga rahasia!”


...*** ...


Regina sudah memesan tiket kereta dari Stasiun Gambir ke Bandung pukul 6.40. Dia tidak ingin menyetir sendiri ke Bandung. Pamannya pun tak pernah mengizinkannya menyetir mobil jika pulang, lebih baik naik kereta dan beristirahat selama perjalanan dan akan lebih aman jika berangkat menggunakan kereta. Gian sudah menawarkan untuk diantar supirnya ke Bandung, namun Regina menolak. Dia lebih memilih menggunakan kereta saja.


Gian menjemputnya di apartemen pukul 6 pagi. Kemudian mengantarnya ke stasiun dan menunggu kereta bersamanya. Sebelum berangkat mereka juga sempat sarapan berdua. Regina tidak tahu motif Gian melakukannya. Dia sudah biasa pulang sendiri naik kereta pagi-pagi tanpa perlu diantar. Mungkin ini bagian dari rencananya, kebohongannya. Regina sudah tidak peduli dan ingin semua ini cepat berakhir, agar dia bisa melanjutkan hidupnya.


Kereta berangkat pukul 6.40 tepat. Regina bisa melihat Gian masih menunggu sampai kereta bergerak dari jendela. Kemudian sosoknya berangsur menghilang seiring kereta berjalan. Ini perjalanan terakhirnya ke Bandung sebagai dirinya sendiri, sebagai Regina. Setelah ini ada peran-peran yang akan dia mainkan dikemudian hari. Banyak kebohongan yang akan dia tunjukkan.


Regina bukan orang yang tanpa cinta seperti Gian, diperjalanan hidupnya dia dipenuhi dengan romansa bersama laki-laki yang dia suka. Dia sudah melewati masa-masa cinta monyet, cinta pertama, mantan yang tak terlupakan, ciuman pertama, bahkan melewati pertunangan yang tak berakhir pernikahan. Membayangkan bahwa dia akan berjanji dengan orang asing membuatnya bingung. Ini bukan kisah cinta yang dia inginkan. Didalam hatinya masih berharap dia menemukan laki-laki yang mencintainya dan menjadi suaminya, selain Gian.


Sekitar pukul 09.20 kereta sampai di Stasiun Bandung. Paman dan bibinya sudah menunggu di mobil yang terparkir di lahan parkir stasiun. Regina langsung mengenali mobil Kijang warna merah yang mereka kendarai.


“Udah sarapan, Neng?” Tanya Bibinya saat Regina sudah masuk ke mobil.


“Udah tadi pagi sama Gian.” Jawabnya.

__ADS_1


“Oh dianter tadi?”


“Iya.” Kata Regina sambal tersenyum.


Mobil kemudian melaju kearah Pasar Baru. Mereka berniat memilih bahan kebaya dan batik yang akan dipakai saat lamaran sabtu ini. Regina mengatakan ingin menjahit kebayanya sendiri. Walaupun lamaran ini hanya sandiwara dan omong kosong, dia tidak bisa mengenakan sembarangan baju. Sama halnya Ketika saat Regina bertunangan 4 tahun lalu, dia juga membuat seragamnya sendiri sambal mengharapkan pertunangan tersebut berlanjut pada pernikahan. Namun sekarang dia menjahit dan memilin setiap benang untuk baju lamarannya berharap pernikahan ini tidak akan membawa malapetaka padanya.


...***...


Gian dan keluarganya berangkat ke Bandung hari Jumat sore. Rombongan yang ikut berasal dari keluarga Yuniar dan anak-anaknya, kemudian Arsila, Ibunya, serta Darius pacarnya. Sesampainya disana mereka menginap di salah satu hotel di daerah Setiabudhi Bandung, sehingga lebih dekat ke Lembang.


Mereka berangkat ke rumah Regina Sabtu sore. Kedatangan mereka disambut oleh keluarga Regina dan tetangga-tetangga dekat yang ikut membantu. Mereka mengobrol di ruang tamu dan ruang tengah. Makanan-makanan khas sunda sudah tersaji disana.


Regina masuk ke ruangan tempat berkumpul tamu dan keluarga. Semua mata tertuju padanya, banyak yang memuji penampilan gadis tersebut. Dia mengenakan kebaya berwarna mauve, dengan potongan asimetris dibagian bawah, dengan additional lace dari sutra dipinggang yang membuatnya terlihat ramping, serta lengkap dengan kain batik untuk bawahannya yang dijahit dengan brokat pada belahan sampingnya. Wajahnya pun sudah dirias dengan riasan semi bold, dengan warna lipstick merah glossy. Rambut hitamnya nya tak lupa ditata menggunakan style low bun dengan French braid, menampilkan leher jenjangnya yang putih.


MC memulai acara pembukaan kemudian dilanjutkan dengan mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan pihak laki-laki yang diwakili oleh Om Bayu. Setelah itu pihak perempuan menyampaikan jawaban dari maksud kedatangan keljuarga laki-laki. Regina memberi jawaban dengan malu-malu dan tersenyum, suasana cair karena MC memberikan komentar-komentar lucu yang disambut tawa san senyum para tamu.


Gian sejak tadi diam saja, bahkan tidak bereaksi terhadap suasana disekitarnya. Sejak Regina muncul di ruangan tersebut, matanya hanya focus menatapnya saja. Baru kali ini dia melihat penampilan Regina yang seperti itu. Gian memang mengakui Regina cantik dan menarik, bahkan semenjak awal dia bertemu Ketika pitching. Dia juga tidak mempertanyakan bagaimana Alex menyukai Regina dan mendekatinya, serta komentar-komentar teman-temannya Ketika Regina dibawa Alex di pesta Arsila. Dia cantik, itu sudah jelas. Tapi melihatnya mengenakan kebaya, tersenyum malu-malu, matanya berbinar, dengan semua riasan yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan.


Sadar denga napa yang dilakukan keponakannya yang terpesona pada Regina, Yuniar mencubit lengan Gian agar dia bisa focus pada acara. Setelah itu memelototinya dengan galak.


Acara dilanjutkan dengan tukar cincin. Yuniar memasangkan cincin pada jari Regina. Sedangkan Bibi Regina memasangkan cincin di jari Gian. Sedari tadi Darius sibuk mengabadikan momen tersebut dengan kameranya. Dia terus mengambil gambar Gian dan Regina berdua, serta bersama keluarga. Darius dengan semangat mengarahkan pose-pose Gian dan Regina. Gian seperti orang yang sedang dihipnotis, terus menatap Regina tanpa henti yang membuatnya banyak dikomentari dan digoda oleh tamu.

__ADS_1


Pembicaraan mengenai tanggal pernikahan pun telah disetujui. Melalui banyak pertimbangan dan diskusi dari kedua pihak keluarga. Mereka mengambil kesimpulan untuk menggelar pernikahan satu bulan semenjak hari lamaran. Hari baik yang sudah diperhitungkan dan ditentukan.


__ADS_2