Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Tentang Surat Wasiat Kakek


__ADS_3

Meeting hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran Gian. Beberapa project yang ditangani Gavels kurang memuaskan dalam beberapa bulan kebelakang. Meeting tersebut berjalan cukup lama, hingga saat Gian keluar dari ruang Meeting menuju ruangannya, hari ternyata sudah beranjak petang. Tanpa sengaja Gian bertemu dengan Vanya, saat akan memasuki lift.


“Hai, Gi.” Sapa Vanya.


“Habis ngapain disini?” Kata Gian menanggapi.


“Meeting sama timnya Om Bayu, buat ngomongin soal teknikal investasi di perusahaanku.”


“Oh. Congrats ya, udah lolos pitching dan gabung sama Gavels.” Ucap Gian. Mereka memasuki lift.


“Aku kira bakal pitching sama kamu.” Kata Vanya, hanya ada mereka berdua di lift.


“Om Bayu lebih expert di F&B, lagian ini industri baru yang Gavles tangani. Harus sama yang berpengalaman dulu.”


“Bukan karena kamu ga mau ketemu aku, kan?”


Gian hanya terdiam. Tidak menyanggah maupun menyetujui pertanyaan Vanya. Sebagian dirinya mengatakan iya. Dia tidak ingin berurusan dengan Vanya karena kejadian di masa lalu yang kurang menyenangkan saat dia berusaha mempengaruhi kakek dan neneknya untuk menjodohkan mereka. Hal yang lainnya adalah karena Regina begitu cemburu pada Vanya. Mengurusi perusahaan Vanya hanya akan menambah masalah dihubungannya dengan Regina.


“Sebenernya aku pingin ngomong sama kamu, udah dari lama.” Lanjut Vanya.


“Ya udah silakan.”


“Ga disini, temenin aku makan malem. Boleh?” Kata Vanya sambil tersenyum.


“Aku harus pulang.” Tolak Gian.


Lift berdenting kemudian terbuka. Gian baru saja akan melangkahkan kakinya keluar lift, tetapi Vanya meraih lengan Gian menghentikannya.


“Aku mau tanya soal surat wasiat kakek.”


Gian menatap bingung Vanya. Menautkan kedua alisnya. Bagaimana Vanya tahu tentang surat wasiat kakeknya? Hanya keluarga Airlangga dan Pak Narta yang mengetahui adanya surat wasiat dari kakeknya.


“Kok kamu tahu soal surat wasiat kakek?” Tanya Gian curiga.


“Temenin aku makan dulu. Nanti aku jelasin.”

__ADS_1


“Tunggu di lobby.”


Gian keluar dari lift dan berjalan ke ruangannya. Sementara Vanya melanjutkan lift hingga turun di lobby. Dia menunggu Gian di sofa dekat resepsionis.


Mereka sampai di mall, Vanya mengajak Gian untuk memakan sushi. Dia memesan aburi salmon sashimi dan hamachi. Gian tidak selera makan dan hanya memesan orange juice, dia ingin pulang dan makan malam bersama Regina.


Pesanan sudah sampai di meja. Vanya segera melahap makanan di hadapannya. Gian hanya memperhatikan sambil sesekali meminum orange juice-nya. Dia membiarkan Vanya sementara waktu untuk menikmati makanannya sebelum berbicara.


“Jadi apa yang mau kamu omongin?” Tanya Gian yang ingin segera pulang.


“Ga sabaran banget sih, Gi. Aku lagi makan loh.” Kata Vanya sambil tersenyum. Dia menghentikan makannya dan menatap Gian “Kamu habis honeymoon dari Maldives ya sama Regina? Padahal aku dulu sering cerita depan kamu dan kakek nenek kalau aku pingin banget liburan ke sana, kalau aku nikah. Dan yang aku pingin aku kesana sama kamu, Gi.”


“I think you should move on, Van. Aku ga punya perasaan apa-apa sama kamu, meskipun kamu bawa-bawa kakek dan nenekku biar aku ngerasa bersalah.”


“I know. Kamu aja sampai seberani itu maki-maki aku depan keluarga kamu, depan kakek yang sayang banget sama aku, dan bodohnya aku masih berharap sama kamu.” Ucap Vanya sambil memainkan makanan di depannya dengan sumpit “Tapi kayaknya aku emang bodoh banget sih. I thought I could get over you, but no. I couldn’t. Kamu ga tahu seterluka apa pas denger kamu nikah sama orang lain. Padahal harusnya kamu nikah sama aku.”


“Aku ga akan nikah sama kamu, Van.”


“Harusnya kamu nikah sama aku, Gi. Itu yang tertulis di surat wasiat kakek.”


“Maksudnya?” Tanya Gian bingung.


“Tuduhan kamu ga berdasar. Aku gak tahu apa-apa soal isi surat wasiat kakek sampai itu dibacain di depan seluruh keluarga beberapa minggu setelah kakek meninggal. Kenapa kamu ga tanya Pak Narta aja soal kebenaran isi surat wasiat kakek? Jangan-jangan kamu cuma halu doang ngaku-ngaku tahu isi surat wasiat kakek.” Balas Gian atas tuduhan Vanya.


“Pak Narta tutup mulut sampai sekarang. Kamu pasti bayar dia mahal kan, Gi?”


“Aku minta maaf buat perkataan kasar aku dulu sama kamu dan aku gak bisa balas perasaan kamu, tapi bukan berarti kamu seenaknya bikin tuduhan ga jelas kaya gini sama aku, Van. Orang yang tahu tentang surat wasiat cuma kakek dan Pak Narta. Kalau kamu merasa kamu bener, bawa bukti soal pemalsuan surat wasiat kedepan aku.”


