
Regina mendapatkan istirahat selama 1,5 bulan dari kantornya karena mengalami keguguran. Dia bisa saja keluar dari manajemen dan beristirahat sesuka hati, tapi Regina memilih mengikuti aturan cuti yang berlaku di perusahaannya dan kembali ketika keadaan fisik dan mentalnya membaik.
Sekarang Regina lebih banyak tinggal di rumah dan membaca buku-buku bisnis di ruang kerja Gian. Pekerjaannya juga lebih ringan karena Gian memutuskan untuk mempekerjakan Mbak Inah sebagai ART di rumah mereka. Meskipun hanya 3 kali seminggu datang dan bekerja sampai pukul 3 sore. Tapi itu sudah cukup membantu.
Gian sekarang semakin rajin mengirim pesan untuk Regina, setiap saat mengabarinya. Entah itu untuk makan siang, meeting, atau hanya mengirimkan chat saat dia bosan. Tak jarang Regina hanya mengabaikannya karena pesan beruntun dari Gian membuatnya kewalahan. Gian mengatakan dia akan selalu memberitahu semua kegiatannya, agar kesalahan pahaman tidak terjadi lagi diantara mereka.
Meskipun hubungan mereka sudah membaik dan Regina menerima kembali Gian, jujur saja di dalam hatinya masih tumbuh sebuah keraguan yang tak juga hilang. Seberapa pun Gian mencoba memperbaiki dirinya, membuatnya percaya, dan menunjukkan perasaan sayang padanya. Regina tidak bisa menghentikan perasaan mengganggu diantara dia dan Gian. Bahkan hingga sekarang Regina menolak berhubungan suami istri dengan Gian, dengan alasan pemulihan pasca keguguran.
Regina menyayangi Gian, membutuhkannya lebih dari apapun di dunia ini. Tapi perasaannya yang sempat terluka sulit untuk disembuhkan.
[Gita]
Saya sudah kirim semua informasi yang Bu Regina minta ke email.
Sebuah pesan masuk dari Gita, salah satu sekretaris Gian. Gadis cantik yang menghidangkan makanan saat Regina terakhir datang ke kantor Gian kini menjadi salah satu sumber informasi yang Regina butuhkan.
[Regina]
Thank you, Gita. Saya sudah koordinasi dengan Ketua Yayasan Bhakti dan cek semua persyaratan beasiswa adik kamu. Semuanya bagus. Minggu depan kita lihat kabar baiknya ya.
[Gita]
Terima kasih banyak, Bu Regina.
Segera setelah menutup handphone-nya Regina membuka laptop dan menyimpan buku yang sedang dia baca. Membuka informasi yang Gita kirimkan, kemudian menelusuri lebih dalam beberapa profil di LinkedIn, dan mengamati beberapa foto yang dibagikan di Instagram.
...****************...
Dari 14 dewan direksi Gavels, hanya ada sekitar 7 orang istri mereka yang hadir. Beberapa diantaranya sudah Regina kenal saat acara makan malam dan charity ke Yayasan Bhakti. Beberapa diantaranya lagi orang yang baru Regina temui langsung.
Hari ini Regina tidak menemukan Vanya di acara ini. Sudah jelas hanya beberapa orang penting terpilih saja yang diundang. Vanya bukan bagian dari istri direksi internal Gavels, dia hanya datang ke acara-acara yang berhubungan dengan Gavels bersama ibunya, Handayani. Dia tidak pernah secara resmi masuk kedalam kelompok sosial ini. Tapi mereka memperlakukan Vanya dengan baik karena telah mengenalnya sejak kecil.
“Eh Regina, apa kabar? Makasih loh hadiahnya. Saya beneran seneng banget dapat hadiah berlian buat ulang tahun.” Sapa Melinda memeluk ramah Regina.
Usahanya untuk mendapatkan hati salah satu istri pemegang saham terbesar di Gavels tidak sia-sia. Dia dengan mudah mendapatkan undangan ke semua acara private milik keluarga Sunaryo. Semua undangan tersebut dikirim untuk Regina langsung, bukan untuk Gian. Hari ini Regina datang sendiri tanpa sepengetahuan Gian.
