Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

...Bulan Ketiga


...


Napas berat Regina hembuskan saat melihat satu garis merah tercetak di test pack. Dia mencobanya lebih dari 5 merek, yang murah hingga yang mahal. Tapi alat tersebut tidak berbohong. Kali ini usahanya gagal lagi. Setiap hari dia sudah hampir muak meminum vitamin dan obat kesuburan. Bahkan Mbak Inah membuatkannya rebusan bahan-bahan herbal yang katanya bisa mempercepat kehamilan. Regina juga mengatur pola makannya, semua konsumsi fast food dan micin dia pangkas. Tak lupa berolahraga dengan rajin. Tak ada satupun yang bisa membuat satu detakan kecil di rahimnya.


Setiap kali mendapatkan kegagalan rasanya satu per satu semangatnya rontok. Pikiran buruk selalu terlintas dalam benaknya. Apa karena kegagalannya menjaga kehamilanya dulu, membuat Regina tidak akan diberi kesempatan lagi? Muram menguasai dirinya jika prasangka itu datang. Regina akan menangis sendiri di studio mininya, menyesali kebodohannya di masa lalu.


Berbeda dengan Gian, yang sangat santai menghadapi kegagalan program hamil istrinya. Memang sejak awal dia tak begitu mempermasalahkan tentang keturunan. Sikap Gian tetap tenang ketika istrinya dipenuhi perasaan kecewa, marah, sedih, dan bersalah.


“Kamu gak serius ya ngedukung promil aku?” Tanya Regina ketika mereka membahas tentang kegagalan-kegagalan selama 3 bulan ke belakang.


Gian mendengus kesal, “Kamu mau permasalahin apa lagi sih, Re? Aku gak keluar kota, gak lembur, dan selalu ada buat kamu pas kamu lagi butuh aku. Kenapa kamu bilang aku gak serius dukung kamu?”


“Kamu tuh gak kelihatan excited pas aku ngomongin soal promil? Kamu gak mau kalau aku hamil?”


“Kok kamu ngomong kaya gitu sih? Kapan aku bilang kalau aku ga mau kamu hamil? Aku selalu dukung kalau itu mau kamu.”


“Iya kamu dukung karena aku mau, tapi kamu sendiri sebenernya ga mau kan, Gi? Mungkin itu sebabnya kita gak dikasih kepercayaan sampe sekarang. Karena kamu gak mau, ga siap.” Ucap Regina emosi.


“Kamu tuh akhir-akhir ini terlalu sensitif. Selalu marah dan kesel sama hal-hal kecil gara-gara terlalu ambisius buat hamil. Kenapa kamu gak bisa santai dikit sih, Re? Gak ada yang ngeburu-buru kamu buat punya anak.”


“Oh jadi sekarang aku yang salahnya gitu karena pingin punya anak cepet-cepet?”


“Re, kita masih baru. Perjalanan kita masih panjang, kamu gak harus punya anak cepet kayak yang lain dan aku gak keberatan.”


“But, I’m getting older, Gi.”


“Terus masalahnya apa? Arsila juga bisa punya anak umur 33 tahun. Tanteku juga dulu usia 35 lebih masih bisa punya anak. Nikah bukan cuma buat punya anak aja, Re.” Gian benar-benar muak dengan pembicaraan tentang program hamil ini selama berbulan-bulan.


“Bisa gak kita nikmatin waktu kita dulu berdua, tanpa perlu terlalu ngotot pingin punya anak cepet? Ini malah bikin hubungan kita jadi banyak berantemnya. Kamu jadi selalu kesel sama aku, apa aja yang aku lakuin salah.” Lanjut Gian emosi.

__ADS_1


“Re denger, aku sayang sama kamu. Mau kamu hamil atau ngga. Kalau kamu siap dan kita dikasih kepercayaan buat punya anak, I’ll make sure I’ll be ready. But please, pelan-pelan. Kamu jangan nambah beban yang ga perlu dipikiran dan jangan bikin aku ngerasa gak nyaman karena terus-terusan bahas ini terus. Aku sampe ga bisa kerja kaya biasanya. Gak bisa keluar kota atau lembur padahal urusannya urgent.” Ucap Gian dengan jujur.


