
Gian menyiapkan sarapan untuk Regina, banana pancake dan cokelat panas. Tapi sepertinya Regina masih tertidur. Gian yakin dia badannya masih kelelahan karena kecelakaan kemarin. Pada akhirnya Gian hanya meninggalkan makanan tersebut di meja makan.
[Gian]
Re, aku udah bikin sarapan di dapur. Aku berangkat kerja duluan.
Setelah mengirim pesan, Gian berangkat dari rumah. Namun tujuannya bukan ke kantor melainkan ke sebuah bengkel. Kemarin orang suruhannya sudah mengambil mobil Regina sebagai barang bukti dari polisi. Gian yakin ada yang tidak beres. Selama ini dia selalu memeriksa konsisi mobil Regina setiap hari. Masalah pada mobil tua itu hanya sering mogok saja. Tapi Regina mengatakan dia seperti kehilangan kendali dan remnya blong. Dalam waktu 3 minggu ini tidak mungkin kondisi remnya memburuk. Bulan sebelumnya mobil itu juga sudah di bawa untuk perawatan di bengkel.
“Apa kabar, Pak?” Sapa seorang montir dengan sumringah. Laki-laki berusia 40 tahun dengan kumis lebat dan kepala botak itu kemudian menjabat tangan Gian penuh semangat.
“Yang kemarin udah nyampe? Gimana udah diperiksa belum?” Kata Gian.
“Udah. Si Agus yang periksa kemarin, sampe malem dicari yang rusaknya apa.” Katanya. “GUS! AGUS!” Lanjutnya berteriak memanggil laki-laki bernama Agus yang sibuk bekerja di kolong mobil. Agus keluar dari sana dengan baju bernoda oli. Dia melepaskan sarung tangan kemudian menjabat tangan Gian.
“Pak.” Sapanya ramah.
“Gimana, Gus? Mobilnya ada masalah.” Kata Gian tanpa basa-basi.
“Ada masalah sama kabel remnya, Pak. Kayanya ada yang motong.”
“Maksudnya? Ada yang sengaja motong gitu?”
“Sebentar, Pak.” Kata Agus, kemudian berjalan menuju ruangan bengkel dan mengambil sesuatu. Benda pipih yang cukup panjang dia tunjukan pada Gian. “Nih, Pak. Biasanya putusnya ga kaya gini. Ini sih kaya disayat gitu sama pisau atau cutter gitu, Pak. Makanya kayanya si ibu jadi ga bisa ngerem dengan bener.” Lanjut Agus menjelaskan.
Sesuai dugaan Gian, memang ada yang tidak beres dengan kecelakaan yang Regina alami. Tapi siapa yang bisa berbuat seperti itu? Gian sebenarnya sudah memikirkan satu nama. Tapi dia masih menunggu bukti sebelum bertindak gegabah.
“Makasih ya, Gus.” Kata Gian pada Agus. “Pak Ahmad, saya minta foto dan laporan soal ini dikirim ke nomor saya ya!” Lanjut Gian pada Bapak botak.
“Siap, Pak.”
“Mobilnya mau digimanain, Pak? Mau dibenerin aja?” Kata Agus.
“Buang aja.”
“Jangan, Pak. Sayang, masih bisa dibenerin kok.”
“Ya udah buat kamu aja.” Kata Gian tersenyum. Dia kemudian berpamitan kepada Agus dan Ahmad.
Gian melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Hari ini tidak ada meeting pagi yang harus dia hadiri. Ada beberapa dokumen saja yang harus diperiksa. Seseorang mengetuk pintu ruangan Gian, saat dia belum lama sampai disana.
Seorang laki-laki muda berumur 25 tahunan masuk. Dia mengenakan kemeja berwarna maroon dan celana hitam. Berpakaian rapi. Ditangannya terselip amplop besar berwarna cokelat. Sejak masuk dia terus tersenyum ramah pada Gian.
“Pak, ini yang bapak minta.” Katanya menyerahkan amplop cokelat tersebut di meja Gian. “Laporan transaksi kartu kredit dan perjalanan Bu Regina kemarin. Saya juga udah dapet CCTV di café dan parkiran café-nya. Semuanya udah ada disana.” Lanjutnya sambil menunjuk amplop yang tadi dia serahkan.