“Aku emang ga bisa buktiin apa-apa. Pak Narta ada dipihak kamu.”


“Then I think you should stop. Don’t hurt yourself, Vanya.”


Vanya terdiam. Dia tahu tak punya kesempatan apa-apa, dia tidak bisa membuktikan apapun tentang pemalsuan surat wasiak kakek dan membuat Pak Narta buka mulut. Dia juga tidak bisa memaksa Gian untuk mencintainya, dengan cara apapun juga. Dia hanya ingin melemparkan rasa frustrasinya saja, dan rasa marah yang tersisa didalam hatinya. Gian tidak akan goyah, tapi mungkin Regina bisa.


“Kenapa harus Regina, Gi? Diantara semua cewe yang bisa kamu pilih, dibandingkan aku yang nemenin kamu sejak kecil. Kenapa dia, Gi?” Tanya Vanya putus asa.

__ADS_1


Gian menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Vanya.


“Mungkin karena Regina gak maksa aku buat cinta sama dia, ga kayak yang kamu lakuin. Kamu menggunakan cara apa aja biar dapetin aku, bahkan memanipulasi kakek dan nenekku biar mereka bisa jodohin kita. Kamu paling tahu kelemahanku, terlalu patuh sama mereka. Tapi kamu salah, buat urusan hati aku bisa menentang siapa aja. Aku gak mau dikendalikan. Regina ngebiarin aku buat jatuh cinta perlahan, tanpa nuntut apa-apa.” Gian bahkan mengingat Regina sangat santai menanggapi Gian yang masih ragu untuk melanjutkan hubungan kontrak mereka menjadi hubungan suami istri pada umumnya. Regina tidak menjadi benci dan marah padanya, memberinya waktu berulang-ulang untuk memikirkan kemabli hubungan mereka.


“Tapi dia gak kenal kamu, Gi. Dia bahkan gak tahu kita temenan, atau soal perjodohan kita yang gagal. Iya kan?”


“Itu salah aku. Aku gak ngasih tahu dia, dan aku ga nganggap itu hal penting buat Regina ketahui. Aku masih punya banyak waktu sama Regina buat saling kenal. Seumur hidup, aku punya waktu sebanyak itu sama dia buat saling tahu satu sama lain.”


Mereka mengakhiri obrolan dan pergi dari restoran sushi. Muncul pertanyaan baru dibenak Gian, apakah semua yang dikatakan Vanya benar mengenai isi surat wasiat kakek? Dia tahu Vanya sangat mencintainya, tapi untuk berani berbohong seperti itu sepertinya berlebihan. Kakeknya sangat menyayangi Vanya, masuk akal jika Vanya hadir saat surat wasiat itu dibuat. Tapi apakah ada anggota keluargnya yang lain hadir dan tahu tentang itu? Gian harus segera menanyakan hal ini pada Pak Narta, meskipun tak ada jaminan dia akan mengatakan kebenaran padanya.


Saat berjalan diantara toko-toko di Mall setelah pembicaraan mereka, Vanya semakin ingin menggandeng tangan Gian. Berjalan beriringan seperti pasangan. Laki-laki yang selalu memenuhi hatinya sejak dia remaja, tetap tak tergapai. Dia sangat mencintai Gian, dia selalu berada disampingnya lebih dari setengah hidupnya, dia menyingkirkan wanita-wanita tidak jelas yang mendekati Gian, dia selalu menjadi sahabat dan orang terdekat untuk Gian. Kenapa dia tidak pernah melihat kearahnya? Kenapa dia terus berjalan di depannya dan tak pernah melihat ke belakang dan menatapnya? Selalu seperti itu sejak dulu.


“Gi, seminggu lagi ibuku ulang tahun. Kamu mau dateng ke acara ulang tahun ibuku?” Kata Vanya tiba-tiba, menghentikan langkah Gian.


“Aku tanya Regina dulu.”


“Kenapa? Dia gak akan ngasih izin? Ibuku satu circle sama istri kamu. Kalian jelas pasti di undang.”


“Kalau dia mau dateng, aku ikut.” Pungkas Gian kemudian berjalan kembali. Tapi Vanya menghentikannya lagi.


“Kamu mau ga temenin aku beli hadiah buat ibuku?” Tanya Vanya, dia sudah bisa melihat ekspresi keberatan dari Gian. “Please, ini permintaan terakhir aku sama kamu.” Lanjutnya memohon.


Dengan berat hati Gian menyetujui. Mereka masuk ke toko salah satu tas bermerek. Meskipun enggan, Gian tetap mengikuti Vanya yang menyeretnya dengan semangat. Vanya melihat-lihat pouch cantik keluaran terbaru.


BHUG!!


Suara keras terdengar. Seseorang memukul kepala Gian dengan sling bag-nya.


“Regina?” Kata Gian dengan panik.


Regina langsung berbalik dan pergi dengan cepat. Gian menyusulnya di belakang. Mencoba memanggil Regina berulang-ulang. Namun wanita itu sekarang telah berlari cepat meninggalkannya. Vanya hanya melihat ditempatnya tadi berdiri, kemudian melanjutkan memilih pouch untuk hadiah ibunya. Dia sudah melihat Regina tadi diantara tas-tas cantik yang terpajang di toko. Makanya dia mengajak Gian kesana.


Dia tahu tidak bisa lagi meyakinkan Gian. Tapi kemarahan dan kebenciannya harus diarahkan pada seseorang. Regina adalah target yang tepat. Membuat keretakan-keretakan kecil dihubungan mereka bisa Vanya lakukan. Regina belum kenal Gian. Vanya lebih unggul dibandingkan dengannya.


“Lemah.” Ucap Vanya sambil tersenyum.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ❤️


__ADS_2