Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Gian Hadian Airlangga


__ADS_3

“Gimana pitching-nya, Re?” Tanya Alea saat Regina baru tiba di ruangan kantornya. Alea adalah sahabatnya semenjak kuliah. Dia menjabat sebagai wakil diperusahaan Regina.


“Gagal, Le. Perusahaan kita belum bisa menerima investasi dari Gavels. Kita ga masuk kriteria mereka.”


“Ooh..” Kata Alea singkat. “Mungkin bisa coba ketempat lain atau nunggu keajaiban dulu, siapa tau ada yang tiba-tiba ngasih dana.” Lanjutnya sinis.


Akhir-akhir ini hubungan Regina dan Alea dalam kondisi yang cukup buruk. Alea kecewa dengan Regina karena tidak bisa menjalankan perusahaan dengan baik hingga merugi ditambah lagi Alea belum menerima gaji selama 3 bulan. Dia merelakan tak mendapat gaji demi menutup minus perusahaan. Sama halnya dengan Regina.


“Kamu udah makan? Aku beliin ayam goreng mentega, kesukaan kamu.”


“Thanks.” Balasnya singkat, kemudian mengambil makanan dari Regina dan kembali ke ruangannya.


Regina menghela napas.


Keadaan Edmode maupun persahabatannya dengan Alea akan terus memburuk jika dia tidak segera mendapatkan investor. Regina bisa membayangkan jika harus melakukan PHK kepada karyawannya, dia tidak sanggup dan tidak tega. Banyak dari mereka menggantungkan hidupnya dari pekerjaan disini. Belum lagi Regina harus memberikan pesangon pada mereka, tak ada uang yang tersisa untuk itu.


Memikirkan hal-hal itu membuat kepala Regina sakit. Terpaksa dia meminum obat pereda nyeri untuk meredakannya.


Maya masuk ke ruangan Regina membawa beberapa dokumen. Berlawanan dengan Regina, Maya terlihat sumringah.


“Bu Rere, gimana pitching-nya?” Tanya sekretarisnya itu. Regina hanya menggeleng untuk memberikan jawaban.


“Yaah..” Katanya lagi terlihat sedih. “Ini dokumen soal daftar vendor yang Bu Rere minta.” Lanjutnya menyerahkan setumpuk dokumen di hadapan Regina.


“Oke. Thanks ya. Nanti aku cek.”


“Bu..”


“Apa?”


“Mau nanya dong”


“Iya, apa?” Tanya Regina tidak sabar.


“Tadi Bu Rere ketemu sama Gian Hadian Airlangga ga?”


“Siapa tuh?”


“Idih.. itu loh CEO Gavels. Kan saya udah kasih profil perusahaan dan petinggi-petingginya buat Bu Rere baca.”

__ADS_1


“Aaah..” Jawab Regina pura-pura mengiyakan. Dia lupa membaca profil perusahaan modal ventura tersebut. Sejak mendapatkan undangan pitching, Regina hanya fokus menyiapkan dokumen dan presentasi saja.


“Kenapa emangnya?” Tanya Regina.


“Ganteng loh, Bu. Kaya boyband Korea. Single lagi.”


“Ya terus? Urusannya sama perusahaan kita apa?”


“Ga ada sih, Bu. Saya cuma ngefans aja sama dia.” Kata Maya merengut. “Pernah masuk majalah bisnis tuh profilnya. Saya aja pernah ikut seminarnya dia, sampe rela bolos kerja...Eh keceplosan he he.”


“Ooh pantes. Izin-izin sakit tuh bohong jadinya?”


“Ih nggak lah, kalau itu beneran. Asli, Bu. Percaya deh sama Maya.”


“Udah ah. Balik sana. Pusing ngobrol sama kamu. Cowo mulu pikirannya.” Pangkas Regina yang sedang malas mengobrol.


Maya keluar dari ruangan meninggalkan Regina sendiri yang konsentrasinya sudah terpusat ke dokumen. Hampir 1 jam Regina memeriksa daftar vendor yang ada di dokumen. Dia merasa sangat lelah hari ini dan berpikir akan pulang cepat. Tapi masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Regina menelepon meja Maya, memberitahukannya dokumen sudah selesai diperiksa. Namun rupanya Maya sedang tidak ada di meja kerjanya. Regina beranjak dari kantornya untuk menyerahkan dokumen tersebut sendiri.


Seperti yang diduga, meja Maya kosong. Regina menyimpan tumpukan dokumen yang dibawanya di meja Maya. Pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah majalah yang tergeletak disana. Seorang laki-laki muda berpose dan tersenyum di cover-nya. Tercetak tulisan ‘Gian Hadian Airlangga Tokoh Investor Muda’ dan menampilkan wajah yang tidak asing bagi Regina.