Regina sangat lelah. Gian tidak akan mengerti tentang kekhawatiran dan rasa bersalahnya. Dia selalu tidak paham perasaan takut yang Regina rasakan dan pikiran buruk yang telintas saat dia gagal lagi untuk hamil. Air mata luruh ke pipinya. Gian memang benar, akhir-akhir ini Regina sangat sensitif dan mereka selalu saja bertengkar. Padahal sebelum ini Regina sudah berjanji akan menjadi tempat nyaman untuk Gian pulang. Tapi Regina malah membuatnya tidak nyaman dengan semua ambisinya memiliki anak.


Gian memeluk Regina yang terisak. Meskipun kata-katanya tadi terdengar jahat, tapi Regina harus mendengar dari sisi yang lain. Dari pasangannya. Menikah bukan hanya memaksakan kehendak satu orang pada yang lainnya, mengabaikan pendapat dan kenyamanan pasangan demi keinginan diri sendiri.


“Aku takut, Gi. Aku selalu mikir kalau kita gagal terus karena aku ga akan dipercaya lagi buat hamil. Aku udah pernah gagal.” Ucap Regina diantara tangisnya. Gian memeluknya semakin kencang, sebenarnya paham tentang ketakutannya.


“Kalau kamu gagal hamil secara alami, masih banyak jalan lain kayak IUI atau IVF. Gak masalah apa aja yang mau kamu coba nanti. But that is too early. Bahkan dokter Ratih aja ngasih kita waktu 6 bulan buat coba dulu secara alami. Kita masih punya waktu. Daripada kamu stress ga karuan gini, marah-marah terus, kenapa kita ga bikin suasana rumah jadi hangat lagi? Aku bisa nyediain waktu akhir pekan buat kita liburan keluar kota. Tenangin dulu pikiran.”


Regina berhenti menangis. Meskipun pikirannya masih kusut, tapi perasaannya lebih tenang. Gian selalu berpikir logis dan menenangkannya. Rasanya semua masalah besar bagi Regina jika ditangani oleh Gian, akan terlihat ringan.


“Kamu harus banyakin tenangin pikiran dan bahagia dulu. Hamil dan jadi ibu itu berat. Kamu yang bakal ngalamin banyak perubahan dalam diri kamu dibandingkan aku. Kamu bakal mengalami perubahan fisik pas kamu hamil dan menyusui. Beban mental kamu juga bakal tambah berat selama proses itu. Aku ga pernah mempermasalahkan kamu bisa hamil atau ngga, mau punya anak atau ngga. Hal-hal berat kayak gitu lebih banyak pengaruhnya sama kamu sendiri. Aku cuma bisa dukung dan bantu kamu sebagai pasangan. Makanya aku ga berani nuntut kamu apapun soal ini. Kalau kamu mau punya anak, aku siap. Kalau kamu gak mau, ga masalah. Jadi kamu jangan pernah mikir aku ga serius dukung keinginan kamu buat punya anak. I’ll be always by your side, Re.”


Selama ini Gian memang selalu menepati kata-katanya. Dia tidak menjadwalkan pergi keluar kota saat program, dia juga mengurangi lembur dan pulang tepat waktu. Salah kalau sampai Regina berpikir Gian tidak pernah serius mendukungnya. Perasaan malu muncul saat mengingat semua kata-kata emosional yang Regina katakan pada Gian. Padahal diantara semua orang di dunia, Gian yang paling memperhatikan keinginannya.


...****************...


“Happy Birthday!” Ucap Regina mengecup bibir Gian saat laki-laki itu baru membuka matanya. Gian kemudian duduk di kasur dengan bingung.


“Emang sekarang ulang tahun aku?” Tanya Gian yang masih berwajah mengantuk mengumpulkan nyawanya.


“Kamu lupa ulang tahun kamu sendiri?” Tanya Regina kaget. Gian memang tipe orang yang tidak terlalu peduli dengan hari-hari penting. Tapi Regina sudah menyiapkan cake cokelat dengan hiasan strawberry yang cantik. Lilin berpendar diantara hiasan itu. “Make a wish.” Lanjutnya.


Gian meniup lilin-lilin itu hingga padam.


