Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Perjanjian


__ADS_3

Langit masih tampak gelap, jam menunjukkan pukul 5.30 pagi. Namun Gian sudah beraktivitas. Setelah ibadah subuh, dia membersihkan apartemennya. Hari ini dia kedatangan tamu, setidaknya apartemennya harus terlihat layak ditinggali. Beberapa dokumen yang tercecer di meja ruang tengah dan bar pantry dibereskan. Kemudian menyalakan penyedot debu yang membersihkan semua ruangan.


Saat jam menunjukkan pukul 6. Gian mengambil sereal dan mencampurnya dengan susu dingin dari kulkas. Tak lupa mengambil beberapa buah anggur dan 1 apel utuh. Gian tidak sedang diet, hanya saja dia tidak terlalu banyak makan dan tidak terlalu tertarik dengan makanan. Dia bukan tipe foodies atau orang yang menikmati makanan enak. Biasanya Gian hanya memakan makanan yang mudah dibuat dan tak banyak waktu untuk memasaknya, dia juga hanya makan proper saat benar-benar lapar. Tak jarang hanya memakan buah-buahan dan sayuran saja.


Kebiasaannya selalu membuat Arsila kesal. Beberapa minggu sekali Arsila selalu datang ke apartemennya, memasak untuk Gian. Memastikan dia memakan makanan manusia pada umumnya. Meskipun demikian, Gian secara umum sangat sehat dan tidak kekurangan gizi.


Saat sedang makan dia memainkan handphone-nya, mengecek sosial media yang jarang dibuka. Diantara puluhan pesan yang masuk ke akunnya, ada nama yang menarik perhatiannya. Regina Pragita Wijaya. Tanpa berpikir dia membuka pesan dari Regina.


‘Gian. Aku butuh bantuan kamu.’ Tertulis disana. Pesan itu dikirim sehari yang lalu. Mungkin saat Regina akhirnya memutuskan menyetujui pernikahan kontrak mereka. Kemarin dia mengatakan tidak menyimpan nomor yang Gian berikan. Sepertinya Regina dengan putus asa mengirim pesan keakun sosial medianya.


Gian membuka profil akun Regina. Terlihat banyak foto dan momen yang sudah dia bagikan. Regina bersama teman-temannya, keluarganya, karyawannya, dan kedua orangtuanya, yang kalau tak salah ingat sudah meninggal. Beberapa diantaranya juga menampilkan karya-karya Regina sebagai lulusan fashion design, baju-baju yang indah, pose-pose model, liburan, dan kegilaannya. Disemua foto tersebut Regina tersenyum dan tertawa. Terlihat sangat bahagia dan cantik. Tanpa sadar membuat Gian tersenyum melihat semua postingannya.


Hal berlawanan dengan yang dia temui di dunia nyata. Regina tampak suram, putus asa, marah, sedih. Dia mengingat sejak pertama bertemu hingga terakhir kali melihatnya, Regina tidak dalam kondisi yang bahagia. Cahaya kebahagiaan yang dilihat disosial media seperti hilang ditelan kegelapan.


Gian lekas mem-follow akun Regina. Kemudian menutup handphone-nya. Setelah ini, dia juga mungkin akan banyak kehilangan senyumannya.


Hingga pukul 10 pagi, Gian sibuk memeriksa banyak dokumen. Dia juga sempat mencari-cari informasi umum calon istri kontraknya.


Tak lama bel berbunyi. Tamu yang ditunggu sudah datang. Dia lekas membuka pintu. Regina telah berdiri disana.


Hari ini Regina terlihat segar dan santai. Dia datang mengenakan kaos oversized berwarna hitam yang dimasukan ke dalam rok midi pleated berwarna lilac. Sepatu kets berwarna putih yang senada dengan totebag-nya. Rambutnya diikat rapi kebelakang. Regina terlihat seperti mahasiswa yang hendak pergi belajar kelompok bersama temannya. Gian juga tidak menyangka ternyata mereka seumuran, dia selalu mengira Regina lebih muda beberapa tahun darinya. Bagi Gian, Regina tampak mungil bahkan dia bisa menyandarkan dagunya dipuncak kepala Regina.


