
‘Gian. Aku butuh bantuan kamu.’ Tulis Regina ke pesan sosial media milik Gian.
Sudah 1 jam sejak Regina mengirimkan pesan lewat sosial media, namun Gian belum membalasnya. Bahkan tidak dilihat sama sekali. Gian sepertinya memang hanya sesekali saja mengecek sosial media, tak ada jaminan dia akan membalasnya segera.
Regina ragu, apakah dia harus menemui Gian di kantornya? Sekarang sudah hampir jam 6, kemungkinan dia sudah pulang. Apalagi sekarang hari Jumat, banyak orang pulang lebih cepat untuk liburan dan menghindari overtime. Regina tidak bisa menunggu hingga senin untuk bertemu dengan Gian.
‘Gimana kalau Gian udah ketemu orang lain yang bersedia dengan penawaran nikah kontraknya?’’
‘Gimana kalau aku ga usah kesana aja?’
‘Kalau aku bilang mau sekarang, dia bakal mikir aku cewe munafik ga ya?’
‘Gimana kalau keluargaku tahu kalau aku nikah kontrak?’
‘Gimana cara dapat kontak Gian?’
Regin terus mengulang banyak pertanyaan dikepalanya. Semakin larut, semakin bingung.
Akhirnya Regina memutuskan keluar dari kantornya menuju parkiran. Kemudian masuk ke mobilnya dan melaju di jalanan basah karena hujan yang cukup lebat. Baru 5 menit meninggalkan kantornya, mobil tiba-tiba mogok. Civic FD keluaran 2008 itu tidak mau menyala setelah berulang kali dihidupkan. Regina panik. Dia tidak tahu daerah ini dan tidak mengerti cara memperbaiki mobil.
Dilihatnya seorang bapak-bapak yang duduk sendiri di warung satenya tak lebih 2 meter dari tempat mobilnya mogok. Tanpa berpikir panjang Regina turun dari mobil menembus hujan untuk meminta pertolongan pada bapak tersebut.
“Permisi, pak. Saya boleh minta tolong ga?” Ucap Regina. Bapak tukang sate terkejut pada kedatangan Regina yang tiba-tiba meminta tolong.
“Kenapa, mbak?” Jawabnya.
“Mobil saya mogok. Boleh minta tolong buat hidupin ga, Pak?”
Bapak tersebut bergegas mengambil payung, dan berjalan ke arah mobil Regina.
“Udah di starter, Mbak?” Katanya sambil mencoba menghidupkan mobil, tapi tidak berhasil.
“Udah, pak. Udah beberapa kali. Ga bisa juga.” Jawab Regina putus asa.
“Waduh.. saya kurang paham juga nih soal mobil..” Ucap bapak tersebut. “Di belokan depan ada bengkel, mau saya panggilin tukangnya?” Kata bapak itu menawarkan.
“Iya, pak. Saya minta tolong ya, pak. Makasih banyak.”
“Yo wes, mbak tunggu di warung saya dulu aja. Jagain bentar.” Dia lekas memakai jas hujan dan mengendarai motor menuju bengkel.
__ADS_1
Regina duduk sendiri di warung sate. Dia melihat jam di handphone-nya, sudah hampir jam setengah tujuh malam. Baju dan sepatunya basah. Mobilnya mogok ditengah jalan. Sebenarnya semesta tidak mengizinkan Regina ke kantor Gian, kan? Dia tidak direstui untuk melakukan pernikahan kontrak, kan?
Hampir 5 menit bapak tukang sate pergi, kemudian kembali bersama dua orang montir. Mereka mengecek kondisi mobil Regina dan mengatakan bahwa mobilnya harus menginap di bengkel mereka. Setelah bertukar kontak, Regina menyerahkan mobilnya untuk diperbaiki dan dijemput dalam beberapa hari. Tak lupa Regina memberikan uang pada bapak tukang sate yang dengan baik hati membantunya, dia tampak senang karena dagangan sepi semenjak sore.
Dari sana Regina memesan taksi online menuju kantor Gian. Semesta boleh menentangnya, tapi perusahaannya membutuhkan bantuan saat ini. Regina sudah menetapkan hati dan mengambil keputusan, dia akan menyelamatkan perusahaan peninggalan ayahnya. Bahkan berkorban harga diri sekalipun.
Setelah sampai di kantor Gian, semuanya tampak sepi. Beberapa lampu di lantai gedung tersebut sudah mati. Hanya beberapa yang menyala, mungkin orang-orang yang lembur dan tidak bisa menikmati weekend. Di lobby hanya ada 2 orang satpam yang dengan curiga menanyai Regina karena ingin bertemu dengan Gian.
Untunglah Gian masih ada di kantor. Semesta tidak jadi membenci Regina, kan?
“Telepon aja, please. Saya harus ketemu Gian. Ini penting.” Setelah beberapa menit memohon untuk dipertemukan dengan Gian akhirnya satpam tersebut menelepon langsung ke kantor Gian.
“Maaf ganggu, Pak. Ada perempuan yang nyari bapak. Katanya penting.” Ucap satpam disambungan telepon.
