Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

“Mira, ada beberapa dokumen yang harus saya periksa hari ini. Tolong info ke Om Bayu biar handle dokumen itu. Terus reschedule meeting hari ini ke minggu depan. Saya ga akan ke kantor dan ga pegang laptop sekarang, kemungkinan sampai besok, saya belum bisa ngurus kerjaan. Istri saya lagi dirawat di rumah sakit.” Kata Gian menjelaskan pada sekretarisnya lewat telepon.


Regina sudah terbangun sejak tadi, tapi dia hanya diam mendengarkan Gian yang sibuk menelepon banyak orang karena hari ini dia tidak masuk kantor. Sekarang Regina menyusahkan Gian lagi. Dia merasa bersalah karena membuat Gian harus mengorbankan pekerjaannya demi menemaninya disini.


Gian masih sibuk dengan teleponnya. Penampilannya terlihat acak-acakan. Dia masih mengenakan kemeja dan celana kerjanya. Sepertinya Gian masih menggunakan pakaian yang dikenakannya kemarin. Sebenaranya Regina hanya sekilas mengingat kejadian saat dia dibawa ke rumah sakit oleh Gian. Dia bisa mendengar suara samar Gian saat memanggilnya. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk merespon.


Handphone sudah Gian turunkan, akhirnya dia berhenti menghubungi dan mengurus urusan pekerjaannya yang sangat banyak itu. Saat berbalik melihat Regina, ternyata gadis itu sudah bangun dan tampak lebih sehat.


“Kamu lagi banyak kerjaan ya, Gi?” Tanya Regina saat mereka saling bertatapan.


“Hmm.. Lumayan. Udah aku beresin kok.” Balas Gian kemudian duduk di kursi samping ranjang Regina.


“Kamu pulang dan ke kantor aja. Nanti sore balik lagi kesini. Aku ga apa-apa kok ditinggal sendirian.” Regina mencoba meyakinkan Gian. Alis Gian tertaut bingung dan kesal. “Beneran. Aku pernah dirawat sendirian dan ga ditemenin. Aku bisa kok. Lagian aku udah gak apa-apa.” Lanjutnya sambil tersenyum.


“Terus menurut kamu aku percaya, gitu?” Tanya Gian kesal. Dia tidak habis pikir dengan arah pikiran Regina. Kenapa dia menolak untuk ditemani? Apa dia tidak suka Gian ada disini?


“Kamu kan harus mandi dan ganti baju, Gi.”


“Nanti Arsila kesini, bawain baju ganti.” Jawab Gian ketus. “Nih sarapan dulu.” Lanjutnya sambil menggeser overbed table berisi makanan yang ada di ujung ranjang Regina. Gian hanya diam disana memperhatikan Regina menyuap makanannya sedikit demi sedikit.


“Mau aku suapin?” Tanya Gian lembut. Regina menggelng dengan cepat. Gian mendengus kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa. Dia berbaring disana cukup lama sambil memainkan handphone-nya.


Regina sangat bingung dengan sikap Gian, dia terkadang terdengar ketus dan terlihat kesal. Tapi sedetik kemudian sikapnya menjadi hangat. Apakah Gian masih marah kepadanya? Hanya saja dia mencoba bersikap baik karena sekarang Regina sedang sakit. Beberapa hari ini Regina juga terus membuat masalah dan membuat Gian harus terlibat. Apalagi mereka belum berbaikan karena masalah dengan Rafi. Pasti Gian sangat kesal dan membencinya. Dia sering mengatakan pernikahan kontraknya untuk menghindari masalah dan hidup tenang tanpa gangguan. Tapi sepertinya keberadaan Regina mengganggunya.


Isi kepala Gian saat ini begitu kacau. Dia bingung dengan tingkah Regina yang terlihat sok kuat dan tak butuh bantuannya. Apa karena masalahnya dengan pemecatan Rafi yang membuatnya masih marah padanya? Bila masalah itu saja membuatnya seperti ini, Gian tak bisa membayangkan jika Regina tahu apa yang telah dia perbuat pada mantan kekasihnya itu. Saat ini laki-laki itu mungkin sudah dibawa pergi oleh orang suruhannya untuk meninggalkan Jakarta. Dia tidak akan menghubungi atau menemui Regina lagi. Apakah Regina akan sedih dan kehilangan? Memikirkannya saja membuatnya begitu kesal. Kenapa Regina tetap menyukai dan membela laki-laki tak waras itu? Kenapa dia tidak bisa melihat ke arahnya yang memperlakukannya dengan baik?


