Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Rumah


__ADS_3

Matcha Latte, Thai Tea dan Croffle sudah tersaji di meja. Yuniar meminum matcha latte nya dengan tenang. Regina tidak tahu apa yang akan Yuniar katakan padanya. Apakah karena sikapnya tadi yang berlebihan terhadap Vanya? Semua orang tahu Vanya sangat dekat dengan keluarga Airlangga. Jika dia bisa mempengaruhi nenek dan kakek Gian untuk menjodohkan Gian dengannya, dia juga pasti sangat disayangi Yuniar dan anggota keluarga lain.


Regina menghela napas. Menyingkirkan semua dugaannya. Apapun yang akan dikatakan Yuniar mengenai sikapnya tadi di perkumpulan akan diterimanya dengan lapang dada.


“Tante dapat kabar dari Arsila beberapa minggu lalu soal kamu keguguran, maaf ya tante ga bisa jenguk. Tante lagi ngurusin mertua di Jogja yang sakit, jadi stay disana sebulan.” Kata Yuniar memulai pembicaraan.


“Gak apa-apa, Tante.”


“Kamu berantem sama Gian gara-gara Vanya?” Yuniar langsung menembak pertanyaan pada Regina. Rasanya canggung harus menjawab pertanyaan seperti ini pada orang lain.


“Kak Arsila bilang juga ya soal itu?”


“Kalau soal Gian, Arsila suka ngelaporin apapun sama tante. Jadi jangan kaget kalau tante tahu. Bukan mau ikut campur, tante yakin kalian bisa menyelesaikan masalah sendiri. Cuma mengawasi aja.”


“Kita udah baikan kok, Tante. Gak ada masalah apa-apa sekarang.”


“Beneran?” Desak Yuniar. Hati Regina belum baik-baik saja. Jika harus mengakui dia belum baik-baik saja dengan semua kejadian akhir-akhir ini. Masih ada perasaan kecewa pada Gian, perasaan bersalah pada janinnya, dan perasaan benci pada Vanya.


“Soalnya tante lihat tadi kamu agresif banget menanggapi Vanya.” Lanjut Yuniar tersenyum. Dugaannya benar, Regina masih menyimpan perasaan dendam dan cemburu pada Vanya.


“Maaf aku bersikap berlebihan.”


“No, It’s okay. Tante gak punya hak buat judging perilaku kamu sama Vanya. Tante cuma mau ngomongin kamu sama Gian aja.”


“Jadi dulu Vanya sangat dekat sama keluarga kita. Ayah sama Ibu sayang banget sama dia, karena dia lucu, anaknya ceria, dan baik. Makanya mereka mau Gian berteman sama Vanya, soalnya dari dulu Gian gak banyak ngomong, lebih seneng dengerin orang. Jangan aneh kalau Gian ga bilang soal dirinya sendiri, tante bisa tebak kalau Gian ga cerita soal Vanya kalau ga dipaksa, iya kan?”


Regina mengangguk menyetujui. Dia harus bertengkar terlebih dahulu dengan Gian untuk tahu siapa Vanya sebenarnya dari mulut Gian langsung. Saat itu Regina mengira Gian tidak mempercayainya. Mungkin sebenarnya memang seperti itulah sifat asli Gian.


“Gian ga pernah nolak permintaan ayah sama ibu, karena takut ditinggalkan. Dia yatim piatu, orangtuanya meninggal dalam semalam, pasti bikin shock. Makanya dia nurut banget sama ayah dan ibu, jadi juara, ikut kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi disekolah, jadi penerus keluarga, dan salah satunya yang dia turuti adalah berteman sama Vanya. Setiap tahun mereka satu kelas di sekolah yang sama. Mereka bilang biar Gian gak kesepian. Tujuannya baik, ga ada yang salah soal itu.”


“Suatu hari sepertinya Vanya punya perasaan suka sama Gian, lebih dari teman. Sedangkan Gian ngga. Vanya mulai egois dan pakai kedekatannya dengan ayah dan ibu buat bikin Gian terus bareng sama dia dan nurutin semua mau dia. Karena kalau Vanya merayu ayah ibu, Gian sudah pasti nurut akhirnya.”


“Selama ini kita selalu mengira Gian senang dan sukarela melakukannya, dia ga pernah protes apa-apa. Kita juga selalu mengira Gian dan Vanya sangat dekat, bahkan mungkin saling suka. Makanya pas Vanya bilang langsung sama ibu kalau dia suka sama Gian. Ayah dan Ibu jelas senang dan mendukung ide perjodohan mereka, tanpa tahu perasaan Gian sebenarnya. Sampai akhirnya ayah ngasih tahu Gian soal rencana pertunangan dengan Vanya, untuk pertama kalinya dia benar-benar menolak dan marah.”


