
Pelayan sudah menyajikan strawberry milkshake di meja Regina, sementara orang yang dia tunggu belum juga datang. Hari ini Regina datang ke cafe untuk menemui Rafi yang sudah berminggu-minggu menerornya untuk bertemu. Perasaan bersalah karena tindakan Gian pada Rafi lah yang membuatnya menyetujui pertemuan ini. Bagaimanapun Regina tetap percaya bahwa tindakan Gian memang berlebihan dan tidak pantas.
Setelah menunggu hampir 15 menit disana, akhirnya Rafi datang. Mengenakan kaos cokelat dan celana jeans. Janggut dan kumis tipis menghiasi wajahnya, sepertinya dia tidak bercukur beberapa hari dan tampak sangat kelelahan. Dia duduk dihadapan Regina dan memesan americano.
“Gimana pencarian kerja kamu? Udah dapet yang baru?” Kata Regina membuka pembicaraan.
“Belum. Cowo kamu beneran brengsek tau ga?” Kata Rafi emosi. “dan aku ga ngerti kenapa kamu masih mau sama dia.”
“Raf, aku minta maaf atas nama Gian. Aku sadar yang dia lakuin ke kamu tuh jahat banget. Tapi aku ga mungkin ninggalin dia.”
“Kamu mau pertahanin apa lagi sih dari dia? Kalian nikah bohongan, dan kamu tau sifat dia yang jelek kaya gini. Sekarang dia bisa pake kekuasaannya buat ngelakuin ini sama aku. Bayangin dengan semua koneksi dia, apa yang bisa dia lakuin sama kamu kalau kamu berulah. Kamu dibutain sama kekayaan dia? Karena dia udah bantu perusahaan kamu?”
“Dia ngelakuin ini karena perilaku kamu sendiri, Raf. Kamu stalking aku dan gali informasi yang ga seharusnya kamu tahu.”
“Aku juga ngelakuin itu buat kamu, Re. Aku masih sayang kamu. Kamu pikir aku selama ini ga berkorban juga buat kamu? Aku ninggalin istri aku buat kamu.”
“Alasan apapun ga bakal bikin aku balik sama kamu.”
“Re, Please. Aku mau berubah. Aku bakal berusaha ngertiin posisi kamu yang harus berkarir dan pertahananin perusahaan kamu. Aku rela kalau kamu ga bisa ngurus aku dan fokus kamu terbagi buat perusahaanmu. Aku juga akan bilang sama mamaku kalau kamu ga perlu jadi ibu rumah tangga kaya yang dia harapkan. Aku Cuma mau kamu balik, Re. Please.”
Regina menggeleng. Menguatkan hatinya untuk tidak luluh pada permohonan Rafi.
“Aku kesini bukan buat ngomongin itu. Aku setuju ketemu sama kamu karena aku harus minta maaf atas perbuatan Gian sama kamu. Bukan buat balikan lagi sama kamu.”
Rafi tampak sangat kecewa. Dia berulang kali mengusap wajahnya dengan gusar. Regina sudah membulatkan keputusannya. Dia pikir setelah perbuatan tidak adil yang dilakukan oleh suaminya, Regina akan sadar betapa jahatnya dia.
“Aku ke toilet sebentar” Kata Rafi kemudian meninggalkan meja. Langkahnya gontai.
Regina membenci melihat orang yang dulu sangat dia cintai begitu rapuh dan terlihat hancur. Dia membenci dirinya sendiri karena melakukan hal itu kepada Rafi. Tapi hatinya tak mengarah lagi padanya, yang tersisa hanya perasaan bersalah saja. Selama 3 minggu dia dan Gian saling mendiamkan, Regina sadar bahwa dia membutuhkan Gian lebih daripada keinginannya untuk kembali bersama Rafi. Setiap hari menunggunya pulang dan menyapanya lagi, membuatnya sakit. Entah sejak kapan perasaannya menjadi sebesar itu pada Gian.
Rafi belum juga kembali setelah hampir 10 menit. Regina mulai khawatir. Apakah dia mencoba menyakiti dirinya sendiri? Dia kemudian menekan telepon dan menghubungi Rafi, namun dia tidak mengangkatnya. Tak begitu lama Rafi kembali. Dia terlihat khawatir, bajunya berkeringat, dan matanya merah. Apakah dia baru saja menangis?
“Rafi, kamu gak apa-apa?” Kata Regina khawatir.
“Aku ga baik-baik aja, Re.”
“Please kamu jangan kaya gini, Raf. Kita udah sama-sama dewasa dan kamu tahu kita ga bisa maksain perasaan ke orang lain. I already moved on. Aku sekarang cuma pingin kamu dapat kerjaan baru lagi dan mulai hidup baru tanpa aku.”
“Kamu pilih dia karena kamu belum maafin aku kan?”