Gian membuka amplop tersebut dan mengambil dokumen serta flashdisk yang berada dalam amplop. Kemudian menyambungkannya ke komputernya. Dia bisa melihat Regina bersama dengan seorang laki-laki di café, kemudian laki-laki tersebut keluar dan mendekati mobil Regina. Bersama 2 orang lain yang datang dari luar, mereka mengotak-atik mobil Regina.
Kemarahan menguasai hatinya. Gian memang tidak bisa melihat dengan jelas siapa laki-laki yang bersama Regina dari CCTV tersebut, tapi dia tahu itu adalah Rafi. Orang itu benar-benar gila! Regina bisa saja mati dalam kecelakaan itu.
__ADS_1
“Sigit, Thank you infonya.”
“Siap, Pak.” Ucapnya kemudian keluar dari ruangan Gian.
...****************...
Bel apartemen Gian tekan beberapa kali, menunggu si penghuni keluar. Suara kunci terdengar dan pintu sedikit terbuka. Menampilkan seorang laki-laki dengan tatapan nyalang dan penampilan berantakan. Dengan keras Gian menendang pintu tersebut hingga sepenuhnya terbuka. Si penghuni terjengkang ke belakang. Gian masuk kemudian langsung menyergap laki-laki tersebut. Dia mencoba berbalik dan berdiri, namun Gian sudah lebih dulu memiting salah satu lengannya ke belakang badan dan mencengkram lehernya, sehingga dia berada dalam posisi telungkup di lantai dan kesulitan bergerak.
“Gua bisa patahin leher lu sekarang. Jangan banyak ngelawan tol*l!” Kata Gian dingin sambil terus mencengkram leher belakang Rafi dengan kuat.
“Anj*ng lu!” Teriak Rafi kesakitan. “Lu mau bunuh gua? Bunuh aja! Gua ga takut sama lu! Biar sekalian lu dipenjara!”
“Yang harusnya masuk penjara itu lu bangs*t! Lu ngerusak mobil Regina biar dia kecelakaan, kan? Lu beneran ga waras!”
“Punya bukti apa lu nuduh gua sembarangan?”
“Bukti? Banyak! Gua bisa lihatin lu satu persatu bukti kejahatan lu.” Kata Gian yang tak habis pikir dengan kelakuan Rafi yang masih mengelak. “Lu pikir gua orang biasa yang dengan mudah biarin hal kaya gini lolos? Lu ga tau gua bisa ngumpulin bukti bahkan semua histori kehidupan lu dalam waktu singkat? Termasuk info soal ibu lu yang lagi kemoterapi sekarang? Hah?”
“Mau apa lu anj*ng bawa-bawa ibu gua? Buat ngancam gua. Gitu?”
“Gua ga kebayang gimana perasaan ibu lu yang lagi kemoterapi buat kanker nasofaring denger anaknya masuk penjara. Mau taruhan berapa lama dia hidup abis denger anaknya mau nyelakain orang?” Gian tersenyum sinis.
“Anj*ng lu!”
“Denger! Gua bisa langsung laporin lu ke polisi atau bunuh lu sekarang juga. Tapi gua ga bakal ngelakuin itu.”
“Gua masih mikirin perasaan Regina kalau tahu mantan tunangannya masuk penjara atau mati karena gua bunuh. Dan karena gua orang baik, makanya gua mau kasih lu kesempatan.”
“Bacot! Gua ga butuh kesempatan dari lu!”
“Yakin? Sama kaya gua bisa pecat lu dari perusahaan manapun, gua juga bisa intervensi pengobatan ibu lu. Mau ibu lu mati karena ga dapet pengobatan layak?”
“Lepasin gua!”
Gian melepaskan cengkramannya pada Rafi. Membiarkannya bangun dari lantai. Akhirnya mereka bisa saling menatap masing-masing secara setara. Mata Rafi dipenuhi kebencian, penampilannya lebih berantakan dari yang Gian kira, kumis dan janggut tak terurus, rambut kusut, mata memerah, baju kaos yang dipenuhi noda makanan dan celana training yang hampir kedodoran. Gian mempertanyakan selera laki-laki Regina. Orang seperti ini?