“Siapa?”
“Mbak-“
“Regina.”
“Mbak Regina, Pak.”
Regina merasa lega ketika satpam memberitahukan jika dia bisa menemui Gian. Satpam tersebut mengantarkan Regina ke kantor Gian yang berada di lantai 15, karena Regina tidak memiliki kartu akses pengunjung. Hanya pengunjung dan karyawan resmi yang boleh berlalu lalang di gedung Gavels, dengan menggunakan access card.
Regina diantar hingga ke ruangan Gian. Ruangannya luas bernuansa modern, dengan furniture berwarna dark brown dan putih. Disisi kiri ruangan terdapat coffee maker, mini freezer, dan rak-rak berisi dokumen. Sedangkan disisi kanan terdapat sofa untuk tamu dengan warna hitam elegan. Ditengah ruangan ada meja kerja Gian, lengkap dengan dual monitor, laptop, dan setumpuk dokumen yang sedang dibacanya.
Gian masih fokus membaca dokumen saat Regina masuk. Dia mengenakan kemeja berwarna abu-abu tanpa blazer dan tampak agak berantakan, rambutnya pun mencuat agak tidak beraturan dibagian belakang, dia terlihat lelah.
Setelah beberapa lama baru Gian mulai memfokuskan pada Regina. Dilihatnya gadis itu dengan seksama, baju dan rambutnya basah, mata sembab dan merah, dan dia terlihat sangat gelisah.
“Kenapa basah kaya gitu?” Tanya Gian menautkan alisnya bingung.
“Tadi mobilku mogok, terus aku kehujanan pas nyari bantuan.” Ucap Regina canggung.
Gian menunjuk sofa agar Regina duduk, dia memberikan blazer berwarna navy-nya yang tersampir di kursi kerja pada Regina. Kemudian menaikan suhu AC, agar Regina tidak kedinginan.
“Pake. Nanti kamu masuk angin.”
Gian membuatkan Regina coklat hangat. Menaruhnya di meja di depan Regina.
__ADS_1
“Kenapa ga telepon aja?” Ucap Gian sambil duduk disebrang Regina.
“Aku lupa simpan nomor kamu.”
Coklat hangat yang dibuat Gian membuat Regina lebih rileks. Entah itu memang efek dari minuman hangat itu, atau karena dia sudah bertemu dengan Gian. Rasanya dia merasa lebih nyaman. Gian hanya memperhatikan Regina meminum coklat hangatnya. Menunggu dia berbicara.
“Tawaran kamu yang kemarin masih berlaku?” Kata Regina memecah keheningan.
“Ya.”
“Kamu bakal bantu perusahaanku, kan?”
“Ya. Berapa yang kamu butuhin?”
“2,5 Milyar buat term pertama. Aku pingin kamu hire seseorang yang punya kemampuan manajerial yang bagus buat gantiin aku sebagai CEO. Aku pingin kamu kasih aku orang buat ditempatin di 3 bidang, business unit, finance, dan marketing. Aku juga pingin kamu support secara continue sampe kontrak kita berakhir.”
“Aku ga ada masalah sama persyaratan kamu. But I have to ask you one thing, kamu beneran yakin sama keputusan kamu soal ini?” Tanya Gian tajam.
Regina menghela napas. Dia sudah menetapkan hatinya sejak keluar dari kantornya tadi sore. This is the best decision she could do. The only thing she could do.
“Iya. Aku yakin. Aku bersedia menikah kontrak sama kamu.” Jawab Regina tegas. Senyum kecil tersungging dibibir Gian.
“Oke. Kalau gitu kita ketemu besok. Aku ga bisa diskusi lebih lanjut sama kamu dalam keadaan kaya gini.” Kata Gian menunjuk penampilan Regina yang sangat kacau seperti habis terkena badai. Ya, sebenarnya memang terkena hujan badai.
“Pulang dan istirahat.” Lanjut Gian.
Mereka bangkit dari sofa. Gian mengantarkan Regina ke depan lift. Sebelum pergi Regina memeluk Gian dan membisikkan sesuatu.
“Thank you.”
Pintu lift terbuka. Supir Gian tanpak canggung melihat pemandangan tersebut. Regina dengan cepat melepaskan pelukannya, masuk ke lift, dan turun menuju parkiran.
Gian masih shock mendapat pelukan tiba-tiba dari Regina. Tubuh Regina yang kecil terasa hangat. Gian menyadari untuk kedua kalinya dia dibuat shock oleh Regina dan dia tidak bisa beraksi apa-apa.
“Cewe impulsif.” Gumamnya sambil memijat pelipisnya.
...*** ...
Suasana hati Regina menjadi lebih baik. Dia menikmati perjalanan pulangnya diantar oleh supir Gian. Blazer milik Gian masih Regina pakai. Tercium samar aroma tubuh yang ditinggalkan Gian dipakaiannya, bercampur parfum Mojave Ghost dari Byredo. Wangi Amber dan Cedar Wood meninabobokan Regina, sepanjang perjalanan dia terlelap sambil memeluk blazer Gian.
__ADS_1