“Aku mungkin ga akan lupa sama perbuatan kamu, dan masih mencoba buat maafin kamu. Tapi perasaan aku sama dia ga ada hubungannya sama itu.”
__ADS_1
“Does he love you?”
Regina tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Apakah Gian mencintainya? Dia tidak tahu. Semua hal yang Gian lakukan padanya, semua kebaikan dan pertolongannya karena rasa tanggung jawabnya terhadap perannya sebagai suami dalam pernikahan kontrak mereka.
“Kenapa kamu seneng banget menyakiti diri sendiri dengan cinta ke orang yang ga punya perasaan sama kamu? Re, aku ga peduli dia mau bikin aku dipecat, bikin aku jadi miskin, as long as you come back to me.”
“I can’t . This is my final decision. Don’t make this thing so hard for me.”
Kini tak ada dari mereka yang berbicara. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Rafi tidak ingin menyerah. Tapi Regina sudah tidak bisa dipaksa. Perasaannya sudah jauh dan tak mungkin dia gapai. Meskipun obsesi padanya tak kunjung padam.
“Aku udah bikinin kamu daftar perusahaan yang ga berhubungan sama Gavels. Mungkin kamu bisa coba lamar ke sana.” Kata Regina sambil memberikan beberapa lembar kertas. “Aku harus balik ke kantor. Jam makan siangku mau habis.” Lanjutnya sambil berdiri.
Mereka keluar dari cafe menuju parkiran. Rafi mengantarkan Regina sampai ke mobilnya. Ini adalah pertemuan terakhir mereka. Setelah ini Regina tidak akan menemuinya lagi. Dia akan menutup masa lalunya dengan Rafi. Regina memeluk laki-laki itu. Seharusnya perpisahan seperti ini yang mereka lakukan dulu. Bukan dengan menghilang dan memutuskan hubungan sepihak kemudian menikah dengan orang lain tanpa kabar. Rafi membenamkan wajahnya di rambut Regina. Merasakan pelukan perempuan yang sangat dicintainya bertahun-tahun dan kini harus melepasnya. Dia tahu, sudah tidak ada kesempatan untuknya. Dia ingin menghentikan waktu agar saat seperti ini tak berakhir.
“Kamu tahu, Re? Aku sebenarnya berharap, kalau aku ga bisa dapetin kamu. Ga boleh ada orang lain yang dapetin kamu juga. Aku ga rela.” Bisiknya.
Regina tidak membalas kalimat tersebut. Rafi sangat tersakiti dengan keputusannya. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Hanya pelukan dan tepukan ringan dipunggungnya yang Regina harap bisa menenangkan Rafi.
***
Saat Gian sampai di IGD, dia melihat Regina dan beberapa orang sedang berkerumun di salah satu ranjang pasien. Seorang laki-laki berteriak dan memaki Regina, yang dicoba ditenangkan oleh seorang polisi, perawat, dan beberapa orang lain.
“LU KALAU PAKE MOBIL TUH YANG BENER! TOL*L! PAKE MATA MAKANYA! GUA GA BAKAL MAAFIN LU!”
“Udah, Pak. Udah. Istri bapak lagi ditangani sama dokter!”
“LEPASIN GUA GOBL*K! GUA PINGIN HAJAR NIH CEWE BIAR DIA MAMPUS!” Teriaknya lagi sambil mencengkram lengan Regina yang dari tadi hanya diam tertunduk mendengar cacian laki-laki tersebut.
Gian mencoba menghentikan cengkraman laki-laki itu dari Regina. Laki-laki itu marah berusaha untuk memukul Gian. Tapi dihentikan oleh polisi dan perawat dengan memegangi tubuhnya.
“SIAPA LU ANJ*NG?! JANGAN IKUT CAMPUR YA! GUA GA ADA URUSAN SAMA LU!”
“Saya suaminya. Bapak tenang dulu. Kita bicara dulu sebentar.”
“SINI LU, GUA HAJAR JUGA!!”
“Bapak tenang dulu. Kalau bapak ga tenang saya bisa bawa bapak ke kantor polisi.” Kata Polisi mencoba mengendalikan situasi. “Ini udah ada suaminya yang dateng. Biarin si ibu di obatin dulu. Baru kita ngomong sama dia.”
“GA ADA! GUA GA MAU NGOMONG SAMA DIA! GUA MAU HAJAR DIA! ENAK AJA MAEN NABRAK ORANG! ISTRI GUA TUH GA SADARIN DIRI! MAU TANGGUNG JAWAB LU? HAH?”
__ADS_1
“Iya saya yang tanggung jawab. Tolong tenang dulu, Pak!”
“BACOT LU!”