...****************...


Saat siang Arsila dan Tante Esty datang berkunjung. Mereka membawa makanan dan buah-buahan, serta pakaian ganti yang Gian pesan.


“Ya ampun, Re. Kok kamu bisa masuk rumah sakit kaya gini sih? Kamu pasti tekanan batin karena si Gian, kan?” Kata Arsila dengan cerewet saat masuk ke ruang rawat inap Regina. Kemudian lekas memeluk Regina.

__ADS_1


“Gimana sekarang? Udah baikan?” Tanya Tante Esty yang menyusul dibelakang Arsila.


“Udah baikan kok, Tante. Demamnya udah turun.” Balas Regina.


“Kata si Gian, kamu sebelum ini kecelakaan? Kok bisa sih?”


“Aku cuma kurang hati-hati aja kok, Kak.”


“Makanya kamu tuh anterin istri mau kemana-mana tuh, Gi!” Teriak Arsila pada Gian yang sedang duduk di sofa.


“Bete ah disalahin mulu!” Kata Gian kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Arsila tergelak melihat sepupunya yang kesal.


“Kamu belum baikan ya sama Gian?”


“Baikan? Kalian berantem? Masalah apa?” Tanya Tante Esty penasaran.


“Biasa masalah rumah tangga, Ma.” Jawab Arsila enteng.


“Tuh, Re. Dengerin petuah dari senior.” Ledek Arsila. Regina hanya tertawa.


“Apalagi berurusan sama Gian.. Wah..Orang rumah juga kayanya males kalau adu marah sama Gian. Ga akan mau kalah kalau menurutnya dia ga salah. Egonya selangit.” Tambah Tante Esty.


“Tuh, testimoni dari orang yang udah hidup lama dan ngurusin Gian si kepala batu dari kecil.”


Kemudian mereka bertiga tergelak karena membicarakan Gian dibelakangnya. Selama Gian sibuk dikamar mandi, mereka bertiga terus bergosip dan membicarakannya. Membuat Regina banyak tertawa hari ini. Hatinya merasa lebih ringan dengan kunjungan Arsila dan Tante Esty yang sangat menyenangkan. Melupakan sejenak semua pikiran ruwetnya tentang Gian.


...****************...


Selama 2 hari Regina dirawat di rumah sakit hingga diperbolehkan pulang ke rumah. Gian terus menemaninya di sana, mereka tak terlalu banyak bicara. Gian sibuk dengan handphone-nya saja ketika Regina sedang tidak membutuhkan bantuannya. Sedangkan Regina mengalihkan pikirannya dengan mononton TV yang ada di ruang rawat inapnya.


Nyaris tak ada kesempatan baik untuk Regina meminta maaf kepada Gian. Tante Esty benar, dia bisa jadi memang pihak yang benar tapi dia harus mengalah dan menurunkan egonya untuk mendamaikan situasi. Regina mencoba mengerti sikap Gian terhadap Rafi. Dia ingin melindunginya. Meskipun cara yang dia gunakan sangat tidak baik.

__ADS_1


Sore hari mereka baru sampai ke rumah. Setelah membersihkan diri, Regina turun ke dapur dan berniat memasak makan malam. Tapi Gian sudah memesan makanan lewat ojek online. Menyuruh Regina beristirahat karena baru keluar dari rumah sakit.


Selama makan malam hanya keheningan saja yang ada diantara mereka. Suara sendok beradu sesekali terdengar dari piring masing-masing. Mereka tenggelam dalam pikiran dan dugaan tentang satu sama lain. Regina menduga Gian marah karena dia selalu membuat masalah. Gian menduga Regina marah karena dia masih menyukai mantannya yang secara sepihak dipecat akibat tindakan Gian. Tak satupun dari mereka yang membuka mulut untuk mengkomunikasikan masalah yang ada dihati dan pikiran mereka. Membiarkannya terlarut dalam diam.


Gian menawarkan untuk mencuci piring dan membereskan bekas makan mereka. Regina masih duduk di meja makan. Menunggu Gian selesai mencuci. Dia sudah memantapkan hati dan memberanikan diri untuk membicarakan masalah mereka. Regina menghampiri Gian yang masih berdiri di kitchen sink setelah selesai dengan pekerjaannya.


