Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Usaha Keras


__ADS_3

...Bulan Kedua...


Kecewa tidak bisa dihindarkan, setelah tahu hasilnya tidak sesuai harapan. Regina terlalu berharap mereka bisa sukses dalam sekali percobaan. Moodnya seketika berubah menjadi buruk. Sepanjang minggu Regina sangat sensitif dan mudah sekali kesal. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Gian tak banyak komentar dengan sikap Regina yang sedikit menyebalkan.


Setelah tamu bulanannya selesai, Regina mulai menjadwalkan kembali kapan waktu yang tepat untuk berhubungan. Gian dengan terpaksa mengosongkan waktunya agar mereka bisa menjalankan program dengan lancar. Dia tidak ingin berdebat dengan Regina. Meskipun terkadang dia tidak mood atau kelelahan setelah bekerja dan tidak bisa maksimal menjalankan program. Gian juga manusia biasa, terkadang energi dan hasratnya sedang tinggi, atau terkadang dia sangat lelah dan berharap berbaring saja setelah seharian di kantor.


Sepanjang hari di kantor, Regina bercerita dengan Andini. Salah satu pejuang garis dua yang sekarang sudah menjadi alumni karena kegigihan perjuangannya. Selama 5 Tahun Andini mencoba banyak vitamin, obat kesuburan, terapi, meditasi, hingga akhirnya memutuskan untuk menjalankan program IVF.


"Sabar aja, Re. Kalau belum 1 tahun nikah sih masih ada harapan buat hamil alami. Apalagi kamu pernah hamil sebelumnya."


"Iya sih, cuma aku khawatir aja. Soalnya aku udah ga muda lagi. Tahun depan 30 tahun, makin kecil nanti kesempatannya."


"Ngga kok, umur 35 keatas juga masih bisa. Meskipun resikonya juga cukup tinggi hamil pertama umur segitu. Asal jaga kondisi tubuh dan sering konsultasi dokter aja. Malah kalau kamu terburu-buru kaya gini, takutnya makin susah."


Regina mengerti sudut pandang itu. Tapi rasanya dia ingin segera mendapatkan kesempatan lagi untuk hamil. Entah karena perasaan bersalahnya karena dulu dia tidak siap dan tidak tahu, atau dia memang sudah matang untuk memiliki anak.


Anak itu rezeki, entah dengan cara bagaimana mereka bisa diberikan pada kita. Apakah dengan jalan yang mudah, atau dengan penuh perjuangan. Terkadang ada sebagian dari kita juga tidak dititipkan keturunan. Regina merasa lebih bisa mengendalikan dirinya setelah berbicara dengan Andini.


...****************...


'Halo, Alika' Sapa Regina di telepon ketika Alika mengubunginya.


'Halo. Kak Rere jadi kan dateng ke Grand Opening Meaty sabtu nanti?'


'Iya pasti dong, gimana persiapannya? Semua udah oke, kan? Ada yang bisa aku bantu lagi?'


'Semua udah oke. Tinggal kita gencarin marketingnya aja. Tim yang Kak Rere rekomendasikan udah keren banget. Sekarang lagi rame banget di sosmed soal produk kita bahkan sebelum buka.'


'Aku siapin orang-orang marketing terbaik dari anak-anak di Yayasan Bhakti. Meskipun masih fresh graduate, mereka udah biasa freelance dan magang buat menangani bidang digital marketing. Tinggal tarik beberapa influencer aja nanti buat bekerja sama dan review makanan di Meaty. Biar promosinya makin rame. Kamu pokoknya banyakin research buat develop menu baru dan jangan lupa awasin setiap outlet biar bisa jaga kualitas dan rasa."

__ADS_1


'Siap, Kak. Papih sampe kaget loh kok aku jadi jago banget bikin business planning kaya gitu. Aku bilang aku banyak baca dan diskusi sama pebisnis.'


'Pokoknya jangan sampai ada yang tahu aku yang bantu. Aku masih malu buat dibilang pebisnis. Ini karena aku suka aja sama kuliner dan tertarik banget sama model bisnis start up kaya gini.'


'Padahal harusnya Kak Rere bikin sendiri loh, start up dibidang F&B kaya gini.'


'Aku tim support aja. Terlalu banyak kerjaan di perusahaanku sekarang dan aku ga punya waktu buat mendirikan start up sendiri.'


Regina sekarang sangat dekat dengan Alika karena memberikannya dukungan untuk membuat start up F&B. Dengan kemampuan Alika sebagai lulusan Le Cordon Bleu, dia sudah pasti sangat tahu mengenai proses dan alur usaha kuliner. Alika hanya butuh dukungan manajerial di bidang bisnis saja.