“Baru kali itu Gian benar-benar meledak, ngeluarin semua ketidak sukaannya sama Vanya, dan memaki dia di depan keluarga. Ayah marah banget karena sikap dan kata-kata Gian yang kelewatan, akhirnya dia diusir. Tanpa uang sepeserpun Gian pergi dari rumah. Tante langsung kirim pesan sama supir tante buat bawa Gian ke tempat aman. Arsila besoknya bawa semua barang penting punya Gian. Tante juga bantu cariin apartemen buat Gian tempati. Selama beberapa bulan dia gak pernah hubungi ayah, dan ga masuk kerja. Sampai akhirnya ayah sakit. Tapi Gian tetep ga mau jenguk. Dia baru bisa dibujuk setelah ayah serahin posisi CEO sementara sama Gian. Dia mulai melunak sehabis itu.”


“Ayah ga pernah bermaksud jahat sama Gian, seandainya Gian bisa ngomong dari awal dan berusaha menolak semua permintaan ayah. Mungkin ayah bakal ngerti. Dari semua cucu ayah, Gian yang paling dekat dan spesial buatnya. Ga ada niat buat menyakiti Gian.”


“Ayah takut banget Gian sendirian. Dia ga mau nikah dan hanya berambisi berkarir. Mungkin karena selam ini dia belum ketemu orang yang bikin jatuh cinta. Ayah pingin banget sepeninggalnya Gian ada yang ngurus. Selain Vanya, dia ga punya temen lain. Ga pernah pacaran juga. Mungkin dalam pikirannya perjodohan dengan Vanya satu-satunya cara biar Gian mau menikah. Pas kamu dibawa ke rumah, tante seneng akhirnya Gian bisa milih pasangannya sendiri. Tanpa ada siapapun yang ikut campur. Dan akhirnya bisa lihat Gian bener-bener jatuh cinta. Kalau ayah masih ada, pasti beliau seneng banget lihat kalian.”


“Jadi kamu jangan pernah mikir semua sikap baik Gian sama Vanya karena dia punya perasaan tertentu. Kamu ga pernah tahu apa yang Gian rasakan selama ini sama Vanya hanya beban buatnya, tante ga mau inget dan ngulang lagi perkataan Gian malam itu sama Vanya. Gian selalu bersikap baik sekarang, karena semua hal udah jadi masa lalu. Meskipun Vanya kayaknya belum rela melepas Gian.”

__ADS_1


“Tante selalu sayang sama Gian kayak ke anak sendiri. Ketemu sama pasangan yang tepat dan dicintai itu kayak pulang ke rumah. Gian ga punya rumah karena orang tuanya, kakek neneknya, udah ga ada. Ga ada tempat buat dia bersandar. Tante pingin yang jadi tempat Gian pulang itu kamu. Waktu Arsila cerita gimana kacaunya Gian pas kamu pergi, kayaknya dia emang udah ketemu itu di kamu. Tapi tante ga tau, kamu udah ketemu perasaan itu ga sama Gian? Tante bilang ini karena gak mau hanya karena kamu emosi dan cemburu, kamu memutuskan buat berpisah sama Gian.”


“Kamu pasti sekarang masih punya sedikit perasaan ragu, kecewa, dan ga percaya sama Gian. Jangan sakiti diri sendiri dengan perasaan kayak gitu.”


“Makasih udah cerita ini sama aku, tante.” Kata Regina setelah Yuniar bercerita panjang tentang Gian. Detail yang Guan luput ceritakan padanya. Yuniar menggenggam tanga Regina.


“Hampir seluruh hidup Gian sama Vanya, tapi Gian gak ketemu apapun yang bikin dia pingin tinggal di hati Vanya. Gian juga beberapa bulan terus ikut kencan buta yang diatur Arsila, tapi gak ketemu wanita yang cocok. Tapi sama kamu dalam waktu sebentar aja, dia udah luluh. Kamu harus lebih percaya diri dan juga lebih percaya sama Gian.”


Regina mengangguk canggung. Dia tidak bisa membenarkan hal itu. Hubungannya dengan gian tidak sesingkat itu agar tumbuh menjadi kasih sayang sungguhan. Banyak fase berkompromi dan pura-pura yang membuat keduanya tersiksa. Tapi Yuniar memang benar, diantara semua wanita. Gian memilih Regina. Meruntuhkan tembok dan berusaha mencintainya, hingga dia berpikir untuk membangun keluarga seperti yang lainnya. Hanya karena bertemu teman kecilnya kembali, tak mungkin Gian secepat itu berpaling. Vanya punya banyak waktu untuk meyakinkan Gian untuk mencintainya. Dulu ataupun sekarang, kesempatan itu hanya waktu yang kosong diantara mereka.


