Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Cara Memperlakukan Suami


__ADS_3

Waktu makan malam adalah waktu paling intim bagi Regina dan gian. Hanya diwaktu itu mereka bertemu, duduk berdua dalam waktu yang cukup lama. Terkadang karena urusan pekerjaan, Gian selalu berangkat pagi. Meninggalkan Regina sarapan sendiri. Oleh karena itu Regina selalu memaksimalkan waktu makan malamnya untuk mengenal Gian lebih jauh. Dia juga jadi lebih rajin browsing menu-menu masakan di internet. Sampai sekarang Gian selalu menerima saja makanan yang dia masak. Tanpa protes. Gian hanya mengatakan enak, kemudian mengabiskan makanan dipiring, dan mencucinya setelah selesai.


Ada yang menganggu pikiran Regina. Gian selalu melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Mencuci bajunya, mencuci piringnya, merapikan kamarnya. Bahkan dihari libur dia membersihkan rumah sendiri. Seluruh rumah. Regina bingung ketika Gian menyalakan mesin penyedot debu pagi-pagi dihari Sabtu, dan mengepel lantai bahkan kamar dan studio mini Regina. Mereka memang tidak mempunyai ART, tapi sangat jarang melihat laki-laki yang mengerjakan pekerjaan rumah tanpa disuruh. Apalagi Gian sekarang punya Regina sebagai istrinya.


“Kamu lagi ngapain?” Tanya Regina saat melihat Gian berdiri sambil memainkan handphone di laundry room saat weekend.


“Nyuci.” Katanya singkat sambil menunjuk mesin pengering yang sedang menyala.


“Sendiri?” Regina bingung. Dia bisa saja menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah, Regina tak akan keberatan karena Gian suaminya.


“Emang harus nyuruh kamu?”


“Ya gak apa-apa.”


“What?” Tanya Gian bingung sambil tertawa. “Aku ga akan nyuruh kamu kok” Lanjutnya sambil mengeluarkan baju dari mesin pengering yang sudah mati.


“Aku ga kontrak kamu buat nyuruh kamu nyuci atau ngerjain kerjaan rumah. Kita juga bukan suami istri beneran. Bukan kewajiban kamu ngurusin hal-hal kaya gini buat aku.” Gian mengambil keranjang cuciannya yang sudah dikeringkan dan keluar laundry room. “But, thank you for the meal. Except for that one maybe. I rely on you. It is always splendid to taste your foods.” Lanjut Gian sambil tersenyum kemudian menghilang.


Regina harus terus mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa Gian memang bukan suaminya. Mereka hanya dua orang yang terikat kontrak. Percuma bagi Regina merasa punya kewajiban dan tanggung jawab untuk mengurus Gian. Dia bisa dan bahkan dengan sukarela mengerjakannya sendiri. Dia menolak untuk mendapatkan bantuan dan perlakuan seperti suami pada umumnya.


Hanya saat makan malam saja yang membuat Regina merasa dibutuhkan. Karena Regina yang mengambil kendali. Biarpun Gian mengatakan dia juga bisa memasak, Regina tidak membiarkannya menyentuh peralatan dapur untuk membuat makan malam.


Jika Gian tidak sedang business trip atau terjebak macet, dia selalu pulang tepat pukul 7 malam tepat. Saat masakan Regina sudah matang dan terhidang dimeja. Regina juga mendengar dari Pak Ayus, setelah menikah Gian jadi pulang lebih cepat dari biasanya. Dulu dia harus standby bahkan sampai jam 12 malam, karena Gian belum pulang dari kantor dan masih bekerja. Gian tidak terlalu suka berkendara terlalu malam ketika habis lembur. Makanya Pak Ayus harus menunggunya bahkan hingga larut malam untuk mengantarkan Gian pulang. Sekarang Gian jarang pulang larut dan pulang sendiri. Pak Ayus senang karena pulang lebih awal.


