Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Makan Siang


__ADS_3

[Regina]


Gi, aku pingin makan siang bareng sama kamu


[Gian]


Tapi aku ga bisa makan siang di luar, lagi banyak kerjaan.


[Regina]


Oh ga mau makan siang bareng toh?


[Gian]


Bukan gak mau. Ga bisa makan di luar. Kamu kesini aja, makan di ruanganku. Nanti pesan makanan online. Mau?


[Regina]


Ya udah aku bawa bekal dari rumah aja yaa


[Gian]


Iyaa


Gian kembali memfokuskan dirinya pada layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tumben Regina ingin makan siang bersama. Tapi dia senang karena Regina akan datang mengunjunginya. Waktunya menyelesaikan tugas-tugas dengan cepat, agar bisa makan siang dengan tenang.


Hari ini Regina mengenakan dress hitam selutut, menggerai rambutnya yang panjang. Ditangannya, dia membawa paper bag berisi makan siang yang sudah disiapkan untuk Gian. Regina juga tak lupa memberikannya pada 2 sekretaris Gian yang mereka terima dengan senang hati. Gita tak berhenti berterimakasih pada Regina saat menerima makanan tersebut.


Ketika masuk ruangan, Gian masih sibuk di depan komputernya. Wajahnya berubah sumringah ketika melihat Regina muncul. Semua barang bawaan disimpan di meja dekat sofa, dan Regina menghampiri Gian di meja kerjanya. Mencium singkat bibir Gian.


“Udah selesai kerjaannya atau masih lama?” Tanya Regin bersandar di meja kerja Gian.


“Udah kok.”


“Oh ya? Katanya kerjaan lagi banyak. Kok sekarang udah selesai. Bohong ya kamu? Tadinya kamu gak mau kan aku kesini?”


“Apa sih, Re? Doyan banget bikin kesimpulan ga jelas. Aku selesaikan dengan cepat biar bisa makan siang dengan tenang sama kamu.” Kata Gian menciumi tangan istrinya.


“Dih jijik. Cowok modus!” Balas Regina pura-pura marah dan menyingkirkan ciuman Gian yang menggerayangi tangannya.


“Kamu bawa makanan apa?”


“Set bento, biar kaya bekal suami ala-ala Jepang.”


Mereka duduk di sofa membuka bekal yang sudah Regina bawa. Sudah ada tamagoyaki, ebi furai, ayam teriyaki, sayuran tumis, karaage, hingga buah-buahan segar yang sudah di potong dan dihias cantik pada tempat makan bertingkat.


“Ini kamu yang bikin? Sebanyak ini? Bukan beli di resto Jepang, kan?” Tanya Gian bercanda sekaligus takjub. Regina jarang memasak menu sebanyak itu ketika manyajikan makan malam dan sarapan. Tapi Gian tetap selalu menyukai semua makanan yang Regina masak.


Mendengar kata-kata Gian, Regina hanya mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Apa Gian sedang meremehkan kemampuan memasaknya yang sekarang semakin meningkat? Melihat istrinya cemberut, Gian hanya tertawa kecil.


“Aku habis diajarin masak sama Alika. Gimana makin enak kan masakanku?”

__ADS_1


“Alika anak Pak Sunaryo?” Tanya Gian penasaran.


“Yep. Dia baru aja lulus kuliah buat jadi chef. Aku belajar sama dia, karena ga ada kerjaan di rumah. Bosen.”


Gian mulai mencicipi makanannya, merasakan setiap menu yang tersaji disana. Dia mengangguk menyetujui perkataan Regina. Semuanya enak dan Gian sangat menyukainya.


“Kok bisa kenal sama Alika?”


“Yaa bisa dong, kan aku kenal ibunya.”


