
Mereka sampai di rumah menjelang petang. Sebelum pulang menyempatkan diri untuk menyantap makan malam di Bistecca karena Regina sedang sangat ingin memakan steak. Saat sampai, mereka sudah dalam keadaan kenyang dan hanya butuh waktu untuk membersihkan diri kemudian tertidur.
Regina sudah siap untuk tidur, mematikan lampu kamarnya, hanya lampu tidur yang menyala membuat ruangan tampang remang-remang. Matanya mulai terpejam saat suara klik lembut dari kunci pintu yang terbuka terdengar. Gian masuk kemudian membaringkan tubuhnya disamping Regina. Terkejut dengan kedatangan Gian ke kamarnya, dia segera membuka mata.
“Ngapain kamu kesini? Kok bisa masuk?” Tanya Regina kaget melihat Gian yang sedah menarik selimut dan meringkuk di sebelahnya.
“Ya mau tidur lah.” Jawab Gian santai, membetulkan posisi bantalnya “Aku punya kunci master semua ruangan kali. Jadi bisa masuk ke kamar kamu kapan aja. No. Bukan kamar kamu, tapi sekarang kamar kita.” Lanjutnya sambil mencoba memejamkan mata.
“Aku ga mau tidur bareng kamu! Sana pindah!” Ucap Regina kesal menarik selimut yang membalut Gian hingga terbuka.
“Kenapa sih sayang?” Goda Gian, kemudian tertawa jahil.
“Dih Gian jijik banget!” Ledek Regina.
“Kamu tuh panggil aku yang bener coba. Panggil sayang, mas, abang, masa panggil nama sama suami sendiri. Ga sopan.”
“Uweek. Males. Kita seumuran, jangan sok merasa tua ya kamu.”
“Aku lebih tua 7 bulan dari kamu.”
“Cuma 7 bulan doang. Ga ngaruh apa-apa.” Balas Regina sebal. “Gian pergi ih! Sana balik ke kamar kamu!” Regina mendorong tubuh Gian agar turun dari kasurnya. Tapi Gian tetap diam dan hanya tersenyum saja.
“Kenapa sih ga mau tidur bareng? Kemarin aja pas liburan mau.”
“Ogah. Tangan kamu suka gentayangan kemana-mana.”
Gian tertawa mendengar jawaban Regina. Harus diakui dia memang sangat ingin menyentuh Regina. Selama liburan kemarin dia tidak bisa menghentikan tangan jahilnya ke tubuh gadis itu.
__ADS_1
“Aku sekarang capek, pingin tidur.” Kata Gian kemudian menarik selimutnya. “Sini cepetan!” Lanjutnya menepuk-nepuk bantal disebelahnya agar Regina cepat berbaring. Tapi dia tetap terduduk dengan wajah sebal menatap Gian.
“Cepatan tidur sini. Kalau ga cepetan tidur, aku beneran apa-apain kamu nih!” Ancam Gian. Regina tetap diam dan tambah sebal.
“Regina!” Ucap Gian tegas. Regina paling benci kalau Gian sudah berbicara padanya menggunakan nada itu. Dia takut. Akhirnya dengan enggan Regina membaringkan tubuhnya. Gian langsung menyelimuti tubuh Regina kemudian memeluknya. Aroma menthol yang menyegarkan langsung menyeruak kehidung Regina saat memeluk Gian. Dia sangat menyukai aroma laki-laki itu. Membuatnya nyaman dan segera terlelap.
***
Lembur bagi Gian sudah menjadi kebiasaan akhir-akhir ini. Beberapa pekerjaan penting harus dia selesaikan dan menumpuk dimejanya untuk diperiksa. Dia juga harus menghadiri kunjungan keluar kota selama beberapa hari. Waktunya dengan Regina menjadi tak banyak. Urusan pekerjaan saat ini menjadi prioritasnya dan tidak bisa dia tinggalkan.