“WHAAAAATT!!!??” Teriak Regina shock.


“Waduh kenapa, Bu? Kok teriak-teriak?” Tanya Maya dari belakang Regina.


“Ini Gian yang kamu maksud itu?”


“Iya, Bu. Ganteng ya? Tadi beneran ga ketemu dia, Bu?”


“Ngga.” Jawab Regina cepat. Berpura-pura. “Aku pinjem majalah kamu ya.” Regina membawa majalah tersebut dan berjalan cepat ke ruangannya.


“Iya..boleh.. Jangan sampe rusak ya, Bu.” Kata Maya bingung.


Aaaaaarrrrgggh


Regina berteriak dan membanting majalah ke meja kerjanya.


“I’m so f#cked up! Regina, lu t#lol banget sih!!! Kok bisa-bisanya ga tau dia CEO Gavels. Aaaaaaaaaaa”

__ADS_1


“Gimana kalau dia nyebarin soal kejadian pitching tadi ke investor-investor lain? Ga mungkin kan kalau para investor tuh ga temenan? Mereka pasti suka berbagi info soal perusahaan yang red flag ke sesama rekannya kan? Gimana kalau Edmode di blacklist?”


Regina terus bermonolog.


“Tenang, Re. Tenang. Sekelas CEO kayanya ga bakal punya grup chat yang isinya julid macem emak-emak kan? Lagian dia kayanya bakalan lupa sama wajah gua kan? Dia pasti ketemu banyak orang terus lupa. Iya kan? Iya kan?” Lanjut Regina menenangkan diri.


“Noooo. Ga mungkin. Gua aja langsung kenal sama wajah dia. Ga mungkin dia ga kenal wajah orang yang teriak depan dia. **#*!!!”


Regina terus bermonolog dan berteriak selama 15 menit. Mengutuk kebodohannya. Dia terlalu emosi pada saat itu mendengar kata-kata dari Gian.


Regina mulai tenang dan duduk di kursinya. Mencoba berpikir langkah apa yang akan dilakukan kalau sampai tersebar gosip bahwa pemimpin Edmode berlaku tidak sopan kepada pemimpin Gavels.


“Gua harus minta maaf sama si Gian itu. But how?”


Kemudian Regina melihat majalah yang tergeletak di meja kerjanya. Membuka lembarannya hingga menemukan artikel mengenai Gian.


Artikel tersebut memiat biografi singkat mengenai Gian. Lahir di Jakarta, berusia 29 tahun. Berkuliah di Stanford hingga magister. Melanjutkan perusahaan kakeknya dan membuat gebrakan di perusahaan tersebut. Dia telah menjadi salah satu tokoh muda inspiratif yang berkarir sebagai investor dan CEO perusahaan modal ventura. Prestasi-prestasi yang telah dia raih juga terpampang jelas di artikel tersebut.


Regina merasa sangat kecil setelah membacanya. Dia mengakui bahwa Gian sangat hebat dalam bidangnya. Apalagi dia sukses melanjutkan perusahaan yang ditinggalkan kakeknya. Tidak seperti Regina yang amatir dan gagal.


Diujung artikel tersemat akun media sosial Gian. Regina jadi punya ide untuk meminta maaf pada Gian lewat akun media sosialnya. Meskipun sebenarnya sangat tidak etis bagi pemimpin perusahaan untuk meminta maaf dimedia tidak resmi dan personal seperti itu. Seharusnya dia mengirim email permintaan maaf secara profesional dan official.


Setelah menemukan akun media sosial Gian. Regina masih ragu-ragu untuk memberikan pesan pribadi. Sia malah melihat-lihat konten pada akun tersebut. Gian rupanya cukup aktif memposting kegiatannya terutama yang berhubungan dengan bisnis, acara seminar, foto liburan, foto keluarga, dan foto semasa sekolah serta kuliah. Tak terasa Regina terus scroll media sosial, melihat bagaimana kehidupan laki-laki tersebut dari postingannya. Regina lupa tujuan awalnya untuk mengirimkan pesan permintaan maaf. Dia hanya mem-follow akun tersebut, kemudian berselancar mengorek kehidupan dunia maya milik Gian.


***


Di luar ruangan Regina.


“May, Bu Regina kenapa teriak-teriak gitu?” Kata Fadli penasaran.


“Ga tau. Kesurupan kali.”


“Hush... Sembarangan mulutnya!”


“Gak apa-apa. Mang Jajang bisa rukyah. Nanti sama mamang dikeluarin jinnya.” Kata Mang Jajang OB kantor ikut nimbrung pembicaraan.


“Ga usah, mang. Mending keluarin sampah aja tuh.” Kata Maya.


 

__ADS_1


__ADS_2