Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Madly in Love


__ADS_3

Sekarang Gian membenci pergi ke acara apapun sendirian. Dia tidak bisa menggandeng tangan Regina dan tidak memiliki teman mengobrol. Padahal dulu sudah terbiasa menghadiri acara apapun seorang diri.


Hari ini Regina sedang ingin beristirahat. Beberapa hari ini dia sering mual dan muntah-muntah. Mungkin pengaruh kehamilan mudanya. Terpaksa Gian harus berangkat sendiri, karena kondisi Regina sedang tidak sehat.


Pak Sunaryo menyambut ramah Gian yang baru saja masuk ke gedung. Hari ini adalah acara pertunangan anak kedua Pak Sunaryo. Sebuah acara makan-makan mewah dia selenggarakan untuk merayakannya.


"Kok Regina gak dateng sih, Gi?" Tanya Melinda saat ikut menyambut Gian dan tamu lain bersama suaminya.


"Lagi kurang sehat. Mual-mual dari pagi." Jawab Gian santai .


"Oh iya lagi hamil muda ya? Ga nyangka sebentar lagi jadi bapak, padahal dulu kamu tuh masih kecil banget loh."


"Iya, ga nyangka sekarang udah bisa ngehamilin anak orang aja." Sambung Pak Sunaryo. Kemudian mereka tertawa.


"Kalau tante sih bebannya tinggal si Alika doang yang belum nikah. Masih sibuk bisnis barunya itu loh."


"Alika buka usaha? Bukannya dia mau jadi chef?"


"Buka perusahaan makanan gitu, apalah tante gak ngerti, kan dia belajar sama istri kamu."


"Hah? Maksudnya?"


"Loh? Emang Regina gak cerita dia yang mentoring Alika soal bisnisnya sekarang?"


Gian bingung dengan perkataan Melinda. Regina menjadi mentor bisnis Alika? Sejak kapan dia tertarik menjalankan bisnis? Mungkin memang akhir-akhir ini Regina senang sekali mendengarkannya menganalisis business planning dan membahas tentang dunia bisnis. Bahkan dia juga membaca buku-buku di ruang kerja Gian. Tapi tak pernah terpikirkan bahwa Regina akan menjadi mentor untuk Alika yang sama sekali awam tentang ini.

__ADS_1


"Sejak kapan Regina ngajarin kamu soal bisnis, Lik?" Tanya Gian dengan sengaja mengajak ngobrol Alika yang sedang duduk sendirian.


"Emmm.. Kak Gian tau darimana kalau Kak Rere ngajarin aku?" Tanya Alika berhati-hati. Regina pernah mengatakan dia tidak ingin ada orang yang tahu tentang semua bantuannya pada Alika. Tapi Gian sekarang sudah mengetahui semuanya.


"Ibu kamu yang bilang. Apa yang dia ajarin sama kamu?"


"Kak Rere sebenarnya yang beberapa bulan


ngasih ide bikin start up F&B, konsepnya cloud kitchen. Cocok buat bertahan di kondisi pandemi. Cuma ada dapur dan melayani pesan antar aja. Ada 2 cabang yang sebenarnya punya konsep restoran, bisa live cooking. Pokoknya aku diajarin bangun planning soal bisnis ini brick to brick, cara marketingnya, dan lain-lain. Makanya aku bisa bujuk papih buat modalin. Soalnya design dan planning bisnis dari Kak Rere udah keren banget." Kata Alika bersemangat.


"Aku pernah denger, start up kamu lagi naik banget. Bahkan melampaui pesaing yang lebih dulu pake konsep ini. Selamat ya, Lik." Ucap Gian yang ditanggapi Alika dengan malu-malu.


Ya, Gian mendengar tentang temporary freeze salah aatu partner investasinya karena tidak bisa merebut pasar dengan konsep cloud kitchen-nya yang dulu Gian kira akan menjadi senjata utama start up tersebut. Dalam beberapa bulan semenjak Alika memulai bisnisnya, start up partner-nya kehilangan kekuatan bisnisnya. Bahkan Om Bayu sangat kecewa dengan start up ini. Start up tersebut milik Vanya.


Ada hal yang mengganggunya sejak tadi. Regina sangat dekat dengan Alika, bahkan bersedia menjadi mentornya dalam membangun bisnis, konsep bisnis Vanya yang sama diterapkan pada start up Alika, start up Vanya yg kehilangan marketnya setelah Alika masuk ke dunia bisnis. Ini bukan cuma kebetulan, kan?


