
Gian sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai kondisi Regina, membuatnya menjadi merasa makin bersalah. Gian sangat panik saat mendapati Regina pingsan ketika mereka bertemu lagi setelah beberapa hari. Saat itu juga Gian membawanya ke rumah sakit.
Regina sudah sadarkan diri saat tiba di rumah sakit. Dokter melakukan pemeriksaan dan tindakan dengan segera. Pemeriksaan USG untuk mengetahui penyebab pendaraahan, kemudian dokter mendiagnosa kehamilan Regina tidak berkembang di usia 3 minggu dan mengalami keguguran. Dokter langsung memberikan obat untuk membersihkan jaringan yang tersisa di rahim Regina. kemudian menyarankannya untuk rawat inap karena kondisi Regina sangat lemah dan shock.
Entah mana yang lebih mengejutkan bagi Gian, mengetahui Regina hamil atau keguguran dalam waktu yang bersamaan. Regina tertidur cukup lama setelah di pindahkan ke ruang rawat inap. Gian hanya memperhatikan istrinya tertidur dari kursi di samping ranjang Regina. Dia senang karena bisa menemukan Regina kembali, sekaligus bingung setelah mengetahui kondisi istrinya tersebut. Jika saja Gian tahu Regina sedang hamil, jika saja Gian tahu lebih awal keberadaan Regina, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
Regina mulai terbangun dan membuka matanya saat sore. Dia melihat Gian berada disampingnya, duduk sambil menggenggam tangannya. Kesadarannya mulai kembali utuh, potongan-potongan kejadian yang dialaminya tadi pagi mulai diingatnya. Ketika nyeri perut yang hebat menyerangnya, gumpalan-gumpalan yang meluruh dengan darah, seketika itu Regina langsung tahu bahwa dia tidak sedang menstruasi, tapi kehilangan janinnya. Dia juga bisa mendengar penjelasan-penjelasan dokter kepada Gian saat melakukan tindakan medis padanya, menguatkan ketakutannya. Perasaan sedih dan bersalah seakan menghantamnya tiba-tiba. Bagaimana bisa Regina tidak tahu bahwa dirinya hamil? Dia seharusnya tahu. Tangis tiba-tiba pecah, dia tidak bisa mengendalikan kesedihannya.
Gian yang melihat Regina terbangun kemudian menangis sangat panik. Dia berusaha menghentikan tangis Regina dengan membelai kepalanya. Namun Regina tidak bisa mengontrol perasaannya. Kedua tangan menutupi wajahnya, menyembunyikan air mata yang terus berjatuhan dan isak yang semakin keras.
“Re, udah gak apa-apa. Ga apa-apa.” Ulang Gian berkali-kali menenangkan Regina.
Tapi jelas Regina tidak bisa tenang. Tidak mungkin dia baik-baik saja setelah kehilangan janinnya. Tidak mungkin dia bisa melupakannya semudah itu. Apalagi dia sama sekali tidak tahu tentang kehamilannya, dan saat tahu, janinnya sudah tidak ada. Semua kesedihan yang dialami dalam hidupnya entah kenapa rasanya sekarang tidak sebanding dengan ini. Sejak dulu Regina selalu menginginkan keluarga dan memiliki anak. Setelah semua kejadian ini, dia tidak akan pernah baik-baik saja.
Regina menangis tanpa henti lebih dari 1 jam. Tapi Gian tetap menemaninya, terus menenangkannya. Gian tahu kehilangan ini sangat berat bagi Regina, lebih dari siapapun di dunia ini. Hampir seluruh wanita akan mengalami dampak mental yang tak main-main saat mengetahui dirinya keguguran. Jika harus mengakui sesuatu, Gian sebenarnya tidak terlalu terpukul dengan kehilangan ini. Meskipun dia mengakui sangat terkejut. Tapi bagi Gian yang paling penting adalah keselamatan Regina. Selama ini dia belum memikirkan tentang anak. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Regina saja.
“Regina, makan dulu. Habis itu minum obat.” Kata Gian saat Regina sudah mulai tenang. Tapi Regina tidak menanggapi perkataan Gian. Dia hanya menatap kosong entah apa yang ada di depannya. Gian dengan sabar menyuapkan makanan pada Regina, meminumkannya obat, dan mengurusnya seharian itu hingga Regina tertidur kembali.
__ADS_1
...****************...
“Kenapa kamu repot-repot ngurusin aku? Kenapa ga ngabisin waktu aja sama Vanya?” Tanya Regina tiba-tiba saat selesai sarapan.
Kemarin perasaannya masih hancur tak karuan karena kehilangan janinnya. Dia membiarkan Gian membantu dan mengurusnya, saat itu dia belum mampu mengendalikan diri dan tenggelam dalam kesedihan. Kini dia sudah sepenuhnya sadar dan lebih menerima kejadian kemarin meskipun dia tidak bisa melupakan kesedihannya. Saat ini perasaannya kembali tak nyaman jika mengingat harus berhadapan dengan Gian lagi. Semua salah Gian. Kalau saja dia tidak pergi dengan Vanya, kalau saja Regina tidak melihatnya selingkuh dengan Vanya, mungkin sekarang dia masih memiliki kesempatan untuk mempertahankan bayinya. Regina ingin menyalahkan orang lain atas semua tragedi dan kesialan yang dialaminya.
