
‘Gak ketauan pacarannya, udah langsung lamaran aja’
‘Hari patah hati nasional’
‘Please, kebaya cewenya beli dimana. Lucu.”
‘Siapa nih cewenya. Cakep ugha..’
‘Berkurang deh stok cowo idaman’
‘Anjir langsung sat set sat set ke pelaminan’
‘Selamet ya Giaaan. Semoga dilancarkan sampe hari pernikahan’
‘The next couple goals’
Begitu beberapa komentar yang ditulis oleh orang-orang di internet, kenalan dan teman-teman saat Gian membagikan foto-foto lamarannya di sosial media. Banyak yang berdoa, bertanya-tanya, dan adapula yang seperti kehilangan kesempatan mendekati.
Dalam frame, Gian dan Regina tampak sempurna. Pasangan yang bisa membuat iri yang melihat. Darius memotret mereka dengan bagus, menampilkan apa yang ingin disampaikan : The Happy Couple. Meskipun tidak ada yang tahu apa yang ada dibalik layar. Keraguan, beban mental dan moral, serta keputus asaan keduanya. Semua sandiwara ini harus sempurna. Gian ataupun Regina bukan orang bodoh, mereka tahu porsi dan perannya. Publikasi di sosial media dari keduanya membuktikan bahwa pernikahan kontrak yang akan mereka jalani adalah komitmen serius yang harus dijaga kerahasiaannya. Tak boleh ada yang tahu, semua hanya rekayasa. Demi tujuan mereka masing-masing mereka dengan sepenuh hati menjalankan bagiannya.
...***...
Gian dan Regina bertemu setelah acara lamaran di Alto Restaurant & Bar untuk dinner dan membicarakan kelanjutan rencana mereka. Gian sudah menunggu disana sejak pukul 7. Regina datang 10 menit kemudian, mengenakan sheath dress berwarna navy, dengan blazer broken white. Mereka bertemu sehabis pulang dari kantor masing-masing.
“So, let’s straight to the business.” Kata Regina ketika telah duduk dan memesan makanan.
“I will send my people next week. Semua dokumen dan pencatatan keuangan udah disiapin sama orang-orangku. Kamu juga bantu persiapan buat transisi.” Kata Gian menjelaskan.
“Soal uangnya?”
“Dimas dan Dea dari finance yang bakal menangani, termasuk sistem billing payment-nya. Kamu butuh dana buat akhir bulan ini, kan?”
__ADS_1
“Yep. Oke kalau gitu. Semua beres.”
Pelayan datang menyajikan pesanan mereka. Bruschettona untuk appetizer, gnocchi, dan quancia tersaji di meja. Regina mulai memakan gnocchi, sementara Gian hanya memperhatikan.
“Aku udah punya list wedding planner buat nanti, kalau kamu punya rekomendasi sendiri, aku ikut.” Gian menyerahkan list wedding planner pada Regina.
Regina menaruh garpunya dan mengambil kertas yang Gian serahkan. Melihat daftar tersebut kemudian berdeham.
“Aku juga ikut kamu aja.” Balasnya.
“No. Kamu yang pilih.” Kata Gian “Mungkin ini bukan pernikahan yang kamu mau, tapi seengaknya kamu bisa bikin pernikahan dengan konsep impian kamu. Sesuatu yang pingin kamu lakuin kalau kamu nikah, yang selalu kamu bayangin.” Lanjutnya.
“Yea.. Sesuatu yang aku pingin pas nikah, standing there with someone I loved.” Jawab Regina tersenyum muram.
Gian menghela napas.
“Sayangnya kamu ga bisa.”
“That’s right.” Regina tersenyum, kemudian memainkan pastanya dengan tidak berselera. “Aku rasa kita beneran terlahir buat jadi penipu ya? Orang-orang cukup terkesan sama kebohongan kita.” Lanjutnya tertawa.
“Aku dari kecil selalu membayangkan jadi pengantin. Kayanya hampir semua anak cewe pernah bayangin dirinya jadi pengantin.” Kata Regina menerawang. Matanya menatap lilin-lilin yang berpendar temaram di meja. “Aku pingin pake gaun kaya gimana, nikah ditempat apa, dekorasinya gimana.. Semua kaya udah ada dikepala. Dan aku juga pernah tunangan sebelum ini, pernah berencana nikah dengan orang yang aku sayang, you know?” Katanya mengalihkan pandangan ke arah Gian. Namun Gian hanya menggeleng.
“Setelah itu ayah sakit, jantung. Terus pernikahan diundur, nunggu sampe kondisi ayah membaik. Ternyata setelah 1,5 tahun bolak-balik rumah sakit. Ayah ga membaik, malah dia pergi ninggalin aku jadi yatim piatu.” Lanjut Regina mengenang.
“Satu-satunya yang ditinggalkan ayah Cuma Edmode, dan aku punya tanggung jawab buat lanjutin perusahaan ayah. Sementara calonku waktu itu punya rencana buat lanjutin kuliah ke London. Aku harusnya ikut kesana, ibunya bilang kita nikah dan pergi ke London, biar dia ada yang ngurus selama disana. Tapi aku ga bisa ninggalin Indonesia. Aku nyaranin kita buat Long Distance Married aja. Tapi aku malah dimaki sama ibunya, she said ‘Kamu tuh harus jadi istri dan ngurusin dia! Bukan mentingin ngurusin perusahaan! Kalau udah nikah ya ngurus suami. Ibu ga mau anak ibu sendirian disana ga ada yang ngurus sedangkan dia udah punya istri.’”