Mendengar cerita dari Pak Ayus tersebut Regina tersipu. Apakah Gian menunggu waktu makan malam sama seperti dirinya? Makanya dia pulang lebih cepat setiap hari tidak seperti biasanya saat dia belum menikah.


...****************...


“Mbak Tini, aku mau nanya boleh?” Kata Regina pada rekan kerja yang duduk di sebelahnya. Regina sudah menempati posisi di R&D semenjak Dimas menjadi CEO Edmode yang dipilihkan oleh Gian. Wanita berumur 35 tahunan itu mencondongkan badannya ke arah Regina, namun matanya masih terpaut pada layar komputer di depannya.


“Kenapa, Re?”


“Kalau misalnya suami Mbak Tini ngerjain kerjaan rumah sendiri, kaya nyuci baju, nyetrika, beres-beres gitu. Menurut Mbak Tini gimana?”


“Ya bagus dong. Itu yang selalu aku pingin.”


“Mbak Tini ga ngerasa jadi ga berguna gitu buat suami?”


“Ya ngga lah. Justru bagus malahan. Jadinya beban kita lebih ringan. Nih aku kasih tau ya, Re. kalau suami manja banget ga bisa ngurus dirinya sendiri apalagi anti sama kerjaan rumah, bakalan repot banget kalau udah punya anak. Ya harus ngurus anak, ngurus suami. Kalau dia bisa nyuci, masak, bersihin rumah sendiri kita bakalan kebantu banget. Ga usah juga kita sewa ART mahal-mahal.” Jelas Tini berapi-api.


“Beneran gak apa-apa jadinya?”


“Ya gak apa-apa. Asal ga misuh-misuh aja pas ngerjainnya. Kenapa sih? Gian kaya gitu ya?”


Regina mengangguk.


“Wah keren banget dong. Suami idaman tuh yang begitu. Melihat kita sebagai partner, bukan pembantu.”


“Aku aneh dong ya kalau ngerasa ga berguna?”


“Ga juga kok. Mungkin karena kamu masih pengantin baru. Ngerasa harus memenuhi dan melayani suami. Ngerasa harus jadi berguna buat dia. Tapi karena Gian terlalu mandiri, jadinya kamu ngerasa dia ga butuh kamu. Gitu, kan?”


Regina mengangguk lagi menyetujui. Perasaanya terasa divalidasi.


“Santai aja. Lebih baik kamu fokus aja mempercantik diri, luluran, ke spa, skincare-an, beli baju hot. Kan kamu bisa melayani suami dengan cara lain. Iya, kan?” Kata Tini tersenyum dengan tatapan nakal.


Hanya tawa canggung yang keluar dari mulut Regina. Mau secantik dan seseksi apapun penampilannya, Gian tidak akan menyentuhnya. Dia juga tidak ingin melakukan hubungan suami istri dengan Gian. Hal seperti itu tidak pernah dibahas diperjajnjian mereka sebagai suatu keharusan. Orang-orang juga tidak pernah tahu sampai sekarang Regina masih perawan.


...****************...


Kegiatan Gian saat weekend adalah bersih-bersih, mencuci baju, sarapan, kemudian naik ke atas menuju ruang kerjanya dan membereskan semua pekerjaan kantornya. Terkadang dia juga menyiapkan materi-materi jika harus seminar ke luar kota. Hidupnya sebenarnya tidak jauh berbeda saat dulu dan sekarang. Hanya saja sekarang ada Regina disekelilingnya. Setiap dia keluar kamar dan ruang kerjanya, dia selalu menemukan gadis itu dimana-mana. Di dapur, di laundry room, di ruang tengah, di taman. Keberadaanya tidak terlalu mengganggu, justru sangat aneh baginya merasakan bahwa Regina sekarang adalah bagian dari kegiatan sehari-harinya.