Gian menatap Regina bingung. Dia kenal dengan istri Sunaryo, Melinda? Salah satu ibu-ibu sosialita yang sulit di dekati, penyuka berlian, barang-barang bermerek, dan dengan gaya hidup yang luar biasa mewah. Gian tidak terlalu percaya orang seperti Melinda dengan senang hati menerima pendatang baru seperti Regina di circle pertemanannya.


“Kamu akrab sama Bu Melinda?”


“Yaa lumayan.” Jawab Regina tersenyum.


Gian tidak menanyakan bagaimana mereka bisa akrab. Mungkin memang Regina bertemu dengannya di acara-acara charity yang sering dia hadiri selama beberapa bulan kebelakang dan bisa membaur dengan baik disana. Mereka menikmati makan siang sambil berbincang dan bercerita. Telepon dari meja Gian berbunyi, dengan cepat dia kembali ke meja kerja dan mengangkatnya. Kemudian sibuk kembali menatap layar komputer.


“Kirim semua notice-nya ke email. Sebelum jam 3 nanti saya review.” Kata Gian disambungan telepon.


Tempat makan yang sudah kosong Regina masukkan kembali ke paperbag. Jam makan siang Gian sebentar lagi habis, tapi dia sudah bekerja kembali. Terpaku pada komputernya. Regina duduk menyandarkan diri disamping Gian, bertumpu pada meja kerjanya. Memperhatikan suaminya sedang serius bekerja. Regina tertawa kecil saat melihat saus teriyaki menempel di sudut bibir Gian. Mengotori wajahnya yang tampan. Tapi laki-laki itu malah fokus bekerja, membuat Regina gatal ingin membersihkannya.


Dengan tiba-tiba wajah Regina mendekat, menjilat saus yang mengotori bibir Gian. Setelah itu dia tersenyum tanpa merasa bersalah. Sementara Gian hanya bengong dengan kelakuan Regina. Tombol ON pada tubuh Gian tiba-tiba menyala. Regina memang sangat jago memancing perasaannya menjadi tak karuan dan hasratnya menggila tiba-tiba. Atau hanya Gian yang sangat lemah dengan semua sentuhan Regina?


“Kamu kesini mau ganggu aku kerja, kan? Biar aku gak konsentrasi?” Tatap Gian curiga.


“Aku kesini buat makan siang bareng.” Jawab Regina sambil tersenyum pura-pura polos “Aku pulang sekarang ya.”


Gian berdiri dari kursinya. Menaikkan Regina ke meja kerjanya hingga dia duduk disana. Mata mereka bertemu, Gian menatap Regina yang masih tersenyum seakan tak bersalah sudah membangunkan prajurit dengan lidahnya.


Gian tidak menjawab. Serangan tiba-tiba dilancarkan ke arah bibir Regina, menguasainya dengan lidah yang bergerak agresif merajalela. Tidak bisa. Gian makin hilang kendali. Jika harus melakukannya sekarang. Dia akan melakukannya. Meskipun perbuatannya tidak pantas dia lakukan di kantornya. Dia sudah tidak peduli.


“Gi, aku mau pulang. Sana kerja lagi. Jam istirahat kamu udah mau selesai.” Tolak Regina, menjauhkan tubuh Gian darinya.


Gian menekan tombol telepon di mejanya yang tersambung dengan sekretaris di depan ruangan.


“Jangan ganggu saya dulu 30 menit. Undur sebentar pertemuannya.” Ujar Gian.


“Baik, Pak. Nanti saya beri tahu tamunya untuk menunggu.” Jawab suara di telepon.


Gian kembali menatap Regina.


“Gak mau. Nanti baju aku kotor.” Protes Regina kesal.


“Lepasin semuanya kalau ga mau kotor.”


“Gak Mau!!”


Dengan santai Gian mengangkat rok Regina, melucuti ****** ******** dan melemparkannya ke kursi. Kecupan mendarat di leher Regina, meninggalkan bekas kemerahan di beberapa titik. Bibir Gian terus turun kebawah menuju aset berharga. Untung saja dress hitam Regina sangat ramah suami. Dengan mudah pakaian tersebut ditangani. Menampilkan pemandangan dua gunung yang indah.