“Gi..” Kata Regina mendekati Gian. “Aku mau minta maaf. Soal masalah Rafi, soal kecelakaanku, soal aku yang masuk rumah sakit dan bikin kamu ga masuk kerja beberapa hari. Aku banyak bikin masalah buat kamu. Soal Rafi, aku.. ngerti maksud kamu kok. Sekarang aku udah ga berurusan lagi sama dia. Kita udah ngomong dan pisah baik-baik.” Kata Regina.


“Kalau kamu mau marah sama aku gak apa-apa, atau mau ngehukum aku juga ga apa-apa. Aku tahu aku bikin masalah terus-terusan sampai kamu harus ngerasa perlu ngelindungi aku. Aku janji ga akan kaya gitu lagi. Aku ga suka kalau kamu terus cuek sama aku kaya gini. Tolong jangan marah kaya gini.”


Regina melepaskan semua kekhawatiran dan hal yang menganggu pikiran serta hatinya. Kini rasanya menjadi lebih lega setelah dia mengatakan itu semua pada Gian. Namun Gian hanya diam menatap Regina. Tak ada ekspresi apapun diwajahnya. Dia ingin Gian untuk berteriak atau memakinya saja dibanding mendiamkannya tanpa jawaban apapun. Selama beberapa waktu mereka saling berdiri berhadapan. Regina mengalihkan pandangan ke arah lantai dibawahnya, sementara Gian masih menatapnya.


“Ya udah gitu aja. Kalau kamu ga mau maafin juga ga apa-apa.” Pungkas Regina. Saat dia akan pergi, Gian menggenggam lengan Regina. Menahannya.


“Aku ga marah karena kamu bikin masalah. Aku cuma ga suka kalau kamu sama cowok lain. Aku ga suka kamu ngebela cowo lain. Kamu terus-terusan ngebela dia bikin perasaanku ga nyaman. Aku ga tahu sejak kapan aku terus mikirin kamu ga berhenti. Kamu selalu bikin aku ngerasa khawatir, bikin aku ngerasa harus ngelindungi kamu, bikin kamu ngerasa nyaman, bikin kamu seneng. Meskipun kayanya semua tindakan aku ga nyampe sama kamu.”


“Aku tahu aku ngelanggar ucapanku sendiri buat ga punya perasaan apa-apa dihubungan ini. Tapi aku sayang sama kamu, Re. Kamu jelas boleh punya pilihan lain selain aku kok, asal jangan Rafi. Jangan balikan sama dia. Kamu boleh punya perasaan sama orang lain selama kontrak kita belum beres. Kamu ga harus bales perasaanku dan jangan jadi terbebani karena perasaan aku ke kamu.”


Giliran Regina yang terpaku dan terdiam dengan perkataan Gian. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Selama ini kebaikan Gian hanya dia duga sebagai tanggungjawabnya terhadap pernikahan kontrak mereka. Tak pernah terpikirkan Gian memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia terus mengatakan untuk berhenti saat perasaannya mulai muncul.


Regina mendekat pada Gian, berjinjit, dan mengecup sekilas bibir Gian.


“Pilihan aku cuma kamu, Gi. Aku ga kepikiran buat milih orang lain” Regina memeluk Gian yang dari tadi hanya terdiam.


“Maksudanya?” Tanya Gian bingung.


“Ih Gian! Maksudnya aku juga sayang sama kamu! Yang kaya gini aja lelet mikirnya!” Kata Regina kesal dan malu saat mengatakannya. Dia membenamkan kepalanya di dada Gian dan memeluknya erat.


Senyum melengkung dibibir Gian. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dalam pikirannya Regina hanya menyukai mantannya. Dia tidak menduga mendapatkan jawaban seperti ini dari Regina.


“Serius?” Tanya Gian sambil tersenyum menggoda Regina. Dia tidak bisa menahan diri untuk tertawa.

__ADS_1


“Berisik!! Aku malu ngomongnya!! Kalau gitu ga jadi soalnya kamu bodoh!” Balas Regina kesal karena Gian terus-terusan bertanya yang tidak penting. Kenapa sih momennya menjadi tidak romantis dan jadi memalukan?


__ADS_2