“Mungkin kalau ayah dan ibu masih ada, mereka pasti pingin bilang, tolong jagain Gian. Dia ga selalu baik, kuat, sehat, ataupun bijaksana. Dia banyak kekurangannya, kadang terlalu emosional, egois, atau terlalu tertutup. Kita cuma mau ada orang yang ngurus Gian. Bukan soal siapa yang masakin dia, nemenin tidur, nyiapin baju. Tapi kita berharap ada yang ngurus hatinya. Itu yang penting.”


Yuniar mengantarkan Regina pulang ke rumah. Hari sudah mulai gelap. Tak terasa mereka mengobrol berjam-jam. Regina merasa lebih tenang sekarang, setelah mendengarkan tantenya bercerita. Dia ingin hatinya bisa lepas kembali mencintai suaminya dan sekarang perasaan lega datang.


Regina lupa bahwa dulu saat ayahnya meninggal dan semua rencana pernikahan dengan Rafi kandas, dia selalu berdoa satu hal. Agar bertemu dengan orang yang melindunginya. Hari-hari setelah itu berat, berjuang sendiri mempertahankan perusahaan dan mengobati lukanya karena kegagalan pernikahan. Begitu lelah, bahkan semua sesi terapi dengan psikolog tak bisa menggantikan kekosongan besar dihatinya. Regina ingin bersandar pada seseorang, dia ingin dilindungi dari semua jenis bahaya di dunia ini. Doanya setiap malam dia ucapkan berulang-ulang, hingga menangis.


Sejak bertemu Gian, dia selalu melindunginya. Bahkan sebelum Regina mengakui bahwa telah tumbuh perasaan istimewa pada Gian, terlebih dahulu laki-laki itu sudah jadi sandaran untuknya. Orang yang dia mintai bantuan, orang yang menghargai perasaannya, dan orang yang sangat memikirkan keselamatannya. Regina menyadari akhirnya, Gian adalah jawaban semua doa-doanya. Tapi apakah Regina juga jawaban dari doa-doa Gian? Apakah Regina bisa menjadi rumah untuk pulang bagi Gian? Yang dia lakukan hanya membuat masalah dan membuat laki-laki itu mengikuti keegoisannya.


Regina ingin menjadi tempat pulang paling nyaman untuk setiap perasaan Gian. Seperti yang diharapkan oleh orang-orang terdekat Gian. Dia ingin memastikan semua hal yang Gian butuhkan ada padanya. Memulai kembali dan menyadari bahwa hubungan mereka masih terlalu dini untuk diakhiri, ada banyak yang harus diperbaiki. Sebelum menyerah dan saling melepaskan.


Mobil berhenti di depan pintu pagar rumah. Gian sudah menunggu di sana. Sejak keluar dari cafe, dia tidak berhenti menghubungi Regina. Menanyakan dia berada dimana. Padahal seharusnya Regina ada di rumah beristirahat, bukan berkeliaran tidak jelas. Gian belum mengganti bajunya, kemeja kerja yang kini dengan semrawut dia kenakan. Mukanya tampak tak senang.


“Ga usah cemberut gitu. Rere dari siang sama tante.” Kata Yuniar dari mobil berbicara dengan Gian. Regina turun dan berjalan menuju rumah setelah berpamitan dengan Yuniar.


“Oke.” Gian mencium tangan tantenya yang terjulur dari kaca mobil. Kendaraan tersebut sekarang melaju menembus kegelapan.


Tangan Regina memijat betisnya yang pegal. Seharian menggunakan stiletto ternyata menyiksanya. Biarpun penampilannya menjadi sangat anggun dan dramatis. Tetap saja tidak bisa membohongi umurnya yang sudah tidak muda. Punggung Regina bersandar di sofa ruang tengah, berisitirahat.


“Kamu abis ngapain sih sama Tante Yuniar?” Tanya Gian yang baru saja masuk. Terlihat masih cemberut dan kesal karena tidak diberitahu Regina kalau dia tidak di rumah. Hampir saja Gian mengira istrinya itu kabur lagi. Saat pulang ,semua lampu masih mati dan dia tidak menemukan Regina dimanapun.


“Ngobrol aja.” Jawab Regina santai.


“Ngomongin apa?”


“Masalah cewe.”


Gian memperhatikan penampilan istrinya tersebut. Baju formal dan rapi, sepatu hak tinggi dan tipis, serta make up yang cukup bold.


“Terus abis itu ngapain aja? Kok sampe berdandan kaya gini?”


“Habis ke acara yayasan, terus makan siang sama ibu-ibu direksi.” Regina tidak mau berbohong kali ini.

__ADS_1


“Kok kamu gak bilang sih dari pagi mau kesana? Kan kamu harus istirahat, jangan ikut kegiatan kaya gitu dulu.” Gerutu Gian yang kesal karena tidak diberitahu.


“Maaf. Aku lagi bosen di rumah.” Regina berdiri kemudian memeluk Gian dengan manja.