Regina masuk ke apartemen Gian. Menelisik sekejap ruangan tersebut. Cukup takjub dengan apartemen Gian yang luas, dengan langit-langit yang tinggi, pencahayaan yang bagus. Ruangan tanpa sekat memperlihatkan ruangan tengah, pantry dan beberapa spot diisi oleh alat gym. Terdapat tangga menuju keatas yang sepertinya adalah tempat untuk kamarnya.


“Duduk, Re.” Kata Gian menunjuk sofa berwarna abu-abu. Didepannya dokumen berserakan dan laptop yang menyala.


‘Dia hari sabtu juga kerja?’ Batin Regina.


“Mau minum apa?” Tanya Gian.


“Nanti aja.” Jawab Regina menggeleng.


“Oke.”

__ADS_1


Mereka duduk saling berhadapan di sofa. Gian kemudian mengambil beberapa dokumen yang bertumpuk dimeja depannya.


“So, kamu belum berubah pikiran?”


“Aku udah nentuin pilihanku. Aku ga akan berubah pikiran.”


“Bagus. Soalnya setelah kita melakukan perjanjian ini, kita ga bisa batalin dan ga ada jalan buat balik lagi.”


Regina menelan ludah. Merasa tenggorokannya kering karena gugup. Sebenarnya dia sangat takut dengan apa yang ada di depannya nanti. Dengan banyak kemungkinan buruk akibat pernikahan kontraknya. Tapi pikiran tersebut dia singkirkan, saat ini dia harus fokus untuk menyelamatkan perusahaan. Terngiang kata-kata yang diucapkan Alea saat mereka bertengkar. Seharusnya Regina menjual diri saja, dan sekarang dia sedang melakukannya.


“Ini yang kamu minta kemarin. Aku udah ngumpulin beberapa kandidat untuk menggantikan posisi kamu sebagai CEO. Aku merekomendasikan Dimas. Dia salah satu penerima beasiswa dari kakek sejak SMP hingga sekarang lulus S2. Dia baru ngambil magister ekonomi bisnis.  Beberapa bulan lalu dia lulus. Dia juga masih karyawan aktif di Gavels. Aku percaya banget sama kemampuannya memimpin dan mengelola perusahaan kamu. Meskipun dia masih muda.” Jelas Gian


Regina menerima dokumen yang diberikan Gian berisi daftar orang-orang yang dia rekomendasikan untuk masuk ke perusahaannya. Ada 5 orang dalam dokumen tersebut.


“Orang-orang itu yang paling aku rekomendasikan. Dimas untuk CEO, Mita untuk legal officer, Dea untuk finance, Cakra untuk business unit, dan Lina untuk Marketing. Semuanya masih kerja dibawah supervisiku. Aku yang gaji. Dan semua jenis laporan kegiatan dan keuangan, mereka bakal laporkan juga sama aku.”


Dilihat dari dokumen dan CV orang-orang yang dibicarakan Gian, semuanya tampak meyakinkan. Apalagi Gian bersedia langsung turun tangan menjadi supervisor mereka.


“Aku harap kamu bisa ngisi bagian di R&D, terutama menangani design dan develop produk baru. Keahlian kamu disana, kan?” Gian menatap Regina yang masih fokus membaca dokumen calon karyawannya.


Kalau dipikir-pikir baru kali ini Regina melihat Gian tampil sangat santai. Kaos putih pendek, celana Jogger hitam, rambutnya yang lurus tanpa styling mengurai jatuh di dahinya. Aneh melihatnya seperti pemuda pada umumnya, buka Gian si investor dan CEO hebat yang berwibawa.


“Aku mau kamu jadi istriku untuk 2 tahun dan membantuku dapetin hak waris, apapun caranya.”


“Maksudnya apapun caranya?”