“Senang kalau Bu Melinda suka sama hadiahnya. Pasti cantik banget kalau dipakai dengan cocktail dress warna dark. Jadi kelihatan lebih muda.” Balas Regina tersenyum.
“Idenya bagus juga. Emang kamu paling tahu urusan style kayak gitu.”
“Iya, sering kebawa suasana. Soalnya saya fashion designer.” Ucap Regina beramah-tamah “Oh ya, saya mau minta maaf. Gian ga bisa hadir, sedang business trip ke Jepang 3 hari.”
“Gak apa-apa. Istrinya aja yang dateng udah cukup kok. Lain kali sering-sering aja dateng ke acara kumpulan sama ibu. Biasa ngomongin baju dan bisnis.”
Regina tersenyum menanggapi ajakan Melinda. Iya, itu yang dia inginkan. Kalau Melinda sendiri yang mengundangnya untuk acara perkumpulan, bisa dipastikan istri direksi lain yang lebih junior akan mengikuti. Jika dia dekat dengan Melinda dan mendapatkan hatinya, semua orang di circle tersebut juga akan memperhitungkan keberadaannya.
__ADS_1
“Ini anak saya yang kedua, Alika. Baru lulus tahun ini dari Le Cordon Bleu.” Lanjut Melinda memperkenalkan gadis cantik berbadan bongsor yang tersenyum manis pada Regina.
“Ambil fokus apa?”
“Cuisine, Kak.”
“Oh ya? Pasti ilmunya udah jago banget.” Canda Regina “Langsung kerja jadi chef di Indonesia? Atau buka bisnis?” Lanjutnya.
“Pingin buka bisnis, tapi masih ragu. Aku ga ambil manajemennya cuma fokus ke cuisine aja.”
“Padahal potensial banget loh lahan bisnis kuliner di Indonesia tuh. Aku tahu sedikit soal bisnis. Lagi rajin diajarin sama mentor terbaik, suami sendiri.” Kata Regina sambil tertawa renyah. Mereka pun ikut tertawa santai, suasana menjadi cair diantara mereka. Mungkin ini kali pertama mereka mengobrol dan bercerita, tapi Regina sudah merasakan kedua ibu dan anak ini sudah berhasil Regina ambil hatinya.
“Alika, lain kita hang out bareng ya? Aku mau banyak belajar masak sama kamu biar bisa masakin Gian makanan enak terus, atau.. mungkin siapa tahu kita bisa sharing soal bisnis kuliner dan buka usaha bareng.”
“Wah ditunggu banget, kak. Seneng banget bisa sharing sama Kak Regina.” Ucap Alika gembira.
Sepanjang malam itu mereka terus mengobrol. Beberapa kali juga Regina menyapa dan mengobrol dengan tamu-tamu dan orang penting yang ada di pesta ulang tahun Melinda. Memperkenalkan dirinya sebagai istri Gian, CEO muda yang terkenal itu. Semua orang juga harus mengenal Regina, dia harus seterkenal Gian dilingkungan sosial barunya ini. Agar semua orang tahu siapa istri Gian.
...****************...
Lagi-lagi Regina tidak memberitahukan Gian tentang kegiatannya. Dia hanya tahu Regina sedang beristirahat memulihkan kesehatan setelah keguguran di rumah di temani Mbak Inah. Padahal Regina begitu sibuk berkunjung ke rumah ataupun di undang ke acara-acara istri direksi Gavels. Dia juga mengirimkan beberapa hadiah mahal pada mereka sebagai bentuk perhatian dan hadiah perkenalan.
Gian tidak pernah mengecek pengeluaran di kartu kredit yang dia berikan pada Regina. Dia hanya akan melakukan tracking transaksi ketika Regina membuat ulah saja, seperti saat di kabur beberapa waktu lalu. Gian mengatakan berhasil menemukan Regina berkat transaksi kartu kreditnya di sebuah minimarket dekat kosan Regina. Meskipun sekarang Regina menghamburkan banyak uang untuk membeli hadiah demi meloloskannya di pergaulan sosial incarannya, sepertinya Gian tidak akan protes.