Untungnya Regina mengerti kesibukan Gian. Bahkan terkadang saat Gian tidak punya waktu untuk menghubunginya, Regina tidak marah-marah padanya. Regina juga memiliki kesibukan sendiri diperusahaannya. Mereka hanya sesekali saling menghubungi untuk melepas rindu. Mungkin ini keuntungannya memiliki hubungan dengan orang yang dewasa dan paham dengan kehidupan kantor yang berat.
Sudah 2 minggu semenjak honeymoon-nya ke Maldives. Tak ada apa-apa yang terjadi antara Gian dan Regina. Apalagi waktu Gian tersita oleh pekerjaan dan business tripnya. Minggu malam dia baru pulang ke rumah setelah business trip dari Semarang. Pak Ayus mengantarkannya pulang. Setelah makan malam, Gian masih sibuk menelepon dan menatap layar laptop di ruangan kerjanya.
Sebenarnya Regina merasa kesepian tapi dia tidak bisa mengatakannya, dia ingin diperhatikan setiap hari oleh Gian. Hubungan mereka juga tidak mengalami kemajuan. Bukan berarti Regina sangat ingin melakukan hubungan suami istri dengan Gian, hanya saja semua kesibukan Gian seperti menjauhkannya darinya. Apa karena sekarang dia sudah terbiasa tertidur bersama Gian, makanya dia menginginkan hal yang lebih dari itu? Dia selalu pulang dengan kelelahan setelah lembur. Bahkan tangan-tangan nakalnya pun menghilang diantara lelapnya.
Setelah melihat hasil kerjanya di manekin, Regina sangat puas. Dia kemudian mencoba memakai baju yang sudah seminggu dia kerjakan tersebut ke tubuhnya. Ada beberapa dibagian roknya yang perlu dijahit ulang. Dia melihat pantulannya dicermin dan merasa kurang puas, bagian pinggangnya pun terasa agak longgar.
“Gi, bagus gak?” Tanya Regina saat melihat Gian masuk ke mini studionya dari cermin.
“Hmm..” Balasnya singkat “Kenapa sih harus lihatin punggung gitu?” Kata Gian mengomentari potongan lower back pada dress Regina yang menampilkan punggung indahnya.
“Kenapa emangnya? Kan bagus. Aku suka baju yang liatin siluet punggung gini.”
“Aku ga suka. Kalau mau pamer, liatin ke aku doang.” Gerutu Gian.
“Posesif.”
__ADS_1
Gian mendekat pada Regina yang masih menatap dirinya di cermin. Dia menyibakkan rambut panjang dari punggung Regina, kemudian mengecupnya.
“Gian!” Teriak Regina protes.
Tanpa banyak bicara Gian menelusuri leher Regina dan memeluknya dari belakang. Perasaan aneh merayapi Regina, dia tahu suaminya sudah menunggu cukup lama hingga saat ini. Tapi entah kenapa rasanya dia tidak siap melakukannya.
Meski protes dan menolak sekalipun, Regina tak akan bisa menang melawan Gian. dia membiarkannya bergerilya liar menyentuhnya. Regina didudukan di meja panjang tempatnya mengukur dan memotong kain. Tangan Gian merengkuh wajah Regina dan menautkan bibirnya, dengan rakus menyerang gadis itu dengan lidahnya. Selama ini Gian selalu melakukannya dengan lembut kemudian berangsur intens. Kali ini berbeda, dia sudah bermain licik sejak awal. Melakukannya dengan agresif dan penuh nafsu, membuat Regina limbung dan ketakutan.
“Gi..” Ucap Regina disela-sela sentuhan bibir Gian padanya. Tapi laki-laki itu tak peduli. Dia terus melanjutkannya hingga dia puas dan teralihkan mengincar bagian lain pada tubuh Regina.
