Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Kebenaran


__ADS_3

Mbak Inah bekerja atas permintaan Gian untuk membantu merawat istrinya yang sedang dalam masa pemulihan pasca keguguran. Meskipun dia hanya masuk saat hari Senin, Rabu, dan Jumat saja dalam sepekan, tapi Gian menggajinya lebih dari cukup. Dengan beban pekerjaan yang tidak terlalu berat dan majikan yang baik, Mbak Inah senang saja bekerja di rumah itu.


Saat pertama bekerja, dia tidak pernah bertemu dengan Regina dan tahu kalau istri majikannya tersebut kabur dari rumah. Pertama kalinya Regina pulang dia dalam keadaan sakit dan murung setelah keguguran. Dia tidak pernah melihat majikannya bermesraan, mengobrol, apalagi bercanda seperti pasangan. Kamar mereka pun terpisah. Suasana dingin dan sunyi membuatnya ikut bersimpati pada hubungan majikannya tersebut. Padahal mereka masih muda, cantik, tampan, dan sukses. Tapi kehidupan rumah tangganya kacau balau. Apalagi harus mengalami keguguran.


Biasanya Mbak Inah sampai di rumah Gian pukul 8 pagi. Dia sudah hapal kode rahasia di pintu otomatis dan masuk ke rumah. Sejenak Mbak Inah diam terheran-heran melihat kekacauan di ruang tengah, baju Gian dan Regina berserakan di ruangan tersebut secara sembarangan. Satu persatu baju dia kumpulkan, setelah itu membereskan ruangan tersebut sambil tertawa geli. Tahu apa yang dilakukan majikannya itu tadi malam. Tapi untungkah, sepertinya majikannya sekarang sudah berbaikan.


Selesai membereskan lantai satu, Mbak Inah membawa penyedot debu ke lantai dua. Terdengar sayup-sayup suara dari kamar majikannya. Mbak inah mendekatkan telinga ke pintu dan semakin jelas mendengar kegiatan apa yang sedang dilakukan di dalam kamar. Dia tersipu malu sendiri, dengan cepat melangkah turun kembali dan menyibukkan diri di dapur. Tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang memadu cinta di atas. Mbak Inah tersenyum-senyum sendiri tiba-tiba teringat suaminya di rumah.


...****************...


Handphone terus berdering di atas nakas, puluhan panggilan dari sekretaris Gian dia abaikan. Saat ini konsentrasinya hanya tertuju pada Regina yang sedang berada di bawah kuasanya. Permainan semalam belum cukup. Saat melihat istrinya selesai mandi geloranya kembali berkobar. Tentu saja Regina menolak dan marah-marah pada awalnya, tapi sekarang dia sedang menikmatinya. Mende sah manja mengikuti semua gerakan yang Gian kehendaki. Salah sendiri kenapa Regina terus menolaknya beberapa minggu terakhir. Dia harus merasakan rasa frustrasi yang Gian rasakan karena tidak bisa mnyentuhnya.


“Uhh.. ang..kat..” Bisik Regina diantara napasnya yang tersengal. Kesal karena dering telepon terus mengganggunya.


Gian dengan sengaja mengangkat pinggang Regina, membuat prajuritnya masuk lebih dalam dan menyerang membabi buta. Seringai puas tergambar dibibir Gian, meledek Regina.


“ UHH F*ck! Bukan itu!” Erang Regina kesal.


Tangan kiri Gian menggapai nakas dan mengambil handphone-nya. Tangan kanan Gian dia dekatkan dibibirnya, memberi kode agar Regina diam dan berhenti mengerang sebentar. Kemudian dengan cepat tangannya beralih ke mulut Regina, membekapnya. De sahan halus lepas dari bibir tangan Gian.


“Reschedule meeting-nya setelah makan siang. Saya ke kantor agak siang. Ada urusan.” Ucap Gian di telepon tanpa peduli penjelasan dari sekretarisnya. Setelah menutup telepon, dengan sembarangan Gian melemparkan handphone-nya. Fokusnya kembali mengerjakan tugas suci membuat istrinya berpeluh dan dipenuhi kenikmatan.


Mereka beristirahat sejenak setelah permainan pagi yang menyenangkan. Tidur saling bersisian setelah melepaskan endorfin yang membuat otak mereka bahagia. Gian tidak tahu kapan dia akan merasa cukup oleh Regina. Semakin hari, semakin menyentuhnya, dia semakin menggila. Sengaja Gian mendekap Regina dari belakang yang kini sedang kelelahan. Semakin erat, tak ingin dia pergi. Kepergian Regina selama 9 hari adalah salah satu momen yang menakutkan dihidupnya. Dia tidak ingin pergi jauh darinya, bahkan sekarang business trip ke luar kota ataupun luar negeri membuatnya malas. Kenapa dia bisa sangat terobsesi seperti ini pada Regina?