Regina menatap Gian, matanya berkaca-kaca. Cerita tersebut masih meninggalkan luka dihatinya. Meskipun dia mengatakannya dengan santai di depan orang lain.
“Terus kalian putus?” Tanya Gian.
“Ngga. Kita masih menjalani hubungan beberapa bulan setelah itu, meskipun… garing.” Regina kemudian berhenti dan menatap kosong piringnya.
__ADS_1
“You know, you don’t have to tell this to me.” Kata Gian yang melihat Regina terdiam dan sedih.
“I should. You should know me a little, I think. Meskipun aku ragu kamu peduli.” Balasnya “No. I just want you to listen actually. Won’t you?” Lanjut Regina. Gian mengangguk bersedia mendengarkan.
“So after that, kita sering berantem, dan disatu kesempatan aku dapat kabar kalau dia udah tunangan lagi sama orang lain. Funny, right?” katanya sambil tertawa.
“Itu ga lucu buat aku.” Jawab Gian.
“Why? Aku aja ketawa. Keinget bodoh banget waktu itu. Sampe berusaha mohon-mohon biar dia balik. Tapi dia tetep pergi. Nikah sama cewe lain. I ended up going to therapy for one year, sambil menjalankan Edmode yang sama sekali aku gak ngerti caranya. Aku bikin banyak kesalahan, keputusan bisnis yang ngaco, karena aku juga dalam keadaan yang ga baik-baik aja. Sama kayak kata kamu, I’m pathetic leader.”
Gian merasa bersalah telah mengatakan itu pada Regina. Dia bahkan tidak tahu apa yang Regina hadapi selama ini. Pertama kalinya mendengarkan semua cerita Regina membuatnya merasa kasihan pada gadis di depannya.
“I’m sorry. I didn’t mean to.” Kata Gian.
“That’s okay. Kamu bener kok.”
“Kamu dulu bilang ga pernah diajak kenalan sama keluarga mantan-mantanmu. Padahal kamu bahkan sempat tunangan sama orang lain. Kamu bohong soal itu?”
“Ya. Aku ga nganggap mereka bagian dari hidupku lagi. I moved on. Aku satu tahun penuh jadi gila karena itu. Kenapa harus ngasih tau ke kamu yang saat itu masih abu-abu?”
“Terus sekarang?”
Regina mengangkat tangannya dan menunjukan jarinya. Cincin pertunangan mereka bersinar dibawah lampu restoran.
“I’m going to be yours. Meskipun hubungan kita bohongan. Aku pingin ngasih tau chapter paling gelap dihidup aku. Jadi kamu bisa lihat aku sebagai manusia, bukan cuma alat biar kamu dapetin keinginan kamu. Supaya nanti kamu ga semena-mena karena posisi kamu lebih tinggi dan lebih kaya dari aku.”
“Aku ga nganggap kamu alat. Kita partner dalam hal ini. Aku juga bukan musuh kamu. Jadi berhenti bersikap defensif sama aku. Kalau kamu butuh aku buat cerita, aku juga bisa luangin waktu.”
Pembicaraan mereka terus berlanjut, mereka merencanakan pernikahan yang akan mereka laksanakan. Jumlah tamu, konsep pernikahan, tempat pernikahan dan wedding planner yang akan di pakai. Regina berencana untuk membuat gaun pernikahannya sendiri, dia akan meminta bantuan dari Maya dan beberapa pegawai yang piawai. Gian menyerahkan semua keputusan pada Regina. Dia ingin memberikan gadis itu pernikahan impian yang selalu diinginkannya. Setidaknya seumur hidupnya dia bisa melihat hari tersebut dan mengenangnya. Meskipun bukan dirinya yang akan ada dalam kenangan Regina. Namun kebahagiaan mewujudkan pesta impiannya.
Obrolan mereka menjadi lebih santai sekarang. Mengetahui bahwa diantara mereka tidak ada yang berniat untuk saling menyakiti dalan hubungan sandiwara ini. Menyadari bahwa tujuan masing-masing adalah hal yang terpenting saat ini. Mereka menyiapkan hati untuk saling mendukung.
__ADS_1
Regina menyetir sendiri ke apartemennya. Dalam perjalanan, untuk pertamakalinya setelah semua perjanjian dan kerikil-kerikil penghalang menuju pernikahan, Regina merasa ada beban besar yang terangkat dari pundaknya. Edmode akan selamat. Kemudian fakta bahwa partner pernikahan kontraknya bukan seorang psikopat gila yang menggunkan uangnya untuk menyakitinya, membuat Regina tenang. Mungkin untuk pertama kalinya juga, Regina bisa melihat bahwa Gian sebenarnya adalah laki-laki yang sangat baik, punya common sense dan nilai moral yang mengesankan. Terpikir sesaat, apa jadinya kalau dalam perjalanan pernikahan konttaknya dia malah menyukai Gian? Pikiran tersebut kemudian cepat-cepat Regina singkirkan. Dia tidak sedang membintangi sebuah film atau menjadi peran utama dari roman picisan, dimana pernikahan kontrak akan berakhir cinta dan bahagia.