“Not here..Please..” Pinta Regina putus asa saat Gian sibuk mengecup lehernya, membuat bekas kemerahan disana. Gian berhenti. Menatap mata Regina yang sekarang terlihat panik. Regina bisa merasakan tatapan Gian kali ini bukanlah si jahil yang sering meledeknya sambil tertawa, tapi Gian yang siap menerkamnya. Ekspresinya keras dan tegas. Sekali melihatnya, Regina tahu dia tidak akan selamat malam ini.
Dengan mudah Gian menggendong tubuh ramping Regina menuju kamar. Membaringkannya disana, kemudian berbalik mengunci pintu. Entah untuk apa. Tak ada siapa-siapa di rumah ini selain mereka. Gian kembali pada Regina, melanjutkan sentuhan-sentuhannya yang tertunda. Menelusuri lehernya dan terus turun kebawah, menyibak dua harta karun yang entah sejak kapan terus menganggu pikiran Gian. Untung saja gaun yang Regina gunakan sangat mudah dilepaskan. Protes Regina semakin menjadi ketika Gian mulai menenggelamkan kecupannya pada salah satu bukit kembarnya dan mencengkram yang lainnya dengan genggamannya. Cukup lama hingga dia bisa mendengar Regina sekarang terisak.
Gian berhenti, menatap Regina yang berada dibawahnya. Matanya merah berair, napasnya memburu, dan keringat membuat helaian rambutnya menempel di dahinya. Gaun Regina mengganggunya, kemudian dia mengoyaknya dan membuangnya dengan santai kebawah kasur. Sekarang Gian bisa menikmati pemandagan indah dari tiap lekukan tubuh Regina.
“You’re mine, understand?” Gian tersenyum tipis. Akalnya benar-benar telah hilang, yang dia inginkan hanyalah membenamkan diri pada gadis yang pasrah ketakutan itu. Regina mengangguk pelan.
Sedetik Gian berpikir ingin rasanya membunuh Alex, Rafi, dan laki-laki yang pernah Regina temui dan orang yang dengan kurang ajar menyentuhnya, mantan-mantannya, ataupun orang yang melayangkan pandangan ketertarikan pada wanita miliknya ini. Dia membenci semuanya. Regina miliknya. Setiap inci tubuhnya adalah milik Gian. Dia ingin menghapus jejak-jejak laki-laki dimasa lalu Regina dengan sentuhan-sentuhannya. Iya, Gian merasa sangat posesif dan siap memburu siapa saja yang mendekati Regina.
“Gian.. aku takut..” Bisik Regina hampir menangis. Biasanya Gian akan sangat khawatir mendengar Regina mengatakan sesuatu dengan nada seperti itu. Anehnya saat ini dia ingin mendengarnya lebih dari itu. Dia ingin membuatnya menangis dan menjerit.
“Sssst.. Gak apa-apa, ga akan sakit kok. Aku pelan-pelan.” Bisik Gian ditelinga Regina.
Jelas itu hanya kebohongan. Sejurus kemudian Regina bisa merasakan perih diantara kedua kakinya, saat Gian mulai membenamkan diri padanya. Gian juga jelas tidak melakukannya dengan pelan-pelan. Dia dengan agresif menggerakan tubuhnya. Membuat Regina menangis dan menjerit seperti keinginannya. Dia benar-benar tidak peduli, setiap suara dan protes yang keluar dari mulut Regina malah membuatnya semakin bersemangat dan menggila. Tangan Regina yang terus mencoba menghentikannya dengan cakaran-cakaran di lengan dan punggungnya tak berarti sama sekali. Gian sangat menyukainya, upaya sia-sia Regina yang kesakitan dan putus asa.
Gelombang aneh menerpanya, dia mempercepat lajunya. Membiarkan suara-suara Regina seperti musik ditelinganya. Dalam beberapa detik Gian melepaskan perasaannya, kelegaan, kenikmatan, dan rasa puas mencapai otaknya. Perasaan surgawi yang baru kali ini dia rasakan.
__ADS_1