“Gi, cepetan berangkat ke kantor!” Ujar Regina, matanya tertutup tapi dia sebenarnya tidak tertidur.


“Hmmm..” Balas Gian kemudian mencium punggung Regina berkali-kali. Gian selalu membenci jika Regina mengenakan baju lower back yang memperlihatkan punggung cantiknya. Semua ini miliknya. Tak ada yang boleh melihatnya.


“Udah ih! Nanti kamu mau lagi.” Protes Regina menghentikan kelakuan suaminya. Gian hanya tertawa ringan kemudian bangkit dari tempat tidur. Mengumpulkan pakaiannya dan dengan sembarangan memakainya.


“Gara-gara kamu nih aku jadi harus mandi lagi dan sekarang telat meeting.” Kata Gian sambil mengenakan kaos putih polosnya.

__ADS_1


Regina tidak terima dengan tuduhan Gian. Dengan kesal Regina melemparkan bantal yang ada disisinya. Benda tersebut mendarat ringan di punggung Gian.


“Enak aja! Kamu yang sok ide minta jatah pagi-pagi!”


Gian meninggalkan kamar dengan derai tawa. Membiarkan Regina kesal dengan tingkah lakunya. Dia selalu senang mendengar omelan dan kekesalan Regina. Itu tandanya hubungan mereka sekarang sudah baik-baik saja. Dibandingkan dengan Regina yang dingin dan pendiam, Gian lebih suka melihat istrinya yang bawel dan sering mengomel.


“Baru bangun, Pak?” Sapa Mbak Inah yang sedang sibuk memasak makanan. Dia melihat Gian yang berpenampilan acak-acakan memasuki dapur. Rambutnya yang lurus agak berantakan, dan bajunya pun kusut. Tapi untung saja majikannya masih sadar menggunakan bajunya sebelum turun dari kamar. Kalau tidak, rasa canggung akibat menguping pertempuran mereka semakin kentara.


“Iya.” Jawab Gian kaget, dia lupa sekarang punya ART di rumah. Jangan-jangan Mbak Inah sudah datang dari tadi dan mendengar semua aktivitas menegangkannya bersama Regina di kamar. Tapi Gian tidak terlalu peduli juga.


“Saya lagi bikinin sarapan, Pak. Bentar lagi mateng.”


“Ga usah, Mbak. Saya minum kopi aja. Nanti agak siangan bangunin Regina buat sarapan.”


“Iya, Pak.”


...****************...


Rumah besar milik tantenya hanya ditinggali oleh Yuniar, Bayu, dan anak terakhirnya Maya. Lina sudah punya rumah sendiri bersama suami dan anaknya, pemberian kakek seperti rumah Gian. Saat masuk, Mbak Yayu mengatakan bahwa Yuniar sedang berada di ruang kerjanya. Gian berjalan dan membuka pintu ruang kerja Yuniar dengan santai.


“Tante.” Ucap Gian menjulurkan kepalanya dari pintu yang setengah terbuka.


“Masuk, Gi.” Jawab Yuniar tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Gian kemudian masuk dan duduk di kursi di hadapan meja Yuniar.


“Om Bayu udah berangkat ke Jogja?”


“Kayaknya udah sekarang,” Ucap Yuniar melihat jam ditangannya “Baru aja take off kayaknya. Ibu masuk rumah sakit lagi. Padahal kemarin pas tante tinggalin udah sehat.”


“Sakit apa?”


“Sakit udah tua, komplikasi. Rencananya mau disuruh tinggal aja di Jakarta. Dibujuk sama anaknya biar mau pindah kesini. Kalau sama tante susah dirayunya.” Yuniar kemudian menutup laptopnya dan menatap keponakan yang ada di depannya. “Kenapa? Mau nanyain apa kesini? Tumben banget.”

__ADS_1


“Aku mau nanyain soal surat wasiat kakek.” Kata Gian. Kening Yuniar berkerut bingung. “Beberapa waktu lalu Vanya bilang sesuatu soal surat wasiat kakek. Dia bilang, dia hadir pas kakek bikin surat wasiat itu dan tertulis namanya sebagai orang yang kakek jodohin sama aku disana. Dia nuduh aku malsuin surat wasiat kakek dan bayar Pak Narta buat tutup mulut. Tante tahu soal itu?”