“Regina, kamu salah paham. Aku mau ngejelasin kejadian malam itu, semuanya gak kaya yang kamu pikirin.”
“Aku udah tau kamu pasti ngomong kaya gitu. Kamu pasti menjelaskan dengan logika kamu kalau kamu ga selingkuh, kalau kamu ga punya perasaan apa-apa sama Vanya. Tapi semua bohong, Gi. Kamu pergi sama dia, jalan-jalan padahal ga pernah sekalipun kamu ngajak aku pergi kaya gitu. Kamu kerjasama dengan perusahaannya, terus bilang sama aku bahwa hal kaya gitu ga spesial. Ngaku aja sih apa susahnya kalau kamu nganggap Vanya tuh istimewa buat kamu?”
“Aku minta maaf karena aku pergi sama Vanya dan gak bilang kamu dulu. Dia minta aku temenin makan karena mau ngomongin soal surat wasiat kakekku, yang seharusnya orang lain selain keluarga Airlangga ga ada yang tahu soal itu. Aku salah, karena aku setuju temenin dia buat nyari kado untuk ibunya hari itu. Aku pikir itu gak akan lama dan gak ada arti apa-apa. Kamu tetap ga akan percaya kan setelah aku jelasin kejadian sebenarnya kayak gini?”
“Terus aku harus kaya gimana biar kamu percaya lagi sama aku?”
“Ga ada.”
“Re, aku tahu kamu cemburu sama Vanya dan aku beneran minta maaf karena udah pergi sama dia. Tapi kamu ga bisa bersikap ga adil kayak gini tanpa dengerin penjelasan dari aku.”
__ADS_1
“Ga adil? Menurut kamu sikap kamu sendiri kaya gimana? Kamu tahu dari awal aku ga suka sama vanya, aku cemburu sama dia. Tapi gampang banget kamu pergi sama dia?”
“Ya udah mau kamu kayak gimana? Aku harus kayak gimana biar kamu bisa maafin aku dan ngasih aku kesempatan lagi?”
“Aku mau kita udahan aja, Gi. Aku gak percaya sama kamu. Aku pingin kita cerai aja.” Kata-kata itu sudah Regina persiapkan berhari-hari. Setelah memikirkannya berulang-ulang.
Gian terkejut dengan pernyataan Regina. kata-katanya seperti bola panas yang dilemparkan ka arahnya. Diantara semua pikiran buruk yang sudah dia bayangkan mengenai hubungannya dengan Regina. Cerai adalah satu-satunya yang sangat dia hindari, dia tidak ingin memikirkan itu. 9 hari tak melihat Regina saja sudah membuatnya gila. Gian tidak akan bisa berpisah dari Regina dan menceraikannya.
“Regina!” Ucap Gian tegas “Bukan kayak gini cara menyelesaikan masalah. Hanya karena kamu emosi dan cemburu, kamu sampai gak bisa berpikir jernih dan bertindak impulsif kaya gini. Kamu kabur dan ga bisa dihubungi, kamu ga bisa dengerin penjelasan orang lain, dan kamu dengan gampangnya ngomongin cerai. Kamu malah bikin masalahnya makin rumit!” Lanjut Gian emosi.
Regina tidak menanggapi, memalingkan wajahnya dari Gian, memandang jauh ke pemandangan jendela kamar rawatnya. Dia tidak mau disakiti lagi. Dia tidak ingin percaya pada laki-laki manapun yang sudah berbohong padanya dan bersama wanita lain. Masa lalunya yang buruk dengan Rafi membuat Regina tidak bisa lagi mentoleransi ketidaksetiaan. Meskipun harus diakui perpisahan dengan Gian sangat berat. Setengah hatinya mengatakan tindakannya salah karena dia sangat menyayangi Gian. Keraguan sekarang juga tumbuh setelah mendengar penjelasan Gian. Bisa jadi Gian memang tidak berselingkuh. Tapi hal itu sulit untuk dipastikan. Regina jelas melihatnya sendiri dia bersama Vanya.
“Aku ga mau bahas ini lagi sekarang. Perutku sakit.” Ucap Regina menghindar. Dia membaringkan kepalanya ke bantal dan menutup matanya. Berharap semua masalah dan kesedihannya berakhir dengan sendirinya.
Gian masih emosi. Banyak hal yang masih ingin dia ucapkan pada Regina. Semua protes dan rasa frustrasinya tentang keputusan Regina yang tak masuk akal. Tapi Gian cukup waras untuk tidak mendesak Regina saat keadaannya seperti ini. Dia membiarkan Regina tertidur. Tak tahan dengan semua kekacauan dan perasaannya yang campur aduk, Gian keluar dari kamar dan duduk di kursi-kursi panjang di dekat nurse station. Dia membenamkan wajahnya di kedua tangannya. Bingung mencari arah hubungan mereka setelah ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan like ya ❤️