Merasakan sentuhan-sentuhan tangan dan bibir Gian di kedua aset pribadinya, seakan membuat Regina lumpuh. Siku yang menahan berat badannya di meja, tidak kuat lagi menopangnya. Kini seluruh tubuhnya rebah di meja, menjatuhkan alat tulis dan beberapa dokumen ke bawah hingga berserakan. Tapi Gian tidak berhenti.

__ADS_1


Prajurit kebanggaannya sudah mulai bangkit. Siap berperang memporak-porandakan pertahanan Regina. Bagian terbaik dari kegiatan menyenangkan ini. Dengan kekuatan penuh prajurit perkasa itu masuk ke wilayah rahasia milik Regina. Membuat desa han lepas dari bibir Regina yang dengan cepat dia tahan dengan tangannya. Berbahaya jika sekretaris Gian tahu kegiatan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.


Satu tangan Gian mengangkat pinggang Regina, membuatnya terduduk kembali. Kedua tangan Regina kini melingkar ke Leher Gian, membuat tubuh mereka bersatu tak berjarak. Gerakan-gerakan gerilya yang dilakukan prajuritnya berirama, semakin lama semakin cepat. Membuat Regina semakin kesulitan menahan desa hannya. Gian sangat menyukai usaha putus asa Regina menutupi suara-suara indah yang dia keluarkan. Dia terus menyerangnya hingga istrinya hilang kendali dan membawa keduanya mendaki pucak.


Permainan menyenangkan mereka yang cepat sudah berakhir, meninggalkan perasaan lengket tak nyaman yang Regina rasakan diantara kedua kakinya.


“Bersihin!” Tatap Regina galak pada Gian yang hanya menyeringai. Senyumnya tak putus ketika Gian mencabut beberapa helai tisu diantara alat kerjanya di meja. Membersihkan kekacauan yang dia lakukan pada Regina. Membantu istrinya tersebut berpakaian lengkap kembali. Gian mengakui dirinya benar-benar gila kali ini. Fantasi tentang hubungan suami istri yang dilakukan dikantor sepertinya memang bukan hanya di film atau buku saja. Dia tergelitik melakukannya.


Setelah tatapan-tatapan kesal yang Regina arahkan padanya, dia berjalan menuju pintu.


“Mau aku anterin ke bawah?”


“Ga usah! Aku mau ke toilet dulu. Bersihin sisa dosa-dosa kamu.” Ucap Regina kesal kemudian berlalu menghilang ke balik pintu. Gian tertawa di kursinya. Tak percaya apa yang sudah dilakukannya hari ini. Sesekali dia ingin melakukannya lagi disini.


Saat keluar ruangan, Regina berusaha menghindari tatapan dari kedua sekretaris Gian. Dia benar-benar takut suaranya tadi terdengar keluar. Regina melemparkan senyum sekilas, yang dibalas dengan senyuman dan anggukan oleh Mira dan Gita.


Ketika berjalan menuju toilet di sebrang gedung, Regina baru menyadari telah duduk seseorang yang dia kenal. Vanya. Menatapnya dengan aneh. Penuh kebencian, iri, marah, dan semua perasaan negatif yang mengarah pada Regina. Tanpa peduli, Regina melewatinya. Terus berjalan menuju toilet.


“Bu Vanya, tunggu sebentar ya. Saya tanya dulu Pak Gian, apakah sudah bisa menerima tamu atau belum.” Ucap Mira pada Vanya.


Regina sudah berada di bilik toilet lantai 15 yang sepi. Lantai ini hanya digunakan oleh Gian dan sekretarisnya saja. Tak ada karyawan lain yang berlalu lalang disini. Dengan cepat Regina membersihkan diri. Setelah selesai dan merasa lega, dia keluar dari bilik toilet untuk melihat penampilannya di cermin.