Seperti biasa Regina menyampaikan kata-kata sambutan dan ikut membagikan bantuan berupa beasiswa kepada anak-anak dan remaja yang berprestasi serta butuh bantuan finansial.
“Kakak kamu pasti bangga banget.” Bisik Regina pada salah satu remaja laki-laki berusia 18 tahunan yang dengan sumringah menerima bukti simbolis beasiswa ke perguruan tinggi. Dia adalah adik Gita, sekertaris Gian yang sekarang menjadi informannya. Membantu Regina mengumpulkan informasi mengenai anggota dewan direksi beserta keluarganya. Makanya Regina bisa tahu semua obsesi dan kehidupan mereka agar mudah dia dekati.
Setelah acara selesai, Melinda mengatur acara makan siang dengan semua istri pejabat Gavels tersebut di sebuah restoran di hotel berbintang. Semuanya makanan terlihat enak, para ibu-ibu itu bersenda gurau dan saling berbincang.
“Makasih loh Bu Regina buat tasnya. Anak saya seneng loh dapet Hermes Birkin warna itu.” Kata Anita. Regina hanya tersenyum dan mengangguk.
“Oh iya saya juga belum sempat bilang makasih buat cincin berliannya. Tapi saya udah pake nih.” Lanjut Bu Siska sambil menunjukkan jarinya yang mengenakan cincin yang Regina berikan.
Beberapa orang satu persatu berterima kasih dan memuji Regina. Mereka sudah cukup akrab dengannya karena hadiah-hadiah dan kunjungan Regina untuk berteman. Semua orang mulai mengakui dan menghargai keberadaan Regina disana.
“Aku denger Regina habis keguguran ya?” Tanya Vanya tiba-tiba. Meja yang tadinya ramai dengan celotehan mendadak hening.
“Vanya, kayanya kurang etis membahas hal kayak gitu di saat seperti ini.” Kata Yuniar memperingatkan. Sejak tadi Yuniar hanya tersenyum dan sesekali menanggapi obrolan. Membiarkan istri keponakannya memiliki waktu berbicara di forum ini dan bersosialisasi.
“Aku gak bermaksud gak sopan. Mungkin beberapa belum tahu, makanya sekarang waktunya tepat juga buat menyampaikan simpati secara langsung sama Regina. Aku turut berdukacita ya, Re.” Ucap Vanya. Jelas dia tidak benar-benar bersimpati pada Regina.
“Gak apa-apa kok tante. Aku udah lumayan membaik kondisinya. Untungnya Gian selalu mendukung proses pemulihan fisik dan mentalku pasca keguguran.” Ucap Regina sendu.
“Kalian masih muda, gak apa-apa. Masih banyak kesempatan lain buat punya anak.” Kata Melinda menghibur.
__ADS_1
“Iya, ikut aja promil. Saya punya beberapa dokter spesialis kandungan andalan. Nanti saya kenalin.” Sahut ibu-ibu lain.
“Ikut acara kaya gini dan ngirim hadiah sama ibu-ibu juga bagian dari proses pemulihan kamu ya, Re? Kayaknya kamu sibuk banget ngurusin pergaulan di lingkungan sosial baru kamu dibandingkan berusaha recover dan cepat keturunan buat Gian.”
“Maksudnya?”
“Kalau aku jadi kamu kayaknya bakal diem di rumah, recover dan berusaha untuk hamil lagi buat Gian. Bukan malah sibuk kaya social butterfly. Gian pasti kecewa banget belum bisa punya keturunan dan sedih istrinya ga bisa jaga calon bayinya.” Sindir Vanya.
“Kamu kayaknya bisa ngerti banget perasaan Gian?” Balas Regina.
“Ya semua orang juga tahu, aku temen Gian dari kecil. Aku ngerti gimana perasaannya dan reaksinya sama hal-hal kaya gini.” Ucap Vanya bangga sambil tersenyum.