Gadis itu cukup ceriwis meskipun terkadang ketus. Dia juga kadang-kadang berisik dan menimbulkan keributan dengan berkaraoke di ruang tengah, atau menyalakan volume TV dengan kencang. Gian sekarang semakin rajin berteriak dari lantai 2 untuk memarahi Regina.

__ADS_1


“Regina berisik!”


“Kecilin volume TV nya!!”


“Jangan karaokean! Berisik!”


“Matiin TV nya!!”


Kemudian akan diabalas dengan hentakan-hentakan marah oleh Rergina dan mukanya yang cemberut kalau berpapasan dengan Gian. Tapi semua itu tidak membuat Gian terganggu dan ingin mencabut keberadaan Regina disekelilingnya. Malah terkadang Gian membiarkan saja Regina bernyanyi dari lantai bawah dan menertawakannya jika suara yang dikeluarkan terlalu sumbang.


TV masih menyala, menampilkan adegan-adegan drama Korea yang sangat digemari Regina. Gian hampir selalu menemukan Regina di ruang tengah, manatap layar dengan serius atau sambil menangis sesenggukan karena terbawa cerita drama. Dia juga tak jarang tidur disana hingga pagi karena bergadang menyelesaikan tontonannya.


Siang itu Regina juga tertidur di sofa ruang tengah. Bergulung dibalik selimut berwarna kuning cerah, dan bantal biru muda. Remot TV, handphone, dan camilan tergeletak berantakan disekelilingnya. Gian hanya berdecak melihat pemandangan tersebut. Kemudian duduk dipinggir sofa tempat Regina tertidur. Menatap gadis itu lama.


Melihatnya yang tertidur pulas seperti anak-anak membuat Gian tersenyum. Dia benar-benar manis. Dia memperhatikan wajahnya, kemudian menyentuh pipi Regina yang halus dan putih. Dengan tiba-tiba Gian menampar pelan pipi tersebut, membangunkan Regina yang tengah trertidur. Kaget dengan tamparan Gian, kedua mata Regina terbuka dan memandang sekeliling dengan awas.


“Gian ngapain sih?!” Katanya marah saat melihat Gian duduk disampingnya.


“Bangun! Udah siang!”


“Apaan sih ah, ganggu aja!” Balasnya kesal sambil menarik selimut ke atas kepalanya.


“Aku laper.”


“Ya terus?”


“Cepetan masakin makan siang.”


“Ih malesin. Sana pesen online aja!”


“Gak mau. Cepetan bangun!” Gian menarik selimut hingga terbuka dan menarik lengan Regina hingga dia terduduk. Regina menatap Gian dengan galak. Namun akhirnya kalah dan turun dari sofa.


“Ih nyebeliiiiin!”


...****************...


Jam menunjukan pukul 8 saat Gian tiba di rumah. Regina berada di ruang tengan menonton drama setelah selesai memasak. Dia menunggu Gian yang dari tadi belum juga pulang. Saat melihat Gian masuk, ekspresinya kusut seperti banyak masalah dan sangat lelah.


“Kok kamu telat pulangnya?”


“Kejebak banjir.” Jawabnya singkat. Sepertinya Gian memang sedang bad mood. Regina takut untuk bertanya lagi hal yang bukan urusannya. Gian juga sepertinya tidak ingin membahas apa-apa dengannya.


“Aku udah masakin udang gor—”


“Aku ga makan malam hari ini. Pingin langsung istrirahat. Sorry.” Potong Gian cepat. Kemudian naik ke lantai atas menuju kamarnya. Regina terpaksa makan malam sendiri hari itu.