Sama halnya dengan Regina dulu, dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mendirikan atau menjalankan sebuah perusahaan. Sekarang pengetahuannya lebih banyak dengan membaca banyak buku bisnis di ruang kerja Gian, dan berdiskusi langsung dengan mentor terbaik dibidang ini, Gian. Regina sekarang punya pemahaman yang cukup dalam mengenai bidang bisnis.


Tentu saja usahanya membantu Alika tidak Regina ceritakan pada Gian. Ini hanya project sampingan, dia tak ingin Gian tahu soal ini. Dengan bantuan dari Regina, Alika berhasil mendapatkan kepercayaan dari ayahnya untuk menggelontorkan modal awal diperusahaannya. Tinggal mengawasi bagaimana perusahaan kecil Alika tumbuh. Bisa jadi ini adalah salah satu senjata yang menguntungkannya.


...****************...


Setelah menghadiri Grand Opening perusahaan kecil milik Alika, Regina pulang ke rumah dan mempelajari laporan dari tim digital marketing yang menangani perusahaan tersebut. Mereka memberikan planning untuk sebulan kedepan terkait strategi branding produk-produk yang mereka kerjakan. Regina sibuk sendiri di studio mininya, menatap layar laptopnya dari tadi siang.


"Ga. Aku sibuk." Jawab Regina singkat. Akhir-akhir ini Gian agak menyebalkan. Padahal biasanya dia sangat aktif dan mudah dibuat panas, tapi saat-saat penting dimana mereka diharuskan berhubungan, Gian malah enggan. Meskipun mereka tetap melakukannya, tapi dia tidak terlihat excited. Hal itu membuat Regina kesal.


"Sibuk apa sih? Dari pagi kamu ninggalin aku, ikut kumpul sama ibu-ibu sosialita. Sekarang malah depan laptop terus."


"Kamu juga gitu. Waktu aku butuh, kamunya ga mau." Jawab Regina ketus.


"Sorry." Ucap Gian sambil mencium pipi dan memeluk Regina. Dengan cepat Regina menutup laptopnya, takut jika Gian berkomentar tentang apa yang dia kerjakan sekarang.


"Sekarang aku mau." Ucap Gian.


"Akunya yang ga mau."

__ADS_1


"Pleaaaaase" Gian merayu Regina dengan manja. "Sekarang kan libur, kamu mau yang gaya apa aja aku lakuin."


"Sekarang aku ga butuh."


"Tapi aku butuh" Ucap Gian dengan serius.


"Iiih sebel deh, giliran kamu mau. Aku harus selalu nurutin. Tapi kamu sendiri ngga mau nurutin aku." Teriak Regina kesal sambil menyingkirkan Gian yang bergelayut manja padanya.


"Padahal aku udah kosongin jadwal ke luar kota buat kamu loh."


"Tapi kamu lembur. Pas pulang capek dan ga semangat." Regina mengerucutkan bibirnya dengan sebal.


"Besok-besok aku ga kaya gitu lagi. Janji."


"Janji mulu kaya caleg"


Gian gemas dengan kekesalan Regina dan bibinya yang cemberut terlihat sangat lucu. Dia mengecupnya sejenak, kemudian menggendong Regina dan membawanya ke kamar.


"GIAAAAAN!!! TURUNIN CEPETAN!!!" Teriak Regina sambil menjambak rambut Gian.


"Ogah." Jawab Gian nakal.


Dia tidak akan menurunkan Regina dan mempedulikan protes-protesnya. Pokoknya hari ini Regina miliknya. Prajuritnya sudah siap berperang dan dia tidak menerima penolakan.


...****************...


Sudah test pack keempat yang Regina lemparkan ke tempat sampah pagi ini. Hanya garis satu yang terlihat disana. Tak ada tanda-tanda keberhasilan di bulan kedua ini. Padahal dia sudah telat 8 hari. Usaha kerasnya belum membuahkan hasil sama sekali.


"Kamu kenapa?" Tanya Gian masuk ke toilet. Wajahnya masih mengantuk dan rambut yang acak-acakan.

__ADS_1


"Minggir ah. Bete." Kata Regina mendorong Gian agar tak menghalangi langkahnya keluar dari toilet.


Gian memperhatikan test pack di dekat wastafel yang belum sempat Regina buang ke tempat sampah. Bulan ini mereka tidak berhasil lagi. Sambil berdecak kecewa Gian membuang alat tersebut ke tempat yang seharusnya. Menyiapkan diri dengan badai kekesalan Regina untuk beberapa hari kedepan.


__ADS_2