“Dasar cewe gak punya etika! Murahan! Bisa-bisanya ngelakuin hal kaya gitu di kantor! Tolol!” Kata Vanya memaki Regina. Dia telah berdiri di dekat wastafel menunggu Regina.


“Kenapa? Kamu iri? Kalau punya suami ganteng dan seksi kaya Gian, dimana aja aku mau.” Jawab Regina tenang sambil memperbaiki rambutnya yang ternyata acak-acakan dan tak karuan.


“Ga habis pikir Gian bisa suka sama cewe murahan kayak lu! Lu pasti godain dan jual diri lu sama Gian, kan? Gak tahu malu.”


“Mau gua jual diri sekalipun, Gian mau dan tetap beli gua kok. Dibandingkan sama lu sendiri, mau lu jual diri sama Gian, mau lu manipulasi keluarganya buat jodohin lu sama Gian, atau mau lu godain Gian pun, tetep aja Gian gak mau sama lu. Itu bedanya kita. Gua tetap yang menang.” Jawab Regina puas.


Vanya hanya diam menatap Regina dengan kebencian.


“Lu punya waktu hampir 20 tahun lebih sama Gian. Tapi dia ga sedikitpun suka sama lu. Harusnya lu ngaca, karena level lu jauh banget sama gua yang bisa menangin Gian.” Regina tersenyum. Menatap ekspresi wajah Vanya yang semakin gelap dari pantulan cermin.


“Bangs*t lu!” Maki Vanya kemudian pergi meninggalkan toilet.


Regina tidak bisa menghentikan tawanya. Dia merasa seperti anak kecil yang habis menang melawan anak lain dalam sebuah permainan. Perasaannya puas. Sangat puas. Memprovokasi Vanya ternyata semudah ini. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Vanya pada suaminya. Menggodanya? Menjebaknya? Regina akan selalu siap melawannya.


Obrolannya dengan Yuniar menyadarkannya, akan banyak orang seperti Vanya dikehidupannya nanti. Dengan posisi, kekuasaan, kekayaan, dan kharisma Gian, banyak wanita yang akan mencoba mendekatinya. Mau atau tidak mau itu adalah resiko. Yuniar sudah puluhan tahun dan berpengalaman dengan ini. Dia mengatakan pada Regina untuk merawat hubungannya dengan Gian. Menjadikan dirinya rumah untuk pulang bagi Gian berarti menyediakan segala hal yang dia butuhkan. Termasuk kebutuhan biologisnya. Regina tidak bisa dikalahkan untuk ini, dari segala sisi, Gian sangat tunduk pada pesonanya. Mudah baginya memgendalikan hasrat tersebut pada Gian.


Kemarin malam moodnya sempat memburuk gara-gara kabar dari Gita tentang masalah kerjasama perusahaan Vanya dan Gian. Makanya dia datang hari ini untuk membuat Vanya melihat, bahwa Gian sangat menginginkan Regina. Bahkan dia mengabaikan semua aturan moral untuk bisa melakukan hubungan suami istri di kantornya.


Handphone berdering dari tas Regina. Dengan cepat dia menjawabnya.


“Halo, Alika. Apa kabar? Gimana business plan yang aku kirim?”


“Keren banget, Kak Rere.”


“Papa kamu pasti setuju kalau model bisnisnya kaya gitu.”


“Iya, aku pingin banget cepetan ngasih tau papih. Tapi ada yang mau aku tanyain sama Kak Rere. Bisa ketemu ga?”

__ADS_1


“Oke, aku siap kapan aja. Kamu boleh tanya dan pelajari dulu  design thinking-nya”


Regina meninggalkan kantor Gian sambil terus berbicara ditelepon dengan Alika. Perasaannya sangat lega dan senang. Mungkin karena melihat ekspresi Vanya hari ini, atau bisa juga karena endorfin yang dilepaskan saat bermain bersama Gian. Bisa jadi karena keduanya.


__ADS_2