
Gian memasak banana pancake untuk istrinya. Dia senang melihat Regina sangat bahagia mengetahui bahwa dirinya hamil. Meskipun dia tidak bisa jujur kepada Regina hal yang mengganjal dalam hatinya. Dia terlalu takut merusak momen ini. Gian mengatakan akan siap juga jika Regina memang telah siap untuk hamil dan menjadi ibu. Jauh dilubuk hatinya, Gian belum siap menjadi seorang ayah.
Regina turun kembali ke dapur setelah mandi. Melihat pancake yang sudah matang di meja makan. Gian masih sibuk mencuci peralatan bekas memasak.
“Simpen aja teflonnya, Gi. Nanti aku sekalian yang nyuci abis makan.” Kata Regina sambil duduk di salah satu kursi meja makan.
“Ga usah. Kamu diem aja. Jangan banyak kerja.”
Gian bergabung disana, mulai menyantap omelet yang dia buat. Regina sudah makan terlebih dahulu dengan lahap, meskipun tadi dia mengatakan perutnya tidak nyaman dan mual. Entah kenapa Gian selalu senang memperhatikan Regina makan. Dia memang selalu senang memperhatikan Regina melakukan apapun. Mungkin benar kata sepupu-sepupunya, Gian itu bucin.
“Gi, aku masih lapar.” Kata Regina setelah menyelesaikan makanannya tanpa sisa.
“Mau aku bikinin lagi?”
“Gak apa-apa?” Tanya Regina malu.
“Ya gak apa-apa.” Gian berdiri dari kursinya. Mengeluarkan bahan-bahan dari lemari dan kulkas. Kemudian mulai membuat adonan pancake. Regina berdiri menghampiri Gian, tapi hanya diam dan memperhatikan suaminya sibuk membuat adonan banana pancake andalannya.
“Kamu diajarin masak sama siapa?”
“Nenek. Dulu aku jarang main, paling cuma main ke kantor kakek. Kalau ga ada jadwal les atau ekskul aku diem di rumah, terus diajarin masak sama nenek. Arsila juga gitu.”
“Sama Vanya?”
Gian hanya mengangguk, “Kamu masih sensi sama dia?”
“Habis dia sering ke kantor kamu, kan?”
“Ga juga. Aku jarang ketemu dia di kantor kok. Om Bayu yang tangani semua urusan perusahaan dia.”
“Males ah bahas dia terus.”
“Kan kamu yang mancing.” Kata Gian tertawa, “Ya udah, sekarang gantian bahas mantan kamu.”
“Apaan sih” Kata Regina kesal.
__ADS_1
“Mantan kamu itu jago masak juga kayak aku?” Tanya Gian sambil menaruh adonan panceke pada teflon yang sudah panas.
“Ngga.” Jawab Regina singkat. Malas jika harus membahas Rafi.
“Tuh kan, kamu tuh beruntung nikah sama aku. Ganteng, kaya, pinter, jago masak, bisa beres-beres, baik hati dan senang menolong.” Kata Gian sombong kemudian tertawa.
“Iyaa, kadang mulutnya juga jahat karena terlalu jujur, licik, tangannya jahil suka gentayangan, mesum, pokoknya mesuuum banget.”
Gian tertawa mendengar balasan dari istrinya. Regina juga tahu, dia adalah salah satu wanita beruntung yang mendapatkan suami pengertian. Meskipun mereka dipertemukan dan dipersatukan dengan cara yang sangat aneh. Ternyata ada satu manusia yang dipersiapkan khusus untuk menjawab doa-doanya. Regina memeluk dari samping dan menyandarkan kepalanya di pundak Gian yang masih memasak.
“Kamu tumben banget manja gini. Biasanya aku pegang aja langsung ngambek.”
“Ga tau, mungkin pengaruh dedek bayi.”
“Oh gitu ya? Bagus bayi, yang sering aja ya pengaruhin ibu kamu biar nempel terus.”
Regina menyelesaikan makan pancake yang Gian buat kurang dari 5 menit. Tapi dia masih mengeluh lapar. Kemudian dia mengeluarkan camilan dan buah-buahan dari kulkas satu persatu. Memakannya sambil menonton di ruang tengah. Sepanjang hari itu Regina sibuk membeli makanan online. Driver ojek online berdatangan mengantarkan pesanan. Hari ini Regina merasa terus kelaparan dan tubuhnya butuh energi yang banyak agar tidak lemas.