...****************...


Gian sampai di rumah. Pikirannya campur aduk. Bingung, kagum, dan jujur dia sendiri merasa takut. Jika benar dugaannya bahwa Regina ada dibalik bisnis Alika yang membuat Vanya merugi, maka istrinya itu benar-benar orang yang sangat menakutkan. Diam-diam merencanakan semua demi menyingkirkan Vanya. Gian sepertinya memang belum mengenal istrinya.


Selama ini Regina yang dia kenal adalah wanita yang sangat impulsif, perasa, dan selalu membutuhkan bantuannya. Dia tidak pernah menyangka istrinya secerdik ini.


"Aku gak sempat masak jadi beli di luar." Kata Regina menyiapkan makanan di atas meja.


"Kamu abis dari mana? Bukannya tadi pagi mual-mual?" Tanya Gian yang melihat Regina memakai riasan diwajahnya.

__ADS_1


"Ketemu Maya sebentar, minta anterin dia bakso yang katanya enak banget. Aku lagi ngidam bakso." Ujar Regina mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Mereka duduk di meja makan saling berhadapan. Memakan makanan di depan mereka dengan tenang. Regina terus memperhatikan Gian diam-diam, menatap laki-laki itu. Setelah Alea mengirimkan rahasia yang tak pernah Gian ceritakan padanya. Hatinya sangat kacau. Kenapa Gian setega itu?


Regina menerima semua bukti chat Alea dengan Rafi, tentang kecelakaannya dulu, tentang penyerangan Gian pada Rafi, pemaksaan yang Gian lakukan pada mantan tunangannya dulu agar dia bekerja di luar pulau. Gian bahkan menyewa orang untuk memaksa Rafi agar berangkat secepatnya meninggalkan Jakarta. Fakta lain yang membuat Regina terhenyak adalah, Rafi bahkan tidak diizinkan untuk kembali pada ibunya yang sedang menjalani kemoterapi, hingga akhirnya meninggal. Jika tahu apa yang bisa Gian lakukan dengan kekuasaannya, maka suaminya itu benar-benar orang yang menakutkan.


Gian dan Regina tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Saling mengetahui bahwa keduanya adalah orang yang gila, sangat gila karena hubungan ini. Gian melakukan apa saja untuk menjauhkan Rafi dari Regina dengan menyabotase hidup laki-laki itu hingga dia tak bisa melihat ibunya untuk terakhir kali. Regina melakukan apa saja untuk menjauhkan Vanya dari Gian dengan menyabotase bisnisnya hingga Vanya merugi, bahkan mengancamnya untuk menyebarkan semua kejahatannya ke publik.


Kalau bukan karena tergila-gila satu sama lain. Apakah perilaku buruk seperti itu akan merasa lakukan?


Gian akan lebih berhati-hati dengan Regina. Tapi dia terlalu mencintainya hingga bisa senekat itu.


Regina akan berhati-hati dengan Gian. Tapi dia terlalu mencintainya hingga bisa melakukan apa saja untuknya.


Keduanya tahu, hal buruk yang telah mereka lakukan pada orang lain adalah untuk menjaga hubungan ini terus berlanjut. Agar mereka terus saling mencintai tanpa gangguan. Mereka akan menyingkirkan semua penghalang. Apapun itu bentuknya. Bagaimanapun caranya.


"Kamu gak bakalan jadi musuh aku kan, Gi? Aku sayang sama kamu." Kata Regina, tangannya menggapai dan menggenggam tangan Gian.


Gian tersenyum. Mereka sepertinya sudah saling tahu, hal-hal buruk yang telah disembunyikan satu sama lain untuk tetap bisa duduk berdua disini sekarang.


"Kamu ga boleh menyingkirkan aku ya, Re? Aku sayang sama kamu." Balas Gian.


Keduanya saling menatap dan tertawa. Tak ingin menjadikan satu sama lain musuhnya, karena mereka saling mencintai. Sangat mencintai hingga menjadi segila ini.


Pada akhirnya mereka hanyalah dua orang yang licik dan penuh muslihat yang saling jatuh cinta.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siapa yang lebih jahat karena terlalu bucin sama pasangannya? Gian atau Regina? 🤔


__ADS_2