Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Little One (End)


__ADS_3

"Kamu suka banget ya sama dia?" Bisik Regina ketika melihat Gian tidak berhenti menatap bayi mereka yang sedang tertidur.


Gian tersenyum, mengalihkan pandangannya ke arah Regina yang baru terbangun, "Hmmm.. Suka banget."


"Lebih suka dibandingkan sama aku?" Goda Regini.


"Ya beda lah." Gian menghampiri Regina kemudian mengecup keningnya "Kalau sama ibunya lebih kayak nafsu gitu." Lanjutnya sambil pura-pura berpikir.


"Mulai deh pikiran kotornya jalan." Ujar Regina kemudian mencubit pinggang Gian yang dengan lihai berkelit.


"Makasih ya. Kamu hebat banget. Udah bikin perasaan aku nano nano semenjak pertama ketemu. Sampai sekarang aku gak pernah kebayang bisa nikah dan punya anak. Aku pikir bakal susah."


"Ternyata?"


"Lebih susah dari yang aku bayangin." Ucap Gian sambil tertawa. "Aku gak punya privasi lagi sekarang, hari-hari damaiku hilang gara-gara kamu. Sekarang tambah satu orang lagi yang bikin aku ga bakalan bisa tenang."


"Tapi seneng, kan?"


Gian hanya tersenyum. Entah perasaan senang atau apa dia tidak bisa menjelaskannya. Gian tidak pernah menyangka pertolongan kecilnya pada Regina di pesta ulang tahun Arsila menuntunnya sejauh ini. Perasaannya berlarian tak tentu arah setelah mengenal Regina.


Kalau saja dia tidak menolong Regina dari Alex dan menenangkannya, sekarang apa yang akan terjadi dengan Gian?


Kalau saja dia tidak seberani malam itu menawarkan pernikahan kontrak pada Regina, sekarang apa yang sedang dilakukan oleh Gian?


Mungkin saat ini dia sedang di kantor. Lembur untuk kesekian kalinya. Pulang ke apartemennya, memakan makanan cepat saji, menatap pemandangan lampu-lampu Jakarta sendirian. Sebelum akhirnya tidur di ranjang yang besar dan dingin seorang diri.


Sekarang hatinya hangat dan penuh. Kini semakin riuh karena suara tangis dan celotehan bayi kecilnya yang tiap hari tumbuh besar. Gian tidak menyesali perjalanan anehnya menemukan perasaan seperti ini.


Tante Yuniar berulang kali mengatakan padanya, Gian bukan tidak bisa jatuh cinta. Dia hanya belum menemukan orang yang tepat. Yang membuat hatinya ingin berlabuh dan beristirahat. Dulu dia belum menemukan orang yang tepat, yang memaksanya memilih kedamaian dengan terus sendiri atau mengambil resiko untuk menghadapi banyak perasaan dan hidup baru yang tidak dia ketahui.


"Kamu jangan banyak lembur ya. Aku ga mau kalau malam jagain Devan sendirian." Kata Regina membuyarkan lamunan Gian.


"Devan? Siapa yang kasih nama itu?"


"Aku. Aku yang mau kasih nama itu buat bayiku."

__ADS_1


"Bayi kamu? Dia kan anak aku juga. Dia kan anak aku juga. Kasih nama tuh yang keren. Kesannya bad boy, berkharisma gitu loh."


"Ga ada bad boy-bad boy, dia harus jadi anak baik dan penurut. Pokoknya nama itu udah cocok."


"Gak. Aku gak setuju"


"Gian ih!! Emang kamu punya usul nama sendiri?"


Gian kemudian berpikir. Dia jujur tidak memiliki persiapan mengenai nama. Dia benar-benar tidak mempersiapkan apapun selain hatinya agar bisa menerima anak ini saat lahir.


...****************...


Gian baru saja selesai mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Bajunya sudah rapi dan wangi. Dia menatap dirinya dicermin untuk merapikan kerah kemejanya, kemudian memakai jasnya.


Sementara Regina sedang sibuk menyusui bayinya. Berceloteh sendiri mengajak bayi kecil dipangkuannya tersenyum sambil tangannya menggapai-gapai dengan lucu.


"Jangan banyak-banyak ya, dek. Yang kanan punya ayah." Ucap Giam kemudian mencium pipi bayinya yang dengan nikmat meminum susu.


"Enak aja. Ga ada jatah buat kamu!" Serbu Regina galak yang dibalas tawa oleh Gian.


"Gi, jangan berangkat dulu! Aku mau ke toilet, gendong dulu nih." Pinta Regina.


Bayi itu menempel dengan nyaman dipundak Gian. Tanpa henti Gian menciumi bayinya yang terasa wangi dan menyenangkan. Tiba-tiba cairan putih keluar dari mulut bayinya, mengotori jas izzue-nya yang mahal.


"Re! Regina! Cepetan kesini! Devan muntah!" Teriak Gian panik.


Demgan wajah sebal Regina keluar dari toilet, bersihkan mulut bayinya yang belepotan.


"Ini gak apa-apa. Cuma gumoh." Kata Regina tenang.


"Dia kentut, Re."


"Dia lagi BAB. Lihat tuh lagi ngejan."


"Hah? Jangan dibaju kerja ayah dong, dek." Protes Gian.

__ADS_1


Seakan mengerti protes yang diucapkan Gian, Devan menangis kencang. Membuat Gian kelabakan dan bertambah panik.


"Tuh kaan.. Jadi nangis."


"Cup cup cup.. Gak apa-apa. Buang air aja sampe puas. Ayah masih banyak baju mahal buat kamu kotorin." Ucap Gian menenangkan.


Regina hanya tertawa melihat ekspresi Gian yang tidak bisa dijelaskan antara jijik, panik, takut, dan sayang. Hidup mereka semakin ramai dengan tingkah Devan. Semua terasa baru bagi Gian dan Regina. Dia berharap kebahagiaan dan suka cita dikeluarga kecil mereka akan berlangsung selamanya.


...----------------...


...End...


...----------------...


Terimakasih sudah membaca sampai sini ❤️


Kenapa ceritanya sedikit? Ya karena sudah tidak ada yang harus diceritakan lagi 😌😂


Ini novel pertama yang sangat amat banyak kekurangannya. Ga nyangka ada yang baca. Padahal iseng doang pas lagi luang di kantor.


Oh ya, jangan lupa baca novel terbaru yang Judulnya


"Halo Arvin!"


Novel kedua kemungkinan lebih panjang dan lebih matang ceritanya (semoga) karena alurnya udah diperhitungkan. Gak kayak yang ini langsung jebred.. Maaf author-nya pemula.


Sebenarnya tadinya habis selesai novel ini bakal lanjut cerita Devan pas dewasa (SMA). Genre-nya teenlit terus lanjut ke romansa modern. Nyeritain anaknya Gian dan anaknya Arsila pas udah dewasa. Tapi author mau istirahat dulu. 😭


Gambaran Devan pas dewasa begini kira-kira


Judes kaya Regina, tapi sebenarnya soft boy dan perhatian kaya Gian. Cuma khawatir bakat licik ibu bapaknya nurun juga. 😨🤔



__ADS_1


... Oke sekian~...


...Jangan lupa baca karya terbaruku "Halo Arvin!" yaaa...


__ADS_2