“Bapak kalau mau bikin keributan tolong keluar dulu. Istri bapak lagi saya tangani. Tolong semuanya keluar dulu!” Kata seorang dokter wanita berkacamata dari balik tirai di salah satu ranjang pasien yang sedang menangani istri dari laki-laki tersebut.
Laki-laki itu akhirnya diam. Semua orang yang terlibat keributan termasuk Gian juga keluar dari ruang IGD. Perawat akhirnya bisa mengobati luka Regina yang dari tadi dibiarkan. Dia mengalami dikepala dekat telinga kirinya, darah bercucuran hingga ke leher dan ke kerah kemejanya. Namun luka tersebut tidak begitu parah, hanya 3 jahitan yang diberikan oleh dokter pada lukanya. Kemudian lecet-lecet di bagian kaki dan tangannya yang tergores serpihan kaca sudah dibersihkan serta diberi obat.
“Istirahat ya, Bu.” Kata perawat ramah kemudian meninggalkan ranjang.
Regina sejak tadi hanya diam dan bingung dengan apa yang terjadi padanya. Tiba-tiba mobilnya hilang kendali dan sulit berhenti ketika dia menghindari motor di jalan. Dia membanting stir ke kiri dan setelah itu hanya kegelapan yang tersisa. Setelah sadar dia berada di rumah sakit, seorang polisi menemaninya dan mengatakan dia menabrak orang hingga orang tersebut tak sadarkan diri, yang Regina ingat hanya menekan tombol telepon Gian dan meminta bantuannya dalam keadaan tak sepenuhnya sadar.
Dia masih menggenggam handphone-nya hingga sekarang. Dia tidak begitu ingat kata-kata makian yang dilemparkan laki-laki tak dikenalnya, ada Gian disana, ada keributan, serta rasa sakit di kepalanya, kemudian perawat dan dokter yang menenangkannya. Suara-suara yang ramai sejak tadi kini hening.
Regina mencoba berbaring di tempat tidur. Mencoba memejamkan matanya. Tapi pikirannya tak kunjung beristirahat. Regina masih bisa mendengar aktivitas di ruang IGD. Entah berapa lama Regina berbaring disana. Suara tirai dibuka, kemudian Gian masuk ke tempat Regina terbaring. Dengan lembut dia menyentuh tangan Regina.
“Regina?” Kata Gian setengah berbisik. Kemudian duduk di tepian ranjang. Regina bisa mendengar suara tersebut, dengan cepat membuka matanya dan bangun kemudian terduduk di ranjang tersebut.
“Kamu ga apa-apa?”
Regina tidak bisa menjawabnya. Rasanya semua ketakutannya tiba-tiba berkumpul. Sesaat lalu yang dia rasakan hanya kebingungan. Sekarang setelah Gian ada dihadapannya, semua kejadian yang dialaminya terlintas begitu jelas dikepalanya. Dengan cepat Regina memeluk Gian. Tangisnya kemudian pecah.
Gian membalas pelukan tersebut. Mengelus kepala dan punggung Regina, menenangkannya. Tubuhnya gemetar. Dia pasti sangat ketakutan dengan kecelakaan tersebut hingga menangis seperti itu. Gian juga memperhatikan luka di dekat telinga Regina yang kini telah diperban. Regina menangis cukup lama, hingga akhirnya bisa menguasai dirinya dan melepaskan pelukannya dari Gian.
“Gi, orang yang aku tabrak gimana? Dia selamat, kan?” Tanya Regina sambil masih terisak.
“Udah dibawa ke ruang rawat inap. Dia udah sadar kok. Kata dokter dia patah tulang di tangannya, tapi ga ada cedera lain lagi setelah di CT Scan. Semuanya udah ditangani sama dokter. Tenang aja.”
“Dia ga akan meninggal, kan?”
“Ngga, cuma shock aja. Tadi aku udah ketemu sama keluarganya juga. Udah diselesaikan secara kekeluargaan, aku udah kasih uang ganti rugi dan biaya pengobatan sama terapi untuk penyembuhan patah tulangnya. Mungkin abis ini kalau kamu udah kuat, polisi bakal kesini buat nanyain sebentar untuk bikin laporan.”
“Aku bakal dipenjara?”
“Ngga. Buat bikin laporan aja.” Kata Gian.
“Gi, maafin aku. Aku bikin masalah terus.” Kata Regina sedih.
“Lain kali hati-hati nyetir mobilnya.” Kata Gian sambil mengelus kepala Regina.
Setelah memberikan keterangan untuk polisi. Regina dan Gian pulang ke rumah. Dokter tidak menyarankan untuk rawat inap karena luka Regina tidak begitu parah. Hanya dia diminta kontrol 1 minggu kedepan untuk membuka jahitan di kepalanya.
__ADS_1
Gian mengantar Regina ke rumah dan tidak kembali ke kantor setelah itu. Regina langsung tertidur setelah sampai ke rumah hingga keesokan harinya.