Pagi ini Gian tidak terlihat turun dari kamarnya. Mobilnya juga masih ada di garasi, dia belum berangkat kerja dan tidak sedang pergi keluar kota. Biasanya sejak subuh Gian sudah terdengar beraktivitas. Menyalakan pembersih debu di kamarnya. Namun sekarang sama sekali hening. Regina mengetuk pintu kamar gian untuk mengeceknya. Namun tidak ada jawaban apa-apa. Karena tidak terdengar suara apapun Regina berteriak memanggil Gian sambil memukul-mukul pintu kamarnya hampir 1 menit. Dia khawatir terjadi apa-apa dengannya. Suara klik dari lubang kunci dengan lembut terdengar. Kemudian pintu terbuka, menampilkan wajah Gian yang muram dan rambutnya yang kusut. Gian berbalik dan kemudian berbaring lagi di tempat tidurnya.


Regina dengan ragu masuk ke kamar Gian. Ruangan itu gelap, hanya lampu tidur yang menyala di dekat ranjang. Gorden masih tertutup. Baru kali ini Regina masuk ke kamar Gian setelah sebulan menikah dengan laki-laki itu. Dilihatnya kembali Gian yang sudah membaringkan diri dan menarik selimut.


“Kamu kenapa, Gi?”


“Ga enak badan.” Jawabnya lemah.


Regina mendekati Gian, duduk di tepian ranjang. Dia menyentuh kening Gian dan merasakan badannya hangat. Gian benar-benar sakit. Manusia gila kerja ini bisa sakit?


“Gi, kamu demam.”


“Hmm.. sama sakit kepala.”


“Kamu mau aku bikinin bubur? Kamu harus makan sebelum minum obat.”


“Hmm” Gumamnya sambil mengangguk pelan.

__ADS_1


Regina membuatkan bubur untuk Gian. Dia memasaknya menggunakan kaldu ayam, menambahkan jagung dan wortel yang sudah dipotong kecil-kecil supaya Gian bisa memakan sayuran juga. Bubur disajikan dengan toping suiran ayam dan kerupuk.


Gian memakannya dengan lahap. Sepertinya nafsu makannya tidak menurun karena demam dan sakit kepalanya. Regina mengukur suhu tubuh Gian dengan termometer dan melihat layar benda kecil tersebut menampilkan angka 38,7°C. demamnya cukup tinggi.


“Kamu dari tadi malam sakitnya?”


Gian hanya mengangguk dan melanjutkan makan.


“Kenapa sih ga bilang kalau kamu sakit dari malam? Kan bisa langsung diobatin. Mana tadi malam kamu ga makan lagi.” Kata Regina kesal.


“Jangan marah-marah. Kepalaku nyut-nyutan.”


“Habis kamu tuh sok-sokan ga butuh bantuan. Giliran sakit kaya gini aja, baru deh.” Kata Regina mendengus. “Nih cepetan minum obatnya!”


Setelah minum obat, Gian kembali tertidur. Regina bolak-balik ke kamar Gian untuk mengganti kompres, mengisi tempat air minum dan mengamati suhu tubuh Gian. Hingga siang suhu tubuh Gian tidak kunjung turun.


“Gi, periksain ke dokter aja ya?” Kata Regina khawatir saat Gian menyantap makan siangnya. Suhu tubuhnya masih berada di angka 38°C. Namun Gian menolak. Setelah makan dan meminum obat pereda deman, Gian tertidur kembali.


Regina akhirnya menemani Gian sepanjang hari itu. Dia duduk bersandar di ranjang Gian sambil membaca majalah dan bermain handphone. Dia melihat Gian tertidur, kemudian ikut membaringkan diri disebelahnya, saling berhadap-hadapan. Wajahnya tampak damai ketika tertidur, suara napasnya terdengar lembut.