“Kamu hamil anak manusia kan, Re?” Kata Gian sehabis mengambil makanan kelima yang Regina pesan dari ojek online.
“Kalau kamu manusia sih harusnya iya. Kan ini anak kamu.” Jawab Regina sebal terus-terusan ditanya kenapa hari ini dia makan banyak sekali.
***
“Kamu beneran mau tetap kerja? Resign dan tinggal di rumah aja gak apa-apa kok, Re. Biar Dimas yang urus dan cari pengganti kamu.” Kata Gian khawatir.
“Aku gak apa-apa. Udah sehat kok, gak mual-mual dan pusing.”
“Belum.”
“Kalau aku udah ngerasa gak enak badan atau capek terus, nanti aku resign.” Kata Regina sambil memilih tas yang akan dia pakai “Lagian aku bosen di rumah, kamu juga pulangnya sore banget.”
“Ya udah tinggal suruh Mbak Inah dateng tiap hari aja buat temenin kamu biar gak bosen.”
“Ga mau. Aku pingin kumpul dan ngobrol sama teman kantor biar gak stress.”
__ADS_1
“Tapi kalau kamu ngerasa sakit dan gak kuat langsung berhenti aja ya?”
“Iyaa.”
“Jangan nyetir sendiri. Aku udah suruh Pak Ayus antar jemput tiap hari. Dia udah di depan sekarang.”
“Iyaaa.”
Gian semakin cerewet sekarang setelah Regina hamil dan memutuskan untuk tetap bekerja. Sebenarnya dia bisa saja langsung meminta Dimas untuk memberhentikan istrinya. Tapi Regina tampak senang dan baik-baik saja. Dia jadi mudah khawatir dengan kondisi Regina. Beberapa jam sekali Gian mengirim pesan menanyakan keadaan Regina.
Setelah pulang kerja, Regina langsung menuju rumah sakit tempat Dokter Ratih berpraktik. Dia sudah mengirim pesan sebelumnya untuk menyediakan jadwal konsultasi dokter senior tersebut. Tanpa antrian, Regina bisa langsung diperiksa olehnya. Gian sampai beberapa menit kemudian menyusul Regina. Ini pemeriksaan pertama setelah mereka melakukan tes kehamilan mandiri.
Regina cukup gugup karena sebelumnya membaca artikel-artikel tentang kehamilan palsu, kehamilan anggur, atau janin yang tidak berkembang di awal kehamilan. Meskipun kemarin dia merasakan sangat bahagia, ada perasaan takut yang tak pernah menghilang menghantuinya. Dia takut kali ini gagal lagi mempertahankan kehamilanya.
Dokter Ratih menjelaskan mengenai kehamilan Regina, semua tampak baik, sudah ada kantung kehamilan, dan posisi embrio sudah berada di rahim, usia kehamilannya sekarang 4 minggu. Mereka diminta kembali 2 minggu lagi untuk mengetahui adanya detak jantung pada janin. Regina merasa lega karena semua pemeriksaan menunjukkan kehamilannya sehat dan baik-baik saja.
***
‘Cewek ga tau diri’
‘Oh ini yang jual diri biar perusahaannya dibiayai sama konglomerat’
‘Katanya sih ngejar-ngejar banget pingin dinikahin sama investor kaya biar bisa nyelametin perusahaannya yang bangkrut’
‘Pantesan gak tahu pacarannya kapan. Langsung nikah aja.’
‘Ada yang bilang kawin kontrak doang biar bisa dapet duit dari cowoknya. Murah’
‘Udah setahun kawin belum punya anak, mandul kali ya’
‘Gila, pec*n! Tukang goda cowo kaya. Hati-hati’
‘Ih apa nih? Spill dong”
‘Wah gosip apa nih? Gue ketinggalan’
__ADS_1
Regina kaget membaca komentar di sosial medianya pada post foto terakhir yang dia unggah bersama Gian saat mereka berlibur ke Bandung. Awalnya Regina ingin memposting dan membagikan kabar tentang kehamilannya di sosial media. Tapi dia tanpa sengaja menemukan banyak komentar jahat muncul di akunnya. Beberapa orang menanggapi dan penasaran dengan komentar-komentar jahat tersebut.
Tangan Regina menjadi dingin setelah membaca banyak komentar-komentar tersebut. Kenapa ada orang yang tahu tentang pernikahan kontraknya? Kenapa ada orang yang tahu tentang kondisi perusahaannya dulu? Siapa orang-orang ini?