Yuniar menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata, kemudian memijit lehernya yang bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba setelah mengingat tentang surat wasiat ayahnya.


“Tante yang ngubah isi surat wasiat ayah.” Jawab Yuniar santai. Gian terbelalak kaget. Dia tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya.


“Tante yang malsuin surat wasiat itu? Buat apa?” Tanya Gian bingung.


“Menyelamatkan kamu.” Kata Yuniar ringan tanpa perasaan bersalah. “Tante tahu dari suster yang jagain ayah, kalau Vanya dateng sama Pak Narta ke rumah sakit waktu keluarga lagi ga ada. Itu pas awal-awal ayah sakit. Sebelum kamu mau jenguk ayah.”


“Waktu itu ayah masih marah sama sikap dan kata-kata kamu ke Vanya. Terus kayaknya Vanya manfaatin keadaan biar ayah mau bikin surat wasiat agar kamu dijodohin sama dia. Padahal waktu itu ayah belum parah sakitnya. Gila!” Yuniar menghembuskan napas berat “Dapet kabar soal itu, tante langsung datengin Narta buat batalin surat wasiat ayah. Tapi ga bisa, jelas. Surat itu udah sah. Tante coba ngebujuk ayah perlahan-lahan, tapi tetep ayah ga mau ngubah apa-apa. Cuma kamu dikasih kelonggaran biar bisa menjabat CEO sementara. Ayah tetap pingin kalian menikah setelah dia meninggal. Ayah minta tante ngurus semua persiapannya, entah kamu mau atau nggak.”


“Tante ngerti banget setelah kamu semarah itu nolak perjodohan dan setelah diam-diam Vanya memanipulasi kakek. Kalian ga akan bisa nikah. Ga cocok. Tante ga mau lihat kamu menderita, Gi. You should be happy. Kamu anakku, Gi. Anaknya Yudha juga anakku. Ayah ga boleh bertindak semaunya sama anakku.” Yuniar tersenyum, menatap dalam mata Gian. Dia bisa melihat banyak kemiripan Gian dengan adiknya yang sudah tiada. Yudha yang penurut, sama seperti Gian.


“Jadi surat yang dibacain Pak Narta depan kita semua itu palsu? Harusnya aku nikah sama Vanya?”


“Asli kok. Tante bikin surat wasiat baru dan minta ayah tanda tangan surat itu. Ngomong sama ayah kalau itu surat untuk pengurusan pernikahan kamu dan Vanya. Tante juga paksa Narta dateng saat itu dan tutup mulutnya. Ayah menandatangani surat pembatalan surat wasiat lama dan menggantinya dengan yang baru. Tante waktu itu manfaatin kondisi ayah yang kurang baik, bahkan pas tanda tangan, tangan ayah gemetar karena gak kuat.” Kenang Yunjar sambil tersenyum pahit.


“Seminggu kemudian kondisi ayah makin parah. Tiba-tiba tante ngerasa bersalah karena malsuin surat wasiatnya. Jadinya tante jujur, tapi ayah cuma ketawa. Dia bilang kalau tante nekat, dan nyuruh biar jagain aja kamu sampe ketemu jodohnya. Ayah ga akan minta apa-apa lagi selain kamu bisa nikah dan punya teman hidup. Sama siapapun itu. Asal kamu yang pilih sendiri.”


“Syukurlah kalau gitu. Aku pikir aku harus nikah sama Vanya karena surat wasiat yang aku tahu itu palsu.” Ucap Gian lega mendengar semua penjelasan Yuniar. Dia ingin menanyakan ini dari pertama Vanya mengatakan tentang tuduhannya, tapi semua masalahnya membuat Gian hampir melupakannya. Selain itu juga tantenya sibuk mengurus mertuanya di Jogja. Tak ada kesempatan bagus untuk membicarakannya.


Pintu ruangan kerja Yuniar di ketuk dari luar, kemudian ART masuk membawakan teh dan disajikan di meja. Gian mengambil salah satu cangkir dihadapannya, meminumnya dengan perasaan yang tenang. Dia tidak usah lagi memikirkan kata-kata Vanya yang mengganggunya. Yuniar memperhatikan keponakannya itu.


“Gian, sebenernya tante tahu soal penikahan kontrak kamu sama Regina.”


Mendengar ucapan Yuniar tersebut membuat Gian tersedak. Teh panas tumpah mengotori celana dan kemejanya. Gian terbatuk dan menatap Yuniar tak percaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ ...


Author-nya akan secara random menyisipkan bab-bab gerah kedepannya. Tetap berhati-hati 👀🤣👌

__ADS_1


__ADS_2