“Kamu mau hadiah apa?”


Gian berpikir sejenak, tak ada yang dia inginkan saat ini. “Kamu.” Jawabnya.


“Apaan sih”

__ADS_1


“Ya aku maunya kamu. Tanpa dibungkus.” Kata Gian sambil tersenyum lebar.


“Mesum!!” Bentak Regina.


“Sekarang langsung terima hadiahnya juga aku gak keberatan. Ayo!” Ucap Gian menggoda Regina. Tangan nakal Gian langsung ditepis.


“Maaf ya, hari ini aku ada meeting sama vendor. Aku harus kerja. Tapi nanti malem aku udah nyiapin dinner spesial. Nanti Pak Ayus yang anterin kamu ke tempatnya.”


Sepulang kerja Gian diantar oleh Pak Ayus ke Fairmont Hotel. Regina mengatakan dia telah menunggunya dan sudah berada disana. Saat sampai ke lobby, handphone Gian berdering.


“Udah di restonya?” Tanya Gian.


“No. Aku lagi mandi dan ganti baju dulu di kamar lantai 20. Kesini dulu aja. Room-nya ga aku kunci.”


Saat sampai di ruangan, Gian langsung duduk di salah satu sofa di dinning area. Menunggu Regina berganti baju. Regina tak mau memakai baju kerjanya saat dinner. Dia memang sangat memperhatikan penampilan, hal seperti ini sangat biasa untuk Gian. Sambil menunggu, dia memainkan handphone-nya. Tertawa sendiri melihat postingan Regina di sosial media yang menampilkan wajah bangun tidur Gian yang memegang kue cokelat. Dia menambahkan caption “The most amazing left-brained person I’ve ever met.” Membuat Gian tersenyum makin lebar.


“Gian.” Panggil Regina dari bedroom. Gian kemudian menoleh padanya. Beberapa detik Gian terdiam kaget. Namun dia lekas sadar dan menghampiri Regina.


“Your dinner is served.” Kata Regina riang.


Tanpa banya bicara, Gian langsung merengkuh wajah Regina. Mencium bibirnya dengan agresif, lidah bergerilya di setiap inci mulut Regina. Gian harus mengakui, Regina memang sangat ahli membuatnya takjub. Dia juga paling bisa membuat Gian kehilangan kendali. Prajurit diantara kedua kakinya mulai mempersiapkan diri untuk pertempuran hebat malam ini. Makan malam yang lezat.


“Aku bilang tanpa bungkus.” Bisik Gian di telinga Regina setelah melepaskan bibirnya.


“Tapi ini kan pake pita, jadi bungkusnya premium.” Balas Regina. Kemudian mereka berdua tertawa sambil saling memeluk.


Regina sudah mempersiapkan Gaun malam cantik untuk hari ini, berwarna merah darah, dengan bahan lace yang tembus pandang, dan pita besar di bagian dada. Seharian ini dia juga melakukan perawatan di spa hotel, merawat rambutnya, dan mempercantik kuku-kukunya. Berbohong akan berangkat bekerja. Dia tahu Gian pasti tidak ingin apa-apa sebagai hadiah ulang tahun. Lagipula Gian bisa membelinya sendiri. Apa yang tidak bisa dia beli? Makanya Regina menyiapkan malam spesial ini.


Tak ada protes, tak ada penolakan. Regina menyerahkan semua tugas memberinya kenikmatan pada Gian. Pasrah dengan semua petualangan dan permainan gila dipikiran laki-laki itu.


“Ahhh..” Des ah Regina kehilangan kendali saat Gian mengendalikan. Semua yang tangan Gian sentuh rasanya seperti bara api di tubuhnya. Membuatnya bercucuran keringat dan hilang akal.

__ADS_1


“Padahal baru mulai. Aku bakal bikin kamu gak bisa jalan.” Bisik Gian sambil terengah. Menikmati ritme permainan yang menakjubkan. Prajuritnya yang tangguh kini tenggelam sangat dalam di rimbun wilayah Regina. Menyerangnya tanpa ampun, tanpa jeda. Selama semalam penuh. Gian sangat menyukai hadiah ulang tahunnya.


__ADS_2