“Lu dateng kesini mau apa?” Katanya
“Kasih lu peringatan dan tawaran.”
“Lu pikir gua bakal setuju sama tawaran lu?”
“Itu terserah lu. Tapi menurut gua, lu harusnya setuju soalnya lu ga punya banyak pilihan.”
Rafi tersenyum meremehkan.
“Gua pingin lu pergi dari Jakarta. Jauhin Regina. Gua udah nyiapin semua kebutuhan lu di perusahaan tambang di Kalimantan sebagai QC. Gua tahu otak lu cukup pinter buat urusan kerjaan. Lu ga akan bisa pulang selain buat hari raya. Ibu lu bisa lu bawa kesana setelah kemonya selesai. Gua punya banyak mata disana, jadi jangan macem-macem buat kabur dan ketemu Regina lagi.”
__ADS_1
“Gua ga butuh tawaran lu.”
“Bercanda. Ini bukan tawaran, tapi paksaan.” Balas Gian sambil tersenyum “Orang-orang gua besok bakal bawa lu, mau atau ga mau. Lu bakal tetap pergi kesana. Kalau lu ngelawan, gua bisa bikin scenario kaya yang lu lakuin ke Regina. Bikin ibu lu mati karena keracunan obat, kemalingan, atau kecelakaan.” Kata Gian dingin.
“Lu harusnya ngerti pas gua kasih peringatan dengan pemecatan lu, kalau orang kaya gua ga bisa lu lawan. Koneksi gua dimana-mana. Gua bisa bikin hidup lu ga nyaman. Tapi lu malah ngelakuin hal gila kayak gini.”
“Gua ga bisa lihat Regina sama orang brengs*k kaya lu! Mendingan dia ga sama siapa-siapa sekalian.”
“Gua juga ga mau Regina sama orang brengs*k kaya lu. Tapi gua ga sampai hati bikin dia celaka kaya yang lu lakuin. Lu beneran ga waras.”
“Lu ga serius kan sama Regina? Pernikahan lu cuma bohongan kan? Jangan sok jadi pahlawan! Terus menurut lu Regina bakal bahagia sama lu?”
Gian memang mungkin tidak bisa memberikan kebahagiaan pada Regina, tapi tak pernah terpikir untuk menyakitinya walaupun sekarang dia juga terobsesi padanya. Dia akan membiarkan gadis itu dengan pilihan-pilihannya jika itu yang membuatnya bahagia. Tapi kalau sampai Regina tetap memilih laki-laki gila ini, Gian tidak bisa membayangkannya.
“Kenapa ngga? Gua bukan cowo labil kaya lu yang ninggalin dia buat cewek lain.”
“Lu ga ngerti apa-apa. Jangan sok tahu!”
“Gua juga ga mau ngertiin lu kok. Tenang aja.” Gian menatap Rafi. Amarah dimatanya masih belum padam, tapi ada gamang dihatinya ketika Gian mengaitkan semuanya dengan ibunya. Rafi tahu Gian sangat berpengaruh. Hal yang dia katakan bukan main-main. Dia sudah tidak bisa mendapatkan hati Regina, dan kini harus menerima kemarahan Gian dengan melibatkan ibunya. Pikirannya cukup rasional untuk mempertimbangkan pilihan Gian.
“Di luar ada orang yang bakal ngawasin lu. Lu punya waktu 24 jam buat beresin barang lu, dan ngehubungin ibu lu sebelum pergi ke luar pulau. Safe trip!” Kata Gian menepuk pundak Rafi, kemudian meninggalkannya.
Gian tahu perbuatannya kali ini tak akan Regina sukai. Dia bisa membayangkan wajah gadis itu yang marah, dan berteriak sambil menangis saat tahu mantan kekasihnya Gian singkirkan ke tempat yang jauh. Apalagi kalau Regina tahu kondisi ibu Rafi sekarang sedang menjalani kemoterapi. Regina dan nilai moralnya yang tinggi. Regina dan rasa simpatinya pada Rafi.