“Ya bilang dulu kek. Biar pas pulang aku ga bingung nyariin kamu. Kirain kamu kabur lagi.”


“Iya maaf , Gian. Jangan marah-marah dong.”


“Kamu tuh suka bikin panik tau ga?”


Regina mencium sekilas bibir Gian agar dia berhenti mengomel. Kemudian mendaratkan kecupannya di leher suaminya itu. Perasaan Gian menjadi tak karuan.


“Jangan mancing-mancing ya kamu!” Gian memperingatkan Regina yang sedang mencoba membuat mesinnya panas. Kode yang Regina berikan jika dia mengizinkan Gian menyentuhnya. Tawa ringan terdengar dari bibir Regina.


“Kata dokter apa?” Tanya Gian berhati-hati. Dia tidak ingin keinginannya membuat kondisi Regina memburuk.


“Gak tahu.” Bisik Regina.


Hampir 1,5 bulan Gian tidak menyentuh istrinya. Semua kejadian akhir-akhir ini membuat mereka sibuk. Selama 1 bulan pasca keguguran, Regina juga tidak ingin dekat-dekat dengannya dan karena alasan medis yang menghalangi mereka untuk melakukannya. Tapi jelas tubuhnya sangat membutuhkan Regina, dia tidak bisa berbohong menginginkan istrinya itu setiap kali melihatnya. Sekarang kesabarannya sudah menipis. Gian tidak bisa menunggu lagi. Hanya gara-gara sentuhan ringan dari Regina saja, prajurit diantara kedua kakinya bangkit bersemangat. Dia benar-benar lemah jika dihadapkan pada istrinya yang sangat menawan ini.


“F*ck!” Erang Gian kesal karena kalah dengan hasratnya.


Gian mendorong Regina ke sofa. Membenamkan bibirnya pada bibir Regina. Kedua tangan Gian kini sudah masuk ke dalam kemeja Regina, meraup kedua asetnya yang berharga dan memainkan dibalik bajunya. Regina tidak bisa protes, mulutnya dibungkam oleh sentuhan lidah Gian yang liar dan agresif.


Semakin lama Gian semakin tidak sabar, dengan cepat melucuti kemeja yang Regina kenakan dan menyingkirkan rok span yang mengganggunya. Kini tak ada satupun benang yang menutupi tubuh indah Regina. Dengan lembut Gian menyandarkan kepala dan punggung Regina pada sofa. Mendudukannya di kedua paha Gian. Regina bisa merasakan prajurit diantara kedua kaki Gian semakin kuat untuk menyerang, menenkan ringan diantara kakinya.


Tapi tidak semudah itu Gian melanjutkan permainan pada intinya. Dia masih belum selesai dengan dua aset Regina yang menggantung menggoda. Dengan rakus Gian menikmatinya. Membuat Regina mengerang kesakitan. Dia lupa bagaimana agresifnya Gian saat menikmati setiap jengkal tubuhnya. Apalagi laki-laki ini tidak dia beri kesempatan cukup lama untuk melakukannya. Terkadang Gian menatapnya lama, memberikan isyarat untuk diurusi. Tapi Regina masih menyimpan keraguan padanya. Kini saat semua perasaannya lepas, dia memperbolehkan Gian berbuat semaunya pada tubuhnya.


“Aahhh.. Gian.. sakit..Uhhh” Kata Regina terbata. Merasakan prajurit milik Gian menembus pertahanannya.


“Kenapa jadi sempit lagi sih!?” Protes Gian emosi, tapi tetap memaksa masuk. Setelah perjuangan, ringisan, protes-protes ringan, serta cakaran yang dilakukan Regina pada Gian. Akhirnya si prajurit bergerak di jalan yang mulus dan menyenangkan. Melepaskan serangan-serangan yang membuat tubuh Regina bergetar dipenuhi kenikmatan. Gian merasakan ledakan emosi yang sangat dirindukannya.


Peluh bercucuran pada keduanya. Mereka terus berdansa diantara sentuhan liar dan pikiran yang dipenuhi hasrat yang menggila. Menempelkan setiap jengkal tubuh mereka hingga semua gaya mereka coba. Gian tidak ingin berhenti. Dia ingin terus melanjutkan perjalanannya hingga prajuritnya lemas tak berdaya. Dia ingin terus melihat Regina, diantara temaram cahaya dari dapur yang menyinari tubuhnya sementara ruang tengah mereka biarkan gelap gulita.


Gian tidak akan pernah mencintai wanita lain segila dan senikmat ini.


Regina tidak akan pernah mencintai laki-laki lain segila dan semenyenangkan ini.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Author nya jadi gerah bikin bab macem gini 🥵😵‍💫


Jangan lupa like dan komen ya ❤️


__ADS_2