Orang-orang benar, Regina beruntung menikahi laki-laki tampan seperti Gian. Jika mereka dalam kondisi lain, mungkin dia akan sepenuhnya setuju. Membayangkan bisa menatap wajah Gian setiap pagi. Dirinya di dunia paralel lain pasti jatuh cinta dengan orang sejenis Gian. Tapi entah dengan dirinya disini, perasaanya bercampur aduk. Dia ingin dekat dengan Gian, tapi juga tidak mau berhubungan dengannya. Ada hal-hal yang menurutnya tidak dia sukai dari laki-laki ini. Gian seperti selalu mamasang pagar batas agar dia tidak terlalu dekat. Dia selalu menjaga jarak dengan Regina. Seberapapun mencoba untuk menjadi temannya, menjadi berguna, dan membantunya, Gian pada akhirnya selalu menjatuhkan harapannya. Menjauhinya.


Tangan Regina menggapai kepala Gian, mengelus rambutnya dengan lembut. Kemudian tak lama dia ikut tertidur disana.


Gian turun ke dapur menjelang sore. Badannya sudah terasa lebih baik. Sakit kepalanya juga menghilang. Sebelum turun dia mengecek suhu tubuhnya, dan sekarang suhunya sudah normal kembali. Regina berdiri di dapur membereskan peralatan bekas memasak.


“Kamu udah baikan?” Tanya Regina saat melihat Gian memasuki dapur.


“Hmm.. udah enakan.” Jawabnya santai. Kemudian duduk di meja makan.


“Aku udah bikinin egg drop soup sama ayam kecap.”


Gian sudah menyendokan makanannya kemulut. Sementara Regina sibuk mencuci peralatannya. Selama sepuluh menit hanya terdengar suara air dan benturan dari peralatan masak yang sedang dicuci, juga suara denting sesekali dari sendok yang Gian pakai untuk makan.


“Kamu hari ini ga ngantor?” Tanya Gian tiba-tiba.


“Aku ambil cuti.”


“Buat ngerawat aku?”


“Hmm..” Gumam Regina santai.


“Makasih ya udah ngerawat aku hari ini.”


“Hmmm..” Gumam Regina lagi. Kali ini senyum merekah dari bibirnya. Ada banyak hal yang dia tidak suka dari Gian. Tapi ada hal-hal yang juga dia suka dari Gian, yaitu dia tidak pernah ragu untuk mengatakan terimakasih dan maaf. Jarang sekali orang lain bisa mengapresiasi perbuatan baik dan juga meminta maaf dengan tulus. Hatinya merasa senang, rasanya dia bisa berguna untuk Gian.


“Tapi aku mau bilang ini lagi sama kamu, siapa tau kamu lupa. Kita cuma pasangan kontrak, bukan suami istri beneran. Jadi jangan pakai perasaan kamu dihubungan ini. Aku ga akan ngasih perasaan apa-apa buat bales kamu.”


Gian berdiri dari kursinya dan mulai melangkah keluar dapur. Regina menyimpan sendok sup yang terakhir dicuci ke tempatnya. Kemudian terdiam mendengar kata-kata Gian. Selalu. Selalu seperti itu dengannya. Perasaan menyengat menyerang hatinya. Entah kenapa setiap kali Gian mengatakan bahwa mereka bukan pasangan asli selalu membuatnya kecewa. Padahal sudah jelas memang itu kebenarannya.


Regina melempar spons cuci piring basah ke arah Gian. Benda tersebut mendarat di tengkuk Gian, yang membuatnya berbalik. Menatap Regina dengan bingung.


“Jadi menurut kamu aku ngerawat kamu karena aku punya perasaan sama kamu? Gitu?” Teriak Regina marah. “Kamu kelihatan menyedihkan pas sakit makanya aku mau rawat kamu. Aku juga ga akan punya perasaan apa-apa sama kamu!” Lanjutnya lagi, napasnya tersengal karena marah.


“Bagus kalau gitu. Aku ga berharap kamu jatuh cinta sama aku. It will be complicated for us.”


Regina berjalan ke arah Gian. Kemudian berhenti tepat dihadapannya.


“Cuci bekas makan kamu!” Teriaknya. Kemudian berjalan meninggalkan dapur. Gian hanya berdiri disana dan tersenyum.


 


 

__ADS_1


__ADS_2