Tangannya masih bisa merasakan denyut dileher Rafi. Dalam satu gerakan saja dia bisa menghentikan denyut tersebut selamanya. Tak pernah dalam hidupnya dia merasa sangat ingin membunuh seseorang selain yang dia lakukan pada Alex dan Rafi. Hari ini dia merasa bersyukur bisa mengendalikan dirinya agar tindakannya tidak terlalu jauh.
...****************...
Saat memarkirkan mobil, Gian melihat lampu rumahnya masih padam. Biasanya saat pulang lampu-lampu diluar rumah menyala, meskipun lampu di dalam rumah telah mati karena Regina sudah tertidur lebih dulu. Gian masuk ke rumah yang gelap gulita dan menyalakan satu persatu lampu di ruangan lantai satu. Ketika sampai di dapur, banana pancake dan minuman cokelat yang Gian buatkan untuk Regina tak tersentuh sedikitpun. Dengan cepat dia melangkahkan kaki menuju kamar Regina. Pintu kamarnya terkunci.
“REGINA!! BUKA PINTUNYA!! RE!!! REGINA!!” Teriak Gian berulang kali sambil menggedor-gedor pintu. Dia juga mencoba menghubungi handphone Regina tapi tak ada jawaban. Suara ringtone terdengar dari dalam. Regina ada di dalam, entah dengan alasan apa dia tidak membukanya.
Satu menit berlalu saat Gian terus meneriakan nama Regina di depan kamarnya. Kemudian Gian berlari ke ruang kerjanya. Mencari-cari di laci meja. Puluhan kunci dalam sebuah gantungan dia temukan dan bawa ke depan pintu kamar Regina. Dia mencoba beberapa diantaranya, namun bukan pasangan kunci yang cocok. Kunci lain dicoba, dengan suara klik lembut pintu pun terbuka.
Gian segera masuk ke kamar Regina. Ruangan gelap, Gian menyalakan lampu untuk menerangi. Dia melihat sosok yang bergulung di bawah selimut.
“Regina?” Kata Gian, tapi tak ada reaksi dari gadis itu. Dengan satu gerakan dia menyingkap selimut yang menutupi sosok yang ada dikasur. Regina bergelung, wajahnya pucat, dan matanya tertutup. Gian dengan panik mencoba membangunkannya. Tapi Regina hanya terkulai lemas. Badannya demam. Tanpa pikir panjang, Gian menggendong Regina dan membawanya ke mobil menuju rumah sakit.
Dia tidak tahu dari kapan Regina sakit. Bisa jadi dia semalaman sudah seperti itu. Harusnya dia mengeceknya sebelum berangkat tadi pagi. Dia tahu Regina sangat ketakutan dan shock karena kecelakaan yang dialaminya kemarin. Bodohnya dia menganggap gadis itu bisa mengatasinya dengan segera dan kembali normal. Perasaan bersalah menyelubungi hati Gian.
Dokter mengatakan Regina mengalami demam dan dehidrasi, sehingga dia sangat lemas dan sulit membuka matanya, kondisinya di perparah karena di shock setelah kecelakaan kemarin. Tidak ada tanda infeksi dari lukanya. Setelah menerima tindakan di IGD, Regina dipindahkan ke ruang rawat inap.
Setelah beberapa jam, keadaan Regina cukup membaik. Dia tidak terlihat pucat lagi. Namun dia masih tertidur. Gian terus mengawasinya sepanjang malam. Berharap Regina segera terbangun. Dia benar-benar benci melihat gadis itu terbaring di rumah sakit dan tidak berbicara padanya.
Hari ini yang ada dipikirannya hanya tentang kejadian kecelakaan kemarin dan Rafi. Dia juga membayangkan dan menduga-duga mengenai reaksi-reaksi Regina tentang tindakan-tindakannya hari ini. Gian luput memperhatikan hal yang sangat penting dari semua kejadian kecelakaan tersebut, kondisi Regina yang sebenarnya. Dia seharusnya menemani Regina seharian ini, bukannya pergi dan berniat menghajar mantannya.
Gian duduk dikursi di samping ranjang Regina. Menggenggam dan mengelus tangan Regina dengan lembut. Memperhatikan dia tertidur dengan napas yang teratur. Tak lama dia menjatuhkan kepalanya di samping ranjang Regina, ikut terlelap.
__ADS_1