“Oh ya? Kalau gitu kamu dulu ngerti juga kalau Gian gak mau dipaksa buat dijodohin sama kamu?” Tanya Regina tajam. Hening semakin pekat disana. Semua ibu-ibu melirik dengan canggung ke arah Vanya. Mereka semua tahu apa yang terjadi antara Gian dan Vanya dulu. Senyum menghilang dari wajah Vanya.
“Aku udah tahu dari Gian soal perjodohannya dengan Vanya yang dia tolak. Makanya aku bisa santai depan Vanya, karena Gian bilang ga ada apa-apa diantara kalian, kan? Tapi kayanya Vanya setiap kali selalu ngomongin Gian dan merasa lebih tahu dia dibandingkan aku istrinya. Aku jadi kepikiran, kayanya kamu belum move on ya dari Gian?” Tanya Regina tersenyum sambil menatap Vanya. Wajah Vanya memerah karena malu dan marah.
“Kalau aku jadi kamu kayaknya aku bakal diem dan ga sok tahu soal Gian di depan istri sahnya, yang jelas-jelas dipilih langsung sama Gian. Tanpa penolakan.” Regina tersenyum manis. Dengan tiba-tiba Vanya menggebrak meja. Pisau dan garpu berjatuhan ke bawah kakinya.
“Bangga banget kamu dipilih sama Gian? Padahal kamu ga tahu apa-apa soal dia!” Teriak Vanya emosi. Image elegan dan ramah yang Vanya pertahanan saat menyindir dan membuat Regina panas hilang sudah. Digantikan oleh amarah yang meluap-luap karena dipermalukan.
Regina mengangguk senang. Senyum manis tak lepas dari bibirnya.
“Gian sayang banget sama aku. Jadi aku emang merasa bangga.”
Vanya berdiri dan hendak berjalan pergi dari sana.
“Bu Handayani,” Ucap Regina, membuat Vanya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Regina yang memanggil nama ibunya. “Saya sebenarnya bingung kenapa Vanya bisa ikut perkumpulan ini. Saya pikir harusnya acara seperti ini dihadiri oleh istri dewan direksi internal Gavels saja. Tapi Vanya bukan salah satunya. Apa lain kali saya undang juga Kak Lina, Alika, Erfan, Juli, dan anak-anak lain? Atau yang lebih gampang, lain kali Vanya jangan diajak ya?” Pinta Regina dengan manis. Handayani sejak tadi sudah menahan malu karena kelakuan Vanya, sekarang mukanya semakin memerah dan matanya bergerak gusar.
Vanya pergi dengan cepat dari restoran, disusul Handayani yang berkali-kali meminta maaf dan belari mengejar Vanya. Suasana menjadi sangat canggung. Semuanya menatap ke piring, pura-pura sibuk dengan makanannya. Beberapa diantaranya saling menukar pandang memberi kode. Suami mereka pasti sering bercerita tentang bagaimana sikap Gian yang tegas dan mulutnya yang tajam. Mereka pasti menyetujui Regina juga tak ada bedanya dengan Gian. Setelah ini, mereka akan berhati-hati dengan si tunas muda istri CEO Gavels yang baru merekah di pergaulan mereka.
...****************...
Regina merasa cukup puas setelah membuat Vanya marah dan mempermalukannya. Dia juga secara tak langsung memberikan peringatan kepada para istri pejabat Gavels untuk menjaga sikap di depannya, agar tidak main-main atau memanfaatkannya. Tidak ada satu orangpun yang boleh menginjak harga dirinya.
“Regina.” Panggil Yuniar saat Regina berjalan pulang menuju lobby hotel. Regina kemudian berhenti dan berbalik pada Yuniar.
“Mau temenin tante minum kopi dulu sebelum pulang?” Lanjut Yuniar.
“Oke.” Jawab Regina menyetujui.
Mereka menaiki mobil Yuniar. Supirnya membawa mereka ke sebuah cafe dengan dekorasi dan suasana asri dipenuhi tanaman hijau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan like ya ❤️
__ADS_1