“Aku mau kamu ikuti semua caraku buat dapetin hak waris, ikuti semua aturanku, bahkan jika itu bertentangan dengan nilai moral kamu.”


Regina menutup mata dan bernapas dengan berat. Dia tahu kemana arah pembicaraan ini.


“Sejauh mana yang kamu minta?”


“Sejauh mana yang bisa kamu toleransi?”

__ADS_1


“Cuma ciuman dan pelukan aja. Ga lebih dari itu.”


“Oke. Kita ga harus tinggal bareng. Kamu bisa lanjutkan tinggal di apartemen kamu, dan aku tetap tinggal disini. Kemungkinan kecil keluargaku bakal ngecek. Arsila juga ga akan berani kesini tanpa izin kalau kita udah nikah.”


Selama beberapa jam mereka berdiskusi hal apa yang mereka sukai dan tidak sukai dalam perjanjian. Tentang tempat tinggal, kompensasi, batasan-batasan yang mereka setujui.


Gian menolak Regina untuk mencampuri urusannya, begitupun sebaliknya. Mereka tidak keberatan jika salah satu diantaranya memiliki pacar atau teman kencan namun selama masih dalam masa kontrak mereka harus saling menjaga nama baik dan bermain aman. Mereka tidak terikat secara emosional apapun hingga memberatkan satu sama lain.


“Jadi kapan kita nikah? Besok? Lusa? Atau minggu depan?” Tanya Regina setelah mereka berdiskusi tentang perjanjian mereka. Gian yang sedang meminum air dibuat kaget oleh pertanyaan Regina, hingga air menyembur dari mulutnya.


“Hah Gila! Ya ga mungkin secepat itu lah.” Protes Gian sambil mengelap air yang berceceran ke wajahnya.


“Bukannya kamu pingin cepet-cepet? Kamu kan punya deadline.”


“Aku emang punya deadline tapi ya ga grasak grusuk gitu lah. Aku harus ngeyakinin keluargaku, kamu juga harus minta restu keluarga kamu, kan?”


Regina terdiam.


“Kenapa? Jangan-jangan kamu mikir aku bakal nikah sama kamu segera setelah tanda tangan kontrak dan nikah secara sederhana? Gitu?”


Regina mengangguk mengiyakan. Dia tidak ingin keluarganya tahu. Dia tidak bisa meminta restu untuk pernikahan pura-pura.


“Gila. Dipikir aku cowo brengsek?” Kata Gian tertawa masam. “Regi, kamu butuh wali buat nikah. Aku ga mungkin ngambil kamu gitu aja kaya anak kucing, nikah siri atau nikah di KUA aja.”


“Jadi maksud kamu kita ngumumin hubungan kita sama orang lain?”


“Ya jelas lah. Emang kamu pikir keluargaku mudah ditipu. Aku tinggal bawa cewe dan bilang ‘Guys, gua udah nikah. Sekarang mana harta warisan gua.’ Kaya gitu. Ga mungkin. Mereka pasti menggugat aku secara hukum dan melaporkan kita sebagai kasus penipuan buat dapetin warisan.”


 “Terus kita harus kaya gimana?”


“Kita harus main peran. Kita harus pura-pura kelihatan jatuh cinta di depan mereka. Kita ga bisa buru-buru menikah. It will take time. Makanya aku udah minta kamu buat turuti aturanku dan cara mainku.”


Regina menghela napas panjang. Entah kearahmana hidupnya akan berakhir. Setelah menandatangani kontrak, dia harus memainkan peran baru. Jatuh cinta dengan Gian dan menjadi calon istrinya.

__ADS_1


Masing-masing dari mereka memegang salinan surat perjanjian yang ditandatangani diatas materai. Dia mengira setelah menyetujui pernikahan kontrak semua akan berjalan cepat dan mudah. Namun banyak sekali kerikil yang harus mereka hadapi dan persiapan yang melelahkan. Serta hal paling tidak ingin Regina lakukan adalah meminta restu keluarganya untuk pernikahan omong kosongnya.


__ADS_2